
"Tunggu!"
Langkah kaki Sera dan Ando terhenti, dengan tangan mereka yang masih bertautan.
"Kalian mau konsep pernikahan seperti apa?" tanya Helen.
Ando dan Sera berbalik badan seketika. Pertanyaan itu seperti angin segar buat keduanya. Sementara itu Rehan sudah tidak bisa lagi menahan tawanya terlebih melihat ekspresi bingung diwajah Ando dan Sera.
Tidak jauh berbeda dengan Rehan, Helen dan Handoyo pun jadi terkekeh.
"Ini ada apaan sih sebenarnya?" tanya Ando kebingungan.
"Bodoh. Belum sadar juga ya kena prank om dan tante?" ucap Rehan
Ando berjalan dengan langkah besar kearah Rehan.
Pak
puk
pak
puk
Ando memukul pelan tubuh Rehan, rasa kesalnya dia lampiaskan pada adik sepupunya itu.
"Aduh...ampun kak..."
"Ini pasti ide kamu kan? nggak mungkin papa mama punya pemikiran jahil kayak gitu, kalau bukan dari kamu."
"Aw....aw..aw...sakit kak, nanti bisa lepas telingaku kak..." Ando menjewer telinga Rehan.
"Betul. Emang dari dia semua idenya, hajar aja terus." ucap Helen.
Sera masih diam mematung ditempatnya, gadis itu cukup bingung untuk mencerna situasinya. Pandangan mata Helen dan Sera bertemu, wanita parubaya itu menyunggingkan senyumnya dan merentangkan kedua tangannya.
Air mata Sera tumpah ruah seketika, gadis itu segera berlari berhambur kepelukkan Helen sembari terisak.
"Maafin om dan tante ya? kami tidak sungguh-sungguh mengatakan itu. Kami hanya ingin melihat seperti apa mental calon menantu kami,"
Sera tak mampu menjawab, isak tangisnya menghalangi kosa katanya. Gadis itu hanya mampu menganggukkan kepalanya.
"Ap-Apa tante dan om sungguh tidak keberatan mendapat menantu dari kalangan rendah sepertiku?" tanya Sera saat pelukkan mereka terlerai.
"Kami bisa saja mencarikan Ando calon istri berpendidikkan dan berkelas. Tapi kami tidak pernah mematok standar seperti apa calon menantu kami. Apapun yang menjadi pilihan Ando, itu berarti sudah yang terbaik. Harta dan kedudukkan tidak bisa menjamin kebahagiaan seseorang,"
"Makasih tante," Sera kembali memeluk Helen.
Ando menyeka air matanya saat melihat pemandangan manis didepannya. Dia sangat bahagia karena kedua orang tuanya sangat menghargai keputusannya memilih Sera sebagai calon istrinya.
__ADS_1
Setelah melewati moment haru itu, merekapun kembali meneruskan rencana makan siang bersama. Sera sangat bahagia hari ini, gadis itu seperti merasa telah menemukan keluarga baru. Dan dia berjanji dalam hatinya akan menganggap kedua orang tua Ando, seperti orang tua kandungnya sendiri.
"Kamu senang?" tanya Ando saat mereka berada dijalan pulang menuju Apartement Marinka.
"Emm." Sera mengangguk.
"Rasanya seperti semua beban dipundakku terangkat. Hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupku, aku seakan mendapatkan segalanya dalam satu waktu."
"Oh ya? memangnya apa yang kamu dapat?"
"Aku mendapatkan cinta kekasihku, dan juga mendapat cinta kedua orang tuamu." Jawab Sera dengan senyum terkembang.
"Baguslah kalau kamu senang. Berarti mulai besok kita bisa merencanakan semua konsep pernikahan kita,"
"Kak. Apa sebaiknya kita menikah secara sederhana saja? aku nggak mau membuat kakak dan keluarga kakak malu."
"Malu kenapa?"
"Mereka pasti menanyakan latar belakang keluargaku, nanti kalian akan bingung mencari alasan."
"Ckk...kenapa kamu memikirkan hal yang tidak penting begitu. Itu urusan nanti, lagipula kenapa harus malu? kita nggak minta makan dengan orang lain," ucap Ando.
"Hah...terserah saja deh kalau begitu," ujar Sera.
Mobil yang Ando kendarai tiba dikawasan Apartement, Sera yang hendak turun pun ditahan oleh Ando karena ingin mencium gadisnya itu.
