Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.200. Teguran


__ADS_3

Rakha melirik kearah Yure, saat ponselnya bergetar diatas meja. Yure yang mengerti, langsung menyambar ponsel itu, dan menerima panggilan telpon yang berasal dari Ezra. Sementara itu Rakha masih lanjut meeting dengan beberapa orang dari berbagai departemen di kantornya.


"Uda?" suara berwibawa itu langsung menyerang gendang telinga Yure.


"Eh? i-ini Yure om." Jawab Yure.


"Yure? kemana Rakha?" tanya Ezra.


"Rakha lagi meeting om. Jadi nggak bisa angkat telpon." Jawab Yure.


"Ya sudah. Kalau begitu sampaikan saja sama dia, malam ini harus pulang kerumah utama. Mamanya merindukan dia," ucap Ezra.


"Baik Om. Nanti akan Yure sampaikan," ujar Yure.


"Terima kasih,"


"Sama-Sama om." Jawab Yure.


Ezra mengakhiri panggilan telpon itu, sementara Yure langsung kembali masuk keruang meeting, dan meletakkan ponsel ditempat semula.


Tok


Tok


Tok


Krieekkkk


Gadlyn masuk dengan membawa secangkir kopi, dan sebotol air mineral diatas sebuah nampan. Rakha hanya melirik sekilas, saat Gadlyn meletakkan kopi yang dia pesan.


"Kamu lihat saja. Aku belum membuat perhitungan denganmu atas apa yang kamu perbuat kemarin. Suatu saat aku yang akan membuatkanmu kolak kopi," batin Rakha.


Setelah meletakkan kopi diatas meja, Gadlyn segera keluar dari ruangan itu.


"Apa dia OG baru? cantik sekali dia? meski memakai pakaian longgar, aku bisa menebak kalau dia pasti menggunakan bra setidaknya 36 atau 38 B," bisik salah seorang karyawan.


"Benar. Body nya juga bagus. Sayang sekali gadis secantik dan sesexy dia cuma jadi OG. Tapi aku rasa dia gadis bispak juga. Apalagi hanya sekedar OG, pasti butuh uang banyak kan?" bisik yang lain.


"Orang-Orang ini, Apa mereka benar-benar ingin mencari mati?" batin Yure.


Brakkkkkkkk

__ADS_1


Rakha menggebrak meja, hingga semua orang terjengkit kaget, termasuk Yure.


"Kamu, dan kamu. Buat surat pengundur dirian kalian, aku tidak mau punya karyawan berpikiran kotor seperti kalian!" hardik Rakha.


"Tu-Tuan. Maafkan kami tuan, jangan pecat kami. Kami benar-benar khilaf, kami janji tidak akan melakukannya lagi," salah seorang karyawan merengek.


"Keluar!" hardik Rakha.


Kedua karyawan itu masih saja merengek dan memohon belas kasih.


"Apa kalian tuli? kalau aku bilang keluar ya keluar!"


Yure memberikan kode pada kedua orang itu, dan langsung dituruti oleh mereka.


"Sial. Gara-Gara ngomongin OG itu, kita jadi kena pecat. Padahal aku sudah berkorban banyak untuk sampai ketahap ini," ujar Bagas.


"Sama. Tapi beruntung kita dipecat saja. Apa kamu ingat karyawan yang melakukan kesalahan di departement IT waktu itu?" tanya Tito.


"Ya. Kerena dia mencuri data perusahaan, dia dipecat dan tidak diterima diperusahaan manapun." Jawab Bagas.


"Ya. Itu artinya kita masih beruntung. Si Rakha itu benar-benar monster. Mentang-Mentang jadi pengusaha nomor satu di kota J, sudah sombong. Cuma gara-gara kita ngomongin OG baru itu, dia rela memecat orang-orang berkompeten seperti kita," ujar Tito.


"Dua orang itu dipecat, gara-gara ngomongin aku? emang mereka ngomongin apa? padahal kalau cuma ngomongin hal biasa, tidak harus sampai memecat orang kan? dasar pria arogant," gerutu Gadlyn yang tidak sengaja mendengar percakapan dua orang yang sedang melewati pantry.


"Papa bicara apa tadi?" tanya Rakha sembari meminum air mineral yang dia tuangkan kedalam gelas kosong.


"Om menyuruhmu pulang kerumah utama. Beliau bilang tante Marinka merindukanmu." Jawab Yure.


"Ckk...ujung-ujungnya nyuruh aku cari pasangan hidup. Aku ini masih sangat muda, mereka selalu mendesakku dengan alasan kakek dan nenek menginginkan cicit," gerutu Rakha.


Yure tidak berani menertawakan Rakha. Tidak Jauh berbeda dengan Rakha, Yure juga seolah dikejar tarket menikah. Padahal usianya hanya lebih muda 1 tahun dari Rakha.


