Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.115. Marinka Murka


__ADS_3

"Sebaiknya kalian selesaikan masalah kalian dulu," ujar Ando yang langsung bangkit dari tempat duduknya dengan wajah masam.


Yuda dan Sera ikut mengekor dibelakang Ando. Mereka ingin memberikan waktu pada Ezra dan Marinka untuk menyelesaikan masalah mereka.


Brakkkk


Pintu diruangan itu kini sudah tertutup rapat. Hanya ada keheningan diantara Ezra dan Marinka saat ini. Semua kata-kata yang Ezra rangkai selama 7 bulan ini, seakan lenyap tertelan bersama salivanya. Rasa takut, gugup, dan juga rindu, bercampur menjadi satu.


"Dek..." Ezra mendekat kearah Marinka, dan langsung memeluk wanita itu.


"Abang sangat merindukanmu," tutur Ezra lirih. Sementara Marinka sama sekali tidak berniat membalas pelukkan pria itu, bahkan tubuhnya cenderung kaku.


"Bang," Marinka mendorong dada pria itu pelan, sembari menatap lekat kearah pria itu.


"Adek nggak tahu apa yang terjadi sebenarnya, sehingga abang tidak memasukkan berkas perceraian itu ke pengadilan. Adek cuma ingin bertanya satu hal padamu, kenapa abang mencariku setelah gagal mengajukan perceraian itu?"


"Ayo Zra berpikir, jangan sampai salah menjawab. Ini masa depanmu, kalau kamu salah langkah maka kamu akan tamat," batin Ezra.


"Adek menginginkan jawaban yang jujur, bukan jawaban yang hanya ingin mencari kebenaran atas semua yang abang lakukan selama ini," sambung Marinka yang seolah tahu apa yang sedang Ezra pikirkan saat ini.


"Di-Dia sudah menghianatiku. Dia tidak sebaik yang abang kira. Saat adek pergi, abang sangat merasa kehilangan. Abang baru menyadari perasaan abang setelah adek meninggalkan abang dan menghilang."


Marinka tersenyum sinis, bahkan untuk beberapa detik wanita itu sempat terkekeh masam saat mendengar ucapan Ezra.


"Jadi karena dia menghianatimu, dan tidak sebaik yang abang inginkan, abang baru mengingatku?" tanya Marinka.


"Bu-Bukan begitu...dek.."


"Bang. Apa karena adek wanita lemah, tidak memiliki siapapun di dunia ini, miskin, jadi semua pria berhak menindasku?" suara Marinka sedikit bergetar.


"Dek..." Ezra ingin memeluk Marinka kembali, tapi Wanita itu menahan dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Apa abang menganggap adek ini seperti sampah? yang bisa dibuang dan dipungut sesuka hati?"


"Abang nggak pernah menganggap adek begitu. Please, beri abang kesempatan dek. Abang tahu abang salah, abang sudah merenung selama 7 bulan ini. Dari segi manapun, abang ini memang tidak layak disebut sebagai seorang suami."


"Tapi dek, abang ini cuma manusia biasa. Abang tidak mungkin tidak pernah melakukan khilaf dan dosa,"


"Tapi kesalahan abang sangat fatal bagiku. Mungkin memang salahku yang mencintaimu lebih dulu, meskipun aku tahu hatimu bukan milikku. Tapi bang, sebagai seorang wanita kami juga mempunyai batas kadar kesabaran sendiri. Disaat kami lelah untuk mencintai, maka kami akan pergi tanpa harus menoleh lagi."


"Tidak dek...jangan tinggalin abang lagi. Abang sudah kapok, jangan siksa abang lagi." ujar Ezra cemas.


"Oh ya? apa menurut abang siksaan yang abang berikan selama kita menikah tidak membuat hatiku sakit? apa abang lngat saat di Turki? abang memilih meniduri wanita lain daripada meniduri istri abang sendiri. Kalian berada didalam satu kamar yang sama sepanjang malam. Apa abang ingat waktu abang ke Paris? berhari-hari abang tidak memberikan aku kabar, ponsel abang juga sulit dihubungi, ternyata abang juga sedang asyik meniduri wanita lain. Bahkan foto-foto fulgar kalian Jihan kirim ke ponselku."


"Sakitttt....bang...rasanya sakit sekali melihat suami yang kita cintai meniduri wanita lain," suara Marinka bergetar hebat, karena air matanya sudah terjun bebas membasahi wajahnya.


