Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.189. Nyata


__ADS_3

"Mario. Halusinasi ini benar-benar terasa nyata. Bunda bahkan bisa merasakan saat ini dia sedang memegang tangan bunda sambil menangis." Marinka semakin terisak setiap mendengar apa yang Lilian katakan, Marinka menyadari ibunya saat ini sedang kehilangan semangat untuk hidup.


"Mario. Sepertinya bunda benar-benar sudah sekarat. Kata orang kalau seseorang yang sekarat sudah berhalusinasi, itu artinya umurnya sudah tidak lama lagi. Mario, cepat kamu siapkan kain kaffan buat bunda. Tidak perlu merepotkan orang. Kamu ingatlah pesan bunda, kalau bunda nanti sudah mangkat, kamu jangan pernah menemui kakakmu. Biarkan dia berpikir bunda orang yang kejam, atau biarkan dia berpikir bunda sudah tidak ada di dunia ini sejak bunda menitipkannya di panti asuhan itu. Apa kamu dengar itu Mario?"


"Bun-Bunda," ujar Marinka lirih dengan bibir bergetar.


Jangan ditanya bagaimana air mata Marinka saat mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Lilian. Tanpa Lilian jelaskanpun Marinka jadi tahu, bahwa memang ada kesalahfahaman yang tidak dia ketahui selama ini.


"Mario. Dalam halusinasi kakakmu memanggilku dengan sebutan bunda. Bunda senang sekali, ayo katakan lagi!" ujar Lilian dengan air mata yang semakin merebak.


"Bunda...bunda...bunda...," Marinka berhambur memeluk Lilian dengan isak tangis yang mendalam.


Mario dan Ezra juga tidak tahan untuk tidak ikut menangis. Pemandangan di depan mata mereka begitu sangat mengharukan. Sementara itu Lilian malah jadi mematung sesaat, karena merasakan pelukkan Marinka yang begitu nyata.


Marinka kemudian melerai pelukkannya dan menyetuh wajah Lilian dengan kedua tangannya.


"Bunda. Marinka datang, putri tersayangmu sudah datang," ujar Marinka dengan suara bergetar.


Lilian berusaha duduk. Mario dan Marinka membantu Lilian untuk duduk dengan benar. Lilian kemudian meraih wajah Marinka dengan kedua tangannya.


"Put-Putriku...." ujar Lililian dengan lelehan air mata.


"Iya bunda. Ini putri tersayangmu." Jawab Marinka.


"Putriku. Benarkah ini putri tersayangku? akh....Hikz...."


Lilian kemudian memeluk Marinka sembari terisak. Suasana kamar itu jadi pecah karena isak tangis keduanya. Lilian kemudian mencium tiap inci wajah Marinka dan kemudian kembali memeluk Marinka, seolah takut putrinya itu akan menghilang.


"Maafkan bunda...maafkan bunda yang sudah menelantarkanmu sayang. Bunda benar-benar tidak berdaya. Hikz...."


Marinka melerai pelukkannya dan menyeka air mata Lilian dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Jangan pikirkan itu lagi. Inka tidak memikirkannya lagi, biarlah masa lalu menjadi masa lalu. Sekarang bunda harus cepat sehat. Bunda harus membayar semua waktu yang hilang bersamaku dengan hidup 1000 tahun lagi. Kalau tidak, Inka akan benar-benar marah dengan bunda."


"Tapi bunda harus tetap memberikan penjelasan padamu."


"Kalau begitu jelaskan pelan-pelan, karena kita masih punya banyak waktu bersama. Bunda memang punya banyak hutang penjelasan padaku, tapi Inka mau bunda menjelaskannya perlahan sampai waktu yang tidak bisa di tentukan. Jadi bersemangatlah,"


"Emm." Lilian menganggukkan kepalanya.


"Sayang. Kemarilah, salim sama nenek!" ujar Marinka.


Ezka dan Rakha mendekat kearah Lilian. Lilian sosok yang tidak asing dimata mereka, karena mereka sudah pernah bertemu sebelumnya. Kedua anak itu kemudian mencium tangan Lilian.


"Ah...kalian begitu cepat tumbuh besar. Sekarang kalian sudah semakin tinggi, tampan dan juga cantik." ujar Lilian.


Rakha dan Ezka hanya memberikan senyum terbaik mereka.


"Kemarilah," ujar Lilian pada Ezra.


"Terima kasih sudah menjaga putri bunda dengan baik selama ini. Kamu sudah menggantikan tugas bunda untuk memberikan semua yang tidak bisa bunda berikan selama ini. Bunda sudah menyaksikan kisah perjalanan cinta kalian hingga ketahap ini. Bunda harap kalian akan bahagia selamanya, hingga maut memisahkan," ujar Lilian.