"Kamu benar. Mereka seolah menganggap cari jodoh seperti cari kacang goreng," ucap Yure.


"Kamu minum kopiku. Sayang kalau tidak di minum, nanti mubazir," ujar Rakha sembari berdiri dari tempat duduknya.


"Lah kamu mau kemana?" tanya Yure.


"Pulang kerumah utama. Kalau tidak dituruti, mama suka nangis. Dan aku nggak suka lihat mama menangis." Jawab Rakha.


Yure meraih cangkir kopi dan segera meminum isi didalamnya.

__ADS_1


Brrruuuaarrrr


Yure menyemburkan sisa kopi yang berada dalam mulutnya. Rakha yang belum benar-benar keluar hanya menahan tawa dari balik punggungnya.


"Ini kopi apa manisan gula? sungguh yang membuat kopi ini belum layak dijadikan istri," Yure menyeka sisa kopi dilidahnya dengan menggunakan selembar tisu.


Waktu menunjukkan pukul 5 sore, ketika Rakha tiba di kediaman utama. Ezka yang melihat kedatangan Rakha langsung berhambur kepelukkan pria itu.


"Sudah berapa kali aku bilang padamu, jaga sikapmu itu. Kamu itu bukan anak kecil lagi, usiamu sudah sangat matang untuk menikah," omel Rakha yang membuat Ezra mengerucutkan bibirnya.


"Uda kok ngomongnya gitu? nggak ada perikekembaran," ucap Ezka.


Mendengar kata yang selalu jadi senjata Ezka, membuat Rakha memutar bola matanya dengan malas.


"Bisa aja kamu ngatain adikmu. Usiamu sama matangnya dengan dia, kenapa kamu belum kepikiran buat nikah?" Marinka yang muncul dari arah tangga, langsung memberondong pertanyaan buat Rakha.


"Mam. Bisakah kita tidak bahas itu lagi?" tanya Rakha sembari mencium tangan Marinka.


"Tentu saja tidak bisa. Moza dan Meiza sudah hampir lulus kuliah. tidak sampai dua tahun lagi, mereka akan kembali dari London. Mama harap sebagai kakak tertua, kamu sudah memikirkan buat masa depan kamu," ujar Marinka yang kemudian duduk di sofa ruang tamu.


"Ma. Kan bisa Ezka duluan? Uda ini kan laki-laki, tidak masalah terlambat menikah. Lebih baik kalian fokus buat cari jodoh untuk dia,"


"Eh? kok jadi Ezka. Ezka pasti nikah kok, Ezka sudah sepakat sama pacarku, kalau kami akan menikah setelah kakak menikah," timpal Ezka.


"Tidak perlu menungguku, aku tidak maslaah kalau kamu langkahi." Jawab Rakha.


"Tapi itu masalah buat mama. Laki-Laki biasanya jadi malas mikirin jodoh, kalau sudah dilangkahi. Jadi sudah di putuskan, uda harus lebih dulu menikah," ujar Marinka.


"Sudahlah berdebat masalah jodoh sama dia. Nanti akan kita suruh dia mengikuti perjodohan saja," ujar Ezra yang baru saja datang.


"Apaan sih pa? uda nggak suka," ujar Rakha.


"Harus. Mumpung kakek dan nenekmu masih sehat, turutilah apa permintaan mereka. Terus, ada hal lainnya yang ingin papa bahas sama kamu,"


"Apa?"


"Kenapa kamu jadikan Gadlyn sebagai OB di kantormu? kamu sama sekali tidak menghargai dia sebagai lulusan terbaik Harvard. Dia tidak enak menolak, pasti karena merasa utang budi pada keluarga kita. Uda tidak boleh begitu, itu dzolim namanya," ujar Ezra.


"Papa tenang saja, ini cuma sementara. Semuanya tidak ada yang instan. Lulusan Harvard juga harus di uji terlebih dahulu. Apa papa tahu? dia itu sangat bodoh sekali, masa buat teh masukin gula sampai 5 sendok?"


Ezra, Ezka dan Marinka hanya bisa menahan tawa, saat mendengar cerita Rakha. Mereka tidak bisa membayangkan betapa murkanya pria itu, saat mencicipi teh buatan Gadlyn.

__ADS_1


"Wajar saja. Dia kan bukan seorang bartender ahli membuat minuman," bela Ezra.


"Ya tapi nggak sebodoh itu juga pa? apa sebelum diberikan padaku tidak bisa dia cicipi dulu? pokoknya aku sudah putuskan, sebelum dia bisa membuat kopi atau teh sesuai seleraku, aku nggak akan memberikan dia pekerjaan yang layak." Jawab Rakha yang hanya disambut gelengan kepala oleh Ezra dan Marinka.


__ADS_2