
Marinka menangis sesegukan dibawah pohon untuk meratapi kesedihannya, bahkan tisu yang sempat dia beli bersama sebotol air mineral, memenuhi plastis berwarna hitam. Hatinya bertambah kesal, saat akan merogoh isi plastik tisu, ternyata tisu itu sudah habis tanpa sisa.
"Kenapa disaat seperti ini, bahkan tisupun tidak ingin menghapus kesedihanku. Menyebalkan!"
Marinka menggerutu dan terpaksa menghapus air matanya dengan lengan bajunya.
"Berhentilah menangis, air matamu bisa membuat danauku menjadi banjir,"
Seorang pria menyodorkan sebuah sapu tangan berwarna hitam, dan kemudian berlalu pergi setelah Marinka menerimanya tanpa menoleh sedikitpun.
"Terima kasih. Berikan alamat anda, aku akan mengembalikan sapu tangan anda setelah ku cuci."
Tak ada respon apapun dari arah belakang tubuhnya, hingga membuat Marinka terpaksa menoleh kebelakang.
"Eh? dimana orang itu? apa siang-siang begini ada hantu? tapi apa mungkin hantu juga memakai sapu tangan?"
Ada perasaan takut yang menyeruak tiba-tiba. Marinka bergegas pergi dari tempat itu, dan memanggil sebuah taksi.
"Sapu tangan yang lembut," batin Marinka.
Tak ada niat untuk membuang sapu tangan itu, Marinka berjanji akan menyimpan barang itu dengan baik. Jika memang berjodoh, dia yakin akan bertemu kembali dengan sang pemilik dan bisa mengembalikan sapu tangan itu.
"Sekarang aku tidak memiliki siapapun lagi didunia ini. Mama dan Papa angkatku ternyata tidak tulus menyayangiku dan memang sengaja ingin menyingkirkanku. Sementara suamiku juga tidak mencintaiku dan ingin menyingkirkanku juga. Tapi aku bisa apa? aku sudah terlanjur mencintai dia, mana mungkin aku menyerah dengan mudah," batin Marinka.
"Sekarang harapanku satu-satunya adalah ibu dan ayah mertuaku. Tapi aku takut mengadu pada mereka dan membuat mas Galang semakin membenciku. Hah...sampai kapan aku harus menghadapi situasi seperti ini? bagaimana caranya agar Mas Galang mau melihat kearahku dan mulai mencintaiku,"
Untuk sesaat masih terngiang ditelinganya, kata-kata yang Karin lontarkan pagi tadi kepadanya. Kata-Kata penuh hinaan dan tanpa perasaan.
"Apa Mas Galang akan memberikan uang jika aku memintanya? apa aku harus merubah penampilanku seperti Karin, agar dia melihat kearahku?"
"Tapi bukankah kalau seperti itu bukan menjadi diriku sendiri? aku tidak terbiasa berpakaian ketat seperti dia, apa itu akan menjadi aneh jika aku yang memakainya?"
Marinka mengetik sebuah chat untuk sahabat satu-satunya. Namun ditunggupun tidak ada balasan apapun dari gadis itu.
"Sepertinya dia sedang sibuk bekerja," ucap Marinka lirih.
Marinka melirik kearah arloji yang melingkar dipegelangan tangan kirinya.
"Pak agak cepat dikit ya? suamiku sebentar lagi pulang, aku belum masak buat dia."
"Ya Bu."
Sang supir taksi mempercepat laju kendaraannya dan menghantarkan Marinka ketempat tujuan dengan selamat.
Marinka menjulurkan uang berwarna merah sebanyak satu lembar, wanita itu bergegas turun tanpa mengambil uang kembaliannya.
Saat melangkah masuk kedalam, Marinka melihat Karin dan Galang tertawa bersama sembari bermesaraan. Marinka juga melihat ada sebuah kotak beludru berwarna navy diatas meja, yang menandakan benda itu berisi sebuah perhiasan.
__ADS_1
"Mas sudah pulang?"
"Emm." Jawab Galang dengan enggan.
"Eh kak lihat deh, Mas Galang baru beliin kalung berlian untukku, bagus kan?" tanya Karin dengan sengaja.
Marinka melirik kearah kalung berlian yang bertengger indah dileher jenjang madunya itu. Lagi-Lagi hati Marinka berdenyut sakit, selama pernikahannya, Marinka tidak pernah dibelikan apapun oleh Galang.
Marinka memutar-mutar cincin pernikahan yang ada dijari manisnya, hanya itu yang dia anggap berharga, karena itu mahar pernikahan yang diberikan oleh Galang.
