Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.91. Jihan Datang


__ADS_3

Sebelum lanjut, Author ingin mengucapkan banyak terima kasih pada teman-teman yang sudah suport author, yang sudah memberikan LiKe, Hadiah dan juga Vote. Terlebih yang komen memberikan kritik dan saran yang membangun. Semoga Author bisa menulis lebih baik lagi, dan bisa memenuhi harapan teman-teman semua. Makasih teman-temanπŸ€—πŸ™


*****


"Yud. Gimana perkembangan pencarian Marinka?"


"Sampai saat ini belum ada petunjuk apapun. Anak buah kita juga sudah memeriksa semua penerbangan di kota J, tapi tidak ada nama Marinka yang melakukan penerbangan keluar negeri maupun keluar kota."


"Bagaimana dengan transportasi darat? misalkan kereta api atau bus?"


"Tidak ada juga pembelian tiket atas nama Marinka."


"Apa itu artinya Marinka masih berada di kota ini? tapi ada dimana dia?"


"Itulah saat ini aku memerintahkan orang-orang kita menyusuri dan menyelidikinya di tiap tempat kota ini."


Ezra memijat keningnya yang sama sekali tidak merasakan pusing.


"Segitunya dia ingin menghilang dan tidak ingin bertemu denganku, sampai-sampai jejaknya sangat sulit ditemukan."


"Bersabarlah. Jika kalian memang berjodoh, kalian pasti akan dipertemukan kembali."


"Lalu bagaimana tentang persiapan pernikahanku dengan Jihan?"


"Kamu tenang saja, semua akan berjalan sesuai rencana. Aku pastikan lusa adalah hari berakhirnya wanita matre itu."


"Ingat! jangan sampai rencana pernikahan palsu itu bocor. Termasuk dengan orang-orang yang ada di kantor ini. Aku ingin hanya kamu dan aku saja yang tahu, juga orang-orang bayaran itu."


"Aku mengerti."


Tok


Tok


Tok


"Masuk!"


Kriekkkk


Regia melangkah masuk dan mendekati Azra.


"Tuan. Ada seorang gadis yang membuat onar dibawah, dia mengaku sebagai calon istri tuan."


Ezra melirik kearah Yuda untuk meminta pendapat pada sahabatnya itu.


"Temui saja dia, sudah saatnya kamu memainkan peranmu,"


Ezra menghela nafas, sejujurnya dia belum siap bertemu Jihan. Dia sangat takut amarah membuat dirinya lepas kendali dan menghabisi gadis itu.


"Bawa dia kemari!" ujar Ezra pada Regia.


"Baik tuan."


Regia berlalu begitu saja tanpa menyapa Yuda sedikitpun.


"Sialan. Sombong sekali dia tidak menyapaku? he...sok cantik!" batin Yuda.


"Perasaan pak Ezra kan sudah punya istri? kenapa ada wanita lain yang mengaku sebagai calon istrinya? apa beliau sudah bercerai? atau beliau ingin melakukan poligami? ah...sudahlah, terserah dia mau apa," batin Regia.

__ADS_1


Regia berjalan cepat karena ingin cepat sampai di loby. Setelah bertemu dengan Jihan, gadis itu bergegas membawa Jihan naik ke atas setelah menjelaskannya pada security.


"Siapa gadia itu? lumayan cantik dan sexy. Apa dia tamu penting tuan Ezra?" batin Gendis.


"Silahkan masuk Nona," ujar Regia.


Tanpa mengucapkan terima kasih, Jihan melenggang masuk begitu saja.


"Sayang. Kamu datang?" tanya Ezra sembari memberikan senyum palsunya.


"Sayang? masih mau kamu memanggilku dengan sebutan itu setelah beberapa hari kamu bertingkah aneh?"


"Aneh apanya?" Ezra bangkit dari tempat duduknya dan menarik tangan Jihan untuk duduk bersamanya di sofa.


"Kamu kenapa tidak mengizinkan aku bertemu denganmu beberapa hari ini? sementara lusa kita sudah mau menikah,"


"Sayang. Kamu dengerin dulu penjelasanku ya? ini semua karena adat istiadat."


"Adat istiadat?"


"Ya karena kita saling mencintai dan akan menikah, maka sebelum acara itu kita tidak boleh bertemu dulu. Tapi karena aku sangat merindukanmu, aku tidak perduli meski melanggar pantangan itu."


"Apa itu hanya sebuah alasan? buktinya dengan Marinka kamu tidak begitu?"


"Coba kamu cerna kembali kata-kataku. Itu kan bagi pasangan yang saling mencintai, lalu apakah aku dan Marinka saling mencintai? aku kan hanya mencintaimu,"


Jihan terdiam, kemudian masuk kedalam pelukkan Ezra. Tanpa Jihan tahu, mata Ezra berkilat menahan amarah.


