Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.218. Tidak Senang


__ADS_3

"Ap-Apa? Yure akan bertunangan? secepat itu? heh...aku terlalu memandang tinggi bocah ini. Aku bahkan sempat mengira permintaannya untuk menjadikanku istrinya, benar-benar serius. Ternyata dia sama saja, playboy cap biawak," batin Ezka.


Ezka memutar-mutar dengan erat cincin berlian yang ada di jari manisnya. Cincin yang diberikan Yure, saat berpisah di danau buatan.


"Kamu kenapa sih? waktu itu dengar Yure babak belur juga tersedak?" tanya Marinka.


"Adek gimana sih? ya jelas dong Ezka merasa simpati. Kan Yure sudah dia anggap seperti adiknya sendiri. Ya kan baby?" ucap Ezra.


"I-Iya." Jawab Ezka sembari melanjutkan makan malamnya.


"Sial. Kenapa perasaanku jadi tidak senang begini? bocah sialan itu, menikah ya menilah saja. Kenapa pakai acar tunangan segala?" batin Ezka.


"Itu jarak antara pertunangan dan pernikahan seberapa lama?" tanja Ezra.


"Katanya sih mau di percepat saja. Mungkin cuma jarak satu bulan saja. Regia benar-benar sudah tidak sabar pengen menikahkan Yure. Katanya biar putranya itu ada yang mengurus. Dia suka was-was membiarkan Yure tinggal sendiri, katanya sih takut kalau dia bawa gadis ke kamar dan berbuat yang macam-macam." Jawab Marinka.


Uhhuukk


Uhhuukk


Ezka lagi-lagi tersedak mendengar ucapan Marinka.


"Ya Tuhan...apa jadinya kalau papa, mama ,tante Regia dan om Yuda tahu. Kalau aku sudah memaksa anaknya melakukan hal itu padaku. Ini benar-benar memalukan. Apa sebenarnya keputusanku menolak Yure sudah tepat? kalau tidak, mereka pasti bertanya-tanya kenapa kami bisa tiba-tiba bersama kan?" batin Ezka, sembari meminum hingga tandas air minum di gelasnya.


Ezka langsung beranjak dari tempat duduknya, perasaannya benar-benar kacau saat ini.


"Eh? kamu udahan makannya?" tanya Marinka.


"Iya ma. Ezka mau istirahat dulu, rasanya capek banget." Jawab Ezka.


"Ya sudah istirahatlah," ujar Marinka.


"Sayang. Apa calon istri Yure cantik?" tanya Ezra.


Pertanyaan yang masih bisa di dengar oleh Ezka, yang membuat gadis itu memperlambat jalannya.


"Kata Regia sih cantik. Namanya juga putri pengusaha, masa iya nggak terawat. Lagian Regia dan Yuda nggak mungkin membiarkan putranya menikahi gadis sembarangan." Jawab Marinka.


Greppppp

__ADS_1


Ezka mengepalkan tangannya. Gadis itu bergegas menaikki tangga dan memasuki kamar.


Tap


Ezka melepas cincin pemberian Yure, dan meletakkannya diatas meja rias. Tidak terasa air mata gadis itu menetes, diapun tidak mengerti dengan perasaannya. Kenapa dia merasakan tidak senang, saat mendengar berita pertunangan Yure dengan wanita lain.


*****


"Sebenarnaya ada apa dengan gadis ini? apa suasana hatinya sedang buruk hari ini? kenapa rasa teh ini lebih manis dari hari kemarin? apa dia sedang menguji kesabaranku? dan satu lagi, kenapa sejak kemarin sampai hari ini dia berwajah masam? siapa yang merubah wajahnya jadi sejelek itu?" batin Rakha.


"Ayolah harimau, marahlah...marahlah...agar aku punya alasan meluapkan semua amarahku," batin Gadlyn.


"Terima kasih. Teh buatanmu memang yang terbaik," ujar Rakha.


"Eh? apa selera pria ini sudah berubah?" batin Gadlyn.


Gadlyn hendak berbalik badan, namun tangannya di tarik oleh Rakha, hingga dirinya terduduk di pangkuan pria itu.


"Apa suasana hatimu sedang buruk? apa aku menyakiti hatimu? apa ada perkataanku yang menyinggungmu?" tanya Rakha.


Deg


Deg


Deg


"Maaf. Saya harap tuan harus menjaga sikap tuan. Sikap tuan yang begini bisa membuat orang salah faham dan salah mengartikan maksud anda," ujar Gadlyn.


