Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.227.Tersinggung


__ADS_3

Ezra kembali duduk di sofa. Pria itu tampak mengurut dahinya. Sementara itu semua orang sedang menunggu apa yang akan diputuskan oleh pria parubaya itu.


"Kalian berdua sangat mengecewakanku. Seharusnya kalau saling mencintai, kenapa tidak dikatakan dari dulu? kenapa harus nunggu sampai diberi obat segala," ujar Ezra sembari mengurut dahinya yang pening seketika.


"Maafkan Yure om. Sebenarnya kami saling mencintai sejak lama. Tapi kami tidak ada yang berani mengungkapkan, karena terbentur hubungan adik dan kakak. Mungkin cara ini memang salah, tapi inilah yang bisa membuat kami bersatu dan saling mengungkapkan perasaan kami masing-masing," ujar Yure.


"Yure mohon restuin Yure buat menikahi Ezka om," sambung Yure.


"Bocah ini, di suruh minta maaf malah minta restu," ujar Yuda.


"Ya kan sekalian pa." Jawab Yure.


"Ya mau bagaimana lagi. Memang itu yang harus kamu lakukan. Om nggak mau putri om hamil tanpa suami," ujar Ezra.


"Lalu bagaimana urusannya dengan keluarga Sudirjo? astogeee...aku benar- benar pusing ngadapin si kumis tebal itu. Bisa-Bisa aku di timpuk pakai batu bara," ucap Yuda.


"Itu urusan kalian. Pokoknya aku mau Yure dan Ezka segera dinikahkan. Aku nggak mau ya ada drama-drama kayak di tv. Pokoknya aku mau kalian tuntaskan tanpa ada masalah sedikitpun. Terutama kalian harus urus gadis yang bernama Vania itu. Jangan sampai ada adegan saling cakar dihari pernikahan putriku," ujar Ezra.


"Ezka kemarilah!" ucap Ezra.


Ezka berdiri, dan menghampiri Ezra. Pria itu kemudian membuat Ezka duduk di sampingnya, dan menyeka air mata putrinya itu.


"Apa kamu sudah memberi pelajaran pada orang yang sudah mengerjaimu itu?" tanya Ezra.


"Sudah. Tapi tidak maksimal." Jawab Ezka sembari menggeleng.


"Kenapa? apa kamu mengampuninya begitu saja?" tanya Ezra.


"Tidak. Tapi saat ini aku sedang hamil, aku mau melakukan hal baik, agar anak-anakku jadi orang yang baik." Jawab Ezka.


Yure tersenyum bangga saat mendengar jawaban dari kekasihnya itu. Sementara yang lain tampak penasaran dengan kata anak-anak yang di ucapkan oleh Ezka.


"Ka-Kamu,"


"Iya pa. Ezka saat ini tengah hamil anak kembar." Jawab Ezka sembari tersenyum.


Sementara itu Regia, Yuda dan Marinka tampak terharu mendengar kabar bahagia itu.


"Apa mereka sehat?" tanya Ezra bahagia.


"Emm." Ezka mengangguk.


"Kalau begitu sekalian saja kita bahas tanggal pernikahan mereka," ujar Ezra.


"Tidak perlu dibahas lagi. Semua tamu undangan tahunya Yure menikah bulan depan dan ditanggal yang sudah di tentukan. Jadi kita pakai saja tanggal itu," ucap Yuda.


"Benar juga. Kalau begitu kalian berdua segera pesan baju pengantin yang mewah. Aku ingin putriku menikah dengan megah dan meriah," ujar Ezra.

__ADS_1


"Itu biar saya dan Marinka saja yang urus," ujar Regia.


"Hadehhh...dasar para orang tua. Cepat sekali berubah haluan. Tadi sudah kayak perang diponegoro, sekarang sudah kayak teletubies," batin Rakha.


"Ezka obati luka Yure," ujar Marinka.


"Iya ma." Jawab Ezka.


Ezka pun menarik tangan Yure, untuk diajak ke kamarnya. Ezka mengambil kotak P3K dari loker lemarinya, dan mulai mengoleskan obat pada luka Yure.


"Awww...sakit...kurang asem si Yuda. Lumayan kuat juga pukulannya," ujar Yure.


Pukkkkk


Ezka memukul lengan Yure lumayan kuat.


"Awww...sakit yank,"


"Mulutmu itu loh. Si Yuda, si Yuda. Gitu-Gitu papamu loh," ujar Ezka.


"Becanda yank," ujar Yure.


Ezka kembali mengoleskan obat pada luka Yure.


