Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.48. Mabuk


__ADS_3

"Bang,"


"Hem?"


"Lihat nih,"


Marinka menunjukkan sebuah chat yang berisikan tentang undangan ulang tahun dari Karin.


"Si karin ulang tahun?"


"Ya. Dia mengundangku untuk datang kerumahnya. Menurut abang bagaimana?"


"Kapan acaranya?"


"Malam jum'at."


"Malam jum'at? apa dia ulang tahun memang ditanggal itu?"


"Sepertinya begitu." Marinka pura-pura tidak tahu.


"Tapi sepertinya malam jum'at nanti abang tidak bisa menemanimu pergi,"


"Kalau begitu adek tidak usah datang saja."


"Ya jangan dong. Nanti dikiranya istri dari Ezra hawiranata orang yang sombong,"


"Jadi abang mengizinkan adek pergi sendiri?"


"Nanti biar diantar sama supir. Adek belum bisa nyetir ya?"


"Takut bang,"


"Nggak apa, nanti abang akan mendatangkan ahlinya untuk mengajari adek menyetir. Jadi saat mendesak seperti ini, adek bisa pergi sendiri bawa mobil."


"Pergi ulang tahun kok mendesak bang, wong nggak pergi juga dia tetap ulang tahun."


"Jangan begitu, mungkin dia tulus ingin mengundangmu. Besok kamu bisa minta ditemani supir atau teman kampusmu untuk mencari kado buat dia."


"Kado? kado apa?"


"Terserah. Kamu bisa membelikan dia tas, jam tangan, atau barang mahal lainnya. Pokoknya jangan sampai mereka menilai istri dari Ezra hawiranata seorang yang pelit."


"Ya."


Sebenarnya Marinka sangat malas sekali datang ketempat acara yang diselenggarakan Karin dirumah mantan suaminya. Datang kerumah itu akan membuatnya mengingat rasa sakit yang pernah dia alami dahulu. Bahkan saat datang kerumah itu untuk pertama kalinya, Marinka sedang berulang tahun juga. Tapi tidak seorangpun perduli dengan hari jadinya itu.


Sekarang dia harus hadir di acara seperti itu, sangat terlihat sekali kalau dirinya tidak dianggap berarti apa-apa oleh mantan suaminya itu. Jangankan dibuatkan pesta ulang tahun yang meriah, diberi ucapan selamatpun tidak.


*****


"Abang mau kemana nanti malam?"


"Ada sahabat lamaku yang datang dari paris, sudah lama tidak bertemu, jadi dia ingin mengajakku berkumpul."


"Oh gitu. Ya udah, selamat bersenang-senang ya bang. Nanti biar adek diantar sama supir saja, atau naik taksi online."


"Ya. Jadinya kamu minta diantar siapa beli kadonya?"


"Nanti minta ditemani Arumi dan Mela saja."


"Baiklah. Ini uang tunai untuk beli kadonya,"

__ADS_1


Ezra menyodorkan sebuah amplop besar dan tebal berisi uang tunai dari tas kerjanya. Marinka meraih amplop itu dan membukanya. Mata Marinka nyaris keluar saat melihat gepokkan uang dari dalam amplop coklat itu.


"Ini abang nggak salah ngasih amplop bang? buat apa uang sebanyak ini?"


"Ya buat beli kado lah. Itu ada uang 100juta. Kamu bisa belikan dia tas atau jam tangan, atau pakaian juga boleh."


"Ini berlebihan bang."


"Emang kamu mau beli kado apa? jangan bilang tas harga 200rb lagi. Istri dari pengusaha nomor satu harus gengsi ngasih kado murah."


"Ckk...adek tidak perduli orang mau ngomong apa. Daripada ngasih dia 100juta, mending kusumbangkan ke panti asuhan."


"Ya terserah saja adek mau apakan uang itu. Sebaiknya adek bawa saja, siapa tahu adek juga mau belanja baju buat pergi ke acara nanti malam."


"Ya baiklah."


Marinka tidak mau membantah lagi ataupun menolak pemberian Ezra. Dia takut Ezra akan tersinggung atau marah seperti waktu itu.


"Ya udah, abang berangkat kerja dulu ya?"


"Emm."


Marinka mencium tangan Ezra, dan Ezra mencium kening Marinka. Kini setiap hari rutinitas mencium kening Marinka sudah niasa terjadi, bahkan Marinka sudah merasa tidak canggung lagi.


Setelah mengantar Ezra didepan teras rumah, Marinka masuk kedalam dan bergegas pergi kekampus.


"Eh, ntar temani aku ke mall yuk?" tanya Marinka.


"Ngapain?" tanya Arumi.


"Mau beli kado buat temanku. Malam ini dia ulang tahun,"


"Ya udah ayo," ujar Mela.


"Asyekkkk," seru Arumi.


Setelah mata kuliah selesai, Marinka dan teman-temannya pun pergi belanja ke Mall.


"Menurut kalian, kado apa yang bagus untuk temanku itu?"


"Beli tas atau jam tangan saja." Jawab Arumi.


