Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.43. Arisan Berlian


__ADS_3

Marinka yang tengah menikmati akhir pekannya, tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mempercantik taman kecil yang ada dibelakang rumah Ezra. Marinka ingin menanam banyak bibit bunga mawar merah, karena dirinya sangat menyukai bunga yang satu itu.


Sementara itu Ezra menemani Marinka dengan bersantai disebuah kursi besi bercat putih. Ezra membaca koran sembari menikmati teh dan camilan dipagi hari.


Setelah berjuang, Marinka berhasil menanam bibit bunga mawar dibeberapa pot dan tidak lupa memberikannya sedikit pupuk, agar mawar yang dia tanam menjadi subur dan cantik.


"Ah...akhirnya selesai juga," Marinka duduk dikursi tepat dihadapan Ezra.


"Capek?"


"Lumayan. Tapi tidak apa-apa, itu sepadan saat nanti mawarnya berbunga dengan indah."


"Kenapa repot-repot menanamnya? kenapa tidak beli yang sudah jadi saja? abang akan membelikan berapa tangkaipun yang adek mau."


"Ckk...sultan mah apa-apa selalu menggunakan uang, kalau kita bisa menanamnya sendiri, kenapa harus boros dengan membeli?"


"Ya terserah adek saja, yang penting adek senang."


Drrrrtttt


Drrrtttt


Drrrtttt


Ponsel Marinka berderit didekat piring kue yang ada diatas meja. Marinka mengerutkan dahinya, saat melihat nama Karin tertera dilayar ponselnya.


"Siapa?"


"Karin. Istri tuan Galang,"


"Angkat saja, siapa tahu penting. Bukankah kalian memutuskan untuk berteman?"


"Berteman? bahkan aku tidak ingin berada satu matahari yang sama denganmya," batin Marinka.


"Angkatlah, tapi buat mode pengeras suara."


Marinka akhirnya menuruti apa yang Ezra katakan, meskipun sebenarnya dia sangat enggan bicara dengan Karin.


"Ya?"


"Selamat pagi Nyonya Ezra,"


"Pagi,"


"Anda menyimpan nomor ponsel saya bukan?"


"Tentu saja, bagaimana mungkin saya mengabaikan istri dari pengusaha hebat seperti anda nyonya karin,"


"Nyonya Ezra bisa saja. Oh ya, saya menelpon karena ingin memberitahukan pada anda tentang perkumpulan ibu-ibu sosialita nanti sore,"


"Dalam rangka apa ya?"


"Mereka akan membuka kembali arisan berlian. Mereka sangat berharap anda ikut berpartisipasi meramaikan arisan itu."


"Berapa?"


"Tidak banyak, berliannya cuma senilai 5 milyar."


Marinka melirik kearah Ezra, jelas dirinya sama sekali tidak tertarik mengikuti arisan itu. Tapi diluar dugaannya, Ezra malah menyetujuinya, dan menyuruhnya untuk ikut bergabung.


Marinka hanya bisa menghela nafasnya, baginya belum saatnya berurusan dengan Karin secepat ini. Dia ingin menghukum Karin dan keluarganya diwaktu yang tepat dan dengan tangannya sendiri.

__ADS_1


"Baiklah aku ikut, nanti sore aku akan datang keperkumpulan itu. Kamu kirim saja alamat lengkapnya,"


"Oke. Sampai jumpa nanti nyonya Ezra."


"Emm." Marinka menjawab dengan malas.


Marinka mengakhiri percakapan itu lebih dulu, dan kemudian menatap Ezra yang tengah menyesap tehnya.


"Kenapa abang menyuruhku ikut serta dalam arisan itu?"


"Abang tidak ingin orang beranggapan istri dari pengusaha nomor satu di kota J tidak mendapat izin dari suaminya, untuk ikut bersosialisai diluar rumah."


"Apa yang abang katakan? adek sama sekali tidak perduli tentang omongan orang, toh bukan mereka yang memberi adek makan."


"Tapi abang perduli, lagipula tidak ada salahnya ikut arisan itu. Anggap saja itu investasi,"


"Ya baiklah kalau itu kemauan abang, adek nurut saja. Sejujurnya adek kurang suka kumpul-kumpul dengan orang seperti itu?"


"Kenapa?"


"Yang namanya sekumpulan para ibu-ibu, bukan hanya arisan saja yang mereka kerjakan, pasti ada acara lain yang lebih heboh dari arisan itu sendiri."


"Lebih heboh? memang apa yang mereka kerjakan?"


"Bergosip. Adek yakin, kalau adek nggak sesuai dengan selera mereka, pasti dibelakangku juga menggosipkan tentang diriku."


Ezra terkekeh saat mendengar ucapan Marinka.


"Memangnya mereka mau menggosipkan adek apa? adek itu cantik dan kaya, mereka tidak akan menemukan celah sedikitpun untuk membuatmu jadi bahan gosip."


