
"Aku tidak akan memaksamu. Sebaiknya kamu juga harus menyelidiki Deryl dulu. Aku lihat sepertinya kamu ragu dengan kata-kata yang aku ucapkan," Meiza kembali membumbui ceritanya.
"Jika seandainya aku setuju dengan kesepakatan atau syarat yang kamu ajukan, aku juga ingin mengajukan satu syarat mutlak untukmu," ucap Joana.
"Katakan!"
"Jika nanti Ilyas menolak bersamaku, maka kamu harus membujuknya sampai dia setuju," ujar Joana.
Deg
Perkataan Joana tentu sulit Meiza setujui. Namun disaat bimbangnya melanda, Meiza mendapat telpon dari Ezra.
"Tidak masalah. Angkat saja, aku yakin kamu tahu apa yang harus kamu lakukan," ujar Joana yang memberikan kelonggaran untuk Meiza.
"Ya pa?" tanya Meiza.
"Deryl menolak dengan tegas aksi damai kita." Jawab Ezra.
"Apa papa dan mama sudah bicara langsung padanya?" tanya Meiza.
"Ya." Jawab Ezra.
"Benar-Benar kucing belang bersayap. Berharap terbang jauh, namun akhirnya tetap menunggu ditempat. Apa dia lupa? harimau jaman sekarang tidak lagi suka daging?"
Ezra tertegun mendengar ucapan Meiza. Kata-Kata yang Meiza katakan adalah kode rahasia mereka, saat musuh sedang berada tepat dihadapan mereka.
"Eksekusi." Jawab Ezra yang kemudian mengakhiri panggilannya.
Ezra memijat keningnya dan Marinka jadi khawatir.
"Ada apa?" tanya Marinka.
"Orang suruhan Deryl sudah berada di Jerman saat ini. Bahkan sudah berhadapan langsung dengan Meiza." Jawab Ezra.
"Ap-Apa? ba-bagaimana kalau dia menyakiti Meiza?" tanya Marinka yang ketakutan.
"Kamu tenang saja. Putri kita itu sangat cerdas. Dia masih bisa mengangkat telpon dariku, itu artinya dia masih bisa mengantisipasinya." Jawab Ezra.
"Lalu apa kerja orang-orangmu? kenapa Meiza bisa berhadapan dengan orang itu?" tanya Marinka emosi.
"Sayang. Tenanglah oke? pembunuh bayaran itu pasti sudah terlatih, sama seperti pembunuh bayaran yang kita miliki."
__ADS_1
"Cepatlah hubungi orang-orangmu itu. Selamatkan Meiza sekarang juga. Ya Tuhan...dia sedang hamil saat ini, cucu-cucuku dan putriku harus selamat. Hikz..."
Ezra membawa Marinka kedalam pelukkannya, untuk menenangkan istrinya itu.
"Kita tidak bisa melakukan itu sekarang. Watak pembunuh berbeda dengan watak orang normal. Kalau kita membuat dia terdesak, kita malah akan membahayakan Meiza." Jawab Ezra.
"Jadi kita harus bagaimana?" tanya Marinka.
"Meiza sudah mengatakan padaku agar kita jangan khawatir,"
"Bagaimana mungkin dia mengatakan itu? sementara dihadapannya ada seorang penjahat,"
"Dengan kode rahasia. Putra putri kita sudah menghafalnya sejak usia dini." Jawab Ezra
Meski sedikit lega mendengarnya, tapi tetap saja Marinka masih merasakan khawatir. Sementara itu, Meiza dan Joana masih bernego alot.
"Papaku bilang Deryl tidak setuju berdamai dengan kami. Padahal kami mengajak damai juga karena kasihan padanya. Berapa jumlah orang-orang dipekerjakan oleh Deryl?" tanya Meiza.
"Kamu ingin mengorek informasi dariku tentang jumlah kekuatan yang kami miliki? aku belum setuju dengan negosiasi kita," tanya Joana.
"Aku yakin kamu pasti tidak lupa kalau keluargaku mafia terbesar di negara I. Biar aku beritahu kamu berapa jumlah kekuatan mafiaku. Kami memiliki 1000 pasukkan khusus yang tersebar diseluruh wilayah negara I. 500 anggota inti bersenjata berat. 300 orang bersenjata ringan, 100 orang perakit senjata, dan 50 pemembak Jitu, 30 tim medis dan 20 orang pelayan markas."
"Dengan kekuatan Deryl yang tidak seberapa itu, apa kamu pikir bisa kabur jika kami berniat menyerang dan membumi hanguskan markas busuknya itu?"
