Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.233. Ikhlas


__ADS_3

Flashback Off


Suasana rumah keluarga Hawiranata masih terlihat dalam nuansa kekeluargaan. Malam nanti barulah akan diadakan resepsi pernikahan di salah satu hotel berbintang, yan mengundang ribuan tamu dari berbagai kalangan.


Yure menuntun Ezka saat kedua sejoli itu akan menaiki tangga menuju kamar pengantin mereka. Meiza yang baru saja menangis di balkon rumah, terpaksa harus menyaksikan pertautan tangan mesra antar Yure dan Ezka tepat di depan matanya.


Meiza melirik kearah Yure, dan pria itu tersenyum kearah gadis yang sudah dia anggap seperti adik kandungnya itu. Namun diluar dugaan Yure, Meiza malah membuang muka dan langsung membuka pintu kamarnya.


Brakkkkkkk


Pintu kamar Meiza di tutup dengan lumayan keras, hingga Yure dan Ezka mengelus dada karena kaget.


"Meiza kenapa? kok kayak marah gitu?" tanya Yure.


"Kita bicarakan dikamar saja." Jawab Ezka.


Kriekkkkk


Ezka menekan handle pintu kamarnya, dan duduk di tepi tempat tidur.


"Yure. Bantuin aku lepasin aksesorisnya, ini sungguh berat," ujar Ezka yang berusaha melepaskan berbagai jenis aksesoris yang melekat di rambutnya.


"Bisakah kamu ubah nama panggilanmu sama aku? telingaku agak sedikit terganggu mendengarnya," ucap Yure sembari melepaskan satu persatu aksesoris di rambut Ezka.


"Mau di panggil apa? adik Yure?" Ezka sengaja ingin membuat Yure jengkel.


"Meskipun aku lebih muda darimu, tapi sudah sepatutnya kamulah yang memanggilku kakak, mas, abang, atau apalah itu," ucap Yure.


"Jadi kamu mau dipanggil apa?" tanya Ezka.


"Dipanggil Papa ajalah. Sebentar lagi kita juga akan punya anak juga kan?" ucap Yure.


"Oke papa sayang," Ezka mencubit pelan pipi Yure.


"Tapi ngomong-ngomong si Meiza tadi kenapa?" tanya Yure.


Ezka menghela nafasnya, sebelum menjawab pertanyaan Yure.


"Semalam dia mendatangi kamarku saat baru tiba dari London. Dia bilang aku sudah merebutmu dari dia. Sebenarnya aku sedikit merasa bersalah sama dia." Jawab Ezka.


"Kenapa harus merasa bersalah? kalaupun tidak bersamamu, aku juga tidak akan bersama dia. Cinta kan tidak bisa dipaksakan. Tapi apapun itu, sejak awal gadis yang aku cintai itu memang kamu, dan aku nggak mau yang lainnya," ujar Yure.


"Aku juga sudah menasehati dia, tapi dia nggak mau mendengar alasan apapun. Nggak apalah, lambat laun dia juga akan menyadari kekeliruannya," ujar Ezka.


"Apa kamu akan mengizinkan kalau aku berbicara dengannya?" tanya Yure.

__ADS_1


"Buat apa?"


"Hanya ingin menegaskan, kalau orang yang aku cintai dari awal itu adalah kamu. Aku juga ingin menegaskan, kalau aku dan dia tidak akan mungkin bersama." Jawab Yure.


"Tapi aku takut dia menggila," ujar Ezka.


"Menggila apa? dia tidak mungkin begitu. Dia seorang gadis yang berpendidikkan, pasti bisa berpikir secara rasional," ucap Yure.


"Terserah saja, yang penting aku sudah mengingatkanmu," ujar Ezka.


Srettttt


Yure menarik resleting gaun pengantin yang Ezka kenakan saat ini. Punggung putih mulus milik Ezka sudah terpampang nyata didepan mata Yure.


Cup


Yure mencium punggung Ezka, hingga wanita itu memejamkan mata, saat merasakan ada gelenyar aneh di tubuhnya.


"Sayang. Pengen," bisik Yure.


"Tapi ini masih siang. Nanti kedengaran orang-orang," ujar Ezka.


"Aku janji akan pelan-pelan," ujar Yure.


"Nanti malam saja, saat sudah resepsi." Jawab Ezka.


"Lama apanya? kan baru 2 minggu yang lalu." Jawab Ezka.


"Pokoknya aku mau sekarang. Dosa loh nolak ajakkan suami," ujar Yure dengan senjata pamungkasnya.


Ezka memutar bola matanya dengan malas, sementara Yure jadi terkekeh. Yure bergegas melepaskan gaun pengantin itu, dan mere**s lembut gundukkan indah milik Ezka yang sudah bertambah besar ukurannya. Bibirnya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengakses ceruk leher istrinya itu


Entah sejak kapan kini Yure sudah tidak lagi mengenakan apapun. Memperlihatkan otot-otot perutnya yang menonjol.


"Kamu masih saja malu-malu. Kalau kamu suka, setuh saja. Ini semua adalah milikmu, termasuk yang ini," ujar Yure sembari menunjuk kejantanannya yang sudah mengacung sempurna.


