Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.179. Takut


__ADS_3

Dua hari kemudian...


"Jadi adek tetap ingin menemuinya hari ini?" tanya Ezra.


"Apa abang tidak mengizinkan adek pergi menemuinya hari ini?"


"Dari ucapanmu, kamu masih ingin menemuinya lain hari?" tanya Ezra.


"Bang. Satu hal yang harus abang ingat, saat kejadian itu, kita tidak memiliki bukti apapun untuk menjeratnya. Kecuali kita bisa me menemukan orang yang menculikku,"


"Tapi ada abang yang menjadi saksi hidup kejadian itu."


"Tapi abang tidak melihat, apa benar-benar dia pelakunya. Karena bisa saja dia mengelak bahwa itu akal-akalan penculik itu saja. Abang tidak usah khawatir, adek pasti akan baik-baik saja."


Ezra mendekati Marinka, dan menyelipkan rambut istrinya itu kebelakang telinga.


"Abang ada meeting hari ini, tidak bisa ikut serta bersamamu," ujar Ezra.


"Tidak masalah. Percayalah, adek bisa mengatasinya sendiri." Jawab Marinka.


"Hubungi abang jika terjadi sesuatu. Bawa supir kita, jangan nyetir sendiri. Abang nggak mau melepasmu sendirian kesana."


"Baiklah." Jawab Marinka.


Cup


Ezra mengecup kening istrinya, sebelum benar-benar pergi ke kantor. Marinka melambaikan tangannya dan masuk kedalam rumah setelah Ezra benar-benar pergi dan menghilang dibalik tembok pagar.


Di sisi lain, Karin dan Paulin sangat gelisah saat ini. Bagaimana tidak? sebentar lagi rumah mereka akan dijadikan tempat pertemuan Marinka dan Galang untuk membahas kejahatan yang sebenarnya merekalah pelakunya.


"Bagaimana ini Ma?" tanya Karin.


"Kita kabur saja dari sini," ujar Paulin.


"Kita mau kemana? kita tidak punya cukup uang untuk membeli rumah baru. Lagipula Galang sudah mewanti-wanti aku, agar aku tidak pergi kemanapun. Sepertinya dia sudah tahu, kalau akulah pelaku sebenarnya."


"Tapi mereka tidak punya bukti untuk menuduh kita?"


"Karin takut Galang akan menggunakan cara dia untuk membuat kita mengaku. Apa kita akui saja semuanya? mungkin dengan begitu, hukuman kita tidak akan berat."


"Tidak Karin. Mama nggak mau membusuk di penjara, kalau kamu mau disini ya terserah! mama akan pergi sekarang juga." Jawab Paulin.

__ADS_1


"Maksud mama apa? mama mau ninggalin aku sendiri? mama harus sadar dong ma, ini semua kan ide dari mama?"


"Enak aja kamu nyalahin mama. Kalau kamu bisa nyingkirin dia sendiri, mama nggak perlu susah-susah buat ngasih kamu ide segila itu. Harusnya kamu berterima kasih dong sama mama. Berkat mama kamu pernah jadi nyonya Galang seutuhnya. Tapi apa? karena kebodohanmu itu, semuanya jadi hancur. Seharusnya kita masih bisa menikmati kekayaan suami kamu sampai mati, bukan malah membusuk dipenjara," hardik Paulin.


"Ini semua ide kalian berdua. Papa nggak ikut-ikut. Lebih baik papa pergi saja dari rumah ini," ujar Herman yang sudah menyeret koper keluar rumah.


"Pa tunggu mama pa. Mama ikut papa saja," ujar Paulin yang menarik tangan Herman.


Herman kemudian mendorong Paulin menjauh, hingga wanita parubaya itu tubuhnya terhuyung kebelakang.


"Aku tidak mau kamu ikuti, mulai sekarang kamu bukan istriku lagi," ucap Herman yang kemudian langsung pergi begitu saja.


Paulin sangat syok mendengar ucapan Herman yang tiba-tiba mentalak dirinya. Tubuh wanita itu kembali terhuyung kebelakang dan terduduk di sofa.


"Apa papa sudah gila? meninggalkan kita disaat seperti ini?" ujar Karin frustasi.


Tok


Tok


Tok


Kriekkkkk


Karin membuka pintu perlahan, dan melihat seorang wanita berdiri dengan membelakangi pintu. Karin tahu betul siapa pemilik tubuh indah itu. Marinka membuka kaca mata hitamnya saat mendengar seseorang membuka pintu. Tubuhnya kemudian berbalik, seraya memasang senyum paling indah yang pernah dia miliki.


"Hai...teman. Apa aku boleh masuk?" tanya Marinka.


"Bo-Boleh." Jawab Karin dengan bibir bergetar.