"Dia sudah banyak yang seperti itu," ujar Marinka.


Sebenarnya itu hanya alasan bagi Marinka, karena dia tidak mau membelikan barang mahal untuk Karin.


"Apa temanmu itu suka make up?" tanya Mela.


"Suka." Jawab Marinka.


"Kalau begitu belikan dia seperangkat alat make up saja," ujar Mela.


"Hemm...ide yang bagus juga. Kita cari itu saja kalau gitu," ujar Marinka.


"Tapi apa kamu yakin cuma mau ngado itu aja? secara suami kamu tajir melintir gitu," tanya Arumi.


"Jadi ditambah apa dong biar pantes?"


"Gimana kalau High heels?"


"Emm...boleh juga deh." Jawab Marinka.

__ADS_1


Mereka pun pergi mencari alat make dan menemukan sebuah brand yang lumayan terkenal didunia. Make up La Prairie yang dibandrol dengan harga 4 jutaan hanya dengan beberapa item saja.


Setelah itu Marinka dan teman-temannya mencari high heels dan menemukan yang sesuai untuk Karin dengan harga 12 juta. Jauh dilubuk hati Marinka sebenarnya dia sangat sayang mengeluarkan uang banyak untuk musuh terpendamnya itu. Tapi dia tidak ingin mengecilkan harga diri suaminya, terlebih suaminya sudah memberikan dia modal belanja cukup banyak.


"Ayo sekarang kita cari baju untuk kalian."


"Nah, kamu sendiri gimana? apa nggak mau beli baju untuk acara nanti malam?"


"Baju yang belum dipake masih banyak dirumah. Lagipula ini cuma acara ulang tahun, bukan acara resmi."


"Ya sudah kalau gitu," ujar Arumi.


Merekapun akhirnya belanja pakaian untuk Arumi dan Mela. Setelah itu mereka pergi makan bersama.


Setelah puas jalan-jalan, merekapun memutuskan untuk pulang. Marinka harus bersiap-siap, karena ingin pergi ke acara ulang tahun Karin.


Baju gaun berwarna hitam dengan belahan sedikit tinggi, menjadi pilihan Marinka untuk menemaninya keacara ulang tahun Karin. Untuk menunjang penampilannya, Marinka juga mengenakan sepatu dengan warna senada. Malam ini Marinka terlihat cantik dan seksi, terlebih dia mencepol rambutnya, untuk memperlihatkan lehernya yang putih dan jenjang.


Mata orang-orang terpanah saat melihat kedatangan Marinka. Meskipun Marinka hanya mengoles tipis make up diwajahnya, namun kecantikannya tidak perlu diragukan lagi. Bahkan Marinka berhasil menarik perhatian semua orang dan mengalahkan yang punya acara.


"Hai..." sapa Marinka.


"Hai...kamu datang?"


"Ya. Karena diundang, aku pasti datang."


"Kamu datang sendirian?"


"Ya. Suamiku masih sibuk dikantor, ada rapat penting dan harus pulang terlambat."


"Tidak masalah, kamu datang saja, aku sudah senang."


"Ini kado untukmu, maaf ya aku tidak tahu apa yang kamu inginkan. Ku pikir tuan Galang sudah memberikanmu segalanya. Jadi aku bingung harus memberikan apa untukmu."


"Tidak masalah, niat baikmu sudah kuterima," ujar Karin.


"Sangat meriah ya?" Marinka berbasa-basi.


"Suamiku sangat mencintaiku, jadi dia ingin memberikan yang terbaik untukku. Ya kan sayang?" Tanya Karin.


"Tentu." Jawab Galang.


Marinka hanya tersenyum miris melihat pasangan yang dia benci itu.


"Nyonya Ezra bisa mencicipi hidangan disudut sana kalau mau," ujar Galang.


"Ya." Marinka melenggang pergi dari hadapan pasangan yang membuatnya muak itu.


Saat acara tiup lilin dan pemotongan kue usai, Karin mendekati Marinka dan menyodorkannya segelas minuman. Marinka yang minim pengetahuan, langsung meraih minuman itu dan meminumnya hingga tandas.


"Sepertinya kamu peminum yang cukup baik," tutur Karin.


Sementara itu Marinka sedikit menjulurkan lidahnya karena merasa sedikit getir dilidahnya.


"Sial, minuman ****** macam apa ini?" batin Marinka.


Karin menyodorkan kembali minuman serupa pada Marinka, karena mengira Marinka menyukainya.


"Andai aku tidak sedang hamil aku pasti akan menemanimu minum. Minuman ini sangat bagus untuk menghilangkan stres dan penat,"


"Apa iya, minuman ini bisa hilangin stres?"

__ADS_1


Marinka kembali meraih minuman itu, dan meminumnya perlahan. Namun baru habis setengahnya, Marinka sudah terlihat mabuk. Melihat itu, Karin jadi sedikit khawatir akan disalahkan oleh Ezra. Wanita itupun berinisiatif menghubungi Ezra untuk memberitahu keadaan Marinka.


__ADS_2