
Ilyas tersenyum miris karena dirinya masih hidup setelah mencoba mengakhiri hidupnya dengan cara mengenaskan. Orang yang dia pikirkan saat ini hanyalah Meiza.
"Apa Meiza sudah tahu aku berada di rumah sakit? apa aku tidak mendapatkan luka serius, sehingga aku masih hidup begini? tapi aku ingat betul seluruh tubuhku terasa sakit semua saat itu. Aku bahkan bisa merasakan kalau sebentar lagi aku akan meregang nyawa," ucap Ilyas lirih.
"Ah...lagian mana mungkin Meiza perduli lagi denganku. Saat ini dia pasti sedang menunggu aku sadar, dan tidak sabar ingin bercerai denganku. Dia sendiri yang memintaku agar mati dengan cara mengenaskan. Itu artinya dia sudah tidak mencintaiku lagi bukan?"
"Sssttttt..." Ilyas meringis kesakitan diantara kedua pahanya yang ternyata dipasangi sebuah selang kateter untuk menampung air seninya.
Namun ada hal yang lebih mengganggu dirinya. Kakinya sama sekali tidak bisa di gerakkan. Dan Ilyas menyadari sebagai seorang dokter, dirinya merasa ada yang tidak beres dengan kakinya itu.
"Hikz...aku sekarang cacat...kenapa aku tidak mati saja? kenapa harus cacat? Hikz..." Ilyas terisak.
Ilyas memukul-mukul kakinya. Namun saat dirinya tengah bersedih, seorang perawat masuk dan terkejut saat melihat Ilyas sudah siuman dari komanya.
"Lepaskan selang ini," ujar Ilyas yang memerintahkan perawat pria itu untuk melepas selang kateter di ***********.
"Sebentar ya dok. Saya akan memberitahu dokter jaga dulu, agar memeriksa keadaan anda," ujar Perawat itu.
Perawat itu bergegas keluar ruangan itu. Dia tidak ingin gegabah menuruti kemauan Ilyas. Tidak berapa lama kemudian seorang dokter datang untuk memeriksa keadaan Ilyas.
"Selamat ya dok. Anda sudah siuman sekarang. Apa ada yang membuat anda merasa tidak nyaman?" tanya dokter itu.
"Kakiku sama sekali tidak bisa digerakkan. Keduanya. Tolong panggil dokter yang bersangkutan untuk memeriksa keadaan kakiku," ujar Ilyas.
Dokter itu menganggukkan kepala kearah seorang perawat.
"Berapa lama aku pingsan?" tanya Ilyas.
"Bukan pingsan. Tapi anda koma selama 6 bulan." Jawab dokter itu.
Mendengar itu Ilyas sangat terkejut. Dan lagi-lagi orang yang dia pikirkan adalah Meiza. Tidak berapa lama kemudian seorang dokter ahli datang untuk memeriksa keadaan kaki Ilyas.
"Maaf dokter Ilyas. Dengan sangat menyesal saya katakan. Bahwa anda mengalami kelumpuhan saat ini,"
__ADS_1
Perkataan dokter itu seperti pertir yang menyambarnya. Namun Ilyas tidak ingin memperlihatkan kelemahannya pada teman sejawatnya itu.
"Tidak masalah. Aku bisa mengakhiri hidupku lagi nanti. Mana mau aku menyusahkan orang lain. Lebih baik aku menyusul ayah dan ibuku saja," batin Ilyas.
Krieeeekkk
Seseorang menekan handle pintu yang tak lain adalah Meiza. Tubuh Ilyas mendadak menegang, sementara Meiza sangat terkejut bercampur haru saat melihat Ilyas sudah siuman. Namun satu hal yang menggelitik mata Ilyas, perut Meiza yang membuncit menjadi tanda tanya baginya.
"Apa Meiza sudah menikah lagi? kalau dia tidak Ridho, dia bisa saja menganggap kami sudah bercerai secara agama. Tapi seharusnya perutnya tidak sebesar itu, kalau dia menikah setelah massa iddahnya berakhir. Ap-Apa itu anakku?" batin Ilyas.
Meiza berjalan dengan langkah besar. Air mata wanita itu sudah membasahi wajahnya.
"Sayang. Aku merindukanmu. Hikz...."
Meiza langsung berhambur kepelukkan Ilyas. Ilyas yang tengah duduk hanya bisa mematung. Terlebih saat Meiza menciumi tiap inci wajahnya.
"Di-Dia sudah tidak marah padaku? dia sudah memaafkanku? tapi....tapi sekarang aku tidak berguna. Sementara dia anak dari keluarga orang sempurna. Mana mungkin aku membiarkan dia malu memiliki suami cacat sepertiku," batin Ilyas.