Marinka masuk dengan anggun, matanya berlari kesana kemari untuk melihat suasana rumah yang pernah dia tinggali hampir 14 tahun itu. Rumah yang membuatnya tumbuh jadi pribadi yang naif, namun tetap menerima dengan legowo apapun yang orang lain lakukan padanya.


"Hampir 5 tahun aku tidak kesini, ternyata tidak banyak yang berubah," ujar Marinka.


Mata Marinka kemudian menangkap sosok Paulin yang terduduk lesu disebuah sofa.


"Oh...hai...nyonya Paulin? apa kabar anda? sepertinya tubuh anda sedikit lebih kurus, dari terakhir kita bertemu di pesta itu bukan?" tanya Marinka sembari menjatuhkan bokongnya di salah satu Sofa.


Karin bergegas ingin pergi ke belakang, karena ingin membuat minuman untuk mengambil hati Marinka.


"Mau kemana?" tanya Marinka.

__ADS_1


"Ma-Mau membuat minuman." Jawab Karin.


"Tidak perlu. Aku tidak ingin mengambil resiko diracuni olehmu," ujar Marinka.


"Kita tunggu saja kedatangan Galang, dan kita selesaikan semua urusan kita hari ini. Setelah itu, didalam mimpipun, aku tidak ingin berurusan dengan kalian lagi."


"Oh...sepertinya menjadi nyonya dari pengusaha nomor satu, sudah membuatmu begitu sombong. Apa kamu lupa darimana kamu berasal? apa kamu lupa siapa yang memungutmu? apa kamu lupa siapa yang memberimu makan selama 14 tahun? sekarang dengan sombongnya kamu berbicara seperti itu?"


"Ma. Apa yang mama katakan?" Karin jadi panik saat mendengar ucapan Paulin yang memprovokasi istri dari pengusaha hebat.


"Biarkan saja. Biarkan mamamu bicara sepuasnya, karena mungkin ini adalah hari terakhir aku bisa membalas budi baiknya selama 14 tahun."


"Tentu saja kamu harus balas budi. Memangnya siapa yang membiayaimu sekolah dan membelikanmu pakaian seragam? kalau kamu berada di panti, kamu belum tentu bisa sesukses sekarang ini."


"Ma. Apa mama sudah tidak waras?" ujar Karin setengah berbisik pada Paulin.


"Karin. Sudah ku bilang biarkan saja, aku ingin melihat seberapa tidak tahu malunya mamamu itu," ucap Marinka.


"Dasar tidak sopan! apa kamu pikir setelah menjadi terkenal dan menjadi istri dari pengusaha hebat, aku akan takut denganmu?"


"Aku percaya kalau kamu tidak pernah takut dengan siapapun di dunia ini. Tapi aku percaya kamu takut dengan dua hal. Yaitu penjara dan kuburan." Jawab Marinka yang membuat Paulin terdiam.


"Pertama-Tama, berhentilah menganggap seolah-olah selama 14 tahun dirumahnu, aku tidak pernah melakukan apa-apa. Aku tinggal dirumahmu jangan dibuat seolah aku makan dan tidur gratis disini. Secara kasat mata memang iya aku terlihat seolah dipungut dengan baik disini, makan dan tidur gratis. Tapi orang luar tidak tahu, kalau aku membayarnya dengan cara lain."


"Nyonya Paulin. Mungkin dulu aku tidak mengerti karena aku sadar kalau aku terlalu naif. Kalian memuji apapun yang aku masak, karena ingin mendapat koki gratis dirumah kalian. Aku mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian, dan kalian membiarkan putri kalian seperti putri raja yang asyik dengan ponsel canggihnya."


"Kalian selalu menyanjungku cerdas, dan membelikan seragam baru untukku. Itu karena kalian ingin aku membantu putri kalian yang bodoh di sekolah, maupun PR dirumah. Aku rasa semua itu sudah cukup membuatku membayar selama aku tinggal dirumah kalian. Apa kamu berpikir sekarang aku akan mengeluarkan uang untuk membayar semua jasa palsumu itu? tidak akan nyonya Paulin. Sepeserpun kamu tidak layak mendapatkan uang halalku," sambung Marinka.


"Dasar anak tidak sopan dan tidak tahu diri kamu!" hardik Paulin.


"Siapa yang tidak sopan dan tidak tahu diri?" Galang tiba-tiba berdiri di depan pintu.


Pria itu terlihat tampan dengan pakaian santainya. Namun Marinka sama sekali tidak melirik kearahnya, dia cukup hafal hanya dengan mendengar suaranya saja.


"Mas. Kamu mau teh?" tanya Karin sembari berdiri dari tempat duduknya.


"Kalau kamu masih belum tahu cara membuat teh, lebih baik tidak usah. Aku tidak mau mati muda karena terkena diabetes." Jawab Galang.


Galang mengalihkan pandangannya ke Marinka. Pria itu kemudian tersenyum penuh arti dan duduk di sofa bersebelahan dengan Mantan istrinya.


TO BE CONTINUE...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2