Benar apa yang Yure katakan. Ezka memang masih merasa malu menatap tubuh suaminya yang sudah polos itu. Yure kembali melakukan pemanasan. Setelah dirasa sudah cukup, Yure perlahan mendorong masuk miliknya, hingga jauh melesak kesana.


Namun perkataan Yure, tidak sesuai dengan perbuatannya. Pria yang berjanji akan melakukan itu dengan pelan, tanpa sadar mengguncang hebat tubuh Ezka. Tentu saja suara-suara merdu tidak bisa terelakkan dari keduanya. Hingga Meiza yang tidak sengaja lewat dari depan pintu sejoli itu, terpaksa harus mendengar suara-suara yang membuat hatinya semakin sakit.


Meiza memutuskan kembali ke kamarnya untuk beberes, dan memasukkan pakaiannya kedalam koper.


"Kamu mau kemana Mei?" tanya Moza


"Aku mau kembali ke London." Jawab Meiza.

__ADS_1


"Kembali bagaimana? malam ini masih ada acara resepsi pernikahan kak Ezka. Lagipula keluarga Om Ando akan tiba dari Paris hari ini, kamu nggak mau ketemu mereka?" tanya Moza.


"Nggak." Jawab Meiza singkat.


"Kamu kenapa sih? kok uring-uringan gini. Ada apa? jangan bilang ini ada hubungannya dengan kak Yure?" tanya Moza.


Meiza menghentikan gerakkan tangannya. Gadis cantik itu menatap tajam ke arah Moza.


"Sudah kuduga. Jadi kamu masih belum bisa move on? ayolah Mei, sekadang dia sudah jadi kakak ipar kita. Kamu orang berpendidikkan masak mau musuhin kak Ezka hanya karena seorang pria? pria di dunia ini masih menjamur kali Mei," ucap Moza.


"Kamu nggak pernah merasakan rasanya jadi aku," ujar Meiza.


"Memangnya kak Yure mau sama kamu? sadar dong Mei, kamu yang kayak gini bisa menghancurkan diri kamu sendiri," ucap Moza.


"Makanya biarkan aku nenangin diri dulu, aku mau ke London." Jawab Meiza.


"Terserah kamu. Tapi yang pasti papa mama akan kecewa melihat tingkahmu yang kekanakkan gini," ujar Moza.


"Terserah." Jawab Meiza.


Meiza segera menarik kopernya dan keluar dari kamar itu. Yure yang baru saja selesai bertempur, keluar kamar karena ingin mencari udara segar di balkon. Namun saat dirinya keluar dari pintu, Yure bersitatap dengan Meiza yang akan menuruni anak tangga.


"Tunggu! kamu mau kemana?" tanya Yure.


"Mau kembali ke London." Jawab Meiza datar.


"Kembali ke London? yang benar saja. Malam nanti masih ada acara resepsi kan? apa tidak bisa di tunda besok saja?"


"Kenapa harus di tunda sampai besok? apa kalian ingin pamer kemesraan di hadapanku?" tanya Meiza.


Mendengar itu Yure jadi mengerutkan dahinya.


"Kamu kenapa jadi gini sih Mei? sepertinya aku memang butuh bicara serius denganmu. Ayo ikut aku," ucap Yure yang menarik tangan Meiza agar mengikutinya ke balkon.


"Kamu kenapa gini? kamu musuhin kakak kamu hanya karena perasaan yang tidak berbalas?" tanya Yure saat mereka sudah sampai di balkon.


"Oh...ternyata dia sudah mengadu pada kakak? apa dia menjelek-jelekkan aku?" tanya Meiza.


"Hey...dia yang kamu maksud itu kakak kamu loh? kamu kenapa jadi gini sih? walau aku nggak sama dia, kakak juga nggak mungkin sama kamu. Kamu itu sudah kuanggap seperti adik bagiku. Kakak mohon ikhlaskan semuanya."


"Lagipula kata orang cinta tertinggi dari seseorang, dimana dia sanggup melepaskan orang yang dia cintai untuk bahagia meski tidak bersama kita. Meiza, jangan lukai hati dan harga dirimu dengan menyimpan dendam pada orang yang tidak pantas kamu sakiti. Didalam perutnya ada keponakkanmu, yang artinya itu juga darah dagingmu. Apa kamu tega membuat mereka tidak memiliki seorang Ayah?"


"Terus apa kamu mau mengecewakan papa mama dengan kepergianmu yang mendadak? Meiza, lepaskanlah kakak. Percayalah, suatu hari nanti kamu akan menemukan orang yang akan mencintaimu dengan tulus. Kamu itu cantik, baik, dan berpendidikkan. Seseorang yang sudah dinobatkan sebagai jodohmu, akan datang padamu suatu hari nanti."


"Hikz...."

__ADS_1


Meiza berhambur kepelukkan Yure. Yure yang kebingungan terpaksa membalas pelukkan itu sebagai bentuk kasih sayang seorang kakak pada adiknya. Sementara itu dari balik tembok, Ezka yang mendengar semua percakapan itu menyeka air mata harunya. Tidak ada rasa cemburu saat melihat adegan itu, karena dia tahu Yure hanya mencintai dirinya saja.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2