
"Sepertinya usahamu benar-benar lancar disana," ujar Ezra sembari menyesap minuman dari gelasnya.
"Ya. Bahkan kali ini aku memesan bahan mentah 3 kali lipat dari sebelumnya." Jawab Ando sembari memasukkan bibi-biji kacang kedalam mulutnya.
"Wahh..itu gila Ndo. Satu saja sudah berlimpah ruah hasilnya, bagaimana kalau 3 kali lipat? kamu akan menjadi seorang milyarder di Paris," timpal Yuda.
"Demi masa depanku dengan dia. Aku ingin mengembangkan usahaku. Terlebih dia seorang disigner juga."
"Perfec banget hidupmu Ndo. Punya usaha dibidang itu, punya gebetan juga seorang disigner. Benar-Benar sempurna kalau beneran jadi," ucap Ezra.
"Mungkin dia memang calon jodoh yang diberikan tuhan untukku."
"Pepet terus Ndo. Buat dia merasa ketergantungan denganmu," ujar Yuda.
"Bagaimana caranya?" tanya Ando.
"Kasih dia hadiah-hadiah kecil maupun besar di momen-momen tertentu. Lagipula tidak ada wanita yang tidak mencintai uang di era sekarang ini."
"Kamu salah Yud. Wanitaku ini sangat berbeda dari wanita lain. Dia sangat menghargai yang namanya uang, dia juga marah kalau aku terlalu boros hanya karena membeli barang-barang yang tidak penting,"
"Wah...jenis wanita langka itu," ucap Yuda.
"Ah...istri kecilku juga begitu. Aku jadi bertambah merindukannya," batin Ezra.
"Zra. Kapan kamu akan ke Paris lagi? sesekali kesana dong, nggak harus pas perusahaanmu bermasalah baru kesana kan? sesekali kontrol dadakkan," tanya Ando.
"Ya. Kapan-Kapan aku akan kesana." Jawab Ezra.
"Kamu gimana Yud? udah bertemu calon jodoh belum?" tanya Ando.
"Sudah dong. Sebentar lagi aku akan menikah."
"Ah bokis loe."
"Ye...malah nggak percaya ini bocah. Tanya noh Ezra," ujar Yuda.
"Ya, bentar lagi dia akan melamar gadis pujaannya itu," timpal Ezra.
"Widihh...akhirnya Yud. Pecah telor juga, jangan lupa undang gue ya pas nikahan nanti."
"Pasti."
"Oh ya Zra. Mengenai pengembangan usahaku, gimana kalau kita melakukan kerjasama?"
"Kerjasama?" tanya Ezra.
"Ya. Perusahanmu dibidang pemasaran sangat bagus, apapun yang kalian pasarkan akan buming alias terkenal. Bagaimana kalau perusahaanmu memasarkan barang-barangku? aku ingin label pakaianku mendunia."
Ezra tampak berpikir, bukan berpikir tentang keinginan Ando yang ingin melakukan kerjasama dengannya, tapi dia berpikir tentang Marinka yang ingin menjadi disigner terkenal dan semua disign miliknya akan mendunia.
"Ckk...segitunya kamu nggak mau kerjasama denganku zra. Sampai-Sampai pikiranmu menerawang jauh,"
"Eh? bukan begitu Ndo. Aku jadi teringat tentang keinginan istriku yang ingin jadi seorang disigner dunia. Andai dia ada disisiku selamanya, aku pasti akan mewujudkan semua keinginannya itu."
__ADS_1
"Tentang kerjasama kita kamu boleh mengajukan proposalnya, biar Yuda nanti yang akan mengurus semuanya."
"Oke. Semoga kerjasama kita berjalan lancar," ujar Ando.
"Amiin," Yuda dan Ezra kembali mengaminkan.
Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba ponsel Ando berdering. Pria itu menyunggingkan senyumnya, saat melihat nama Marinka tertera di layar ponselnya. Yuda mencolek Ezra yang melihat Ando tersenyum-senyum sendiri.
"Hallo," ujar Ando selembut mungkin.
Mendengar suara Ando yang terkesan lembut seperti tape ubi, membuat Yuda tidak tahan untuk tidak menjulurkan lidahnya seolah sedang memuntahkan sesuatu.
Pukk
Ezra memukul paha Yuda sembari terkekeh, karena sejujurnya dia juga geli mendengar nada suara Ando.
"Kak. Kakak kapan pulang?" tanya Marinka.
"Kenapa? kangen kakak ya? belum juga satu hari kakak tinggal," ucap Ando.
"Bu-Bukan begitu kak. Permintaan barang semakin banyak, sedangkan stok kita tinggal sedikit. Bagaimana ini kak?"
