
Gadlyn mendorong dada Rakha perlahan, saat teringat bahwa dirinya saat ini belum mandi dan gosok gigi selama berhari-hari. Rakha menyipitkan mata setelah ciuman mereka terlepas. Gadlyn bahkan terlihat menyapu bibirnya, sisa dari ciuman mereka.
"Kenapa?" tanya Rakha.
"Tu-Tuan. Aku belun mandi dan gosok gigi selama berhari-hari. Aku takut anda pingsan," ujar Gadlyn.
Rakha hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Gadlyn. Pria itu kemudian menggendong Gadlyn, karena kaki gadis itu terluka dan tidak memungkinkan untuk berjalan kaki sendiri.
Gadlyn menatap wajah pria yang menggendongnya dari arah depan itu. Tangan Gadlyn yang menggantung dileher Rakha menambah jarak diantara keduanya.
"Dia benar-benar tampan. Tapi yang membuatku bingung adalah, dia tidak menolak ataupun menerima saat aku mengungkapkan perasaanku. Tapi dia malah menciumku. Jadi sebenarnya perasaan dia ke aku bagaimana ya?" batin Gadlyn.
"Jangan terlalu banyak berpikir, takutnya otakmu tidak nyampai," ucap Rakha tanpa menoleh kearah Gadlyn.
"Dia ini. Tadi menciumku, sekarang sudah mengataiku bodoh," Gadlyn cemberut.
Setelah mereka sampai dibibir pulau, Gadlyn masuk kedalam satu hellykopter bersama Rakha. Sementara Yure bersama dengan anak buahnya.
Rakha membuka kotak P3K dan mulai mengobati luka-luka Gadlyn yang masih sedikit basah.
"Ssssstttt sakittt," Gadlyn meringis kesakitan saat Rakha mulai menekankan kassa yang sudah diberi cairan betadine.
"Sakit? sakit mana pas jatuh dari pesawat?" tanya Rakha dengan wajah datar.
"Mana bisa dibandingkan. Kenapa tuan galak padaku? aku ini sedang sakit loh?" ucap Gadlyn kesal.
"Kalau sakit memang seperti itu. Berobat dan minum obat juga begitu. Kalau orang sakit seperti minum kopi, semua orang jadi mau sakit," ujar Rakha.
"Dasar pria sontoloyo. Apa keputusanku mencintai dia sudah benar? lagi pula kenapa aku bisa menyukai harimau ini? takutnya lambat laun aku kena cakar juga," batin Gadlyn.
"Kenapa? menyesal?" tanya Rakha.
"Menyesal apa?"
"Mencintaiku." Jawab Rakha.
"Tentu saja menyesal. Aku tidak tahu kalau yang kucintai ini adalah harimau," ujar Gadlyn.
"Sayangnya kamu sudah terlambat untuk menyesal. Kata yang sudah terucap didepanku, tidak boleh ditarik lagi. Kalau mau narik harus bayar," ucap Rakha asal.
"Bayar? berapa?" tanya Gadlyn.
"10 triliun. Kamu ada nggak uang segitu?" tanya Rakha.
Gadlyn terdiam. Dia tahu Rakha sedang megerjainya. Melihat Gadlyn melamun dengan wajah sedih, Rakha membawa kepala Gadlyn dalam dekapannya.
"Maaf," ujar Rakha lirih.
"Eh? apa aku tidak salah dengar? dia tadi meminta maaf kan?" batin Gadlyn.
__ADS_1
Gadlyn mendongakkan kepalanya, sementara Rakha jadi melihat kearahnya. Pandangan mata mereka sejenak bertemu.
"Ap-Apa tuan juga mencintaiku?" tanya Gadlyn. dengan gugup.
"Menurutmu?" tanya Rakha.
"Aku tidak tahu. Tuan tidak bilang soalnya " Jawab Gadlyn.
"Jangan sembarangan membiarkan seorang pria mencium bibirmu, kalau dia tidak mencintaimu. Karena semua yang ada padamu adalah milikku, termasuk bibirmu," ucap Rakha.
"Jadi kesimpulannya apa tuan? tuan mencintaiku atau tidak?" tanya Gadlyn memastikan.
"Ckkk...apa kamu yakin kamu ini lulusan harvard? nasi sudah di depan mata, masih mau disuapi juga?"
"Ya takutnya aku salah. Pokoknya kalau nggak bilang, aku akan menganggap tuan tidak mencintaiku," ucap Gadlyn.
"Iya. Aku mencintaimu," ujar Rakha sembari memalingkan wajah keluar jendela karena malu.
"Apa? aku nggak dengar," Gadlyn berpura-pura tidak mendengar.
"Salah sendiri nggak dengar. Pernyataan dariku sangat mahal," ujar Rakha dengan wajah memerah.
