Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.267. Gerak Cepat.


__ADS_3

Moza dan Anser keluar sembari bergandengan tangan. Mata semua orang tertuju pada pasangan yang keluar dengan keadaan yang tidak biasa. Kening semua orang jadi mengerut, terlebih saat melihat senyum keduanya mengembang kearah mereka.


"Apa ini? apa kami tidak salah lihat?" tanya Ezra.


"Om nggak salah lihat. Aku memutuskan akan melanjutkan pernikahan itu meskipun pengantinnya di ganti." Jawab Anser.


"Moza. Apa Anser memaksamu menikah? kalau dia memaksamu bilamg sama om. Biar om hajar dia," tanya Ando.


"Tidak seorangpun bisa memaksaku kalau aku nggak mau. Ini memang kemauanku. Anser mau memaksaku, mana bisa. Aku akan menghajarnya sendiri kalau dia yang memaksaku." Jawab Moza.


"Benar juga. Kamu kan bisa bela diri ya? om jadi tidak khawatir kalau Anser nakal kamu hajar saja dia," ujar Ando sembari terkekeh.


"Papa gimana sih? kok malah belain Moza? kan aku yang anak papa?"


"Papa tahu kamu itu jahil. Tapi papa sarankan jangan jahili Moza, kalau nggak mau bonyok," ujar Ando.


"Jadi apa keputusan kalian ini benar-benar sudah dipikirkan matang-matang?" tanya Ezra.


"Papa nggak mau keputusanmu menggantikan Meiza akan kamu sesali nantinya," sambung Ezra.


"Keputusan Moza sudah bulat Pa. Moza yakin tidak akan menyesal." Jawab Moza.


"Kamu lihat Meiza. Gara-Gara ulah kamu, adik kamu jadi korban keegoisan kamu," ucap Ezra.


"Sudahlah om tidak usah main salah-salahan lagi. Pokoknya atur pernikahan kami sesuai tanggal yang sudah disepakati saja," ujar Anser.


"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan kalian. Sudah ditetapkan tiga hari lagi adalah pernikahan kalian," ujar Ezra yang senyumnya terbuka dengan lebar.


"Syukurlah. Senyum kedua orang tuaku sudah kembali. Sekarang PR ku adalah, menaklukkan hati Anser," batin Moza.


Kepala Ezra kemudian menoleh kearah Meiza dan Ilyas. Kedua sejoli itu tampak gugup menunggu eksekusi.


"Kamu anak siap? kamu berasal dari keluarga mana? kamu punya apa berani mau menikahi putriku?" pertanyaan Ezra sungguh diluar dugaan semua orang.


Pasalnya mereka tahu, Ezra bukan pribadi yang sombong.


"Pa. Kok nanyanya gitu?" tanya Meiza yang tidak enak hati dengan Ilyas.


"Papa nanya dia, nggak nanya kamu. Apa kamu pikir dengan kamu menolak Anser dan memiliki pilihan sendiri, kami akan menyerujuinya dengan mudah?"


"Orang yang ingin masuk dalam keluarga Hawiranata harus punya kualifikasi yang cukup," sambung Ezra yang dibalas decakkan kesal oleh Meiza.


"Terus terang aku tidak punya apapun om. Aku cuma punya keberanian buat menikahi anak om. Aku seorang anak yatim piatu, berhasil jadi dokter juga karena mendapat beasiswa. Aku minta maaf karena sudah lancang mencintai anak om." Jawab Ilyas.


Suasana mendadak hening. Ezra yang semula kesal dengan Ilyas, karena sudah mengacaukan rencana pernikahan anaknya. Mendadak bersimpati pada pria yang terpaut usia 5 tahun dengan putrinya itu.


Meiza melirik kearah Marinka. Berharap minta pertolongan dengan ibu yang telah melahirkannya itu. Namun Marinka hanya mengedikkan bahunya.


"Kalau kamu menikahi Meiza, apa kamu bersedia pindah bekerja di negara I?" tanya Ezra.


"Ya." Jawab Ilyas.

__ADS_1


"Ya sudah. Kalau begitu kalian menikah bersamaan saja. Biar cepat kelar urusannya," ujar Ezra.


"Eh?" Ilyas terkejut.


"Kenapa? nggak siap?" tanya Ezra.


"Siap om." Jawab Ilyas.


Anser mengepalkan tangannya. Meski dia sudah menerima Moza, namun penghianatan yang Meiza lakukan belum bisa dia maafkan.


"Aku tahu akan sulit menanklukkan hati Anser. Karena tidak semudah itu melupakan orang yang dia cintai. Tapi aku percaya, suatu saat dia pasti akan melihat kearahku," batin Moza.


"Besok kamu urus surat pengunduran dirimu. Kamu harus ikut kembali bersama kami," ujar Ezra.


"Baik om." Jawab Ilyas.


"Kamu gimana Za? apa kamu tidak keberatan mengikuti suamimu ke kota Paris setelah menikah?" tanya Ezra.


"Kemanapun suamiku pergi, aku pasti akan mengikutinya." Jawab Moza.


