Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.54. Gelisah


__ADS_3

"Morning Honey,"


Cup


Jihan mengusik tidur Ezra, sehingga pria itu memeluk Jihan dengan.


"Dek. Jangan ganggu abang, masih ngantuk nih..."


Ezra tanpa sadar mengeluarkan kata-kata yang membuat Jihan berang seketika.


Pukkk


"Dek? aku bukan adikmu!" ujar Jihan kesal dengan memukul tangan Ezra cukup keras.


Mendengar suara Jihan yang memekakkan telinganya, Ezra jadi terbangun dan terduduk seketika. Mata gadis itu merah menyala karena emosi.


"Jadi selama aku tidak ada, kamu sering bermesraan dengan istri kontrak kamu itu?"


"Sayang. Maaf, aku cuma reflek saja. Kami tidak memiliki hubungan seperti itu. Dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri."


"Bohong. Kamu pasti sudah menyentuhnya kan?"


"Ti-Tidak." Ezra berusaha menutupi kebenaran.


"Awas saja kalau kamu berani menyentuh wanita lain, aku benar-benar tidak terima. Kamu selalu menolakku, jadi aku tidak terima kalau kamu sampai menyentuh dia."


"Tidak akan. Maaf ya?"


Ezra membawa Jihan kedalam pelukkannya, untuk menenangkan emosi gadisnya itu.


"Begini saja, untuk menebus kesalahanku tadi, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan?"


"Jalan-Jalan? apa kamu ingin mengajakku belanja?"


"Ya. bukankah kamu sangat menyukai tas?"


"Ya. Aku mau kamu membelikan aku tas keluaran terbaru lagi,"


"Oke. Jangan merajuk lagi ya?"


"Emm." Jihan mengangguk sembari menyeringai.


Sementara itu ditempat berbeda, Marinka seperti kehilangan semangat hidup. Matanya sudah membengkak hingga matanya terlihat menyipit.


"Jadi sebenarnya bang Ezra ke Paris untuk bekerja, atau pergi liburan dengan Jihan? tapi kenapa bang Ezra harus berbohong? mereka berada dikamar yang sama, dan mereka juga tidak menggunakan pakaian lengkap. Itu artinya mereka sudah melakukan hal itu."

__ADS_1


"Hah...kamu ini bodoh sekali Marinka. Bahkan di Turki mereka juga tidur bersama. Mereka berkencan sudah 3 tahun lebih, kamu malah berani masuk diantara mereka, tentu saja kamu yang akan terluka. Sudah berapa kali kamu meyakinkan dirimu, agar kamu membentengi diri, tapi kamu masih saja lancang mencintai pria berkedudukan mulia itu."


"Sebaiknya aku membiarkan bang Ezra menikmati liburannya bersama Jihan, mereka jarang bertemu, sudah sepatutnya mereka melepaskan rindu satu sama lain."


Marinka memutuskan turun kebawah untuk membuat minuman segar, wanita itu juga mencari kesibukan agar tidak terlalu memikirkan Ezra yang tengah berkencan dengan wanita lain. Bahkan Marinka sengaja tidak membawa ponselnya, agar dia tidak terpengaruh dengan pikiran-pikiran buruk.


Namun meski mau dihindari bagaimanapun juga, tetap saja ada yang ingin sengaja melukai perasaannya.


Ting


Sebuah chat masuk saat Marinka baru saja kembali ke kamarnya. Dengan menguatkan hatinya, Marinka membuka Chat itu yang ternyata berasal dari Jihan. Gadis itu mengirimkan sebuah foto saat dirinya dibelikan Ezra sebuah tas mahal seharga 1 milyar.


"Tas mahal dari calon suamiku seharga satu Milyar. Bagus nggak?"


"Bagus kak. Moga happy disana ya?"


Marinka membalas chat Jihan, agar gadis itu tidak berpikir dirinya cemburu melihat kebersamaan mereka.


"Habis ini Ezra mengajakku ke toko berlian, dia bilang ingin membelikan aku kalung berlian seharga 5 milyar. Itu untuk acara lamaranku nanti,"


"Wah...selamat ya kak, ikut senang dengernya. Moga hubungan kalian langgeng." Balas Marinka.


"Ternyata aku terlalu mengkhawatirkan hubungan Marinka dan Ezra. Sepertinya mereka memang tidak memiliki hubungan spesial. Terbukti Ezra selalu memanjakan aku dengan materi, dan Marinka membalas chatku dengan biasa saja." Batin Jihan.