"Dasar pelit," ucap Gadlyn sembari memalingkan wajahnya ke sisi jendela yang lain.
Rakha melirik Gadlyn yang tengah menghadap kearah lain. Rakha perlahan mendekat kearah Gadlyn.
"Aku mencintaimu Gadlyn," bisik Rakha yang membuat semua bulu yang ada pada Gadlyn terasa berdiri.
Rakha membuka matanya sejenak, melirik kearah pilot yang mencuri-curi lihat. Pilot itu kini sedang menegang, karena tatapan membunuh dari Rakha. Sesaat kemudian Rakha kembali larut dalam ciuman yang memabukkan.
Selang 1 jam kemudian, hellykopter yang mereka tumpangi berhasil mendarat di EH Hospital.
"Tu-Tuan. Kenapa saya dibawa kerumah sakit? saya mau langsung pulang saja," ujar Gadlyn.
"Menurutlah. Luka-Lukamu harus segera diobati. Kalau tidak akan terjadi infeksi," ucap Rakha.
"Tapi saya kangen mama," ujar Gadlyn.
"Nanti dia akan kesini. Sudah ada orangku yang akan menjemputnya," ucap Rakha.
"Makasih tuan," ujar Gadlyn.
"Begitukah caramu memanggil kekasihmu?" tanya Rakha dengan menaikkan satu alisnya.
"Eh? ma-mau dipanggil apa ya?" tanya Gadlyn.
"Pikir saja sendiri. Awas saja kalau masih memanggilku tuan. Bahkan dikantorpun aku tidak mau dipanggil seperti itu," ucap Rakha.
"Eh? ya jangan dong. Malu," ujar Gadlyn.
__ADS_1
"Kamu malu punya kekasih sepertiku?" tanya Rakha.
"Bu-Bukan begitu. Kalau dikantor harus profesional bukan? apa kamu tidak takut di katakan bucin?" tanya Gadlyn.
"Bucin?"
"Ya. Budak cinta." Jawab Gadlyn.
"Ya sudah tidak perlu kalau di kantor. Tapi aku mau dengar kamu mau panggil aku apa?"
"Akan aku pikirkan." Jawab Gadlyn.
"Ckk...lemot," ucap Rakha yang membuat mata Gadlyn melotot.
"Kenapa melotot begitu? belum pernah kelilipan sendal ya?" tanya Rakha.
Mata Gadlyn langsung nyipit seketika, saat Rakha mengatakan akan menjejali matanya dengan sendal.
"Hikz...nasibku gini amat yak. Punya pacar galaknya melebihi Hitler," batin Gadlyn.
Kriekkkkkk
Karin datang dengan membawa sebuah tas berisi pakaian Gadlyn dan keperluan lainnya.
"Terima kasih. Terima kasih karena tuan menyelamatkan putriku," ujar Karin sembari berlutut dihadapan Rakha.
Melihat Karin berprilaku seperti itu tentu saja Gadlyn tidak senang. Ditambah Rakha yang hanya diam saja, membuat Gadlyn jadi tersinggung. Diam-Diam Gadlyn menitikkan air mata karena merasa terhina oleh sikap Rakha pada orang tuanya.
"Tidak masalah. Sekarang anda bisa menjaga Gadlyn. Saya mau pulang dulu," ujar Rakha sembari melirik kearah Gadlyn yang tiba-tiba memalingkan muka.
"Berdirilah. Aku tidak mau putrimu menganggapku menindasmu. Lihatlah bibirnya, sudah hampir sampai kehidungnya," sambung Rakha.
"Eh?" Karin jadi bingung mendengar ucapan Rakha.
"Apa ada yang ingin kamu katakan padaku sebelum aku pulang?" tanya Rakha.
"Tidak ada. Pergilah!" usir Gadlyn.
"Kamu mengusirku?" tanya Rakha dengan suara yang sudah tinggi berapa oktaf.
"Tu-Tuan. Maafkan Gadlyn ya, mungkin Gadlyn sangat lelah dan masih trauma dengan kejadian ini. Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih," ujar Karin.
Rakha terdiam. Dia tidak mungkin mengajak kekasih yang baru dipacarinya beberapa jam yang lalu, bertengkar di depan orang tuanya.
"Aku pergi. Jaga dirimu," ucap Rakha.
Tak ada respon dari Gadlyn. Rakha kemudian langsung pergi untuk memberi kabar baik itu pada keluarganya.
"Ada dengan sikapmu itu? kamu harus baik sama dia. Dia sudah menyelamatkan kamu loh," tanya Karin.
__ADS_1
"Tidak apa. Gadlyn capek, mau istirahat." Jawab Gadlyn.
Karin hanya bisa menghela nafas. Dan membiarkan Gadlyn beristiraha.