Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.42. Pulang


__ADS_3

Ezra mondar mandir sembari memegang ponselnya, karena sejak tadi ponsel Marinka sama sekali tidak bisa dihubungi.


"Kamu kenapa sih? dari tadi mondar mandir seperti setrikaan begitu?" tanya Yuda.


"Nomor ponsel Marinka tidak bisa dihubungi, waktu itu dia bilang cuma pergi selama tiga hari. Ini sudah hari ketiga, aku cuma ingin memastikan apa dia jadi pulang hari ini?"


"Tunggu saja kalau begitu, tidak usah panik begitu. Mungkin ponselnya sedang kehabisan baterai."


Ezra kembali duduk dikursi kebesarannya, dan bolak balik mengecek kalau-kalau ada chat masuk dari Marinka.


"Kenapa aku merasa hubunganmu dengan Marinka sudah berkembang jauh ya?"


"Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku hanya menganggap dia sebagai adikku, tidak lebih dari itu."


"Tapi aku merasa kalian adalah pasangan serasi,"


"Jangan ngomong ngawur lagi, lebih baik kamu transfer uang untuk Jihan 500 juta sekarang,"


"Lagi? bukankah baru 3 hari yang lalu aku mentransfer 750 juta, sekarang dia minta dikirim lagi?"


"Lakukan saja perintahku, dia kekasihku dan akan menjadi calon istriku, sudah sewajarnya aku memanjakan dia."


Gigi Yuda bergemeratuk, ingin rasanya dia membenturkan kepala Ezra, agar pria itu sadar, bahwa dirinya sudah dibodohi oleh seorang wanita.


Tanpa banyak kata, Yuda keluar dari ruangan itu untuk melaksanakan apa yang Ezra katakan.


"Kalau dia bawahanku, sudah kucekik mati dari kemarin. Ini memang uangnya, tapi pria itu bodohnya benar-benar tidak tertolong lagi," Yuda menggerutu sembari jari jemarinya menekan tombol-tombol laptop untuk mentransfer jumlah uang yang Jihan minta.


"Apa wanita ini mengira Ezra punya cetakan duit? sebulan bisa minta transfer sebanyak 2 milyar. Asli, benar-benar bodoh banget si Ezra ini,"


Setelah mentransfer uang itu, Yuda hanya mengirimkan chat untuk Jihan. Dia tidak ingin membuat panggilan untuk gadis itu, yang membuatnya bertambah emosi saat mendengar suara gadis yang bermulut pedas itu.


Sementara itu ditempat berbeda, Marinka tampak melamun disisi jendela mobil bus eksekutif yang dia tumpangi sejak 1 jam lalu. Bus yang akan membawa rombongan mereka menuju pulang kerumah. Marinka terlihat sangat menikmati perjalanan itu sembari melihat-lihat tanaman mangga yang sangat lebat disepanjang jalan kota I


Marinka melirik kearah jam dipegelangan tangannya saat melihat sebuah tugu yang mengatakan bahwa mereka sudah sampai diperbatasan kota J. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam saat mereka baru tiba dipinggiran kota J. Marinka benar-benar merasa gelisah saat ini, pasalnya dia lupa mengisi baterai ponselnya hingga benda itu saat ini sedang mati total.


"Ckk...nomornya masih saja tidak aktif, apa sebenarnya dia tidak jadi pulang hari ini? tapi kenapa ponselnya tidak aktif seharian? membuat orang khawatir saja,"


Ezra sesekali melihat kearah jendela, yang langsung menghadap kearah pintu gerbang rumahnya. Tapi tanda-tanda kedatangan Marinka masih belum terlihat.


Ezra yang tidak sabar bergegas turun kebawah dan membuat dua gelas kopi panas untuk dia bawa kedepan pos penjagaan.


"Tuan," sapa seorang Security yang usianya kira-kira 40 tahunan.


"Kopi," ujar Ezra.


"Waduh...terima kasih banyak tuan, apa tuan sedang menunggu kedatangan nyonya?" tanya Security bernama udin itu.


"Ya. Ponselnya tidak bisa dihubungi, tidak tahu jadi pulang atau tidak hari ini."


Ezra menyeruput kopi panas itu setelah meniupnya beberapa kali.


"Mungkin ponsel nyonya sedang kehabisan baterai, tuan jangan khawatir, nyonya pasti akan baik-baik saja,"

__ADS_1


"Emm,"


Selang 1 jam kemudian, terlihat sebuah taksi berhenti didepan pintu gerbang. Ezra yang merasa banyak nyamuk diluar, sudah masuk kedalam rumah sejak 30 menit yang lalu.


"Nyonya," sapa Mang Udin.


"Apa tuan ada dirumah?"


"Ada. Beliau baru masuk kedalam nungguin nyonya dari tadi."


"Nungguin saya?"


