Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.181. Ezra Murka


__ADS_3

Greppppp


Diluar dugaan Galang, Marinka tiba-tiba mencengkram rambut Karin, hingga wanita itu meringis kesakitan.


"Marinka. Apa yang kamu lakukan?" tanya Paulin dengan suara lantang.


"Tutup mulutmu! apa kamu tidak tahu? inilah hasil dari didikkanmu. Selain pandai merebut suami orang, dia juga jadi seorang pembunuh," hardik Marinka, yang membuat Paulin terdiam.


"Aduh...sakit kak, ampun kak." Karin menghiba minta di lepaskan, karena cengkraman tangan Marinka semakin keras di rambutnya.


"Jangan pernah kamu memanggilku kakak lagi, karena sudah sejak lama kamu kehilangan hak untuk memanggilku kakak," kata-kata Marinka penuh penekanan.


"Marinka lepaskan dia! rambutnya bisa lepas dari kulitnya," ujar Paulin.


"Aku bahkan ingin mengulitinya hidup-hidup saat ini. Kamu benar-benar membuat darahku mendidih. Aku tidak percaya kamu bisa berbuat sekejam itu padaku, apa salahku ha? padahal Meskipun kamu selalu jahat, aku selalu menganggapmu sebagai adikku. Kenapa kamu lakukan itu padaku? kenapa?" Marinka berteriak di depan wajah Karin.


Karin tidak bisa menjawab, karena dirinya memang merasa bersalah. Dulu, saat Marinka masih tinggal bersamanya, dia selalu berbuat jahat pada Marinka. Padahal apapun yang Karin inginkah, Marinka selalu memenuhinya. Bahkan Marinka bersedia memasakkan nasi goreng tengah malam, hanya ingin memenuhi rasa lapar Karin dan sekaligus mengerjai Marinka.


"Marinka. Tolong lepaskanlah adikmu, bukankah dulu kamu sangat menyayanginya bukan? lagi pula sekarang kamu sudah jadi orang sukses, dan dapat suami yang sempurna. Lupakanlah masa lalu yang buruk, ayo kita buka lembaran yang baru," ujar Paulin.


Marinka lagi-lagi tertawa keras. Ucapan Paulin terdengar sangat menggelikan di telinga wanita itu. Tidak jauh berbeda dengan Marinka, Galang juga tersenyum sinis menatap Paulin.


"Aku baru bertemu dengan orang yang tidak tahu malu sepertimu. Baru beberapa menit yang lalu kamu mengataiku, dan sekarang kamu ingin mengajakku membuka lembaran hidup baru. Kenapa aku harus melakukannya? sementara begitu banyak manusia di muka bumi ini yang bisa hidup berdampingan denganku. Kenapa harus orang yang tidak tahu malu seperti kalian?"


"Nyonya Paulin. Aku akan pastikan putri tersayangmu akan membusuk dipenjara. Tapi setahuku, orang yang melakukan pembunuhan berencana juga bisa terkena hukuman mati bukan?"


Tubuh Karin bergetar hebat. Tentu saja dia tidak ingin mati muda dengan cepat.


"Nyonya. Jangan lakukan itu padaku, aku masih belum mau mati. Kamu pasti tahu aku masih punya seorang putri, kasihan dia kalau harus jadi anak yatim." ucap Karin.


"Aku masih bisa mengurusnya sendiri, walau ada kamu, kamu juga tidak mengurusnya dengan baik," timpal Galang.


"Diam kamu brengsek!" hardik Karin.


"Kamu yang wanita brengsek. Dasar wanita siluman," hardik Galang.


Galang hendak melayangkan tangannya pada Karin, namun tiba-tiba Marinka menangkap tangan pria itu.

__ADS_1


"Kenapa kamu menghalangiku? biarkan aku mewakilimu untuk menghajar wanita siluman ini." tanya Galang. Marinka menghempaskan tangan Galang dengan cukup kasar.


"Jangan pernah kamu mengangkat tanganmu untuk memukul seorang wanita. Karena itu jelas-jelas tindakkan seorang pria pengecut. Cukup aku saja yang dulu kamu pukuli, jangan lagi gunakan kekerasan pada wanita yang kamu anggap lemah," ujar Marinka.


"Inka. Mas minta maaf soal yang dulu, mas benar-benar khilaf," ucap Galang.


"Baiklah. Aku akan memaafkanmu, asal kamu mau menuruti dua permintaanku. Kalau kamu tidak menurutinya, aku terpaksa membongkar di media, siapa sosok mantan suamiku yang melakukan KDRT dan berpoligami dengan adik angkatku."


"Jangan lakukan itu Inka. Reputasiku akan hancur. Katakan! apa yang kamu inginkan,"


"Pertama. Jebloskan Karin ke penjara, bila perlu tuntut dia dengan hukuman mati."


"Tunggu Nyonya. Tapi itu tidak adil untukku, aku tidak melakukannya sendiri," ujar Karin panik.


"Oh ya? apa sebenarnya kamu berkomplot dengan mantan suamimu ini untuk menyingkirkan aku?" tanya Marinka.


"Bu-Bukan." Jawab Karin terbata.


