
"Apa ini maksudnya?" Yuda mengacungkan kertas itu kehadapan wajah Regia.
"Kenapa tuan lancang membukanya? itu untuk tuan Ezra."
"Aku asistennya. Jadi tidak masalah hal yang berkaitan dengan perusahaan melalui aku dulu. Tapi bukan itu intinya, aku bertanya padamu apa maksud dari kertas ini?"
"Anda bisa membaca kan? sudah jelas disitu, sudah terpampang kalau aku ingin mengundurkan diri."
"Kenapa? apa alasanmu ingin mengundurkan diri."
"Tidak butuh alasan untuk mengundurkan diri."
"Kalau begitu tidak boleh!"
"Kenapa tidak boleh? tidak ada alasan juga aku bertahan disini, aku ingin mencari pekerjaan lain. Aku butuh tempat yang bisa membuatku merasa aman dan nyaman."
"Ba-Bagaimana kalau alasannya aku?"
"Tuan? ada apa dengan tuan? apa tuan ingin menahanku karena takut kehilangan objek untuk di hina, takut tidak ada lagi yang bisa dimarahi?"
"Bu-Bukan begitu, a-aku..."
"Aku akan menikah 3 hari lagi. Aku sudah sering menolak pria itu, jadi setelah kupikir lagi lebih baik aku menikah saja, agar ada yang melindungiku."
"Tidak boleh!"
"Apanya yang tidak boleh?"
"Tidak boleh semuanya. Tidak boleh Risign, tidak boleh menikah, pokoknya tidak boleh semua."
"Ya alasan tidak boleh kenapa?"
"Ya pokoknya tidak boleh!"
"Ckk...egois...minggir!"
Regia merampas surat itu dari tangan Yuda dan segera berlalu dari hadapan pria itu.
"Regia tunggu!"
Regia tidak menggubris ucapan Yuda, gadis itu masuk kedalam ruangan Ezra setelah mengetuk pintu.
"Re, tunggu!" Yuda mencekal tangan Regia yang ingin menyodorkan surat pengunduran dirinya.
"Ada apa ini?" tanya Ezra berpura-pura tidak tahu.
"Tidak ada apa-apa." Jawab Yuda sembari menyeret tangan Regia kembali keluar.
"Tuan lepasin saya. Tuan mau apa?" Regia mengimbangi langkah Yuda yang lumayan besar.
Yuda tidak menggubris ucapan Regia, pria itu terus menyeret Regia hingga masuk kedalam ruangannya.
Brakkkk
Yuda menutup pintu ruangannya dengan lumayan keras dan menguncinya.
"Tu-Tuan mau apa?" tanya Regia gugup.
Yuda tidak menjawab, sebagai gantinya pria itu hanya menatap lekat kearah mata yang tidak lagi mengenakan kaca mata itu. Ditatap seperti itu, jelas saja membuat Regia menjadi berdebar tidak menentu.
"A-Aku mau keluar," Regia berbalik badan dan memutar kunci pintu.
__ADS_1
Tap
Tap
Yuda mengurung Regia dengan kedua tangannya , hingga gadis itu tidak bisa bergerak karena Yuda mendorong pintu itu agar Regia tidak bisa membukanya.
"Tu-Tuan saya mau keluar, tuan jangan seperti ini. Saya tidak tahu tuan mau apa sebenarnya dari saya? saya benar-benar bingung, saya...."
Kata-Kata Regia terhenti ketika mulut Yuda, sudah membungkam mulutnya dengan bibir pria itu. Mata Regia melebar seketika, karena mendapat serangan tiba-tiba itu. Namun mata itu kian lama makin meredup dan pada akhirnya terpejam. Regia mencoba membalas apa yang Yuda lakukan meskipun kaku, karena ini merupakan pengalaman pertamanya.
Regia perlahan membuka matanya ketika ciuman hangat itu berakhir. Pandangan matanya bertemu dengan pria yang belum menyatakan perasaan padanya.
"Kamu tidak boleh risign ataupun menikah dengan siapapun."
"Kenapa?"
"Karena aku..."
"Yud, aku minta jad..."
Ceklek
Brukkkk
Gendis yang mendorong pintu lumayan keras, tidak sengaja membuat Regia terdorong kedepan, hingga dirinya masuk kedalam pelukkan Yuda.
"Kalian ngapain?" tanya Gendis.
Regia yang malu, langsung melerai pelukkannya.
"Kamu bisa nggak sih kalau masuk pakai ketuk pintu dulu? ganggu orang aja tahu nggak?"
"Mesum gigimu! awas aja kalau apa yang ingin kamu bicarakan tidak penting."
"Kamu kenapa sih Yud? kok sensi banget sama aku sekarang?"
"Tuan, saya keluar dulu," Regia langsung keluar dari ruangan Yuda.
