
"Nyonya. Ada tamu," ujar pelayan setelah mengetuk pintu kamar Marinka sebanyak tiga kali.
"Siapa?"
"Teman nyonya yang tempo hari datang. Tapi dia datang bersama suaminya,"
"Suruh tunggu dan buatkan minum. Saya akan turun sebentar lagi,"
"Baik nyonya."
Marinka menghela nafasnya, dia tahu betul itu Karin dan Galang.
"Kalau adek malas menemuinya, abang akan menyuruh security untuk mengusir mereka pergi."
"Tidak bang, adek pengen tahu, apa tujuan mereka datang kemari."
"Ya sudah. Abang akan menemani adek menemui mereka."
"Emm." Marinka menganggukkan kepalanya.
Tap
Tap
Tap
Marinka dan Ezra menuruni anak tangga secara bersamaan. Ezra menatap kearah Karin dan Galang yang sedang duduk diruang tamu.
"Sepertinya mereka menghabiskan malam yang panas, saat wanita ini mabuk semalam," batin Karin.
Tanda merah yang banyak pada Marinka dan Ezra, membuat Karin berspekulasi sendiri.
"Tuan dan Nyonya Ezra, kedatang kami kemari karena ingin meminta maaf atas kejadian yang terjadi tadi malam. Saya benar-benar tidak tahu kalau nyonya Marinka tidak bisa minum alkohol," ujar Karin.
"Tidak masalah. Saya sama sekali tidak keberatan, berkat anda hubungan kami sebagai suami istri malah semakin erat."Jawab Ezra asal.
"Wah...ternyata kalian pasangan yang bergairah ya? kami juga begitu, saat ingin mencari sensasi yang berbeda, kami biasanya sedikit minum alkohol," timpal Galang dengan tidak tahu malunya.
Sungguh Marinka berasa ingin muntah saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Galang. Wanita itu jadi teringat, saat Galang dan Karin menghina harga dirinya dengan bermain diranjang yang sama, padahal Marinka ada disana saat itu.
"Tentu saja. Sensasi seperti itu terkadang memang diperlukan."
"Kami do'akan kalian segera nyusul kami diberikan momongan," ujar Karin.
Mendengar itu Ezra maupun Marinka jadi terdiam.
"Terima kasih atas do'a anda nyonya Galang. Semoga saja do'a anda cepat terkabul." Jawab Ezra.
Meskipun Marinka tahu kata-kata itu hanya bualan, tapi entah mengapa Marinka sangat senang mendengarnya. Perkataan itu seolah Ezra benar-benar ingin memiliki keturunan dengannya. Namun secepat mungkin Marinka tersadar, Ezra bukan orang yang bisa dia raih dengan mudah. Meskipun Ezra tidak dengan Jihan sekalipun, mana mungkin dirinya berani masuk kedalam hati pria itu. Ezra yang kualitas unggul, bisa mendapatkan wanita manapun yang lebih baik darinya.
"Silahkan diminum tehnya," ujar Marinka berbasa-basi.
"Terima kasih. Kami juga tidak bisa berlama-lama, kami akan pergi ke dokter kandungan, untuk mengetahui keadaan calon anak kami," ujar Galang.
"Begitu? kalau begitu semoga calon anak kalian sehat," timpal Ezra.
__ADS_1
"Terima kasih tuan Ezra, do'a dari anda sangat berarti bagi kami," ucap Galang.
"Kalau begitu kami permisi dulu," timpal Karin.
"Silahkan," tutur Ezra.
"Ah...akhirnya mereka pergi juga. Melihat wanita itu, ingin sekali aku mematahkan tangannya. Gara-Gara dia adek jadi mabuk dan kita...."
"Bang..."
Kata-Kata Ezra terhenti saat Marinka menggelengkan kepalanya. Marinka tidak ingin kejadian malam kemarin menjadi suatu penyesalan yang berkepanjangan bagi Ezra.
"Apa sebenarnya abang merasa jijik melakukannya malam kemarin? maaf kalau adek membuat abang merasa begitu," tanya Marinka sembari tertunduk.
"Ti-Tidak sama sekali. Jangan bicara yang tidak-tidak. Disini abanglah yang bersalah, abang seharusnya bisa mengendalikan diri, bukan malah menuruti permintaanmu," Ezra keceplosan.
"Merasa jijik apanya? jujur saja, bahkan dirimu begitu nikmat, hingga aku mau melakukannya berkali-kali," batin Ezra.
"Ja-Jadi adek yang meminta abang melakukan itu?"
"Eh?" Ezra yang baru menyadari kata-katanya menjadi gelagapan.
"Ya Tuhan Marinka, kamu ini benar-benar wanita yang memalukan. Sudah kuduga, pasti aku yang memaksa bang Ezra. Walau bagaimanapun bang Ezra laki-laki normal, mana mungkin dia membiarkan wanita telanjang menganggur begitu saja didepan matanya. Marinka bodoh...nyemplung saja kamu kedalam sumur," batin Marinka.