"Bagus. Kalian berdua ingat satu hal. Tidak ada kamus di keluarga Hawiranata kawin cerai. Cinta nggak cinta kalian tetap harus bertahan, karena ini sudah jadi pilihan kalian," ucap Ezra.


"Iya pa." Jawab Moza.


"Karena hari ini hari bahagia Moza dan Meiza. Mari kita jalan-jalan berkuliner mengitari kota London," ujar Ezra.


"Setuju." Jawab Ando.


Mata Anser tidak bisa lepas dari Meiza, saat gadis cantik itu tampak tertawa renyah sembari berbincang dengan Ilyas. Sementara itu Moza yang melihat hal itu merasa pedih hatinya.


"Awalnya mungkin kamu akan sulit melupakan Dia. Tapi setelah dia menjadi milik orang lain, itu sudah menjadi keharusan. Anser, apa kamu menyesal sudah menerimaku sebagai pengganti Meiza?" tanya Moza.


Anser yang tersadar karena sudah mengabaikan Moza, merasa sedikit tidak enak hati.


"Maaf," ujar Anser.


"Tidak masalah. Aku sadar posisiku saat ini. Tapi aku minta padamu, kita harus mulai belajar saling membuka hati saat ini," ucap Moza.


"Kamu benar. Untung saja kamu belum mencintaiku, kalau tidak kamu pasti akan merasa sedih saat orang yang kamu cintai malah memperhatikan wanita lain," ujar Anser terkekeh.


Moza tersenyum getir, saat mendengar ucapan Anser.


"Kamu salah Ans. Aku sudah mencintaimu sejak dulu. Bahkan jauh sebelum kita sama-sama dewasa," batin Moza.


"Menurutmu apa kita bisa saling mencintai suatu saat nanti?" tanya Moza asal.


"Pasti. Terlebih kalau sudah memiliki anak. Kalau sudah jadi anak, itu artinya kita sering melakukannya. Sering melakukannya pasti sudah tumbuh rasa cinta kan?"


Pukkkk


Moza memukul bahu Anser lumayan keras.

__ADS_1


"Aduh...untung bahu ini bahu buatan Tuhan. kalau bahu buatan kota London, pasti sudah lepas. Kamu kok galak banget sih?" tanya Anser.


"Biar pikiranmu nggak kotor terus." Jawab Moza.


"Kok kotor? emang kamu nggak mau?" tanya Anser.


"Mau apa?" tanya Moza.


"Mau gituan." Jawab Anser.


Moza menepuk dahinya. Cara Anser bicara dengannya masih sama saat mereka masih berstatus teman.


"Nanti saat status kita resmi jadi suami istri, malamnya aku mau langsung ya?" tanya Anser.


"Langsung apa?" tanya Moza tidak mengerti.


"Langsung malam pertama." Jawab Anser tanpa basa basi yang membuat Moza jadi merona.


"Ckk...bisa nggak sih nggak berpikiran mesum?" ucap Moza.


"Kok mesum sih? pokoknya aku mau langsung. Aku pengen segera punya anak." Jawab Anser.


"Hadehhh terserah deh," Moza menyerah.


Sementara di sudut berbeda, Ilyas tampak ngobrol serius dengan Meiza.


"Sepertinya orang tuamu tidak menyukaiku," ujar Ilyas.


"Tidak juga. Kamu jangan ambil hati ucapan papaku ya? meski perkataanmya pedas, tapi papa orang baik kok. Lagipula kita juga harus sadar, kita berdua salah dalam hal ini," ucap Meiza.


"Iya. Aku tahu. Aku akan buktikan kalau aku bisa membahagiakanmu nanti," ujar Ikyas..


"Makasih ya sayang. Karena kamu sudah mau memperjuangkan aku," ujar Meiza.


"Tentu saja. Aku itu snagat mencintaimu." Jawab Ilyas.


Sementara itu Ezra, Marinka, Ando dan Sera tengah berada di satu meja yang sama.


"Sebenarnya aku sedikit khawatir tenyang Anser dan Moza. Aku takut putramu tidak bisa menerima penghianatan Meiza, dan malah melampiaskannya pada Moza.


"Kamu tenang saja. Aku yang akan menjamin keselamatan putrimu, jika Anser berani berbuat macam-macam." Jawab Ando.


"Aku titip puttiku kalau begitu," ujar Ezra.


"Tentu. Walau bukan sebagai menantupun, dia memang putriku. Apalagi kalau sudah jadi menantu." jawab Ando.


"Ah...akhirnya aku melepas semua anak-anakku. Rasanya baru kemarin aku menggendong dan menimangnya. Sekarang mereka malah akan menikah," ujar Ezra.


"Aku juga merasa begitu. Semua terasa mimpi," timpal Ando.


Ando dan Ezra menatap kearah putra putri mereka. Meski mereka tidak tahu jodoh Moza dan Anser panjang atau tidak, tapi mereka yakin hubungan mereka akan berjalan baik meskipun hanya status sebagai teman.

__ADS_1


__ADS_2