"Karin!" Paulin sangat panik, karena takut Karin Menyebut namanya.


"Maaf ma. Tapi aku rasa mama juga harus di hukum, biar kita sama-sama jera dan bertaubat. Iya nyonya, aku dan mama yang melakukannya. Tapi ide itu semua berasal dari mama," ujar Karin.


"Hentikan!" hardik Marinka.


"Kenapa aku harus berhenti menghajar anak tidak tahu diri ini. Aku yang melahirkannya, membesarkannya. Aku memberikan segalanya untuk dia, tapi dia malah ingin memasukkan aku kedalam penjara. Dasar anak tidak tahu di untung!" Paulin semakin keras mengguncang kepala Karin. Karin hanya bisa berteriak kesakitan.


"Hentikan! Apa anda tuli?" hardik Marinka sembari mendorong Paulin, hingga wanita parubaya itu terduduk di sofa.


"Sebaiknya terima saja hukuman anda. Tidak usah mengelak lagi. Ya Tuhan... aku benar-benar tidak menyangka telah dibesarkan seorang ibu berhati kejam seperti anda ini. Aku benar-benar tidak menyangka," ucap Marinka dengan penuh rasa kecewa.


"Kamu tenang saja, aku pastikan dua orang ini akan menerima hukuman yang setimpal," ujar Galang.


"Lalu apa persyaratan kedua agar kamu mau memaafkan aku?" tanya Galang.


"Bangunkan masjid." Jawab Marinka.


"Itu urusan gampang. Aku akan membangunkan masjid yang indah untukmu. Bahkan aku akan membuat nama masjidnya gabungan dari nama kita berdua," ujar Galang.

__ADS_1


"Aku minta di bangunkan masjid tidak hanya satu, tapi 100,"


"Ap-Apa?" Galang terkejut.


"Aku rasa pertemuan kita cukup sampai disini. Aku tidak ingin menatap dua manusia kejam ini terlalu lama. Aku takut kehilangan kendali dan mencekiknya hingga mati," ujar Marinka sembari berdiri dari tempat duduknya.


"Kakak ku mohon ampuni aku, aku tidak mau di hukum mati. Aku bisa menerima masuk penjara, tapi aku mohon ringankan hukumanku," ujar Karin yang memeluk kaki Marinka yang tengah berdiri.


"Sudah ku katakan, kamu sudah lama kehilangan hak memanggilku seperti itu. Aku harap kamu jalani hukuman dengan baik. Lagipula aku bukan hakim yang memutuskan perkara itu, jadi berdo'alah hukumanmu sesuai yang kamu mau. Permisi," ujar Marinka.


Marinka melenggang pergi, dan hendak mencapai pintu.


"Marinka tunggu!" seru Galang sembari meraih tangan Marinka.


"Lepaskan tanganmu!" Marinka menghempaskan tangan Galang.


Namun Galang dengan tidak tahu malunya meraih tangan Marinka kembali dan menggenggamnya dengan erat. Marinka berusaha melepaskan tangan itu, namun gagal.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Marinka dengan penuh emosi.


"Inka. Mas masih ingat dulu kamu sangat mencintai mas. Setelah kamu pergi, mas baru menyadari kalau cuma kamu yang tulus mencintai Mas. Inka, apa perasaan itu masih ada? mas yakin kamu hanya menjadikan Ezra sebagai pelarianmu saja kan? bercerailah dari dia, dan menikahlah kembali dengan mas. Mas mencintaimu,"


Marinka terkekeh mendengar ucapan Galang. Namun tawa Marinka mereda saat suara menggelegar menyapu gendang telinganya.


"Apa-Apaan ini?" hardik Ezra dari arah depan pintu.


Ezra sangat murka saat melihat tangan Marinka digenggam erat oleh Galang, dan mengira Marinka sedang tertawa senang saat disentuh pria itu.


"Dasar brengsek! beraninya kamu menyentuh istriku,"


Ezra maju dengan langkah besar, dan melayangkan sebuah tinju di wajah Galang. Menerima pukulan itu, Galang tentu saja tidak terima. Pria itu membalas pukulan yang sama, hingga terjadilah perkelahian sengit diantara keduanya.


"Bang hentikan!" ucap Marinka panik.


Namun Ezra tidak memperdulikan ucapan Marinka, kedua pria itu masih saja saling pukul. Marinka maju dan menarik tangan Ezra, agar pria itu menghentikan aksinya. Namun tanpa sadar Ezra mendorong Marinka cukup keras, hingga kepala Marinka membentur meja.


"Marinka. Apa kamu sudah gila?" hardik Galang sembari menghampiri Marinka yang kesakitan karena dahinya mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Minggir! jangan sentuh istriku brengsek!" Ezra mendorong Galang, hingga tubuh pria itu terjerembab di lantai.


Marinka menatap mata Ezra, pria yang tengah sibuk memeriksa luka di dahinya, namun Marinka bisa mendengar gigi-gigi pria itu bergemeratuk, dengan mata merah berair. Marinka tahu, Ezra tengah marah besar saat ini. Dan dia tahu, pasti dirinya akan terkena imbasnya.


__ADS_2