Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.128. Menyesal


__ADS_3

Sebelum lanjut promo dulu teman-teman 🤭🤭🤭🤭🤭



*****


"Kenapa?" Marinka menghampiri Sera yang tengah melamun diatas balkon.


Gadis itu bahkan iseng menggunting-gunting kertas jadi bagian paling terkecil.


"Lagi merenung, meratapi nasib dan berkubang dalam penyesalan." Jawab Sera tanpa menoleh.


"Bahasamu itu loh, sudah kayak penyair. Memangnya kamu menyesal apa?" tanya Marinka sembari menjatuhkan bokongnya disebuah kursi besi berwarna silver.


"Setelah ku pikir-pikir dan ku ingat-ingat, kejadian waktu itu sangat memalukan."


"Kejadian apa?"


"Itu, yang waktu aku ngungkapin perasaanku sama di Ando. Andai waktu bisa kuputar kembali, pasti aku nggak mau ngelakuin itu."


"Loh...kenapa emangnya?"


"Ya malu dong Rin, baru abis menyatakan perasaan, eh...orang dari masa lalunya nongol gitu aja. Ditambah sekarang mereka lagi dekat, padahal Ando tahu aku punya perasaan sama dia. Kelihatan banget akunya kayak nggak dianggap gitu,"


"Jangan pernah menyesali semua yang sudah terjadi. Lagian kamu kenapa jadi kayak minder gitu?"


"Ya emang iya minder, habisnya saingan cintaku berat."


"Berat? dia gendut?" Marinka menahan tawanya karena tahu banyolan yang dia keluarkan sangat tidak tepat waktu.


Dan benar saja, lirikan mata Sera sudah seperti lirikan maut.


"Kamu kenapa harus minder sama Renata, dilihat dari segi apapun kamulah yang paling unggul."


"Unggul dari hongkong, kamu nggak lihat aja penampilan dia. Asetnya itu loh semok atas bawah, pokoknya dia sangat cantik dan seksi. Lah aku? bahkan dilihat dari sedotanpun, tetap aja buruk rupa."


"Huusssttt ...kenapa jadi menghina diri sendiri? dia cantik karena dia punya modal, kamu kan juga punya Ra."


"Ya punya, tapi modal dengkul." Jawab Sera asal.


"Kamu cantik kok. Asetmu juga gede, tapi dasar kamunya aja suka pakai baju longgar, jadi masa kelihatan asetmu yang berharga itu? kamu juga nggak suka dandan. Coba kalau kamu rubah itu semua, pasti Ando lirik kamu."


"Tapi sangat disayangkan sih kalau dia lirik kamu karena kamu berubah, jadi kesannya nggak tulus. Lagian kamu nggak usah minder dari Renata, masih menang kamu kemana-mana." sambung Marinka.


"Kenapa?"


"Ya kan kamu masih perawan ting-ting." Jawab Marinka.


"Zaman sekarang janda lagi naik daun Rin," timpal Sera.


"Jadi kamu nyerah nih?"


"Kayaknya sih." Jawab Sera.


"Aku saranin sih gunakan amunisi terakhir, jika nggak berhasil nggak usah dipakai lagi nggak apa-apa."


"Amunisi terkahir?"

__ADS_1


"Ya itu, rubah penampilanmu. Niatkan perubahan itu untuk dirimu sendiri, jangan demi dia. Takutnya kamu akan kecewa kalau dia masih menolakmu. Minimal kalau kamu ditolak, kamu masih bisa menggaet pria bule yang ada disini," ujar Marinka sembari terkekeh.


Sera menghayati tiap ucapan Marinka, meski terkesan bercanda, tapi semua ucapan Marinka ada benarnya juga.


"Tapi sebenarnya aku lebih khawatir dari kamu Ra,"


"Kenapa?"


"Renata itu tepatnya orang masa lalu suamiku. Bagaimana kalau dia mendekati Ando karena ingin mengorek tentang suamiku?"


"Ando bilang dia akan menyesatkannya kalau sampai itu terjadi."


"Semoga saja. Kita belum tahu apa wanita itu ingin mendekati suamiku atau ingin mendekati Ando, atau mungkin memang tulus berteman. Tapi apapun itu, aku percaya suamiku nggak akan jatuh ke lobang yang sama lagi,"


"Baguslah, kamu memang harus memberikan kepercayaan buat suamimu itu. Lagipula terlihat sekali kalau dia sangat mencintaimu," ujar Sera.


"Sayang...kamu dimana?" suara Ezra yang mencari keberadaan Marinka terdengar jelas di balkon.