"Sepertinya kalau cuma pakai obat itu nggak akan sembuh deh," ucap Yure.


"Jadi mau pakai obat apa?" tanya Ezka.


Pukkkkk


Ezka kembali memukul bahu Yure.


"Kamu ini di saat seperti ini masih sempat-sempatnya bercanda," ujar Ezka.


"Siapa yang bercanda? mungkin ini juga karena ngidam," ucap Yure dengan memasang tampang memelas.


Cup


Cup


Ezka mencium pipi kanan dan kiri Yure. Wajah Yure langsung semringah.


"Aha...langsung sembuh kan? benar-benar ciuman yang mujarab," ujar Yure.


Ezka yang tersipu langsung mencubit perut Yure. Sementara itu di tempat berbeda, Marinka tampak mendiamkan Ezra yang baru saja masuk kamar setelah mengantar tamu pulang.


"Sayang. Akhirnya kita dapat menantu juga. Ya walaupun bukan Rakha yang duluan, tapi Ezka juga bukan masalah," ujar Ezra tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


Marinka tidak menanggapi ucapan Ezra. Wajahnya cenderung datar, saat sedang merapikan isi lemari.


"Sayang. Kamu dengar abang ngomong nggak?" tanya Ezra.


Marinka masih tetap dengan mode diamnya. Ezra yang hilang kesabaran langsung menghampiri Marinka dan membalikkan tubuh istrinya itu. Ezra terkejut saat melihat Marinka tengah berurai air mata.


"Sayang kamu kenapa nangis? kamu belum rela Ezka menikah?" tanya Ezra, namun di jawab gelengan oleh Marinka.


"Maafin adek. Karena abang menikahi wanita yang terlahir dari hubungan tidak resmi, alias anak haram," ucap Marinka.


Deg


Kini Ezra sadar, istrinya tengah tersinggung atas ucapannya saat sedang memarahi Ezka.


"Sayang. Maafin abang ya? abang tidak bermaksud menyinggungmu, abang benar-benar tidak sadar saat mengatakannya," ucap Ezra sembari membawa Marinka kedalam pelukkannya.


"Nggak bang. Perkataan abang memang benar kok. Ezka membuat kesalahan, karena memang ada keturunannya. Yaitu aku,"


"Hussssttttt sayang. Abang benar-benar minta maaf atas ucapan abang. Abang benar-benar tidak sengaja. Jadi tolong jangan di ingat-ingat lagi ya?" ucap Ezra.


Marinka hanya diam dan tidak menanggapi ucapan Ezra. Apa yang Ezra katakan sudah teralanjur menusuk hatinya. Meskipun tanpa sengaja, tapi cukup sakit Marinka rasakan.


"Hukum abang. Kalau memang adek marah. Tapi jangan diamin abang ya? abang nggak bisa kalau kamu diamkan," ucap Ezra.


"Sakit bang. Hikz...." Marinka terisak.


"Husssttt...maaf, maafin abang sayang. Please jangan nangis. Abang mengaku salah padamu," bujuk Ezra.


Ezra mengeratkan pelukkannya pada Marinka. Ezra tahu Marinka tipe orang pemaaf, tapi tetap saja dia merasa bersalah pada istrinya itu.


*****


Yuda dan Regia terlihat gugup saat menemui keluarga Sudirjo. Meskipun Yure juga ikut serta, tapi tetap saja mereka merasa tidak enak hati dengan keluarga itu.


Keluarga Sudirjo menyambut mereka dengan hangat. Mereka tidak akan menyangka kedatangan Yuda sekeluarga akan membawa kabar yang bisa membuat keluarganya di permalukan.


"Mari silahkan di minum tehnya," ujar Sudirjo.


Yuda dan Regia menuruti permintaan tuan rumah, untuk menghargai mereka. Di sisi lain Vania tampak tersipu melihat kearah Yure, sementara Yure hanya diam tertunduk.


"Jadi maksud kedatangan kami kemari karena ingin mengabari sesuatu pak Sudirjo,"


Yuda mulai membuka pembicaraan, meski sebenarnya jantung pria itu berdentum-dentum sejak tadi.


"Kabar apa ya pak? apa tanggal pernikahan anak kita akan di majukan?" tanya Sudirjo.


Glekkkk

__ADS_1


Yuda menelan ludahnya, bibirnya terasa kelu untuk bicara. Tapi dia ingin segera menuntaskan segalanya agar semuanya cepat berakhir.


TO BE CONTINUE....😘


__ADS_2