Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.248. Ular Besar


__ADS_3

"Masih lama nggak sih mandinya? udah hampir malam ini?" teriak Vania dari atas tempat tidur.


"Sebentar lagi. Sudah mau bilas," teriak Yugie dari arah dalam kamar mandi.


Namun Vania tahu betul, berdasarkan tingkat kesulitan Yugie yang menjawab pertanyaannya, saat ini pria itu pasti sedang menggosok giginya. Vania tidak lagi bersuara, wanita itu bermain ponsel dan membuat video di akun media sosial miliknya.


Krieekkkk


Tidak lama kemudian terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Vaniapun menoleh kearah sumber suara dan mendapati tubuh kekar berotot milik Yugie terpampang nyata.


Sesaat kemudian Vania melengos, dia tidak ingin ketahuan Yugie karena sudah mengagumi tubuh indah pria itu.


Vania meletakkan ponselnya diatas tempat tidur, dan kemudian berdiri karena ingin pergi ke kamar mandi. Namun baru beberapa langkah dia melangkahkan kakinya, tiba-tiba hal tak terdugapun terjadi.


Lappppp


Lampu mati tiba-tiba. Vania yang takut kegelapan langsung berhambur kepelukkan Yugie.


"Huuuaaaa hantuuuuu," teriak Vania.


"Hantu apa sih? nggak ada hantu," ujar Yugie.


"Nggak mau. Pasti ada hantunya," ucap Vania


Dapat Yugie rasakan, tubuh Vania saat ini gemetar. Dia baru tahu, bahwa istrinya itu takut kegelapan. Yugie menggiring istrinya itu agar duduk di tempat tidur, karena dirinya ingin mencari keberadaan ponselnya sebagai penerang mereka.


"Tunggu sebentar, biar aku cari ponselku dulu," ujar Yugie berusaha membuat Vania tenang.


"Jangan tinggalkan aku. Aku mohon jangan tingggalkan aku. Hikz...." Vania jadi terisak saat Yugie tiba-tiba menjauh.


Vania yang ketakutan jadi nekat mencari keberadaan Yugie. Yugie yang tidak waspada jadi berbenturan dengan Vania.


Bruuuuuukkkkkk


"Awwwww," Yugie meringis karena tubuh Vania menimpa dirinya yang sudah mendarat dilantai.


"Vaniaaa...uuggghhh...." Yugie melengguh saat kejantanannya tiba-tiba diremas oleh Vania.


"Ulaaarrrrrr...Yugie...ada ular besar Yugie..." teriak Vania sembari berdiri seketika.


"Diamlah Vania! malu di dengar tetangga," ucap Yugie lirih.


"Tidak mau aku takut. Hikz...ada ular besar disitu." Jawab Vania sembari menangis.


"Ular besar apa? nggak ada ular," Yugie mencari keberadaan Vania dengan mengenali sumber suara.


"Pokoknya aku mau pulang, aku mau pulang. Hikz...aku nggak mau tinggal disini lagi...aku takut. Hikz..." Vania semakin terisak.


Greppppp


Yugie memeluk erat Vania, untuk menenangkan istrinya itu.


"Husssttt diamlah. Aku ada disini, tidak akan terjadi apapun padamu selama kamu ada didekatku," ucap Yugie.

__ADS_1


"Tapi tadi sungguh ada ular. Aku tidak bohong, aku tidak sengaja memegangnya. Bagaimana kalau sampai dia menggigitku?" tangis Vania sudah berubah jadi sedu sedan.


Yugie kebingungan menjelaskannya pada Vania. Dia baru tahu, meskipun manja istrinya itu tergolong masih polos.


"Yugie kenapa kamu diam saja? jangan diam saja, bersuaralah. Ini benar-benar gelap. Apa disini memang sering mati lampu?" tanya Vania.