"Ya bagus."
"Kak buatin milk shake dong. Kakak kan jago buat itu," ujar Karin.
Marinka melirik kearah Galang, berharap pria itu sedikit membelanya atas perlakuan Karin yang sedikit kurang ajar itu.
"Kenapa melihatku? buatkan saja, dia juga adikmu kan? jadi tidak masalah kalau kamu membuatkan minuman itu untuknya."
Marinka mengepalkan tangannya sesaat dan melonggarkannya dengan cepat.
"Iya Mas. Mas mau dibuatkan minuman apa?"
"Buat minuman yang sama dengan Karin."
"Baik Mas."
Marinka berlalu dari hadapan pasangan itu, sebisa mungkin Marinka menahan laju air matanya. Tidak sampai 15 menit, Marinka membawa dua gelas milk shake dingin untuk pasangan itu.
Wanita itu seperti dengan sengaja bertanya disaat Marinka berada disekitar mereka.
"Aku sangat sibuk sayang. Karena bulan madu waktu itu, pekerjaanku jadi menumpuk."
"Jadi itu salahku ya?"
"Bukan Honey. Emm...begini saja...."
Galang mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya, sebuah kartu berwarna gold yang membuat mata Karin jadi berbinar.
"Ambil ini! kamu bisa belanja sepuasnya, isinya hampir 100 juta, kalau kurang akan kutransfer lagi."
"Ah...suamiku memang yang terbaik,"
Karin berhambur kepelukkan Galang, sembari mengedipkan mata pada Marinka. Marinka segera membalikkan badan, meski dia berada disitu, Galang sama sekali tidak memperdulikan perasaannya. Pria itu sama sekali menganggapnya tidak ada.
Marinka memeluk nampan yang dia bawa dengan erat, air matanya terjun bebas.
"Nyonya,"
__ADS_1
Maryam menggelengkan kepalanya, agar Marinka menghapus air mata kelemahannya. Marinka dengan sigap menghapus air yang mengalir deras dipipinya. Setelah meletakkan nampan, Marinka berlari kekamar karena ingin segera menumpahkan kesedihannya.
"Ya Tuhan...kasihan sekali Nyonya Marinka," ucap Maryam lirih.
Maryam melirik kearah pasangan pengantin baru itu. Tak ada rasa penyesalan atau rasa bersalah dikeduanya. Mereka masih asyik bersenda gurau, seakan dunia ini milik mereka berdua saja.
Ting
Sebuah chat masuk kedalam ponsel Marinka.
"Inka ada apa? maaf tadi pelanggan kafe sangat ramai, aku tidak sempat membalas chatmu,"
"Sera, kapan kamu libur? aku ingin bertemu dan curhat denganmu,"
"Buat apalagi curhat denganku, bukankah ada suamimu yang bisa kamu ajak curhat diatas ranjang?ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤"
"ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜"
"Kenapa menangis? bukankah ini baru 3 bulan pernikahan, seharusnya kamu merasa sangat bahagia bukan?"
"Pokoknya aku ingin bertemu denganmu dulu, baru aku akan menceritakan semuanya. Aku butuh solusi dari masalahku,"
"Kelihatannya serius sekali,"
"Jadi kapan?"
"Lusa."
"Baiklah, aku langsung datang kerumahmu saja."
"Baiklah. Sampai ketemu lusa ya?"
"Makasih Ra,🤗"
"Sama-Sama😘"
Marinka sedikit merasa lega setelah menerima chat dari Sera. Sera adalah sahabat satu-satunya saat mereka sekolah SMA. Hanya Sera yang tulus berteman dengannya, karena mereka memang berasal dari keluarga yang sangat sederhana.
Karena terlalu lelah menangis, akhirnya Marinka jatuh tertidur, dan saat terbangun dia mendapati kamarnya sangat gelap.
Ctekkk
Marinka menyalakan lampu kamarnya, dan melihat jam diponselnya. Mata Marinka terbelalak saat melihat waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Marinka bergegas mencuci muka dan berganti pakaian kemudian segera turun kebawah.
Tampak pasangan pengantin baru sudah duduk dimeja makan, dan menikmati makan malam mereka dengan tenang.
"Maaf aku tidak menyiapkan makan malam buat Mas,"
__ADS_1
"Tidak masalah kak. Makanan bik Maryam juga enak kok, kakak kan sedang tidak enak badan, seharusnya kakak pergi istirahat saja.
Marinka mengerutkan dahinya, karena dia sama sekali tidak pernah merasa mengatakan kalau dirinya kurang enak badan.