"Ra aku duluan masuk ya?"


"Emm." Sera menganggukkan kepalanya.


"Adek darimana?" tanya Ezra setelah tidak menemukan istrinya di dalam kamar.


"Di balkon, lagi ngobrol sama Sera. Abang sudah nemuin Ando?"


"Nggak ketemu. Dia lagi pergi sama Renata."


"Sepertinya mereka tambah dekat ya? Emangnya si Renata itu cantik banget ya bang? kok Ando nolak Perawan dan memilih si Renata itu?" tanya Marinka.


"Sera bilang sekarang wanita itu sangat cantik dan seksi. Apa dulu saat di SMA dia sudah begitu?" tanya Marinka.


Ezra tiba-tiba jadi teringat semua kegilaan yang dilakukan Renata saat mereka masih mengenakan seragam abu-abu. Wanita itu saat istirahat selalu mengajak dirinya kedalam gudang sekolah, hanya untuk mengajaknya bermesraan.


"Bang?"


"Eh?" Ezra terkejut.


"Kok malah melamun sih? abang lagi mikirin apa? jangan bilang lagi mikirin Renata?"


"Nggaklah dek, ngapai abang mikirin dia? dia kan cuma masa lalu."


Marinka memeluk suaminya itu dengan erat, yang dibalas Ezra tak kalah erat.


"Bang,"


"Hem?"


"Gimana kalau Renata godain abang lagi?"


"Nggak mempan. Cinta abang buat adek sudah abang patenkan. Yang penting kita saling percaya, meskipun dia menggunakan trik apapun nggak akan ngaruh kalau adek percaya sama abang."


"Kalau dia bukan wanita masa lalu abang, mungkin adek akan kasih kepercayaan 100% bang. Tapi kalian putus kan bukan karena bertengkar, adek takut abang CLBK sama dia."


"Nggak akan. Adek kalau mikir jangan kejauhan, abang sudah memilikimu dan sudah punya anak. Kebahagiaan abang sudah lengkap, jadi tidak perlu yang lainnya lagi."


"Dulu saat pacaran sama dia, kalian pernah ngapain aja?"

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Ezra pura-pura tidak mengerti.


"Apa kalian sering berbuat mesum?"


"Kok adek nanyain hal vulgar gitu?"


"Ya abisnya teman-temanku dulu suka gitu, bahkan di toiletpun juga oke. Abang gitu nggak?"


"Mampus. Aku harus jawab apa ini?" batin Ezra.


"Bang?"


"Eh?"


"Kok ngelamun lagi sih? nggak jawab nggak apa kok, adek sudah tahu jawabannya."


Marinka melepaskan pelukkannya dan pura-pura merajuk.


"Tahu apa yang adek maksud?" Ezra mengikuti Marinka dari belakang.


"Tahu sumedang." Jawab Marinka asal.


"Dek???"


Marinka menghela nafas dan membaringkan diri diatas tempat tidur, yang kemudian disusul oleh Ezra.


"Ya abang akui kami pernah melakukannya." Ezra menyerah.


"Melakukan apa?" Marinka terkejut sembari berbalik badan.


"Ciuman." Jawab Ezra singkat.


"Itu saja?" Marinka menyipitkan matanya.


"A-Anu...."


"Anu? anu apa?" Marinka mengerutkan dahinya.


"Minum susu cap nona." Jawab Ezra cepat dengan wajah yang memerah.


Meski itu masa lalu, tapi tetap saja Marinka merasa panas mendengarnya.


"Pantas saja,"


"Pantas saja? pantas kenapa?"


"Sera bilang asetnya itu luar biasa besar, ternyata abang yang membuatnya jadi begitu?"


"Kok ngomongnya sembarangan sih dek? riset darimana itu? dari dulu emang punya dia udah gitu," Ezra keceplosan.


"Oh gitu ya bang? senang sekali sepertinya mengingat masa lalu? apa jangan-jangan kangen ya?"


"Ckk...apaan sih dek? punya adek juga luar biasa kok."


Marinka tidak menggubris ucapan Ezra dan segera membelakangi pria itu. Marinka memang percaya suaminya tidak akan selingkuh dengan Renata, tapi tetap saja membayangkan masa lalu suaminya dan wanita itu membuat dirinya cemburu berat.


Sementara itu, dibelakang Marinka Ezra hanya bisa menjambak-jambak rambutnya sendiri tanpa suara, karena menyesal dengan mulutnya yang terlalu ember.

__ADS_1


__ADS_2