"Deryl tidak akan mampu menyewa orang sebanyak itu, karena selain kere, dia juga pelit sama seperti ayahnya. Sayang sekali kamu yang berbakat, bisa bekerja dengan orang seperti itu. Saat nanti kamu berhasil membunuh Deryl, aku yang akan menjaminmu bekerja di markas kami."
"Enaknya dimarkas kami, meski tidak ada job mereka tetap dibayar,"
Meiza kembali menyebarkan racun dipikiran Joana. Joana lagi-lagi tampak melamun, dan Meiza lagi-lagi senyum nyaris tak terlihat.
"Aku akan setuju saat semua perkataanmu itu benar," ucap Joana.
"Lalu bagaimana misimu yang ingin membuatku celaka?" tanya Meiza.
"Aku...."
Kriekkkkk
Ilyas tiba-tiba muncul setelah pulang dari terapi. Ilyas belum menyadari kalau gadis yang tengah membelakangi dirinya itu adalah Joana yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.
"Lakukan kesepakatan awal kita," ujar Joana setengah berbisik.
__ADS_1
"Bukankah kamu ingin memastikan tentang Deryl lebih dulu?" tanya Meiza.
"Anggap saja ini langkah pertamamu, untuk membuatku percaya bahwa kamu serius dengan kata-katamu yang ingin melepaskan Ilyas." Jawab Joana.
"Sayang. Ada tamu ya?" tanya Ilyas sembari mendorong kursi rodanya sendiri.
"Ya. Lebih tepatnya tamumu." Jawab Meiza santai.
"Jo-Joana?" bibir Ilyas bergetar saat tahu gadis yang berada dihadapannya saat ini adalah Joana sang penembak Jitu handal.
Ilyas kemudian menatap pistol diatas meja, dan bergantian menatap Meiza.
"Sa-Sayang. Apa kamu tidak apa-apa?" Ilyas segera memeriksa keadaan Meiza. Dia benar-benar takut saat ini.
Namun berbeda dengan Joana, gadis itu sangat terluka melihat Ilyas begitu perhatian pada Meiza. Meiza melirik kearah Joana yang wajahnya sangat sedih. Meiza menghela nafas, lagi-lagi dirinya terlibat dalam cinta segitiga yang rumit.
"Apa kabar kak?" tanya Joana.
"Aku bukan kakakmu lagi, sejak kamu berniat ingin melenyapkan istri dan anakku. Joana, aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri. Kita dibesarkan sama-sama dari jalanan. Kamu hanya punya aku, dan aku hanya punya kamu waktu itu. Kamu juga sudah aku anggap seperti sahabatku sendiri. Tapi kenapa kamu langsung setuju saat Deryl menyuruhmu menghabisi istri dan anakku?" tanya Ilyas.
Meiza melirik Joana yang bertambah sedih saat mendengar ucapan Ilyas.
"Penembak Jitu adalah seorang yang cerdas. Tapi sayang pikiran gadis ini sangat mudah di manipulasi. Tapi dengan begitu, aku masih bisa membolak balik pikirannya nanti. Suatu keberuntungan dia memiliki, perasaan terhadap Ilyas," batin Meiza.
"Kami sedang membuat kesepakatan," ujar Meiza sembari mengedipkan mata pada Joana, yang seolah dirinya tengah menyelamatkan gadis itu.
"Kesepakatan? kesepakatan apa?" tanya Ilyas.
Joana mendadak gugup. Dia penasaran dengan reaksi Ilyas saat Meiza mulai membahas kesepakatan mereka.
"Sayang. Apa kamu rela menukar nyawamu demi keselamatan anak-anak dan istrimu?" tanya Meiza.
"Aku akan melakukannya, kalau dia memang menginginkan nyawaku." Jawab Ilyas yang langsung menatap tajam kearah Joana.
"Kalau begitu tidak ada bedanya, saat kamu pergi bersamanya agar aku dan anak-anak bisa selamat bukan?" tanya Meiza.
"Apa maksudmu?" tanya Ilyas.
"Joana menginginkan syarat keselamatan aku dan anak-anak, dengan membawamu pergi dariku. Dia mencintaimu, jadi tidak masalah kalau kamu mati atau menikah dengannya. Itu sama saja kan?"
Mata Ilyas terbelalak saat mendengar ucapan Meiza. Ilyas akan protes, tapi Meiza memberikan kode dengan jarinya. Ilyas menatap Joana yang tertunduk, kemudian menatap Meiza yang cepat-cepat mengedipkan mata.
__ADS_1
To be continue....🤗🙏