Bruuukkkkk


Ezra turun dari sofa dan berlutut dihadapan Marinka sembari menggenggam kedua tangan wanita itu. Air mata pria itu tak kalah deras dari Marinka, kini dia baru tahu apa yang Marinka rasakan pada saat itu.


"Kenapa Abang kejam sekali. Hanya karena aku istri kontrakmu, abang sama sekali tidak menghargaiku dan menghargai ikatan suci pernikahan. Bahkan disaat hari perpisahan kita, disaat adek ingin memberitahumu...."


Suara Marinkan tercekat ditenggorokkannya, rasa sesak dan sakit bercampur didadanya. Marinka berusaha mengendalikan diri dengan menarik nafas dalam-dalam.


"Hah...sudahlah bang. Mungkin berpisah memang jalan terbaik untuk kita," ujar Marinka.


Ezra menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.


"Kumohon jangan dek...abang bisa mati. Si kembar...si kembar itu anak kita bukan?" Ezra berusaha meyakinkan Marinka agar wanita itu tidak meninggalkan dirinya.


"Anak kita? anak mana yang abang bicarakan. Mereka bukan anakmu, tapi anakku."


"Mereka anakku juga, bagaimana mereka bisa ada tanpa bantuanku?" ucap Ezra asal.

__ADS_1


"Aku minta bantuan batang pisang."


"Batang pisang apanya?"


"Ya batang pisang yang nggak punya hati dan perasaan. Sama seperti abang yang nggak punya hati dan perasaan." hardik Marinka yang membuat Ezra terdiam.


"Hari itu....dihari perpisahan kita, adek memang ingin memberitahumu segalanya, bahkan tentang perasaanku padamu. Adek sangat berharap abang mau mempertimbangkan perasaanku, minimal demi anak yang adek kandung."


"Saat dokter memberitahu tentang kehamikanku, adek sangat bahagia. Adek seperti punya harapan, agar rumah tangga kita tetap utuh. Adek bahkan lupa saat itu diperutku ada calon anak kita. Adek berlari ingin menemuimu secepatnya. Tapi apa yang adek dapat?"


"Hari itu aku mendengar dan melihat sendiri, suami yang aku cintai sedang bercumbu mesra dengan wanita lain diruang kerjanya. Suamiku juga mengatakan tidak mencintaiku dan sangat mencintai wanita lain itu. Bahkan...bahkan dia sudah menyiapkan berkas perceraian dari jauh-jauh hari,"


"Hikkkkzzz...ampun dek...maafin abang...," Ezra terisak sembari mencium kaki Marinka. Mereka kini sama-sama terisak dengan tangisan yang pecah ruah


"Sakitt...bang...adek sangat sakit hati. Bahkan tanpa ragu abang sudah lebih dulu menandatangi surat perceraian itu. Apa abang tahu rasanya jadi orang terbuang berkali-kali? apa abang tahu rasanya hidup terhina? rasa sakit itu benar-benar menusuk kedalam hatiku yang paling dalam, hingga adek tidak berani mencitai orang lain lagi."


"Jadi bang. Adek sudah putuskan, adek tetap mau berpisah. Biarkan adek hidup bahagia, adek sudah tenang disini."


Marinka beranjak dari tempat duduknya dan ingin meninggalkan tempat itu.


Grepppp


Ezra memeluk erat Marinka dari belakang dengan tangisnya yang sudah sedu sedan.


"Nggak dek, lebih baik adek bunuh abang saja. Abang nggak bisa tanpa adek. Abang benar-benar minta maaf, tolong beri abang kesempatan. Abang mohon...abang sangat mencintaimu dek..." tubuh Ezra bergetar.


Marinka memejamkan matanya dengan air mata yang sudah mengalir hingga kedagunya. Wanita itu masih bisa merasakan detak jantungnya masih untuk pria itu, dia tahu dirinya masih mencintai Ezra sampai saat ini.


"Tuhan...haruskah aku memberinya kesempatan? tapi aku masih sangat merasakan sakit hati atas semua perbuatannya. Haruskah aku menaruh dendam padanya juga? pelukkannya masih hangat seperti dulu, abang...adek mencintaimu...tapi...."


Marinka melepaskan pelukkan Ezra dan berbalik badan. Marinka menatap wajah Ezra yang sudah penuh dengan air mata."

__ADS_1


"Bang..."


__ADS_2