Tap
Ilyas tiba-tiba mencengkram kedua pundak Meiza dan menjauhkan wanita itu dari tubuhnya.
"Maaf. Kamu siapa?" tanya Ilyas yang membuat mata Meiza jadi terbelalak.
Tidak jauh berbeda dengan Meiza, Para dokter yang masih disitupun saling berpandangan. Mereka yakin 100% bahwa Ilyas tidak mengalami amnesia. Tapi mereka mengerti, keadaan Ilyas yang memaksa pria itu berbohong pada istrinya.
"Sayang. Ini aku Meiza, istri kamu." Jawab Meiza.
Meiza kemudian meraih tangan Ilyas dan meletakkannya diperutnya yang membuncit.
"Dan ini anak kita. Mereka kembar. Kamu jangan pernah lupain aku dan anak kita," ujar Meiza yang sudah ketakutan karena Ilyas seperti sudah melupakannya.
Sementara itu hati Ilyas sedang berkecamuk saat ini. Tidak ada yang tahu betapa bahagianya dia saat mendengar Meiza tengah mengandung bayi kembar saat ini. Namun Ilyas hanya bisa mengepalkan tangannya, berusaha mengeraskan hatinya itu.
__ADS_1
"Maaf seingatku aku belum menikah. Kekasihku bernama cassie. Mana mungkin aku sudah menikah denganmu dan mempunyai calon anak,"
Sungguh Meiza merasakan sakit dihatinya, tapi bukan karena Ilyas menyebut nama mantan kekasih suaminya itu. Tapi itu karena Ilyas melupakan dirinya.
Melihat anak majikkannya sedih, seorang dokter akhirnya menengahi permasalahan itu.
"Maaf dokter Ilyas. Saat ini anda sedang mengalami amnesia. Tapi apa yang dikatakan nona Meiza juga benar adanya, dia memang istri anda. Tolong jangan membuatnya bersedih, karena itu bisa mempengaruhi calon anak anda," ujar dokter itu sembari memberikan kode keras pada Ilyas.
Ilyas benar-benar lupa, tentang calon anak-anaknya itu. Pria itu jadi terdiam. Namun dia ingin mencari keberuntungan lain dengan menguji kesetiaan istrinya itu.
"Benarkah?" tanya Ilyas.
"Tentu saja. Mana mungkin aku berbohong. Aku akan menunjukkan padamu foto-foto saat pernikahan kita. Hubunganmu dan Cassie sudah lama berakhir saat di London." Jawab Meiza.
"Mungkin dulu kamu akan bangga mengakui sebagai suamimu. Tapi sekarang semua sudah berubah. Lagipula aku tidak mau membebani orang lain, terutama istri dan anak-anakku kelak," ujar ilyas.
"Apa maksudmu?" tanya Meiza.
"Sekarang aku sudah divonis lumpuh. Kakiku tidak berfungsi lagi. Aku sudah tidak berguna." Jawaban Ilyas cukup mengguncang Meiza.
Ilyas melihat perubahan air muka di wajah istrinya itu dan dia tersenyum miris.
"Sekarang kamu pasti akan mencampakkanku. Meiza, aku tahu kamu bisa hidup tanpaku. Kamu wanita sempurna dan memiliki segalanya. Kamu tidak akan kekurangan apapun tanpaku. Kamu bisa mencari pria sempurna yang bisa mencintaimu dan mencintai anak-anak kita," batin Ilyas.
"Aku mencintaimu apa adanya. Tidak perduli apapun keadaanmu, aku akan mendampingimu hingga maut memisahkan kita," ujar Meiza sembari menggenggam tangan Ilyas.
Ingin rasanya Ilyas memeluk Meiza. Namun sekuat mungkin dia harus bisa menahan diri. Perlahan dia akan membuat Meiza mundur dari hubungan mereka. Dia ingin Meiza bahagia dan tidak terjebak dengan pria cacat sepertinya.
"Sekarang ayo kita pulang kerumah baru kita. Aku sudah membeli rumah untuk kita tempati bersama anak-anak nantinya. Lagipula kamu tidak perlu khawatir, kita akan melakukan berbagai terapi buat kaki kamu. Kita juga akan menyewa perawat dan dokter terbaik intuk merawatmu dirumah," ujar Meiza.
Ilyas hanya diam. Pria itu berpikir keras agar Meiza mau melepaskannya, namun tanpa melukai hati wanita yang dicintainya itu.
To be continue...🤗🙏
__ADS_1