"Sabar ya? besok aku akan membeli lampu darurat dan alat penerang lainnya. Sekarang bisakah kamu melepaskanku? aku mau pakai baju dulu,"


"Nanti saja pakai bajunya. Pokoknya jangan meninggalkanku selangkah kakipun." Jawab Vania.


Yugie yang pegal kembali menarik Vania menuju tempat tidur untuk duduk disana. Untuk sesaat Yugie melepaskan tangan istrinya itu, dan Vaniapun kembali heboh.


"Yugie sudah kubilang jangan jauh-jauh dariku," ujar Vania sembari meraba-raba tempat tidur.


Setelah mendapatkan tubuh Yugi, hal tak terdugapun terjadi. Vania tiba-tiba naik diatas pangkuan Yugie dengan posisi mengangkang. Sedangkan kedua tangannya bertengger erat dileher pria itu.


"Va-Vania...apa yang kamu lakukan?" tanya Yugie gugup.


Meskipun Yugie terlihat berwibawa, namun pada kenyataannya pria itu juga minim pengalaman soal wanita.


"Diamlah. Kalau tidak begini, kamu pasti kabur lagi dan ninggalin aku sendiri. Kata orang kalau gelap para hantu akan bergentayangan," ucap Vania.


Yugie jadi terdiam. Dia sudah menyerah untuk meyakinkan Vania, kalau dikamar itu sama sekali tidak ada hantu yang dia maksud.


"Vania jangan sembarangan bergerak," ujar Yugie, saat Vania sesekali bergerak karena pinggangnya yang terasa pegal.


"Diamlah. Kamu yang terlalu banyak bicara," ucap Vania.


Deg


Jantung Vania berdegup, saat merasakan hembusan hangat disekitar lehernya. Namun nasib baik belum berpihak pada Yugie. Saat dirinya ingin beraksi, lampu kamar mereka tiba-tiba menyala.


Pandangan mata Yugie dan Vania bertemu. Vania bergegas memutus tatapan mata itu dan segera turun dari pangkuan Yugie. Setelah itu Vania bergegas pergi ke kamar mandi, dan tinggalah Yugie yang merasa frustasi karena tongkat kehormatannya sudah terlanjur bangun.


Selang 15 menit kemudian, Vania keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk ditubuhnya. Tanpa perasaan dia keluar begitu saja sembari bernyanyi-nyanyi didepan lemari pakaian.


Yugie yang sudah terkontaminasi hanya bisa melihat istri cantiknya itu dengan hanya menelan ludah saja. Dia bingung harus bagaimana memulai hubungan dengan Vania. Karena Yugie belum pernah sama sekali berpacaran.


"Vania. Apa kamu sudah memakai baju?" tanya Yugie basa basi.


"Kenapa?" tanya Vania.


"Tadi aku sudah memasak nasi. Bisa tolong gorengkan aku telur?" tanya Yugie.


"Goreng telur? apa makan malam kita hanya nasi dan telur goreng?" tanya Vania.


"Hari ini kita sibuk beberes rumah. Belum sempat belanja. Tadi cuma ada telur diwarung ujung sana. Aku juga sudah beli dua saset sambal terasi dan kecap." Jawab Yugie.


"Yang benar saja. Masa kita makan malam dengan itu saja? lebih baik aku nggak makan kalau begitu," ujar Vania.


"Kalau kamu tidak mau makan ya terserah saja. Yang penting tolong gorengkan dulu aku telur," ucap Yugie.


"Goreng ya tinggal goreng saja. Apa susahnya?" Vania bergegas keluar untuk menuruti permintaan suaminya itu. Namun belum ada 5 menit dia di dapur, suara jeritannya membuat Yugie terpaksa keluar kamar.

__ADS_1


Yugie sejenak ikut panik, saat asap mengepul dari wajan. Sementara Vania sudah terisak, karena tangannya sudah terkena cipratan minyak.


