Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.111.Hari Bahagia


__ADS_3

Suasana tampak meriah dan ramai memenuhi sebuah aula hotel berbintang 5. Senyum semringah tak pernah lekang dari bibir Yuda dan Regia, karena saat ini mereka sedang melaksanakan resepsi pernikahan setelah pagi harinya melaksanakan akad nikah.


Malam resepsi pernikahan itu dihadiri oleh berbagai kalangan, sehingga membuat suasana semakin ramai dan meriah.


"Ah...akhirnya tiba juga hari ini. Selamat ya Yud, aku turut bahagia untuk kalian berdua," ujar Ezra.


"Iya Yud. Aku juga turut senang. Tapi maaf nih, pagi-pagi aku harus kembali terbang ke Paris, mungkin saat itu kalian masih dalam selimut," ujar Ando terkekeh.


"Kok cepat sekali Ndo?"


"Kamu tahulah, sahabatmu ini designer beken. Jadi harus bekerja keras tiap harinya."


"Kamu kapan nyusulnya? bergerak cepatlah,"


"Santai. Yang penting dia selalu disisiku saat ini, lagipula dia baru saja melahirkan. Aku belum menyatakan perasaanku padanya,"


"Semoga berhasil ya?" ucap Yuda.


"Kalian nginap disinikan?" tanya Yuda.


"Nggak Yud. Aku pulang kerumah," ujar Ezra.


"Lagian buat apa nginap disini? kamu mah enak ada teman tidurnya, lah kita? lagian aku harus nyiapin buat kepulanganku besok pagi," timpal Ando.


"Ckk...kalian ini, padahal udah disiapin kamar pribadi. Ya sudah, kalian hati-hati."


"Ya. Kami pulang dulu ya?" ujar Ezra.


"Ya."


"Buruan masuk kamar, pengantin loe pasti udah nungguin. Udah minum jamu belum?"


"Jamu? buat apa?" tanya Yuda.


"Tentu saja biar kuat," ucap Ando sembari terkekeh.


"Ckk...aku tidak selemah itu. Lihat saja, bulan berikutnya pasti kalian akan mendengar kabar bahagia."


"Iya kami percaya Yud," tutur Ezra.


"Aissss...jadi ikutan pengen Yud," ujar Ando.


"Buruan nikah. Kiamat udah dekat loh, ntar nggak sempat icip-icip," Yuda terkekeh.


"Sialan. Mentang-Mentang mau malam pertama jadi songong ini bocah," ujar Ando.


"Ya udah kami pulang ya," Ezra menepuk bahu Yuda.


Ezra dan Ando akhirnya pergi dengan arah yang berlawanan. Sementara itu Yuda kembali ke kamarnya.


Kriekkkk


Yuda mendapati Regia yang tengah mengeringkan rambut dengan handuknya. Wanita itu terlihat sexy meskipun hanya mengenakan bathrobe.


Greppppp


Yuda memeluk Regia dari belakang, yang membuat tubuh wanita itu jadi menegang. Terlebih saat ini Wajah Yuda sudah berada diceruk lehernya, yang membuat aliran darahnya jadi bergejolak.


"Kamu wangi sekali sayang," bisik Yuda.


"Ma-Mas nggak mandi? aku siapin air hangat ya?" tanya Regia gugup.

__ADS_1


"Aku nggak butuh air hangat kalau untuk menghangatkan tubuhku," ujar Yuda sembari membalikkan tubuh Regia menghadapnya.


Yuda menyelipkan rambut basah Regia kebelakang telinga istrinya itu. Mata mereka kemudian saling beradu. Yuda bisa melihat, kalau saat ini Regia sedang dilanda kegugupan, hingga pria itu menyunggingkan senyum jahilnya.


"Apa kamu sudah siap?"


"Siap? siap apa?" tanya Regia.


"Buat anak," bisik Yuda.


Wajah Regia bersemu merah mendengar ucapan Yuda.


"Sebaiknya Mas mandi dulu," ujar Regia dan mendorong dada Yuda pelan.


Regia kemudian mencari pakaiannya dalam koper, namun tangannya dicekal seketika.


"Sebentar lagi kita tidak membutuhkan pakaian itu lagi,"


"Kenapa wajahmu memerah? apa kamu sedang gugup saat ini?" Regia mengangguk pelan.


"Mas. Aku minta maaf padamu,"


"Kenapa? jangan bilang saat ini kamu sedang datang bulan?"


"Bu-Bukan itu mas,"


"Lalu apa?"


"Aku merasa bersalah padamu, karena aku tidak bisa menjaga mahkotaku dengan baik. Aku..."