Sera menyeka bibirnya dari sisa-sisa pertautan mereka, dengan pipi yang merona.
"Jatah preman." Jawab Ando terkekeh.
"Pokoknya hari ini hari terakhir cium sembarangan. Tunggu sampai kita Sah menikah baru lanjut lagi," ujar Sera.
"Ya nggak bisa gitu dong, enak aja. Nggak ada perjanjian kayak gitu pokoknya," protes Ando.
"Huuu...dasar mesum," gerutu Sera sembari membuka pintu mobil. Ando hanya menanggapinya dengan tawa.
"Gimana hasil pertemuannya?" tanya Marinka.
"Cukup mendebarkan dan menegangkan. Dan juga sempat terjadi drama." Jawab Sera.
"Masak sih? ceritain dong," ujar Marinka.
Sera pun mulai menceritakan semua kejadian saat berada dirumah Ando. Marinka pun tak kuasa menahan tawanya saat mendengar cerita sahabatnya itu.
"Si Rehan memang jahil baget itu bocah," ujar Marinka.
"Ho'oh. Bikin aku hampir jantungan aja,"
"Hah...tapi apapun itu hasilnya sangat memuaskan. Aku do'akan kamu bahagia sama Ando.
__ADS_1
"Eh? kamu design lagi? banyak banget," tanya Sera saat melihat lembaran kertas yang menumpuk diatas meja.
"Ya. Sudah kuhitung, hasil designku sudah hampir 200."
"What? itu banyak banget Rin. Apa otakmu itu masih encer?"
"Syukurnya sih masih. Makanya aku design terus, mumpung otakku masih encer banget ini."
"Emang pabriknya sudah mau selesaikah?"
"Pabrik ini cukup besar. Mungkin memakan waktu lumayan lama. Tapi sudah suamiku prediksikan, kemungkinan selesai 6 bulan lagi."
"Baguslah. Mungkin selama itu pula, designmu sudah terkumpul ribuan. Aku yakin kamu akan sukses kedepannya nanti."
"Amiin. Aku harus cepat sukses Ra. Agar tujuan awalku tetap harus dilaksanakan setelah aku kembali ke tanah air nanti. Kuliahku dua tahun lagi, selama itu aku pasti bisa mendulang sukses."
Sera menghela nafasnya, sahabatnya itu masih belum lupa dengan misi balas dendamnya. Sera sangat mengerti, mungkin rasa sakit yang Galang dan Karin toreh, sangat membekas di hatinya.
"Rin. Bolehkah aku bertanya satu hal tentang masa lalu mu itu?"
"Apa?"
"Sebenarnya apa yang ingin kamu dapatkan dari aksi balas dendammu itu?"
"Mungkin secara materi aku memang nggak dapat apa-apa. Tapi ini bicara soal kepuasan batin. Seperti mereka puas sudah melenyapkan aku dari kehidupan mereka. Kita tidak bisa membiarkan tindak kriminal didiamkan begitu saja, kita harus membuatnya jera."
"Tujuan utamaku, aku ingin membuat mereka tidak mendapatkan apa-apa. Seperti aku yang keluar dari rumah itu tidak diberikan apa-apa."
Sera kembali menghela nafasnya, sepertinya rasa benci Marinka sudah tertanam disudut hati, sehingga meski dilarang sekalipun Marinka tidak akan bisa mundur lagi.
*****
"Ah...senangnya, semua berjalan lancar. Akhirnya tiba juga waktu yang kita nantikan itu. Lusa adalah hari pernikahan kita, aku harap semuanya berjalan sebagaimana mestinya," ujar Ando.
"Amiin. Tapi terus terang aku sangat gugup kak," ujar Sera.
"Sama sih. Oh ya, kamu yakin cuma mau minta mahar 100 ribu saja?"
"Yakin. Buat apa juga banyak-banyak,"
"Gimana kalau kakak tambahi satu set perhiasan?"
"Nggak usah kak. Pasti jarang dipakai juga,"
"Siapa bilang? jadi istriku, kamu pasti akan sering mengikuti pertemuan-pertemuan, atau acara-acara resmi dan non resmi."
"Ya baiklah terserah kakak saja."
Mereka yang hanya berdua saja disebuah ruangan, membuat Ando tidak tahan untuk tidak mengambil jatah preman yang pria itu maksud.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...🤗🙏