
Ezra meraih wajah Marinka yang tengah larut dalam pemikirannya sendiri, hingga pandangan mata mereka kembali berseloroh.
"Jangan berpikir terlalu keras, apa hatimu sedang bertanya-tanya tentang siapa wanita yang sedang berbicara ditelpon tadi. Hem?" tanya Ezra sembari mengusap wajah Marinka dengan ibu jarinya.
Marinka tidak menjawab pertanyaan Ezra, sebagai gantinya dia mengerutkan dahinya sehingga Ezra kembali tersenyum.
"Dia bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang pelanggang berlian. Namanya Lady Aceline dari keluarga bangsawan. Dia juga yang memesan berlian hasil designmu waktu itu."
"Oh..." Marinka hanya ber oh ria sembari membalikkan tubuhnya seolah tidak perduli dengan penjelasan Ezra. Namun tanpa Ezra tahu, Marinka menyembunyikan senyum dibalik punggungnya.
"Kok cuma Oh?"
"Ya abang maunya bagaimana?"
"Tadi sepertinya adek sedang cemburu?"
"GR aja yang dibesarin. Siapa yang cemburu? terserah abang juga mau selingkuh, adek juga banyak yang suka."
"Banyak? siapa?" tanya Ezra yang berpindah kehadapan Marinka.
"Pokoknya banyak. Saking banyaknya adek nggak bisa ngitung jumlahnya. Jadi kalau abang mau berulah lagi ya silahkan aja, itu artinya abang gagal."
"Nggak ada yang boleh suka sama adek selain abang. Abang akan patahin tangan dan kaki orang itu."
"Kak Ando mau dipatahkn juga?"
"Dia pengecualian. Abang mau bersaing sama dia, karena abang yakin adek lebih milih abang daripada dia,"
Marinka mencebikkan bibirnya saat mendengar ucapan Ezra yang terlampau percaya diri. Wanita itu bergegas memasuki kamar untuk melihat anak-anaknya, yang disusul oleh Ezra.
"Jam berapa Sera pulang dari butik?" tanya Ezra.
"Mungkin sekitar jam 9 malam."
"Jadi nanti adek akan bekerja sampai jam segitu? dek, apa sebaiknya adek berhenti kerja saja, kasihan anak-anak kalau dibawa ketempat kerja tiap hari." tanya Ezra.
"Abang nggak akan melarangmu meneruskan kuliah. Atau lebih baik kamu buka butik sendiri saja? abang akan bantu nyiapin tempat, modal, suplay barang dan lain-lain. Kalau punya sendiri adek tidak terikat waktu, adek bisa mencari karyawan sebanyak yang adek mau."
"Tapi bang, adek belum percaya diri."
"Kamu harus percaya dengan kemampuanmu sendiri. Bukankah adek ingin jadi designer profesional dan mendunia? mungkin inilah saatnya, adek harus mulai belajar. Masalah berhasil atau gagal, bisa dipelajari seiring berjalannya waktu."
Marinka tampak menimbang-nimbang ucapan Ezra.
"Lagi pula abang merasa harga diri abang jatuh, padahal abang mampu memberikan adek segalanya, tapi istri abang malah bekerja sebagai pelayan di toko orang lain," sambung Ezra dengan wajah mendung.
"Baiklah. Kita akan wujudkan itu, setelah kita benar-benar memiliki ikatan. Tapi untuk sementara ini biarkan adek bekerja pada kak Ando. Lagipula adek belum sempat berbicara serius dengan dia."
"Kamu mau bicara apalagi dengan dia?"
"Setidaknya adek mau minta maaf dengan dia, atas semua yang terjadi."
"Baiklah abang mengerti."
__ADS_1
"Eh? abang mau apa?" tanya Marinka saat Ezra melingkarkan tangan dipinggangnya.
"Bukankah kita sedang berpacaran? orang berpacaran banyak juga yang berpelukkan dan berciuman kan?"
"Eh? kata siapa seperti itu? a-adek nggak pernak begitu? abang lepasin ya? nggak enak kalau begini," ujar Marinka gugup.
Ezra menyunggingkan senyumnya saat melihat Marinka yang tersipu malu. Itu malah membuat Ezra tambah bersemangat menggoda Marinka.
"Tapi abang ingin sekali menciummu," bisik Ezra yang membuat tubuh Marinka semakin menegang.
"Ba-Bang. Ini sudah siang, abang tungguin anak-anak ya? biar adek masak buat makan siang kita," ujar Marinka menghindar sembari melepaskan tangan Ezra dari pinggangnya.
Tap
Greeepppp
Ezra menarik tangan Marinka, dan memeluk tubuh mungil itu dengan posesif.
