Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab 93.Datang Lagi


__ADS_3

"Puas sekali aku rasanya melihat wajah putus asa Jihan kemarin," ujar Yuda.


"Aku sama sekali tidak merasa puas. Sejujurnya begitu banyak hal yang ingin aku katakan padanya, agar dia tahu dimana posisinya yang pantas sekarang ini."


"Apa lagi yang ingin kamu katakan?"


"Semua uneg-uneg yang aku tahan karena masih menjaga batasanku."


Tok


Tok


Tok


"Masuk!"


Kriekkkkk


Regia masuk dengan mata menatap kedepan. Tatapan yang tidak pernah dia lakukan, saat ada sosok Yuda. Tapi kali ini berbeda, Regia seolah berani menunjukkan bahwa kini dia tidak lagi memiliki perasaan apapun pada Yuda.


"Ada apa Re?" tanya Ezra.


"Maaf tuan. Nona yang tempo hari datang, kini ada dibawah. Dia ingin bertemu dengan tuan."


Ezra menoleh ke arah Yuda, dan pria itu mengedikkan bahunya tanda menyatakan terserah.


"Suruh dia naik keatas. Tidak perlu menjemputnya, suruh dia naik sendiri. Kabarkan saja pada resepsionistnya."


"Baik tuan. Permisi."


Regia langsung balik badan tanpa menyapa Yuda sama sekali. Dan itu benar-benar membuat Yuda tidak senang.


"Kenapa? gelisah ya, dicuekin Regia? tanda-tanda tuh," ejek Ezra.


"Tanda-Tanda aku ingin mencubitnya."


"Uhhhh...hukuman yang manis sekali. Biasanya orang berkata akan memukul atau menjambak. Kamu malah ingin mencubit, mencubit pakai apa. Hem?"


"Ckk...berhenti mengejekku. Apa kamu yakin ingin menemui wanita itu lagi?"


"Ya. Aku ingin menuntaskan semuanya, aku tidak ingin dia mengganggu hidupku lagi."


"Ya sudah, aku kembali keruanganku dulu."


"Emm." Ezra mengangguk.


Setelah Yuda keluar, Jihan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Sayang," Jihan berjalan kearah Ezra dan hendak memeluk pria itu.


"Stop! berani kamu menyentuhku sedikit saja, aku tidak akan segan-segan mematahkan tangan dan kakimu itu. Dan satu lagi, kamu tidak lagi memiliki hak untuk memanggilku sayang, atau panggilan mesra lainnya. Kita sudah selesai Jihan, menyerahlah!"


"Tidak! aku sangat mencintaimu, aku tahu aku salah. Aku tidak akan mengelak lagi, tapi bukankah tidak ada manusia yang sempurna didunia ini? aku mohon beri aku kesempatan. Aku tidak bisa hidup tanpamu, minimal pandang aku yang sudah pernah menyelamatkan hidupmu."


Mendengar itu Ezra tertawa keras, hingga matanya berair.


"Baru kali ini aku melihat wanita benar-benar tidak tahu malu sepertimu. Apa urat malu mu itu sudah kamu berikan pada anjing? baiklah, karena kamu begitu memaksaku, aku akan mengatakan semuanya padamu."

__ADS_1


"Tidak ada lagi kesempatan untukmu, baik sekarang maupun kedepannya nanti. Kamu bukan tidak bisa hidup tanpaku, tapi tidak bisa hidup tanpa uangku. Dan satu lagi, jangan kamu kira bisa selamanya membodohiku. Aku sudah tahu semuanya Jihan, bukan kamu yang menolongku 4 tahun yang lalu. Apa kamu tidak malu mengaku-ngaku sebagai penyelamatku?"


"Da-Darimana kamu tahu?"


"Karena sejak awal Tuhan ingin memberitahuku, bahwa Marinkalah yang pantas menjadi jodohku. Tapi karena aku bodoh, aku harus mendapat ujian dulu saat ini. Aku ucapkan terima kasih karena sudah membodohiku selama ini. Kini aku baru mengerti, kenapa aku sama sekali tidak memiliki simpatik padamu, itu karena selama ini aku tidak menyadari, bukan rasa cinta yang aku miliki untukmu, itu adalah rasa hutang budi."


"Nggak! kamu bohong kan? kamu masih mencintaiku kan?"


"Maaf, kamu sama sekali tidak layak mendapatkan rasa cinta dariku. Kamu sama sekali tidak pantas. Begitu banyak gadis baik-baik yang mau menaiki ranjangku, tapi aku pastikan itu bukan kamu."


"Kamu harus sadar diri seperti apa dirimu itu. Apa pantas seorang wanita yang sudah dimainkan ratusan pria, menjadi istri seorang pengusaha nomor satu di kota J? aku rasa kamu paham itu." Sambung Ezra.