"Aku sangat takut kehilanganmu. Aku sangat mencintaimu," ujar Jihan.


"Kamu bukan takut kehilanganku, melainkan takut kehilangan sumber uangmu. Kamu juga tidak mencintaiku, tapi kamu mencintai uangku," batin Ezra.


"Aku mencintaimu, saking cintanya aku ingin sekali memecahkan kepalamu dan meremukkan rahangmu," batin Ezra.


"Kamu harus dihukum!"


"Di hukum?"


"Ya. Karena kamu berani mengabaikanku berhari-hari, kamu harus dihukum menemaniku belanja."


"Ckk...wanita ini, sampai mati tidak akan berubah. Dulu mungkin aku bodoh akan menuruti semua keinginannya, tapi sekarang jangan harap."


"Sayang maaf ya, aku tidak bisa menemanimu hari ini. Aku ada meeting penting sebentar lagi. Lagipula kita harus berhemat saat ini,"


"Berhemat?"


"Emm. Sebenarnya aku tidak ingin memberitahumu karena ini sebuah kejutan untukmu. Tapi kalau aku tidak memberitahumu, kamu akan salah faham lagi padaku."


"Kejutan apa?"


"Jadi sebenarnya aku sedang mengurus semua aset dan uangku beralih atas namamu. Aku juga sedang menyiapkan resepsi pernikahan megah untuk kita. Dan yang terakhir, aku sedang membangun sebuah rumah megah bak istina untuk kita tempati nanti."


"Sungguh?"


"Emm. Jadi aku harap kamu tahan dulu nafsu belanjamu ya? kan semua ini untukmu juga. Setelah menikah, kamu bebas belanja sepuasnya, karena semua tabungan sudah kubuat atas namamu."


Mata Jihan sungguh berbinar saat mendengar semua itu. Bahkan gadis itu sempat-sempatnya berhayal menggunakan berlian mahal ditubuhnya, dan tidur diatas tumpukkan uang merah.


"Sayang. Kamu kenapa?" Ezra menyadarkan Jihan dari lamunannya.

__ADS_1


"Eh? tidak, aku hanya merasa terharu saja. Makasih ya sayang, aku benar-benar beruntung memilikimu."


"He, beruntung? kita lihat sampai berapa lama keberuntunganmu itu akan bertahan lama. Inilah perbedaan besar yang mencolok antara dirimu dan Marinka. Jika Marinka pasti tidak akan membiarkanku menghambur-hamburkan uang demi hal yang tidak terlalu penting."


"Kamu orang yang aku cintai, sudah selayaknya aku membahagiakanmu bukan?"


"Makasih ya sayang. Ya sudah tidak apa tidak belanja hari ini,"


"Gadis pintar," Ezra mengusap puncak kepala Jihan.


"Sebaiknya kamu pulang dulu ya? sebentar lagi aku mau mengadakan rapat."


"Baiklah. Aku pulang dulu ya?"


"Emm. Hati-Hati,"


Jihan hendak memberikan Ezra sebuah ciuman perpisahan, tapi Ezra menolak dengan halus.


"Kenapa?"


Ezra menunjuk kearah cctv, dan Jihan hanya bisa menghela nafas kesal. Setelah Jihan pergi dan hilang di balik pintu, Ezra melepas jas yang dia kenakan dan memanggil Regia.


"Ada apa tuan?"


"Laundry jas ku hingga bersih."


"Baik tuan."


"Satu lagi, panggilkan Yuda kemari!"


"Eh?"


"Kenapa?"


"Tidak apa. Saya akan panggilkan,"


Sementara itu disepanjang perjalanan Jihan tampak berpikir. Saat melewati meja Regia, gadis itu tidak sengaja membaca tag name Regia di dada gadis itu.


"Apa dia nama yang sama dengan orang yang sudah memerasku? cukup masuk akal kalau dia pegawai Ezra, karena dia mengetahui semua tentangku. He...lihat saja, kalau itu benar kamu, aku akan mengurusmu setelah pernikahanku nanti."


Tok


Tok


Tok


"Masuk!"


Kriekkk


"Mau apa dia kemari? apa ingin minta maaf karena mengabaikanku? he, aku tidak akan membiarkanmu mendapat maafku dengan mudah," batin Yuda.


"Ada apa?"


"Anda dipanggil tuan Ezra ke ruangannya. Permisi,"


Regia langsung balik badan dan keluar dari pintu. Yuda hanya bisa melongo melihat sikap cuek Regia padanya, yang membuat pria itu sukar menerima sikap Regia tersebut.


TO BE CONTINUE....πŸ€—πŸ™

__ADS_1


__ADS_2