"Ckk...abang lepasin. Abang pikir ini kayak film india? adek nggak akan tergoda dengan bujuk rayu abang. Asal abang tahu, ini bisa ngurangin poin abang."
Ezra langsung melepaskan pelukkannya seketika.
"Nggak romantis banget sih dek?"
"Belum saatnya," ujar Marinka sembari berlalu dari hadapan Ezra.
Brakkk
"Bang Ezra benar-benar. Apa dia tidak tahu? tidak diperlakukan begitu saja, jantungku sudah mau copot saat dekat dia?"
Marinka menghela nafas panjang, kemudian pergi kedapur untuk membuat makan siang.
*****
Keesokkan harinya...
Ting tong
Ting tong
Krieeekkk
"Mama, Papa, kalian sudah nyampe? nggak nyasarkan?" tanya Ezra sembari membuka pintu dengan lebar.
"Enak saja nyasar. Kamu pikir siapa yang duluan melanglang buana berbisnis keluar negeri?" ucap Baskoro sembari melangkahkan kaki kedalam.
"Mana Marinka?" tanya Masayu.
Marinka yang baru saja keluar kamar, terkejut bercampur haru saat melihat kedatangan Masayu dan Baskoro. Masayu merentangkan tangannya, agar Marinka masuk kedalam pelukkannya.
"Mama...." ujar Marinka setengah berlari, dengan air mata yang sudah terjun bebas.
Greppppp
__ADS_1
Marinka berhambur kepelukkan Masayu sembari terisak.
"Mama...maafin Marinka Ma...hikz..."
"Anak tidak berbakti, tega sekali meninggalkan mama dan papa pergi jauh kesini. Bukankah mama sudah bilang kamu tinggal dengan mama saja, biar anak bodoh itu yang kami keluarkan dari kartu keluarga." Ucap Masayu dengan berurai air mata.
"Marinka malu sudah bohongin mama dan papa,"
"Tapi akhirnya hubungan kalian benar-benar manis kan? mama tahu itu."
"Sekarang kalian mau bagaimana? apa kalian sudah rujuk lagi? kamu jangan mau langsung nerima anak bodoh ini, enak saja mau langsung minta balikan gitu aja," sambung Masayu.
"Kok gitu ma?" protes Ezra.
"Ya iyalah...gara-gara kamu Marinka pergi, gara-gara kamu kami nggak nyambut kelahiran cucu kami. Dan gara-gara kamu juga papa kehilangan teman main catur," timpal Baskoro.
"Main catur?" tanya Ezra.
"Ya. Apa kamu tahu? setiap pulang kuliah dia selalu membawakan kue kesukaan papa mama. Dia juga pandai bermain catur, jadi papa punya lawan yang seimbang. Tidak seperti kamu, anak kandung serasa anak angkat." Jawab Baskoro.
Ezra terdiam. Kini dia mengerti kenapa papa dan mamanya begitu menyayangi Marinka. Wanita itu pandai mengambil hati orang tuanya, termasuk juga mencuri hatinya.
"Abang semakin mencintaimu dek," batin Ezra.
"Kalian tinggal serumah?" tanya Masayu.
"Nggak Ma. Abang tinggal di hotel." Marinka menjawab dengan cepat, karena takut kedua orang tua itu akan salah faham.
"Baguslah. Itu artinya kalian masih sedikit ngerti agama. Kalau kalian mau bersama lagi, sebaiknya kalian menikah kembali."
"Iya Ma. Kami mau ketahap itu. Mama bujukin Marinka, biar cepat ngambil keputusan nerima Ezra."
"Mama nggak berpihak sama kamu, mama akan mendukung apapun keputusan Marinka." ujar Masayu
Bibir Ezra mengerucut, Marinka mengulum senyumnya melihat ekspresi wajah pria yang masih dia cintai itu.
"Dimana cucu mama?" tanya Masayu.
"Ada di kamar Ma, biar Inka bawa mereka kesini." Jawab Marinka.
"Biar mama bantu," ujar Masayu.
Masayu dan Marinka pun masuk ke kamar, karena ingin membawa anak-anak keruang tamu sembari berbincang.
"Kamu harus buktikan pada Marinka, kalau kamu benar-benar ingin berubah." ucap Baskoro.
"Iya Pa. Ezra janji nggak akan mengecewakan kalian lagi, termasuk Marinka."
"Bagus. Sebab kamu akan rugi kalau melepaskan wanita hebat seperti dia."
"Iya pa."
Marinka dan Masayu membawa anak-anak ke ruang tamu. Merekapun berbincang banyak hal sembari bersenda gurau. Ezra selalu mencuri-curi pandang kearah Marinka. Pria itu yakin, bahwa dirinya benar-benar sudah jaguh cinta pada sosok wanita yang pernah dia nikahi itu.
__ADS_1