
"Apa yang kamu temukan?" tanya Rakha saat Yure baru masuk ruangannya.
"Tahu saja kalau aku mau melaporkan hal itu," ujar Yure sembari menarik kursi untuk dia dudukki.
"Apa itu sungguh perbuatan orang lain? atau dia jatuh sendiri?" tanya Rakha.
"Dia tidak berbohong. Itu memang disengaja. Pelakunya tak lain mantan kekasihnya dan mantan sahabatnya. Kejadian yang waktu itu juga disebabkan oleh mereka." Jawab Yure.
"Ternyata masih ada jenis pria sampah seperti ini. Berapa lama mereka ini berpacaran?" tanya Rakha.
"Tiga tahun. Dan sahabatnya itu berteman sejak mereka SMA." Jawab Yure.
"Heh. Tiga tahun, hubungan selama itu tidak dianggap berarti sama sekali. Beruntung kita tidak pernah pacaran seperti gadis bodoh itu,"
"Betul. Pasti sudah kenyang si pria sampah itu," ujar Yure.
"Kenyang? maksudmu?" tanya Rakha.
"Ya iyalah, secara pacaran selama 3 tahun. Pasti habis sudah si Gadlyn di *****-*****. Pria playboy seperti itu, pasti akan pergi setelah puas dengan mangsanya." Jawab Yure.
Greeepppppp
Tangan Rakha terkepal erat, namun naasnya hal itu tidak luput dari penglihatan Yure.
"Hey...apa aku tidak salah lihat?" tanya Yure.
"Apa?" Rakha bertanya dengan wajah masam.
"Kalau mataku tidak salah lihat, sepertinya kamu sedang mengalami dua kemungkinan saat ini. Dan kamu tidak bisa mengelabuhi mata elangku,"
"Apa sih?" Rakha tidak mengerti.
"Sepertinya ada hal yang aku lewatkan. Apa kamu saat ini sedang marah saat mendengar komentarku tentang Gadlyn? atau kamu sedang cemburu saat mendengar komentarku tentang Gadlyn?"
"Apaan sih? aku sama si bodoh itu? mana mungkinlah. Seperti tidak ada gadis lain saja. Apalagi dia sudah...." Jawab Rakha.
Tok
Tok
Tok
Kata-Kata Rakha menggantung saat melihat sosok yang baru masuk. Dan Rakha mendadak tidak enak hati, kalau-kalau Gadlyn mendengar ucapannya. Sebab pintu saat ini memang tidak dalam keadaan tertutup rapat.
Rakha dan Yure terdiam, saat Gadlyn meletakkan kopi diatas meja. Sesuai dugaan Rakha, Gadlyn tiba-tiba langsung keluar, tanpa menunggu respon dari Rakha saat meminum kopi buatannya.
"Sepertinya dia mendengar ucapanku," ujar Rakha.
"Kamu sih. Lagian tidak masalah juga bagi kamu kan? kamu bosnya disini, kamu juga tidak menyukai dia kan? mungkin dengan begitu dia akan cepat mengundurkan diri," ucap Yure.
Rakha terdiam .Dia tidak ingin merespon apapun ucapan Yure, karena dia tahu Yure bukan tipe pria yang mudah ditangani. Rakha meraih tangkai kopi, dan menyedap kopinya perlahan. Mata Rakha langsung melotot seketika.
"Ada apa? jangan bilang kolak kopi lagi?" tanya Yure.
"Tidak. Ini kopi terenak yang pernah dia buat selama ini." Jawab Rakha.
__ADS_1
"Benarkah? coba aku cicip," ujar Yure.
"Enak saja. Ini dia buatkan untukku," ucap Rakha.
"Dasar pelit. Giliran yang nggak enak, kamu kasih aku," ujar Yure sembari bangkit dari tempat duduknya.
"Oh ya, hari ini kencan terakhir kita kan?" tanya Rakha.
"Ya. Aku sudah tidak sabar mau mengakhiri perjodohan konyol itu. Jadi malam ini bisa tidur dengan nyenyak tanpa ada kerisauan yang melanda." Jawab Yure.
Yure berlalu dari hadapan Rakha dan kembali keruangannya. Sementara itu ditempat berbeda, Ezka tengah memilih baju dari MD collection. Dia ingin menyenangkan hati pacarnya dengan datang ke pesta ulang tahunnya nanti malam.
Sebenarnya Ezka merasa sangat bersalah pada kedua orang tuanya, karena rencananya dia akan berbohong saat akan pergi ke klub malam. Padahal selama ini dirinya diberikan kepercayaan penuh, karena dirinya yang meminta untuk tidak diberikan penjagaan ketat dan berjanji akan melindungi dirinya sendiri dengan baik. Ezka juga diberi kebebasan memilih pendamping hidup, meski dengan orang dari kalangan bawah sekalipun.
Waktu menunjukkan pukul 3 sore saat Rakha dan Yure keluar dari kantor, untuk kembali melakukan kencan buta.
"Coba tebak berapa senti dempul yang dia pakai diwajahnya?" bisik Yure.
"Setidaknya 3 senti. Saat make up di hapus, pasti horor banget bro," bisik Rakha.
"Wajahnya terlampau putih, mengingatkanku pada hantunya orang jepang," bisik Yure.
"Oke skip!"
Seperti biasa, kini giliran Rakha yang menemani Yure pergi kencan buta. Kali ini Yure melihat gadis dihadapannya ini cukup lumayan, cantik tanpa make up tebal. Terlihat sangat alami dan tidak banyak bicara. Gadis itu juga hanya berpakaian biasa saja, tanpa kesan glamor atau feminim.
