Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.172. Pembunuhan Berencana


__ADS_3

"Sebenarnya apa yang mbak MD pikirkan? kenapa setelah mengalami KDRT pun anda tidak ingin bercerai? malah setelah di ceraipun masih mau di nikahi secara siri?" tanya Rafly yang sedikit bernada emosi.


"Waktu itu saya hanya berpikir, suami saya suatu saat pasti akan luluh melihat ketulusan cinta saya yang begitu besar. Saya sadar waktu itu saya terlalu naif, dan terkesan sedikit memaksakan kehendak. Saya tahu saya tidak dicintai, tapi memaksa suami saya agar mau mencintai saya. Itulah kebodohan yang pernah saya lakukan,"


"Kenapa aku merasa semua yang dia ceritakan Marinka yang ini sama persis seperti yang dialami oleh Marinka mantan istriku? tapi itu nggak mungkin kan? apa iya ini hanya sebuah kebetulan?" batin Galang.


"Jadi kenapa pada akhirnya anda memutuskan untuk berhenti mencintai orang itu dan pergi dari rumah itu? apa anda saat berjalan-jalan, ketemu tuan Ezra, kemudian saling jatuh cinta, itulah sebabnya anda pergi?" tanya Rafly.


"Bukan keinginan saya untuk pergi, tapi saya dipaksa pergi." Jawab Marinka.


"Maksudnya?" tanya Rafly.


"Ya, bahkah dihari terakhir saya dirumah itu, bahkan di detik-detik saya hampir mati, saya masih mengharapkan pertolongan orang yang saya cintai. Tapi saya sangat keliru, ternyata janji akan menikahi saya secara siri adalah kebohongan. Itu hanya alasan untuk menyingkirkan saya secara perlahan."


"Tunggu! anda bilang tadi hampir mati? apa yang terjadi pada anda?" tanya Rafly penasaran.


Tidak hanya Rafly, bahkan penonton di studio dan penonton di rumah pun jadi ikut tahan nafas mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Marinka.


"Di hari terakhir saya dirumah itu, saya telah memakan sandiwara besar, alias konspirasi. Madu saya berpura-pura minta dibuatkan pepes ikan patin pedas, tapi ternyata di tengah jalan menuju pasar ada orang suruhan suami saya untuk menculik saya dan menyekap saya disebuah gudang."


Deg


Deg


Deg


Jantung Karin berdegup dengan kencang, sejak tadi dia memang menyimak ucapan Marinka, yang kisahnya sama persis seperti kisah yang dialami oleh kakak angkatnya itu.


"Ti-Tidak mungkin Marinka yang ini adalah Marinka yang itu kan? dia sudah mati kan? atau ada saksi mata yang melihat kejadian itu? dan saksi matanya adalah dia?" batin Karin.


Tidak jauh berbeda dengan Karin, Paulin yang menyaksikan tayangan itu dari layar kacapun jadi ikutan gugup. Dia berharap kisah itu hanya mirip saja.

__ADS_1


"Anda diculik? apa yang mereka lakukan pada anda?" tanya Rafly.


"Berarti ini hanya kebetulan, saya kan nggak pernah nyuruh orang buat nyulik dia?" batin Galang.


"Ya. Dari yang saya dengar pada saat sebelum kebakaran terjadi, suami saya menyuruh orang untuk membakar gudang itu beserta saya, agar jejaknya hilang." Jawab Marinka.


"Apa kebakaran itu benar-benar terjadi? maksud saya apa orang itu benar-benar berhasil membakar anda? ya Tuhan...jangan terlalu cepat anda menjawabnya mbak, jujur saya syok ini. Saya merinding ini dengernya,"


"Tunggu...jangan di jawab dulu ya mbak? kru kita akan menampilkan sesuatu dilayar," Rafly menunjukkan sebuah layar yang ada dibelakang mereka, yang mana sejak tadi menampilkan ribuan komentar dari netizen yang memenuhi kolom media sosial Marinka.


"Nah...sekarang silahkan jawab mbak. Kita akan melihat komentar sadis dari netizen," ujar Rafly.