"Keliatan banget bohongnya, jangan membuat adek GR deh bang,"


"Sungguh?"


"Emm. Setelah selesai, kamu bisa telpon abang, abang akan menjemputmu lagi."


"Makasih ya bang, abang baik banget sih?"


"Ya dong. Untuk adek kesayangan abang, pasti apapun abang lakukan."


Marinka mencebikkan bibirnya, karena merasa Ezra menggoda dirinya.


"Ayo cepat bersihkan dirimu, pasti banyak biang keringatnya habis berkebun."


Marinka mencium sisi tubuh kanan dan kirinya.


"Iya, udah bau acemm, adek naik keatas dulu ya bang?"


"Emm."


Seperti yang sudah disepakati, Ezra mengantar Marinka untuk pergi arisan, sebenarnya hanya alasan Ezra saja yang mengatakan memiliki perkerjaan diluar sana, tujuan sebenarnya memang hanya ingin mengantar Marinja saja. Agar tidak bosan menunggu, Ezra memutuskan untuk berkunjung ke apartemen milik Yuda.


Ceklek


"Eh? tumben kemari? apa ada sesuatu yang penting?" tanya Yuda setelah membuka lebar daun pintunya.


"Aku baru habis mengantar Marinka pergi arisan."


"Arisan?"


"Ya. Karin istri Galang mengajaknya ikut arisan, aku tidak ingin istriku kalah pamor dari wanita jahat itu."

__ADS_1


"Cieee...istri,"


Pukkk


Ezra meninju lengan Yuda yang meledek dirinya karena telpeleset bicara.


"Aku hanya ingin wanita jahat itu tahu, Marinka tidak kekurangan apapun meskipun mereka menindasnya habis-habisan."


"Sayangnya Karin tidak tahu siapa Marinka sebenarnya,"


"Tidak masalah, aku yakin Marinka punya tujuan sendiri. Anggap saja ini hanya awal perkenalan bagi Karin, agar wanita itu tahu hidup Marinka baik-baik saja setelah mereka menganggap Marinka sudah tiada."


"Aku tidak dapat membayangkan saat mereka tahu, orang yang ingin mereka lenyapkan hidupnya jauh lebih berkah daripada mereka. Tapi...."


"Tapi apa?" tanya Ezra.


"Tapi itu hanya bisa terjadi kalau kamu hidup bersama Marinka selamanya bukan? kalau cuma bersama selama 6 bulan, itu tidak berarti apa-apa buat mereka?"


"Aku sudah membuat rencana untuk Marinka setelah kami berpisah nanti."


"Rencana apa?"


"Aku pastikan dia tidak akan menemukan kesulitan, atau kekurangan materi saat kami sudan pisah nanti. Aku akan membuat dirinya bisa berdiri diatas kakinya sendiri."


"Apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku akan memberikan uang tunjangan perpisahan yang jumlahnya cukup fantastis."


"Zra,"


"Hem?"


"Tidak bisakah kamu berada disisi Marinka selamanya?"


"Ckk...kamu mulai lagi, aku yakin Marinka tidak masalah buat dimadu karena dia pernah mengalaminya. Tapi Jihan? dia pasti akan mengamuk."


"Zra, apa aku boleh jujur?"


"Jangan bilang kamu ingin mengatakan kalau aku dan Jihan sama sekali tidak cocok bersama."


"Ya memang itu kenyataannya Zra. Apa kamu tidak sadar, Jihan hanya mengincar uangmu saja?"


"Aku tidak mau lagi kita memperdebatkan masalah ini lagi. Aku tidak perduli Jihan ingin memanfaatkan uangku, selama aku mampu memenuhinya. Uang bukan masalah buatku, asalkan orang yang aku cintai bahagia."


"Satu hal yang aku temukan kecocokan antara Marinka dengan dirimu ini. Kalian itu sudah sama-sama dibutakan oleh cinta, sehingga tidak perduli dengan apapun yang pasangan kalian lakukan terhadap kalian. Cuma bedanya Marinka sudah selamat, sedangkan kamu masih gini-gini aja."


"Ya mau gimana lagi Yud, namanya juga cinta. Kamu belum mengenal Jihan dengan dalam, kalau kamu sudah kenal, pasti kamu tidak akan bicara yang tidak-tidak tentangnya. Lagipula Jihan pernah menyelamatkan hidupku satu kali, aku akan selalu mengingat jasanya itu."


"Ckk...selalu kamu bahas itu terus. Kadang aku merasa kamu menjalin hubungan dengan dia, karena kamu ingin balas budi. Bukan karena cinta."


Pukkkk


Ezra lagi-lagi memukul lengan Yuda hingga pria itu terduduk miring.


"Sok tahu."


Ting


Ezra menyunggingkan senyumnya karena Marinka sudah mengirimkan sebuah chat padanya, agar segera menjemput dirinya. Ezra segera bangkit dari duduknya dan meninggalkan Yuda begitu saja.


TO BE CONTINUE...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2