Ceklekkkk


Yugie mematikan kompor, dan hanya meninggalkan bau gosong. Wajan yang tadinya putih bersih, jadi berubah hitam dan berkerak. Yugie merenungi bentuk telur yang ada diwajan itu. Pria itu masih tidak habis pikir, bagaimana bisa Vania menggoreng telur namun beserta dengan cangkangnya.


Yugie menarik tangan Vania, agar istrinya itu duduk dimeja makan. Yugie kemudian mengambil kotak P3K dan segera mengobati tangan Vania yang terciprat minyak. Masih Yugie dengar sisa tangis Vania, namun Yugie cuma hanya diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


Vania menatap Yugie yang tampak serius mengobati tangannya. Entah mengapa untuk pertama kalinya wanita manja itu, merasa bersalah.


"Maaf," ujar Vania tertunduk yang membuat Yugie menghentikan gerakkan tangannya saat mengoles salf pada tangan Vania.


Sesaat kemudian Yugie kembali meneruskan mengoles salf, tanpa menjawab ucapan Vania.


"Kamu marah?" tanya Vania.


"Tidak ada gunanya marah. Tapi lain kali kalau kamu tidak bisa mengerjakan sesuatu, sebaiknya bilang saja. Takutnya lain kali tidak hanya wajan yang kamu bakar, tapi rumah ini akan rata dengan tanah." Jawab Yugie tanpa melihat kearah Vania.


"A-Aku memang tidak bisa apapun. Aku bahkan tidak mengenali satupun bumbu dapur. Selama ini semua pekerjaan dikerjakan oleh pembantu. Apa menurutmu kita perlu pakai jasa pembantu?" Harap Vania.


"Aku percaya suatu saat kamu pasti bisa melakukan semuanya. Istri adalah ujung tombaknya rumah tangga. Sekarang zaman sudah canggih, kamu bisa belajar apapun dari media sosial. Kuncinya cuma satu, yaitu niat."


"Tapi aku tidak suka pekerjaan rumah tangga." Jawab Vania.


Yugie terdiam. Pria itu tidak merespon ucapan istrinya yang terdengar sangat menyedihkan ditelinganya. Setelah mengobati Vania, Yugie kemudian pergi kedapur. Yugie mendadar dua butir telur dan meletakkannya diatas piring.


"Mau makan?" tanya Yugie.


Vania yang sudah sangat lapar, terpaksa menganggukkan kepalanya. Dan jadilah Yugie yang melayani Vania. Namun tanpa Yugie sadari, semua gerak gerik pria itu sudah Vania perhatikan.


"Makanlah! ini sambal dan kecap jika kamu suka," ujar Yugie sembari menyodorkan satu saset sambal terasi, dan satu saset kecap manis.


Vania memperhatikan cara Yugie memakan makanan itu, dan diapun menurutinya.


"Ap-Apa dirumahmu juga makan seperti ini?" tanya Vania berhati-hati.


"Tidak. Pengalaman makan sederhana hanya kutemukan saat aku menjalani pendidikkan Polisi." Jawab Yugie.


"Kenapa harus menyiksa diri? kalau hanya ingin makan enak, aku masih punya tabungan buat membeli makanan yang layak," ujar Vania.


"Simpan uangmu untuk kebutuhanmu sendiri. Jangan pernah memakainya untuk kebutuhan rumah tangga, mengerti?"


"I-Iya." Jawab Vania.


"Nanti gajiku akan kuberikan semua padamu. Kamu kelolah dengan baik, agar bisa cukup untuk kebutuhan sebulan. Syukur-Syukur ada sisa buat nabung," ucap Yugie.


"A-aku takut tidak bisa." Jawab Vania.


"Aku percaya kamu pasti bisa. Besok aku gajian, nanti ATM ku kamu yang simpan."


Vania menatap pria dihadapannya itu. Entah mengapa dia merasa sedikit terharu, karena Yugie mempercayainya dan sangat mengahargainya.


To be continue...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2