"Lupakan saja. Kalau bahas masalah ini tidak akan ada habisnya. Pokoknya abang yang salah disini, titik!"
Marinka diam saja, dia tahu Ezra merasa bersalah padanya, begitu juga dengan Marinka. Wanita itu merasa sudah menempatkan Ezra dalam situasi yang sulit karena pria itu sudah memiliki hati yang harus dijaga.
"Aku harus berbesar hati. Sejak awal bang Ezra memang bukan milikku. Lagipula aku tidak boleh bermimpi mendapatkan pria sempurna seperti dia. Dia tampan dan memiliki segalanya, sedangkan aku? aku ini hanya figuran, yang cuma numpang lewat dalam hidupnya. Yang cuma beruntung bisa masuk dalam kehidupannya meskipun hanya sementara."
"Bukankah abang bilang jangan bahas lagi masalah ini? abang tidak perlu khawatir, suatu saat akan ada seorang pria yang tulus bisa mencintai adek, meskipun adek tidak sempurna."
"Adek tidak ingin karena masalah ini abang jadi canggung, begitu juga dengan adek. Adek ingin hubungan kita seperti biasanya."
"Sekali lagi abang minta maaf ya? apa perlu kita pisah kamar, agar hal seperti malam kemarin tidak terulang lagi?"
"Apa abang menginginkan kita pisah kamar?" tanya Marinka.
Jujur saja ada rasa sakit dihati Marinka, kalau sampai Ezra mengiyakan pertanyaan dari dirinya. Namun diluar dugaan Ezra malah menggelengkan kepalanya sembari tertunduk. Sungguh hati Marinka berbunga-bunga dibuatnya.
"Abang tidak ingin kita pisah kamar, abang janji tidak akan mesum lagi. Tapi kita jangan pisah kamar ya dek?"
Ada harapan dimata Ezra saat menatap mata Marinka. Marinka menyunggingkan senyum sembari mengangguk yang membuat Ezra mengembangkan senyumnya juga.
"Kita bobok yuk?" tanya Ezra.
"Bobok? ini kan malam minggu bang,"
"Kenapa?"
"Pengen jajan."
"Jajan?"
"Emm. Abang mau nggak kalau adek ajak makan bakso?"
__ADS_1
"Bakso?"
"Ya. Jangan bilang abang nggak pernah makan bakso juga."
"Pernah. Tapi itu sudah sangat lama. Waktu abang masih sekolah SD."
"SD? tidak seru sekali. sekarang model bakso sudah beragam, rasanya juga enak-enak. Yuk bang?"
"Ya sudah kalau pengen makan itu, kita keluar sekarang."
"Asyikkkkk" Marinka bersorak senang.
Marinka dan Ezrapun pergi mencari kedai bakso yang terkenal di kota J.
"Adek. Besar sekali? apa ini akan habis?" Ezra melongo saat melihat bulatan bakso yang begitu besar, bahkan kuah dan bakso terpaksa harus dipisah agar tidak tumpah.
"Makanya adek pesan satu saja, jadi kita bisa makannya berdua."
Marinka kemudian meracik bakso itu, hingga siap disantap.
"Gimana. Enak kan bang?" tanya Marinka, saat potongan bakso sudah dia suapkan dimulut suaminya itu."
Ezra mencoba menikmati makanan itu yang ternyata memang cocok dilidahnya.
"Enak."
"Iya kan? adek bilang juga apa, abang pasti suka. Adek kalau makan bakso minumnya es jeruk, seger deh bang."
"Abang juga mau kalau gitu."
"Sudah adek pesankan, bentar lagi pasti datang. Kita habisin aja dulu baksonya."
"Emm." Ezra mengangguk.
Sepasang suami istri itu memakan bakso dengan lahap. Ezra yang memang menyukai makanan pedas, sangat menyukai hasil racikan Marinka yang begitu sesuai dengan seleranya.
"Ah...kenyang,"
Ezra mengelus perutnya setelah selesai menyeruput habis es jeruknya.
"Kamu tanya harganya, setelah itu kita pulang," ujar Ezra.
"60rb bang."
"Kok kamu tahu?"
"Tuh ada tulisannya," Marinka menunjuk kearah spanduk yang bertuliskan menu dan harga.
"Kenapa murah sekali?"
"Abang maunya berapa? 60 juta?"
"Makanan seenak ini harusnya bisa seharga ratusan ribu bukan?"
"Kalau yang jualan abang, pasti semua orang akan kabur bang."
__ADS_1
Ezra terkekeh mendengar kata-kata Marinka. setelah membayar makanan mereka, Ezra dan Marinkapun memutuskan pulang karena hari sudah larut malam.