Yuda sama sekali tidak menghalangi kepergian Regia, dia tidak ingin membuat keributan dikantor. Sementra itu, disepanjang perjalanan menuju meja kerjanya, Regia tidak ada henti memegangi bibirnya yang masih begitu terasa kebas karena ciuman yang Yuda dan dirinya lakukan.
r"Apa itu artinya dia juga menyukaiku? dia tidak mungkin mencium gadis sembarangan bukan?" batin Regia, gadis itu tersenyum sendiri.
"Kamu ada apa dengan Regia?" tanya Gendis.
"Bukan urusanmu. Gendis, ada hal yang ingin aku bicarakan padamu. Aku ingin bicara denganmu sebagai seorang teman, bukan sebagai patner kerja. Tapi aku sangat mengharapkan kejujuranmu disini,"
"Ada apa? serius sekali,"
Yuda membuka ponselnya, kemudian memutar sebuah video ketika Gendis memasuki kamar hotel bersama seorang pria parubaya.
"Ada hubungan apa kamu dengan direktur utama SS Group?" tanya Yuda.
Mata Gendis terbelalak, karena Yuda bisa mememiliki video yang menurutnya sangat pribadi itu.
"Ap-Apa tuan Ezra tahu tentang ini?"
"Dari dialah video ini berasal. Sebagai teman sekampungmu, aku merasa cukup malu saat tuan Ezra memperlihatkan video ini padaku. Gendis, tuan Ezra bukan pria yang mudah dijangkau, mata dan telinganya bisa memerintah siapapun, bahkan dinding sekalipun."
"Ya seperti yang kamu lihat, aku dulunya memang bekerja diperusahaan SS Group sebagai serketaris," ujar Gendis tertunduk.
"Lalu kenapa kamu sampai bisa terjebak dengan pria beristri itu?"
__ADS_1
"Yud. Kamu tahu sendiri hidup di kota ini sangat sulit. Sejak kecil aku selalu hidup susah dikampung, aku tidak mau hidup miskin hingga tua, itulah sebabnya saat pria itu menawarkan aku sebagai sugar babynya aku sangat tertarik. Dia bisa memberialkan segalanya untukku."
"Segalanya? segala apanya? kamu tidak mungkin tinggal dirumah kontrakkan kalau dia sudah memberikan segalanya untukmu."
"Hah...namanya juga urusan kotor Yud, tidak selamanya berjalan mulus. Tiba-Tiba saja istrinya tahu dan mengusirku dari apartemen yang pria itu berikan untukku."
"Itu kamu tahu resikonya, lalu kenapa kamu masih diam-diam berhubungan dengan pria itu?"
"Kami memang sering bertemu, meskipun menyewa hotel. Tiap bulan dia masih mentransfer uang untukku. Tidak dapat dipungkiri, karena dialah orang yang pertama kali merenggut mahkotaku, dan aku memang tidak pernah bermain dengan pria lain selain dengan dirinya. Jadi dia percaya padaku,"
"Hah...aku sarankan keluarlah dari dunia seperti itu dis. Pria seperti itu bisa memberikanmu penyakit. Dia tidak mungkin hanya menyentuh kamu saja, pria seperti itu tidak pernah merasa kenyang."
"Aku masih ingin mendapatkan lebih. Hidupku sudah hancur karena dia, maka dia juga harus ikut hancur bersamaku kalau sampai dia tidak memberikan apa yang aku mau."
"Lalu apa hubunganmu dengan Regia?"
"Dia kekasihku." Jawab Yuda asal.
"Kalian berpacaran? bukankah dia sedang dekat dengan tuan Ezra?"
"Jangan asal bicara, tuan Ezra sudah memiliki istri."
"Istri? apa istrinya wanita yang bernama Jihan itu?"
"Bukan. Itu mantan kekasihnya."
"Ah...aku kira bisa masuk, setelah tahu kamu dan Regia sudah memiliki hubungan."
"Jangan coba-coba menggoda tuan Ezra. Dia sudah tahu semua sepak terjangmu, jadi dia tidak mungkin menyukaimu. Istrinya saja yang wajahnya seperti bidadari bisa bermasalah dengannya, apalagi kamu yang wajah tidak seberapa?"
"Yud. Kamu kalau ngomong terlalu terus terang, apa aku sejelek itu dimatamu?"
"Satu lagi, sepertinya kamu harus menyiapkan surat pengunduran diri."
"Ke-Kenapa?"
"Hah...maaf Dis, tapi Ezra bilang padaku kalau dia tidak ingin mempunyai karyawan yang memiliki banyak skandal dalam hidupnya."
"Yud. Aku mohon jangan pecat aku, aku janji tidak akan mengganggu Ezra. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini, minimal sampai aku bisa mengumpulkan uang buat modal usaha."
"Usaha apa?"
"Aku ingin membuka usaha salon."
"Berapa modal yang kamu butuhkan.
"Sekitar 200 juta."
"Aku akan meminjamkannya untukmu. Kembalikan saat kamu sudah benar-benar ada uang."
"Benarkah?"
"Emm. Lebih baik kamu membuka usaha daripada bergantung dengan pria tidak jelas itu."
"Baiklah. Terima kasih Yud."
"Emm." Yuda mengangguk.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
"
__ADS_1