Ucapan Regia terhenti saat bibir Yuda sudah membungkam mulutnya. Regia yang semula terkejut dengan mata yang membuka lebar, kini perlahan meredup dan memejamkan mata.


Sreetttttt


Yuda menarik tali bathrobe yang Regia kenakan, hingga gundukkan indah milik Regia terpampang nyata didepannya.


"Emmmpptt...ahhh..."


Regia tidak mampu lagi menahan suara merdunya, saat Yuda dengan lihai mempermainkan puncak dadanya secara bergantian. Yuda kemudian menggiring Regia agar mereka berbaring diatas tempat tidur yang sudah ditaburi kelopak bunga mawar diatasnya.


Yuda dengan tergesa-gesa melepas semua kain yang ada ditubuhnya dan membuat mata Regia membulat saat melihat benda yang ukurannya tidak biasa itu.


Glekkkk


"Apa itu akan muat?" batin Regia.


Yuda menyunggingkan senyum, karena tanpa sadar Regia menatap miliknya terlalu lama.


"Kamu akan merasakannya sebentar lagi," bisik Yuda.


"Ah..." Regia kembali mendesah saat Yuda kembali menyerang puncak dadanya yang sensitif.


"Ma-Mas....emmmppttthh ...aahhh..."


Regia mencengkram rambut Yuda saat pria itu sudah bermain diliangnya yang basah. Tubuh wanita itu bergelinjang dengan suara-suara merdu terbit dari pita suaranya. Tidak menunggu waktu yang lama, Regia mengerang karena mendapat pelepasan pertamanya.


Yuda tersenyum, karena dia bisa membuat istrinya itu merasakan kelegaan yang luar biasa. Regia tersipu, saat Yuda menatapnya dengan sebuah senyuman yang tersungging dibibirnya.


"Aku menginginkan dirimu," bisik Yuda.


Regia mengangguk sembari mengalungkan kedua tangannya dileher suaminya itu.

__ADS_1


"Emmmpttt,"


Regia menggigit bibirnya, saat benda kebanggaan Yuda perlahan melesak masuk memenuhi liangnya yang basah. Yuda perlahan menggerakkan pinggulnya, pria itu memperlakukan istrinya begitu lembut sehingga Regia sama sekali tidak merasa disakiti.


Suara merdu Regia dan Yuda makin lama makin bersahutan memenuhi kamar paket bulan madu itu. Sudah tidak terhitung berapa kali Regia mendapatkan pelepasannya, namun tidak dengan Yuda. Pria itu masih dengan gagah membuat ranjang itu berderit sepanjang malam.


"Ahhh...Mas..."


"Sayanggg...ah..."


Yuda dan Regia mengerang bersama saat mereka sama-sama mendapatkan gelombang terpanas.


Hosh


Hosh


Hosh


Suara deru nafas dua sejoli itu saling memburu satu sama lain. Mereka sangat lega, akhirnya mereka benar-benar bisa menyatu satu sama lain.


"Makasih sayang, kamu sangat luar biasa," ujar Yuda disela nafasnya yang memburu.


"Tapi Mas aku..."


"Husssttt jangan mengungkit hal-hal yang tidak perlu. Aku sudah merasakannya, dan aku merasa dirimu seperti masih seorang gadis tulen."


"Mas mau menghiburku ya?"


"Sungguh,"


"Ckk...itu bukan karena miliku yang masih tulen, tapi karena punya mas yang..."


Kata-Kata Regia tercekat ditenggorokkannya, dia terlalu malu untuk berterus terang. Yuda terkekeh karena Regia masih saja malu-malu.


"Jadi kamu patut bersyukur memiliki suami sepertiku. Karena pisang di kondanga itu sama sekali tidak berpengaruh bagi pisang tandukku."


Bugh


Regia memukul dada Yuda pelan dengan wajah merona malu.


"Apaan sih mas, kok ngomongnya gitu,"


"Kemarilah," ujar Yuda.


Regia kemudian masuk kedalam pelukkan Yuda.


"Apapun kekuranganmu, bagiku itu suatu kelebihan. Jadi lupakan masalalu kelammu, tataplah masa depanmu bersamaku."


"Iya mas."


Cup


Yuda mengecup kening Regia dengan penuh kasih sayang.


"Tidurlah. Malam ini kita cukup bermain 3 kali saja, aku tahu kamu sangat lelah bukan?"


"Emm." Regia mengangguk.


Yuda semakin mengeratkan pelukkannya pada istrinya itu. Malam ini dia ingin tidur sembari berpelukkan dengan belahan jiwanya hingga pagi.


TO BE CONTINUE...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2