"Itu sudah tugasku untuk menjaga dan memberikan dia begitu banyak cinta. Karena sejujurnya, dari dialah aku banyak belajar arti dari mencintai yang sebenarnya. Sekarang bunda sudah kembali, dan dia akan mendapat banyak cinta dari semua orang, terutama dari bunda. Jadi bunda harus semangat untuk hidup lebih lama, karena bunda harus mengganti waktu yang hilang bersama Marinka."


"Emm." Lilian mengangguk." kamu benar, bunda sekarang jadi bersemangat untuk hidup 1000 tahun lagi. Bunda ingin menghabiskan banyak waktu yang tersisa, untuk mengumpulkan banyak kenangan bersama putriku tersayang." Jawab Lilian yang dibalas senyuman oleh Marinka.


"Mario. Perintahkan pelayan dapur, untuk membuat hidangan spesial. Hari ini aku ingin memakan semuanya, dan aku ingin menyuapi putriku."


"Bunda bukankah ini tidak adil? kenapa cuma kakak yang ingin bunda suapi? aku bahkan tidak ingat kapan terakhir bunda menyuapiku," ujar Mario dengan bibir mengerucut.


"Kamu terakhir bunda suapi umur 2 tahun. Jadi biar adil, selama dua tahun ini, bunda akan menyuapi kakakmu."


"Aih...itu pilih kasih namanya," ucap Mario yang membuat orang dikamar itu jadi terkekeh.

__ADS_1


Sesuai perkataan Lilian, wanita parubaya itu benar-benar menyuapi Marinka makan. Dan Marinka menerima perlakuan Lilian padanya dengan senang hati. Bahkan mata keduanya kembali berkaca-kaca karena sama-sama merasakan bahagia.


"Ah...senang sekali melihat bunda bisa sebahagia ini. Sayangnya dia merasakan itu saat usianya sudah sangat senja. Maafkan Mario bunda, karena Mario bukan sumber kebahagiaan bagi bunda," batin Mario.


"Sepertinya kebahagiaanmu sekarang sudah lengkap. Semoga kedepannya aku selalu bisa membahagiakanmu sayang," batin Ezra.


*****


Marinka mendorong kursi roda. Dirinya dan Lilian berjalan-jalan kearah taman belakang, dimana banyak sekali bunga-bunga yang indah bermekaran, dan juga pohon-pohon rindang disana.


Merekapun berhenti di sebuah pohon besar, dan duduk di sebuah kursi panjang yang terbuat dari besi berwarna putih.


"Apa yang ingin kamu dengar pertama kali dari cerita bunda tentang perpisahan kita," tanya Lilian.


"Tentu saja alasan bunda saat memutuskan menitipkan Inka di panti asuhan itu. Karena sejujurnya setiap tahun aku selalu berharap bunda datang dan membawaku dari tempat itu. Tapi di usia 8 tahun, malah orang asing yang mengadopsiku."


"Maafkan bunda. Tapi bunda benar-benar tidak berdaya. Bunda punya tangan dan kaki, tapi semua anggota tubuh bunda terikat karena kekejaman seseorang."


"Siapa?" tanya Marinka.


"Biar bunda ceritakan cerita lengkapnya untukmu. 28 tahun yang lalu, bunda adalah seorang aktivis kampus di salah satu universitas kota ini. Bunda kemudian bertemu dengan seorang pemuda tampan, yang merupakan seorang aktivis juga di salah satu kampus yang berbeda dengan bunda. Waktu itu bunda sedang mengadakan bakti sosial pada sebuah panti asuhan, yang ternyata pemuda itu juga melakukan hal yang sama. Karena memiliki kesamaan jiwa sosial yang tinggi, kami kemudian jadi sering bertemu dan mulai saling bertukar surat."


"Sejak saat itu kami memutuskan untuk menjalin hubungan, dan hubungan itu semakin lama semakin tumbuh bersemi. Awalnya berjalan sangat lancar. Namun di tahun pertama, tepatnya pas satu tahun kami menjalin hubungan, bunda mendengar desas desus kalau bunda akan di jodohkan dengan seseorang yang bekerja sebagai pengusaha. Tentu saja bunda tidak menerima hal itu, bunda kemudian bertemu dengan pemuda itu tapi bunda melakukan kesalahan besar saat itu."


"Bunda dan pemuda itu terbawa suasana hingga melakukan hal di luar batas. Bunda kemudian tahu hamil setelah 2 bulan kemudian. Antara senang dan sedih mengetahui hal itu, karena bunda berharap bisa bersatu dengan pemuda yang tidak lain adalah ayahmu. Tapi naas, kehamilan bunda di ketahui oleh eyangmu dan bundapun di kurung, mereka mulai berencana ingin membuat janin bunda di gugurkan."


"Lalu bagaimana bunda bisa lepas?" tanya Marinka.


"Bunda.....


__ADS_1


Teman-Teman, dukung karya baruku ya? makasih🤗🙏


__ADS_2