"Kamu tenang saja ya? kakak besok pulang kok."
"Baiklah. Arin lega mendengarnya, Arin tutup telponnya ya?"
"Ya."
Marinka mengakhiri panggilan telpon itu dengan senyum-senyum sendiri.
"Ho'oh Yud. Tape singkong aja kalah sama dia, betapa merdu dan aduhainya suara kak Ando," timpal Ezra.
"Preeettttt, hampir aja gue mau masuk sumur, gegara dengar suara lebay loe tadi Ndo," ujar Yuda.
"Kalian ini seperti nggak pernah ngalamin kasmaran aja. Masa iya aku ngomong sama dia suara kayak pakai TOA? harus lembut dong, kalian nggak tahu aja, sia Arin itu orang nya sangat lemah lembut. Saking lembutnya, kalau dengar dia ngomong bawa'annya ingat kasur aja," ujar Ando sembari terkekeh.
"Pretttt...itu mah emang pikiranmu saja yang mesum. Tapi nggak apalah Ndo, janda ini. Barang kali loe mau test drive," ujar Yuda terkekeh.
"Sembarangan. Biat janda juga harus di hargai Yud. Apalagi dia ini janda berkelas,"
"Idih...janda berkelas katanya Zra. Kelas berapa Ndo?"
"Kelas 10. Taukkk ah...loe mah resek jadi orang," ujar Ando sembari melempar kulit kacang kearah sahabatnya itu.
"Loe kalau mau belajar cara menggaet wanita, belajarlah dari Ezra," ujar Yuda.
"Kenapa?"
"Noh...ama Jihan awet bertahun-tahun. Mummy Fir'aun aja, kalah awet sama dia," sindir Yuda.
"Ho'oh, saking lamanya ampe busuk didalam," timpal Ando.
"Bolong lagi bawahnya. Kirain kue apem, eh...tahunya donat bro," ujar Yuda yang tertawa keras bersama Ando.
__ADS_1
"Sialan. Kalian ngejek aku? emang kecengan kalian apem tradisional? donat semua juga kan?" skak Ezra.
Tawa Yuda dan Ando mereda seketika saat mendengar ucapan Ezra.
"Emang calon istri loe donat juga Yud?"
"Kecelakaan." Jawab Yuda.
"Ah...ya sudahlah, mau donat atau apem sama saja. Sama-Sama bikin kenyang ini. Lagipula kalau memang jodohnya begitu, mau diapakan lagi?" ucap Ando.
"Iya Ndo. Biar begitu, aku sayang sama dia," ucap Yuda.
"Pulang yuk? kayaknya pagi-pagi gue harus cabut ke Paris lagi,"
"Cepat amat Ndo," tanya Yuda.
"Pesanan barang membludak, sementara stok sudah menipis. Aku harus menangani ini semua. Agar Arin tidak bingung,"
"Ciye...sekarang Arin terus yang disebut," goda Yuda.
"Ya mau gimana lagi Yud. Lagipula aku kangen sama dia,"
"Ya elah Ndo, baru juga pisah sehari," ucap Yuda.
"Tahu sendiri kalau lagi jatuh cinta, pisah sehari terasa setahun."
"Preettttt...lebay...lebay.." ejek Yuda.
Ando dan Ezra jadi terkekeh melihat ekspresi Yuda yang lucu. Seperti biasa, sebelum berpisah mereka akan melantai bersama. Membuat gerakkan-gerakkan lucu, yang mereka abadikan didalam ponsel mereka.
*****
"Makasih udah ngantarin gue ke bandara Yud. Seharusnya sepupu gue yang mau antar ke bandara. Tapi tiba-tiba dia ada ujian dadakkan hari ini," ujar Ando.
"Nggak apa. Lagian gue nggak akan izinin loe naik taksi. Buat apa punya teman kalau gitu,"
"Makasih Yud. Oh ya, rencananya kapan loe mau ngelamar pacar loe itu?"
"Yang pasti abis lebaran."
"Lama amat Yud."
"Gue mau konsen cari istri si Ezra dulu, kasihan dia."
"Iya juga. Maafin gue ya Yud, harusnya gue ikut bantu juga. Kayaknya gue kudu memperbanyak karyawan, biar kerjaan gue sedikit longgar dan bisa bantuin loe."
"Nggak usah Ndo. Gue ngerti kesibukkan loe, gue juga udah kerahin semua kemampuan gue buat nemuin istri si Ezra."
"Hah...moga aja membuahkan hasil ya Yud?"
"Amiin."
Tidak berapa lama kemudian merekapun sampai di bandara. Setelah menunggu hampir 30 menit, Ando pun mengudara bersama burung besi yang ia tumpangi.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...🤗🙏