"Maksudmu apa?" tanya Rakha.


"Pikir saja sendiri." Jawab Gadlyn yang kemudian keluar dari ruangan itu.


"Apa para gadis mengira semua pria punya ilmu kebatinan? mana aku tahu apa yang ada dalam hatinya itu? apa semua gadis serumit dia?" gerutu Rakha.


"Gadlyn kenapa?" tanya Yure yang baru memasuki ruangan Rakha.


"Mana aku tahu. Aku hanya bertanya padanya, kenapa dia seolah bersikap cuek dua hari ini. Apa aku sudah menyinggungnya? tapi dia malah menyuruhku memikirkannya sendiri. Aneh kan? apa dia pikir aku ini bisa membaca seluruh isi hatinya?"


"Aku bahkan harus berpura-pura mengatakan bahwa teh yang dia buat itu sangat enak. Padahal asal kamu tahu saja, itu lebih mirip kolak, dari pada teh. Itu aku lakukan demi menghargai dia. Meskipun sebenarnya bibirku sangat gatal untuk memarahinya," sambung Rakha.

__ADS_1


Yure menyimak semua ucapan Rakha. Dan sudah merupakan kewajibannya untuk mencari tahu semua hal yang berhubungan dengan sahabatnya itu.


"Oh ya Yur. Tadi pagi mama telpon, katanya sepulang kerja kamu disuruh mama datang ke rumah utama," ucap Rakha.


"Aku? ada apa?" tanya Yure.


"Tidak tahu. Mungkin akan membahas masalah pertunanganmu itu." Jawab Rakha.


"Temani aku. Aku tidak mau datang kalau sendirian," ujar Yure.


"Baiklah." Jawab Rakha.


Waktu menunjukkan pukul 5 sore saat Yure dan Rakha tiba di kediaman utama Hawiranata. Para pelayan tampak sibuk menyiapkan buat acara makan malam bersama.


Ezka yang tidak tahu ada Yure dirumahnya, dengan santai menuruni anak tangga saat makan malam bersama sudah tiba.


Deg


Jantung Yure dan Ezka berdegup, saat tidak sengaja pandangan mata keduanya bertemu. Ezka berusaha bersikap sesantai mungkin, begitu juga dengan Yure. Meskipun yang terjadi sebenarnya jatung mereka seperti sedang lari marathon.


"Yure. Tante cuma ingin memastikan, apa kamu benar-benar ingin bertunangan dan menikah?" tanya Marinka.


"Eh? I-Iya tante." Jawab Yure sembari melirik ke arah Ezka yang tampak cuek dan begitu santai menikmati makanannya.


"Bagus. Itu artinya kamu sudah dewasa, dan sudah bisa mengambil keputusan sebesar itu sendiri. Tidak seperti seseorang, terlalu banyak pemilih. Seolah putri raja minyak di dubai mau saja menikah sama dia," sindir Marinka.


"Mama jangan menyindirku. Sebentar lagi uda akan bawa menantu buat mama. Tunggu saja, ini masih proses pendekatan," ujar Rakha.


"Apa kamu pikir mama akan percaya lagi dengan bualanmu? ucapanmu itu sudah kamu ucapkan lebih dari dua tahun yang lalu, tapi sampai detik ini nggak ada buktinya. Lihat dong Yure, dia nggak pilih-pilih macam kamu," sindir Marinka.


"Mama tidak tahu saja. Yure itu menikah karena patah hati di tolak oleh seorang gadis, makanya dia tidak perduli meski yang dia nikahi biawak sekalipun," ucap Rakha.


"Jadi kamu terpaksa Yur menikahi gadis itu?" tanya Marinka.


Yure terdiam. Dia kembali melirik ke arah Ezka yang masih tampak cuek, dan tidak terpengaruh sama sekali.


"Ezka. Apa berita pernikahanku benar-benar tidak mempengaruhimu sama sekali? apa dihatimu benar-benar tidak ada aku meskipun secuil saja?" batin Yure.


"Tidak. Aku sudah menemui gadis itu sekali, dia sangat cantik dan juga berpendidikkan. Mungkin saat ini kami memang belum saling mencintai, tapi Yure yakin seiring berjalannya waktu, kami bisa saling menerima." Jawab Yure dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


Greeppppp


Tanpa seorangpun tahu, tangan di bawah meja mengepal dengan sempurna. Tangan yang menyembunyikan sebuah cincin berlian, yang di hadiahkan Yure di danau buatan.


__ADS_2