
"Jadi siapa yang akan saya habisi lebih dulu bos? kenapa anda berubah pikiran, dan malah menghentikan aksi saya menghabisi salah satu keluarga Hawiranata?" tanya Christian.
"Karena aku ingin menyaksikan keturunan Hawirana mati secara langsung di depan mataku. Aku harus melihat secara langsung kesedihan dari Ezra Hawiranata." Jawab Deryl.
"Jadi siapa yang harus saya lenyapkan lebih dulu?" tanya Christian.
"Lenyapkan si pengkhianat Joana lebih dulu. Dia cukup berbahaya bagi kita. Aku tidak mau dia menjadi penghalang bagi kita, untuk melenyapkan keturunan Ezra Hawiranata."
"Baiklah. Sayang sekali sebenarnya gadis secantik itu tidak ku cicipi lebih dulu, dan malah mati dengan mengenaskan," ucap Christian.
"Kalau tugasmu berhasil. Aku akan memberikanmu 10 wanita cantik dalam semalam," ujar Deryl yang dibalas seringai puas dari Christian.
"Kalau begitu besok kita akan membidiknya di rumah sakit itu. Bila perlu aku akan menghabisi mereka secara bersamaan," ucap Christian.
"Bagus. Terserah saja kamu mau bagaimana. Yang penting aku mau besok mereka harus dilenyapkan sepenuhnya. Setelah itu kita bisa pikirkan langkah selanjutnya untuk melenyapkan keturunannya yang lain," ujar Deryl.
"Baiklah,"
Deryl melihat waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dia memutuskan untuk pergi beristirahat. Dan besok pagi mereka akan melakukan aksi pembunuhan itu.
*****
"Apa kalian sudah siap?" tanya Ezra yang baru tiba di rumah sakit Jerman.
"Sudah pa." Jawab Meiza.
"Apa administrasinya sudah di urus?" tanya Ezra.
"Sudah pa." Jawab Ilyas.
"Kalau begitu cepatlah. Kita tidak punya banyak waktu. Orang-Orang papa sudah menunggu di luar," ujar Ezra.
Merekapun bergerak cepat. Joana membantu Ilyas mendorong kursi roda. Sementara Ezra mendorong kursi roda Meiza.
"Hallo om. Om dimana?" tanya Abizard yang baru tiba di rumah sakit.
"Ada di koridor menuju keluar rumah skait. Kamu dimana?" tanya Ezra.
"Lagi di jalan menuju rumah sakit. sekitar 2 menit lagi sampai." Jawab Abizard.
"Jangan dimatikan sambungan telponmu. Saat ini kita terhubung dengan panggilan bersama 4 orang penembak jitu kita," ujar Ezra.
"Baik Om." Jawab Abizard.
Tidak berapa lama kemudian Abizard tiba di rumah sakit di halaman depan.
"Bos musuh terdeteksi. Saat ini dia berada dipuncak gedung arah pukul 11 dari depan pintu rumah sakit," ujar seorang penembak jitu suruhan Ezra.
__ADS_1
Langkah Ezra terhenti seketika saat mereka sedikit lagi akan mencapai pintu rumah sakit. Ezra lupa kalau Joana sudah berjalan lebih dulu dan sudah berjalan ke depan halaman rumah sakit.
"Joana," ucap Abizard lirih.
Abizard yang melihat Joana tengah mendorong Ilyas sangat khawatir.
"Hehe. Targetmu sudah keluar Chris, hajar sekarang!" ucap Deryl sembari melihat dengan alat teropongnya.
"Bos alat mereka membidik. Kami kesulitan beraksi, karena medan mereka sulit."
"Ganti tempat bidik kalian bodoh!" hardik Ezra.
Mendengar suara Ezra berteriak, Joana menoleh seketika. Namun tanpa dia sadari dirinya kini menjadi sasaran tembak oleh seorang penembak Jitu. Joana langsung waspada seketika dan menoleh kearah tempat yang akan dia pikirkan, jika sedang membidik orang lain. Dan sasaran matanya sangat tepat. Saat ini Chris tersenyum lebar, saat senjata apinya sudah menemukan titik tepat di tengah-tengah kepala gadis itu.
"Sial. Aku jadi sasaran bidik sekarang," ujar Joana.
