Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.270. Bicara


__ADS_3

Moza tampak tertidur lelap. Saat ini Moza,Meiza, Anser dan Ilyas. Tengah berada di pesawat. Saat ini mereka akan menuju tempat bulan madu yabg sudah mereka rencanakan. Sejak pertama berangkat dari rumah, Moza hanya diam tanpa mengajak Anser bicara. Sangat berbeda dengan pasangan Meiza dan Ilyas. Mereka tampak mesra dengan tangan yang saling bertautan dan juga sembari berbincang banyak hal.


Setelah mereka sampai ditempat tujuan, mereka kemudian mencari penginapan yang dekat dengan pantai. Anser sengaja memilih kamar yang viewnya menghadap ke arah laut.


"Mandilah! jangan tidur terus," ujar Anser sembari mengeringkan rambut dengan handuk.


"Sebentar lagi. Aku masih merasakan pusing dan mual." Jawab Moza.


"Kamu jet lag?" tanya Anser.


"Sepertinya begitu." Jawab Moza.


"Apa kamu butuh minuman hangat?" tanya Anser.


"Tidak. Aku hanya butuh istirahat saja." Jawa. Moza.


"Tidurlah. Besok saja kita pergi jalan-jalannya," ujar Aser.


"Emm." Moza mengangguk.


Melihat Moza yang kembali tidur lelap, Anser pergi mencari makanan dan minuman ke bawah. Namun saat dibawah tiba-tiba pria itu bertemu dengan Meiza yang tengah mencari hal yang sama dengan dirinya.


Anser bersikap cuek, seolah tidak melihat keberadaan Meiza. Pria itu bergegas membawa makanan dan minuman yang dia beli, untuk segera dia bawa keatas.


"Ans," seru Meiza yang membuat Langkah kaki Anser terhenti.


"Ada apa?" Anser berkata tanpa melihat kearah Meiza.


"Ans. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu," ujar Meiza.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Hubungan kita sudah berakhir, sejak kamu menghianatiku dengan dia. Sekarang yang tersisa dari hubungan itu cuma hubungan antara kakak ipar dan adik ipar." Jawab Anser.

__ADS_1


"Aku tahu kamu membenciku saat ini. Tapi apa yang ingin kukatakan ini sangatlah penting. Aku butuh membicarakannya denganmu," ujar Meiza.


Meiza dan Anser akhirnya berbicara dibelakang hotel, tempat orang-orang mencari udara segar karena disana terdapat laut yang membentang.


"Katakan dengan cepat. Aku tidak punya banyak waktu," ujar Anser.


"Pertama. Aku ingin meminta maaf padamu atas keputusanku yang sudah menyakiti hatimu. Meski hubungan itu belum terlalu dalam, tapi kamu orang yang pernah singgah dalam hidupku,"


"Ans. Aku berharap kamu bisa mencintai Moza seperti kamu mencintaiku. Karena sebenarnya Moza itu sangat mencintaimu, bahkan dia sudah menyukaimu sejak lama," sambung Meiza.


"Mo-Moza mencintaiku? mana mungkin," batin Anser.


"Apa kamu sengaja berselingkuh hanya demi mendekatkan Moza denganku?" tanya Anser tepat sasaran.


Meiza terdiam. Sejujurnya tujuannya memang seperti yang Anser katakan. Namun pada akhirnya dia benar-benar jatuh cinta pada Ilyas.


"Meiza. Aku cuma ingin mengetahui satu fakta saja. Pernahkah selama kita bertunangan, kamu mencintaiku?" tanya Anser.


"Ya." Jujur Meiza.


Anser mencengkram kedua bahu Meiza dengan erat.


"Kenapa kamu lakukan ini Meiza, kenapa? kamu mencintaiku, tapi kamu mendekatkan adikmu padaku kenapa?" Anser mengguncang tubuh Meiza.


"Tapi itu waktu itu. Sekarang semua sudah berbeda Ans. Aku benar-benar jatuh cinta pada Ilyas. Ans, sekarang status kita sudah berbeda. Aku mohon cintailah Moza. Dia sangat mencintaimu." Jawab Meiza.