"Ya. Itu benar terjadi, dan tubuh saya memang terbakar hidup-hidup."


Rafly dan para penonton menutup mulut mereka. Bahkan ada yang sampai meneteskan air mata.


"Serius? sesadis itu mantan suami anda? hey....tolong kameraman, tolong zoom wajah saya sebentar," ujar Rafly. Kameraman pun mengezoom wajah rafly.


"Semoga kamu menonton tayangan ini hai bajingan tengik! kamu akan menyesal sudah mencampakkan berlian demi batu kerikil. Kelakuanmu itu bahkan binatang saja tidak melakukannya. Tunggu saja azabmu," ujar Rafly berapi-api.


"Tolong zoom yang besar untuk komentar dari netizen! biar bajingan itu ikut membaca komentar dari masyarakat." ucap Rafly.


Rafly kemudian membaca satu persatu komentar dari netizen.


Pupoet@: dasar pria binatang. Semoga kamu juga akan diselingkuhi oleh ja**ngmu.


Suginono@ : aku tahu mbak MD baik pada semua orang. Sebagai pria aku sangat malu punya kaum sepertimu. Sana minum racun tikus.


Anymouse@: kalau nggak cinta cukup ceraikan saja, tidak harus menikahi dia secara sirih. biarkan dia merasa tertipu, tapi tidak dengan melenyapkannya juga. Emang kamu yakin wanita yang kamu pilih itu gadis baik-baik?


Bar_bar@: Sumpah aku gemetar mendengarnya. Kalau aku jadi mbak MD, aku akan meludahi wajah pria sampah itu.

__ADS_1


"Gun_gun@: Aku seorang pria, mendengar ini aku sampai meneteskan air mata. Sungguh kau sangat kejam. Mending kamu tenggelamkan saja dirimu ke laut.


"Itu hanya segelintir saja komenter dari netizen. Semoga mulutmu bisa membaca jutaan hujatan untukmu," ujar Rafly.


"Haduhh...maaf ya mbak MD. Mungkin sekarang anda sudah bisa berdamai, tapi giliran saya yang kepanasan disini."


"Nggak apa mas Rafly. Itu artinya anda mempunyai sifat empati dengan orang lain. Dan itu sangat bagus," ucap Marinka.


"Jujur ya, aku jadi nggak sanggup buat menanyakan kejadian selanjutnya. Tapi nggak nanya aku penasaran," ujar Rafly yang disambut tawa oleh penonton.


"Jadi apa yang terbakar pada saat itu mbak?" tanya Rafly.


"Sekitar 40%, tapi yang paling parah memang di wajah. Dan itulah yang menyebabkan saya harus operasi plastik."


"Operasi plastik?" tanya Rafly.


"Ya. Ini bukan wajah asli saya mas Rafly. Sayangnya saya nggak punya foto wajah lama saya, karena saya juga menganggap diri saya yang lama sudah mati. Inilah diri saya yang baru,"


Rafly terdiam. Suasana di studiopun jadi senyap seketika saat mendengar pengakuan Marinka. Sementara Karin tersandar lemas di tempat duduknya.


"Saya merinding loh ini mbak. Saya jadi penasaran bagaimana anda bisa berjuang selamat dari maut itu."


"Tentu saya tidak akan selamat, kalau tidak ada yang menolong saya. Karena gudang itu memang benar-benar bobrok dan mudah terbakar. Jadi saya itu memang sengaja di sekap disana,"


"Ini sudah termasuk dalam ranah pembunuhan berencana ini mbak,"


"Ya."


"Lalu siapa orang baik hati yang menyelamatkan anda itu?" tanya Rafly.


Marinka tidak menjawab dengan ucapan, tapi dengan kedua tangannya yang merujuk pada sosok Ezra disampingnya. Dan jawaban itu benar-benar membuat orang satu studio meneteskan air mata karena terharu. Tidak hanya penonton di studio atau dirumah saja, Marinka pun jadi ikut menangis karena teringat peristiwa yang menyakitkan itu.

__ADS_1


Grepppp


Ezra memeluk Marinka dengan erat, karena istrinya itu sangat emosional saat ini.


__ADS_2