"Lumayan nih," bisik Rakha.
"Iya. Aku juga berpikir begitu, semoga yang ini cocok." yang diacungi jempol oleh Rakha.
"Kamu mau cari istri atau cari pembantu?" tanya sang gadis dengan suara tegas dan dingin.
"Galak bro," bisik Rakha.
"Tidak masalah, malah bikin greget," bisik Yure.
"Lalu kualifikasi apa yang kamu miliki, agar aku yakin kamu bisa menjadi calon istri yang baik?" tanya Yure.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang kamu miliki agar bisa menjamin hidupku aman?" tanya gadis itu.
"Maksudnya?" tanya Yure.
"Aku menginginkan suami yang pandai bela diri, setidaknya setara denganku yang menyadang sabuk hitam, dan menguasai tehnik bela diri dari negara luar." Jawab Gadis itu.
"Kamu mau cari suami apa mau cari tukang pukul?" tanya Yure.
Brakkkkkk
Gadis itu tiba-tiba menggebrak meja, yang membuat Yure dan Rakha terjengkit kaget.
"Apa kamu menantangku?" tanya Sang gadis.
"Bahaya ini bro. Kamu bisa masuk kedalam kelompok suami-suami takut istri," bisik Rakha.
"Ogah. Bisa-Bisa barang dirumah dia hancurkan semua," bisik Yure.
__ADS_1
"Kamu mengataiku?" gadis itu tiba-tiba melayangkan pukulan kearah Yure, namun dengan sigap Rakha menagkapnya dan memelintir tangan gadis itu.
"Ingatlah batasanmu. Jangan pernah lupa kalau kamu itu hanya seorang wanita. Jangan pernah kamu meremehkan lawanmu, hanya karena kamu merasa memiliki kemampuan yang tidak seberapa itu," ujar Rakha sembari mendorong gadis itu.
Rakha dan Yure kemudian keluar dari ruangan itu, dan memutuskn pulang kerumah.
*****
"Yure. Kamu ada dimana? sudah on the way belum?" tanya Regia.
"Sudah ma. Kenapa?" tanya Yure yang tengah menyetir.
Yure memang berencana akan menginap kerumah orang tuanya lagi, karena Regia ingin membahas hasil akhir dari perjodohan itu. Dan Yure juga ingin menegaskan bahwa dirinya tidak ingin mengikuti perjodohan dalam bentuk apapun.
"Malam-Malam gini enak kalau makan martabak keju." Jawab Regia diseberang telpon.
"Bakso beranak kak," timpal Yugie.
"Papa juga mau dong. Pengen pizza ini," ujar Yuda.
"Apa-Apa kalian? masa mesannya beda-beda gitu? mau sampai jam berapa ini?" tanya Yuda.
"Yureeee...." ucap Regia, yang membuat Yure jadi menghela nafas panjang.
"Oke baiklah nyonya Prayuda bagaskara...." ujar Yure yang kemudian mengakhiri panggilan itu.
Sementara itu ditempat berbeda, Alex tengah melaksanakan aksinya. Saat ini Ezka sudah berhasil dia buat minum sesuatu yang sudah dicampuri obat.
Saat merasa ada yang tidak beres pada tubuhnya, Ezka kemudian menoleh seketika kearah Alex.
"Apa yang kamu masukkan kedalam minumanku?" tanya Ezka dengan menahan sesuatu yang mulai bergejolak.
"Sayang. Aku hanya ingin kita bersenang-senang malam ini. Selama ini kamu tidak memperbolehkan aku menyentuh lebih dirimu, ini kan acara ulang tahunku, seharusnya kamu memberikan hadiah spesial untukku malam ini." Jawab Alex dengan seringai jahat.
"Dasar bajingan! apa kamu pikir karena aku terlihat begitu mencintaimu, jadi kamu bisa mengambil keuntungan dariku? aku bahkan bisa mendapatkan 100 pria baik-baik hanya dengan satu kedipan mata!"
Ezka berusaha membuat dirinya sadar dengan mencubit pahanya sendiri.
"Sial. Obat ini terlalu kuat. Aku pikir cerita gadis yang diberi obat hanya ada di kisah novel dan komik. Tapi sialnya kenapa aku yang harus merasakannya?" batin Ezka.
"Tidak usah berusaha membuat dirimu sadar, ini obat dosis paling tinggi. Besok bisa aku pastikan kehidupanmu akan berubah. Kamu akan menjadi milikku selamanya, dan aku bisa menikmati uangmu tanpa harus kerja susah payah,"
"Heh...mimpi saja kamu!"
"Sial. Tubuhku sudah mulai sulit dikendalikan," batin Ezka.
"Tenanglah. Aku sudah menyiapkan hotel ternyaman untuk kita menghabiskan malam, menurutlah!" bisik Alex dengan suara sensualnya.
"Lepaskan aku brengsek!" hardik Ezka dengan sisa kewarasannya.
Alex tidak perduli, pria itu segera menggendong Ezka dan membawanya keluar klub untuk dibawa ke hotel yang sudah dia pesan. Dengan kecerdikannya, Ezka berhasil membuka pintu mobil yang belum sempat Alex kunci. Ezka dengan sisa tenanganya berlari, namun karena tubuhnya yang sudah tidak bisa dikendalikan, Ezka berhasil ditangkap dan diseret oleh Alex untuk dibawa kembali kedalam mobil.
Yure yang tidak sengaja lewat, melihat kejadian itu dan langsung memutar arah mobilnya.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1