"Apa kamu pikir dengan tindakkanmu itu kamu sudah dianggap jadi orang dermawan. Kamu tahu sendiri orang yang ku cintai itu kamu bukan Moza. Tapi kamu dengan sengaja mempermainkan perasaanku, dan dengan teganya kamu mengoperku seperti bola "


"Kamu tidak sadar. Tindakkanmu ini akan membawa dampak buruk bagi orang lain. Terutama bagi hubunganku dengan Moza. Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Bisa jadi suatu saat aku akan mencari wanita lain yang benar-benar aku cintai, meskipun aku sudah bersama Moza," sambung Anser.


"Aku mohon jangan lakukan itu. Moza anak yang baik," ujar Meiza memohon.

__ADS_1


"Baik saja tidak cukup bagiku. Aku ini orang berprinsip. Tidak seperti seseorang yang plin plan dan mudah jatuh cinta dengan lawan jenis." Jawab Anser.


"Jadi kamu tidak ingin memberi Moza kesempatan?" tanya Meiza.


"Itu urusanku, bukan urusanmu." Jawab Anser.


"Apa kamu sudah menyentuhnya?" tanya Meiza.


"Apa kamu pikir aku bisa menyentuh orang yang tidak aku cintai dengan mudah?"


"Kalau begitu jangan menyentuhnya. Kalau kamu ingin mencari wanita lain, biarkan dia juga mencari pria lain. Setidaknya saat bercerai denganmu nanti, dia masih ada yang dibanggakan untuk calon suami berikutnya." Jawab Meiza.


"Apa maksdumu berkata seperti itu?" tanya Anser kesal.


"Jangan jadi pria egois. Kamu seolah menginginkan wanita diseluruh dunia. Kamu ingin menyentuhnya tapi kamu tidak ingin berusaha mencintainya. Jangan buat dirimu menjadi seorang bajingan. Dia mencintaimu, karena dia yakin kamu pria yang baik."


"Moza seorang gadis murni. Dia tidak pernah disentuh laki-laki manapun, karena dia tidak suka disentuh oleh sembarang orang. Jangan sakiti hatinya dengan bertingkah menjadi seorang bajingan. Lebih baik kamu lepaskan dia, jangan membuat dia menderita karena ulahmu itu."


"Kamu menyalahkan aku? siapa disini yang membuat masalah pertama kali. Kamu Meiza! kalau kamu tidak bersikap bodoh dan sok jadi pahlawan kesiangan, tentu tidak akan menjadi seperti ini. Kamu memaksaku mencintai orang lain, padahal jelas-jelas gadis yang kucintai itu kamu," ucap Anser.


"Aku tahu aku salah. Tapi sekarang aku bisa apa? semua sudah terlanjur. Sekarang aku sudah memiliki orang yang aku cintai, kamu juga harus bisa move on Ans." Jawab Meiza.


"Kalau begitu jalanilah hidupmu dengan baik, tidak usah saling ikut campur urusan rumah tangga masing-masing," ujar Anser.


"Berjanjilah padaku kalau kamu akan membahagiakan Moza. Kamu akan menyesal, kalau kamu menyakiti dia. Aku hanya ingin memberitahumu satu hal. Selama ini begitu banyak pria yang mendekatinya, namun tak ada satupun yang dia gubris. Tuhan tahu hatinya hanya untukmu, jadi dia membuat kalian berjodoh."


"Ans. Bukan aku mau memuji dia karena dia adikku. Tapi aku tahu betul dia itu sosok gadis sempurna dan pantas untuk dicintai. Kalau kamu menyia-nyiakan dia, aku jamin kamu akan menyesal dikemudian hari," sambung Meiza.


"He...lagi-lagi omong kosong," ujar Anser sembari meninggalkan Meiza sendirian di pantai.


Sreeeeettttttt

__ADS_1


Moza menutup hordeng setelah menyaksikan percakapan Meiza dan Anser dari kejauhan. Disekanya air mata yang sempat terjatuh. Meskipun dia tidak tahu apa yang Anser dan Meiza bicarakan, tapi tetap saja itu membuat hatinya terluka.


Moza memutuskan untuk membersihkan diri. Wanita itu kemudian merendam dirinya kedalam air hangat sembari memejamkan mata.


__ADS_2