
Kriekkkkk
Ezra terlihat keluar dari kamar mandi dan mengeringkan rambut dengan handuknya sembari bernyanyi-nyanyi.
"Bang,"
"Hem?"
"Adek mau turun kebawah dulu, kata pelayan ada tamu untukku."
"Tamu? siapa? nggak usah turun kalau cecunguk itu lagi,"
"Bukan. Lagipula apa abang lupa? dia kan sudah masuk rumah sakit jiwa."
"Lalu siapa yang datang?"
"Kata pelayan namanya Mario. Nggak tahu itu siapa, ku ingat-ingat adek nggak ada teman nama Mario."
"Jadi tamunya laki-laki? ya sudah adek turun saja duluan, abang mau pakai baju. Nanti abang nyusul,"
"Iya bang."
Marinka turun kebawah lebih dulu, sementara Ezra memakai pakaiannya dengan buru-buru.
"Mario..Mario...aku juga nggak punya teman nama Mario. Mario ya?" gumam Ezra.
Deg
Ezra tiba-tiba mengingat sesuatu dan bergegas mengenakan celananya.
"Sial. Kalau tebakkanku nggak salah, itu Mario yang ibu Lilian ceritakan. Itu artinya adiknya Marinka bukan?"
Sementara itu Marinka mengerutkan dahinya dari atas tangga, saat melihat sosok tampan dan muda sedang duduk di sebuah sofa. Mendengar ada suara dari atas tangga, Mariopun menoleh dan mendapati Marinka berada diatas sana.
"Kakak sangat cantik. Bahkan lebih cantik aslinya daripada di tv," batin Mario.
Marinka menatap Mario untuk mengenali pemuda itu. Namun belum sempat mengenalinya, Marinka dikejutkan lagi dengan aksi pemuda itu saat mencium punggung tangannya.
"Kamu siapa? saya merasa tidak pernah bertemu denganmu," tanya Marinka.
"Saya Mario. Putra Bunda Lilian."
"Bunda?"
"Ya. Ibu Lilian, lebih tepatnya Bunda Lilian yang kakak kenal selama ini."
"Oh... jadi kamu anaknya ibu Lilian. Sudah lama tidak bertemu ibu Lilian. Apa kabar beliau?" tanya Marinka.
"Apa kakak bisa ikut bersamaku?"
__ADS_1
"Kemana?" tanya Marinka
"Ke kota S." Jawab Mario.
"Kota S?"
"Ya. Kota saat kakak pernah bunda rawat dulu, karena insiden penembakkan itu."
"Untuk apa kamu mengajakku kesana?"
"Bunda sedang sakit. Bahkan dia menolak makan dengan benar. Aku sangat khawatir kak." Jawab Mario.
"Jadi kamu kesini ingin aku menjenguknya?"
"Ya. Sebenarnya bunda tidak mengizinkan aku menemui kakak, tapi aku bersikeras datang kemari untuk menemui kakak. Aku mohon, datanglah sekali saja. Agar semangat untuk hidup kembali datang pada bunda," ujar Mario.
"Tunggu! aku jadi bingung, kenapa saat aku datang, bunda kamu jadi semangat hidup? apa hubungannya?"
"Karena kakak...."
"Sayang. Siapa yang datang?" tanya Ezra sembari menuruni anak tangga.
"Anak ibu Lilian bang."
mendengar jawaban Marinka, tentu saja Ezra jadi gugup. Pasalnya dia takut Marinka marah padanya, karena menyembunyikan rahasia sebesar ini.
Mata Mario dan Ezra bertemu, seolah mereka ingin bicara lewat tatapan itu. Mario mengulurkan tangan, untuk berkenalan dengan Ezra.
"Sepertinya dugaanku benar. Kakak ipar belum menceritakan tentang bunda pada kakak Marinka." batin Mario.
"Bunda lagi sakit keras. Aku ingin mengajak kak Marinka menjenguknya di kota S." Jawab Mario.
"Ibu Lilian sakit keras? kalau gitu adek harus jengukin ibu Lilian," ujar Ezra yang membuat Marinka jadi mengerutkan dahinya.
"Ada apa dengan bang Ezra? ibu Lilian kan cuma kenalan biasa, kenapa dia begitu panik dan sangat antusias menyuruhku buat pergi?" batin Marinka.
"Adek akan pergi, tapi sebelum itu jawab dulu pertanyaanku."
Ezra mendadak gugup, Ezra juga melirik kearah Mario yang tampak diam saja karena dia juga mengalami kegugupan yang sama.