Door
Christian melepaskan sebuah peluruh dengan senjata api kedap suara.
"Bos peluruh sudah lepas,"
Drap
Drap
Drap
Grepppp
Abizard memeluk tubuh Joana dengan erat.
"A-Abizard. Kamu disini? menyingkirlah! ada penembak jitu di sekitar sini.
"Ada pahlawan kesiangan rupanya," ujar Deryl.
"Tembak sekali lagi. Biarkan sepupuku itu mati mengenaskan!" Deryl menyeringai.
Door
Psyuuuu
Brakkkkk
Mata Deryl terbelalak, saat tiba-tiba Christian tumbang disampingnya, dengan samping kepala sudah tertembus peluru.
"Akkkhhh...."
__ADS_1
"A-Abi kamu kenapa? kenapa wajahmu pucat dan berkeringat? kamu masih sakit?" tanya Joana panik.
"Joana aku mencintaimu. A-Aku mencintaimu," ucap Abizard.
Brukkkkk
Abizard tumbang di halaman rumah sakit. Tubuh Joana bergetar, saat melihat dipunggung Abizard ditemukan darah yang diakibatkan terkena sasaran peluru.
"Abi. Bangun! awas kalau kamu berani mati. Bangun abi, bangun! Hikz...."
Joana mengguncang-guncang tubuh Abizard.
"Bos sasaran sudah tewas. Tetap waspada! seseorang masih mengintai,"
Ezra lebih fokus saat Joana mengguncang-guncang tubuh Abizard. Dengan sigap Ezra hendak berlari kearah itu, tapi Meiza melarangnya.
"Jangan pa. Bahaya! lebih baik sekarang kita suruh petugas kesehatan buat bantu Abi. Mereka nggak akan berani melukai warga sipil," ujar Meiza.
Ezra segera bertindak. Petugas rumah sakit segera menyelamatkan Abizard. Ilyaspun juga dibawa kembali masuk kedalam rumah sakit.
"Deryl. Aku bunuh kamu!" teriak Joana sembari memasukkan peluruh kedalam pistol yang berada di balik jaket hitamnya.
Namun ketika dia hendak beranjak, tiba-tiba Abizard yang lemah bangun seketika dan mencekal tangan gadis itu.
"Ja-Jangan tinggalkan aku! ja...."
Abizard kembali tidak sadarkan diri.
"Abi bangunlah! aku janji tidak akan meninggalkanmu. Aku mohon bangunlah! hiks...."
"Tetaplah disini. Jangan meninggalkannya. Penembak jitu itu sudah tewas. Anak buahku sedang mengincar Deryl saat ini," ujar Ezra.
Joana langsung menoleh kearah Ezra. Untuk pertama kalinya gadis itu terlihat lemah dimata Ilyas. Bahkan dia tidak pernah melihat Joana menangis. Dan dia yakin Joana sudah menyukai Abizard.
"Aku mohon jangan habisi Deryl lebih dulu. Aku ingin kalian menangkapnya hidup-hidup. Aku ingin menghabisinya dengan tanganku sendiri," ujar Joana.
Ezra menatap Joana. Sesaat kemudian dia menyunggingkan senyumnya kearah gadis itu.
"Tentu. Deryl akan menjadi mainanmu nantinya," ucap Ezra.
Joana menatap ruang operasi dengan sesekali berkedip. Tidak ada yang tahu saat ini dada gadis itu berdegup kencang karena khawatir.
"Abizard bodoh. Kenapa kamu melindungiku. Aku mati tidak apa-apa, karena aku tidak memiliki keluarga. Tapi kamu memiliki keluarga yang besar dan hangat. Apa cintamu padaku sebesar itu? aku mohon bertahanlah. Beri aku kesempatan untuk meyakinkan perasaanku kalau aku juga sangat mencintaimu,"
Air mata Joana merebak tanpa bisa di cegah. Ilyas memberi kode pada Meiza untuk menenangkan Joana yang tengah terguncang itu.
Tap
__ADS_1
Meiza meraih pundak Joana. Gadis berambut pirang itu menoleh kearah Meiza dan memeluk wanita berbadan dua itu seketika. Tubuh Joana bergetar karena terisak. Meiza mengerti, saat ini Joana pasti merasa sangat bersalah atas sakitnya Abizard.