Lutut Jihan lemas seketika. Wanita itu benar-benar sadar, kini Ezra benar-benar lepas dari genggaman tangannya.


"Keluarlah! aku harap ini terakhir kalinya kamu menginjakkan kaki di kantorku. Kita sudah berakhir Jihan,"


Tes


Air mata Jihan menetes namun dengan tatapan kosong. Darahnya seolah terhempas dan membuat dirinya lemas tak berdaya. Kini dia menyadari, sumber uangnya sudah tidak ada lagi.


"Jadi mereka sudah putus? kalau begitu aku bisa masuk bukan?" Gendis menyeringai.


"Pergilah! jangan pernah muncul lagi dihadapanku."


"Apa benar-benar tidak ada cinta yang tersisa diantara kita?" tanya Jihan.


"Tidak sama sekali. Karena sedikitpun kamu tidak layak mendapatkan rasa cinta dariku. Jadi pergilah, sebelum aku memanggil Security untuk menyeretmu keluar."


Jihan beranjak pergi dari ruangan itu, sementara Gendis sudah pergi dari balik pintu.


Tap


Tap


Tap


Regia mendongakkan kepalanya saat merasa ada seseorang yang berdiri dihadapannya.


"Apa nama panjangmu Regia Renata?" tanya Jihan.


"Ya. Apa nona mengenalku?"


Jihan menyeringai tanpa menjawab pertanyaan dari Regia dan berlalu begitu saja dari hadapan gadis itu.


"Aneh sekali, dia bertanya tapi dia pergi begitu saja."


Regia kembali melanjutkan pekerjaannya dan kembali sibuk dengan laptopnya. Sementara itu Gendis mulai melancarkan aksinya dengan membuat secangkir teh untuk Ezra.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!"


Ezra mengerutkan dahinya saat melihat Gendis memasuki ruangannya dengan membawa secangkir teh untuknya.

__ADS_1


"Apa ini?" tanya Ezra.


"Teh tuan."


"Saya tahu ini teh. Tapi kenapa kamu memberikannya untuk saya? seingat saya, saya tidak menyuruh OB membuatkan teh untukku."


"Ini inisiatif dari diri saya sendiri tuan."


"Terima kasih, keluarlah kalau begitu!"


"Apa tuan butuh pijatan?"


Ezra mengerutkan dahinya saat Gendis mendekati dirinya dan memegang pundaknya.


Krieekkkk


Yuda tiba-tiba masuk dan melihat posisi Gendis yang tidak biasa itu. Ezra memegang keningnya, dan mengira Yuda pasti akan salah paham padanya.


"Gendis? kamu kenapa ada disini?" tanya Yuda.


"Tidak. Saya hanya mengantarkan teh untuk tuan Ezra."


"Keluarlah! saya ingin bicara dengan Yuda."


"Baik tuan."


Gendis berjalan kearah luar pintu dan menutup pintu itu dengan rapat.


"Apa kamu akan salah paham padaku?"


"Tidak."


"Sebaiknya kamu lihat ini saja dulu,"


Ezra menyodorkan ponselnya yang sudah terhubung dengan cctv ruangan itu. Yuda tersenyum tipis saat melihat video singkat itu.


"Ternyata benar katamu. Calon ulat sagu juga gadis ini. Apa kamu sama sekali tidak tertarik dengan dia?" tanya Yuda.


"Ckk... yang benar saja. Baru saja aku membuang satu ulat sagu, buat apa aku memungut ulat sagu yang lain?"


"Kamu sendiri yang bilang, ulat sagu berprotein tinggi." Yuda terkekeh.


"Ogah. Cintaku hanya untuk Marinka seorang,"


"Preeeetttttt...sekarang aja kamu ngomongnya begitu, dulu-dulu kemana aja mas bro?"


"Berhenti mengolok-olokku. Sebaiknya kamu selidiki dulu ulat sagumu itu, kenapa dia berhenti dari perusahaan sebelumnya,"


"Terus?"


"Kalau benar-benar terbukti ulat sagu sungguhan, kamu pecat saja dia. Aku tidak ingin memelihara orang seperti itu di kantorku. Aku tidak ingin membuat masalah baru kedepannya."


"Baiklah, sesuai perintah."


"Hah...baru aja berencana dekatin dia lagi, rupanya dia suka sama kamu." sambung Yuda


"Ya maaf Yud. Pesona temanmu ini memang tidak bisa diragukan lagi," ujar Ezra sembari terkekeh.

__ADS_1


Yuda mencebikkan bibirnya karena tidak terima dengan ucapan Ezra.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2