"Entah apa ini perasaanku saja, atau memang insting, atau bisa jadi cuma pikiranku yang asal-asalan. Adek merasa sepertinya abang menyembunyikan sesuatu dariku,"
"Menyembunyikan sesuatu? ti-tidak, abang tidak menyembunyikan sesuatu." Jawab Ezra terbata.
Mata Marinka dan Ezra beradu. Dan tentu saja Ezra harus mengakui kekalahannya. Pria itu tidak sanggup berbohong lebih lama lagi, karena dia pikir mungkin memang sudah saatnya semua ini harus terbongkar.
"Iya. Abang menyembunyikan sesuatu," ujar Ezra dengan kepala tertunduk.
"Apa abang tahu? pertengkaran dalam rumah tangga sering kali di picu karena salah satu pasangan tidak terbuka dengan pasangannya. Kalau menurutku pribadi, tidak ada istilah privasi dalam hubungan suami istri. Itulah sebabnya, selama ini ada hal sekecil apapun adek selalu bercerita dengan abang. Karena adek takut akan menimbulkan kesalahfahaman."
__ADS_1
"Sekarang, rahasia apa yang abang sembunyikan dariku? sehingga abang begitu sulit mengatakannya. Tidak masalah Mario mendengar semuanya, karena aku merasa ini juga ada hubungannya dengan dia bukan?"
"I-Itu...sebenarnya...."
Marinka mengerutkan dahinya saat melihat Ezra begitu sulit mengucapkan apa yang ingin dia katakan. Bahkan pria itu berkali-kali melirik kearah Mario.
"Sebenarnya ibu Lilian adalah ibu kandungmu dek." Jawab Ezra.
Duaaarrrrr
Ucapan Ezra seperti laksana petir bagi Marinka. Bahkan air mata Marinka tidak terasa menetes dipipinya. Namun yang membuat Ezra dan Mario takut adalah, ketika tiba-tiba saja Marinka tertawa sembari menangis.
"Dek...abang...."
Kata-Kata Ezra terhenti saat Marinka memberi isyarat dengan tangannya, agar pria itu tidak lagi melanjutkan kata-katanya. Tanpa banyak bicara Marinka bangkit dari tempat duduknya dan berlari menaiki anak tangga.
Ezra memijat kepalanya yang terasa pening tiba-tiba.
"Kak. Rio minta maaf, gara-gara kedatangan Mario, kakak jadi bertengkar dengan kakak Inka."
"Tidak apa, kamu tidak salah. Kamu sudah melakukan hal yang benar dengan datang memberitahu dia tentang ibu." Jawab Ezra.
"Sekarang begini saja, lebih baik kamu kembali dulu ke kota S buat jagain ibu. Disini kakak akan berusaha membujuk kakakmu agar mau menjenguk ibu kesana."
"Baiklah kak. Katakan pada kak Marinka, bunda selalu merindukan dia. Bahkan selama sakit bunda selalu menyebut namanya."
"Baiklah. Akan kakak sampaikan," ucap Ezra.
"Baiklah kalau begitu Mario pulang dulu ya kak?"
"Tunggu. Biar kakak ambil uang dulu buat kamu beli tiket pesawat,"
"Tidak usah kak. Rio sudah beli tiket PP." Jawab Mario.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati dijalan. Katakan juga sama bunda, aku janji akan membawa Marinka buat jengukin bunda disana."
"Makasih kak," ujar Mario senang.
"Emm." Ezra mengangguk.
Ezra mengantar Mario hingga ke depan teras. Setelah itu Ezra bergegas kembali ke kamar untuk membujuk Marinka.
Kriekkkk
Ezra membuka pintu perlahan, dan mendapati Marinka terisak dibalik selimut.
"Bagaimana ini? bagaimana cara merayunya? aih...baru juga berbaikkan, sekarang sudah bertengkar lagi. Sepertinya rumah tanggaku sedang di beri ujian bertubi-tubi. Tapi tidak apa-apa, saat berbaikkan nanti hubungan kami semakin lengket kembali," batin Ezra.
Ezra perlahan menarik selimut, yang menutupi seluruh tubuh Marinka. Pria itu juga ikut berbaring disamping istrinya yang tengah membelakanginya itu, kemudian memeluknya.
__ADS_1
Cup
Ezra mencium puncak kepala istrinya, pria itu tahu saat ini Marinka hatinya sangat kesal dan dilema.