"Marinka kuatlah, tidak sampai dua bulan lagi kalian akan berpisah. Setelah itu kamu benar-benar harus menghilang dari kehidupan Ezra, itu lebih baik agar kamu tidak sakit hati lagi," tutur Marinka sembari menyeka air matanya.


Selang satu jam kemudian, chat beruntun masuk kembali kedalam ponsel milik Marinka. Chat yang berisi beberapa foto mesra antara Jihan dan Ezra, bahkan ada foto-foto mereka yang sedang berciuman mesra.


Sakit, hanya satu kata itu yang tersemat dihati Marinka saat ini. Namun wanita itu berusaha tegar, dan mencoba berbesar hati.


"Kamu chat sama siapa? serius sekali," tanya Ezra saat mereka sedang makan siang disebuah restauran mahal.


"Rekan kerjaku sesama model. Aku memasang foto kita di sosmed, dia langsung komen kalau kita ini pasangan yang serasi." Jawab Jihan.


Bicara soal sosmed, Ezra jadi teringat akan Marinka. Tiba-Tiba pria itu merasa gelisah, karena sejak semalam dirinya tidak memberi kabar pada istri kecilnya itu.


Ezra kemudian membuka ponselnya, dan tidak menemukan satupun chat atau panggilan dari Marinka. Ezra kemudian mengirim sebuah chat untuk istrinya itu.


"Dek lagi apa?"


Chat itu sama sekali tidak dibaca oleh Marinka, karena ponselnya sengaja dia matikan.


"Sayang. Aku ketoilet bentar ya?" ujar Ezra.


"Jangan lama." Jawab Jihan yang masih bermain ponselnya.

__ADS_1


Ezra kemudian pergi kearah belakang membuat panggilan untuk Marinka. Namun nomor istrinya itu sama sekali tidak bisa dia hubungi.


"Kemana dia? kenapa ponselnya tidak aktif? apa batre ponselnya habis?"


Ezra kemudian memutuskan untuk kembali kemejanya, Jihan tampak sedang menerima panggilan telpon dan mengakhiri panggilan itu setelah melihat Ezra kembali.


"Telpon dari siapa?" tanya Ezra.


"Teman profesiku. Dia mengingatkanku kalau besok pagi ada pemotretan."


"Oh," hanya itu kata yang keluar dari mulut Ezra.


"Ya udah kita jalan lagi yuk?"


"Kemana lagi?"


"Pokoknya kita harus menghabiskan waktu seharian, malam nanti kita akan pergi kemenara yang terkenal romantis itu, dan mengabadikan moment indah kita disana."


"Ya baiklah."


Seperti yang Jihan katakan, mereka benar-benar jalan hingga larut malam. Beberapa foto romantis di menara eiffel, sudah Jihan kirim di ponsel Marinka.


Begitu banyak chat yang masuk saat Marinka membuka kembali ponselnya. Chat yang membuat hatinya lagi-lagi berdenyut. Dan satu chat dari Ezra, yang hanya dia read tanpa ada niat untuk membalasnya.


"Sayang. Sepertinya aku tidak bisa menginap disini malam ini,"


"Kenapa?" tanya Ezra.


"Besok pagi-pagi sekali kami akan berangkat ke tempat pemotretan. Tempat itu bukan digedung, tapi konsepnya outdoor. Aku harus mempersiapkan segalanya malam ini,"


"Baiklah, aku akan mengantarmu."


"Tidak usah, besok kamu harus kerja pagi-pagi kan? aku sudah memesan taksi, sebentar kagi dia akan datang."


"Ya sudah kalau begitu."


Cup


Jihan mengecup bibir Ezra sekilas, dan kemudian melenggang pergi. Melihat Jihan yang sudah pergi, Ezra bergegas membuat panggilan untuk Marinka. Nomor itu sudah aktif, namun Marinka sama sekali tidak mengangkatnya.


"Oh astaga...Ezra kamu ini bodoh, disana saat ini pasti sudah jam 2 pagi, pastinya Marinka sudah tidur."


Ezra memutuskan untuk tidak membuat panggilan lagi. Tapi satu hal yang Ezra tidak tahu, Mata Marinka senantiasa masih terjaga. Dia hanya menatap layar ponselnya ketika suaminya itu membuat panggilan untuknya. Dia tidak ingin berbicara dengan pria itu, karena air matanya yang lebih dulu mewakilinya.


TO BE CONTINUE...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2