"Ya, tuan sangat khawatir karena ponsel nyonya tidak bisa dihubungi."


"Batre ponselku kebetulan sedang habis, saya lupa mengisi baterainya. Oh ya, ini makanan khas kota B yang sempat saya beli, moga Mang udin suka ya?"


Marinka menyodorkan dua kotak makanan khas kota B pada mang Udin yang tampak semringah saat menerimanya.


"Terima kasih nyonya,"


"Sama-Sama, saya masuk dulu mang,"


"Ya Nyonya."


Marinka menyeret kopernya untuk masuk kedalam rumah. Setelah membuka pintu dengan menggunakan kunci duplikat, Marinka masuk perlahan dan menutup kemudian mengunci pintu itu kembali.


"Bang Ezra," ucap Marinka lirih saat melihat Ezra tengah tertidur disofa ruang tamu.


"Abang," Marinka menyunggingkan senyuman.


Ingin rasanya Marinka memeluk pria yang sangat dia rindukan itu, tapi dirinya tidak memiliki cukup keberanian karena takut ditolak.


Grepppp


Diluar dugaan Marinka, Ezra malah memeluk dirinya dengan erat. Marinka tidak menyiakan kesempatan itu, wanita itu membalas pelukkan Ezra jauh lebih erat.


"Capek?" tanya Ezra saat pelukkan mereka terlelai.


"Emm. Maaf kalau sudah membuat abang khawatir, baterai ponsel adek kehabisan dan lupa mengisi ulang."


"Tidak apa, kamu datang saja itu sudah cukup buat abang,"


"Yuk kita naik keatas, badan adek sangat lengket, adek mau mandi,"


"Emm."


Ezra menarik koper Marinka ditangan kanannya, sementara tangan kirinya berjalan sembari bergandengan dengan Marinka.


"Apa liburanmu sangat menyenangkan disana?" tanya Ezra setelah melihat Marinka keluar dari kamar mandi.


Ezra melangkah mendekati loker meja rias.dan mengeluarkan hairdryer.


"Duduklah, biar abang bantu mengeringkan rambutmu."

__ADS_1


Marinka hanya menurut saja, dan Ezrapun mulai mengeringkan rambut wanita itu perlahan.


"Sangat menyenangkan. Kapan-Kapan kita harus liburan kesana bersama,"


"Ya, nanti akan abang atur jadwal, agar kita bisa liburan bersama lagi."


"Oh ya, adek membelikan sesuatu buat abang. Tapi adek nggak tahu, apa abang menyukainya atau tidak. Soalnya adek lihat, abang sudah punya semuanya."


"Apa yang kamu beli untuk abang?"


"Bentar, adek ambil dulu dalam koper."


Marinka beranjak dari tempat duduk setelah Ezra selesai mengeringkan rambutnya. Perlahan Marinka membuka koper, yang terdapat dua benda yang Marinka beli dengan sepenuh hati.


Ezra tersenyum saat melihat dua benda yabg Marinka sodorkan dihadapannya. Bisa dibilang ini hadiah pertama yang diberikan seorang wanita untuk dirinya. Bahkan Jihan sang kekasih yang dia kencani selama 3 tahun, tidak pernah sekalipun memberikannya benda apapun.


"Terima kasih ya?" Ezra mengusap puncak kepala Marinka.


"Apa abang akan memakainya? maaf ya bang, adek kebingungan saat disana, adek tidak tahu barang apa yang abang sukai. Saat adek melihat dua benda ini, adek pikir akan bermanfaat buat abang."


"Betul. Ini pasti sangat bermanfaat buat abang, pena ini akan abang gunakan saat menandatangani berkas penting. Dan jepit dasi ini, bisa abang gunakan setiap hari."


"Syukurlah kalau abang mau memakainya, adek sebelumnya sempat ragu, karena takut abang akan membuangnya dalam tong sampah."


"Mana mungkin abang melakukan itu, apa adek tahu? ini hadiah pertamaku dari seorang wanita."


"Benarkah?"


"Emm." Ezra mengangguk.


"Jadi makasih ya hadiah ya?"


"Sama-Sama." Marinka tersenyum senang.


"Ya sudah, ayo kita tidur. Kamu juga pasti lelah bukan?"


"Iya. Capek banget rasanya,"


Marinka dan Ezra berbaring bersamaan.


"Dek,"


"Hem?"


"Boleh abang tidur sambil peluk?"


"Eh? bo-boleh,"


"Kemarilah,"


Marinka menggeser tubuhnya kearah Ezra, dan masuk kedalam hangatnya pelukkan pria itu. Jantung Marinka berdegup dengan kencang, namun dia tidak perduli, wanita itu semakin membenamkan dirinya dalam pelukkan orang yang sangat dia rindukan itu.


TO BE CONTINUE...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2