
"Adek dan anak-anak akan tinggal di Apartemen yang akan abang belikan nanti."
"Bang, itu nggak perlu," ujar Marinka.
"Nggak! istriku dan anak-anakku tidak boleh menumpang dirumah orang lain, sementara suaminya lebih kaya raya dari orang yang ditumpangi," sindir Ezra.
"Cih...pamer harta. Mentang-Mentang kaya, sombong!" ucap Ando.
"Ya salahmu sendiri tidak bisa lebih dariku," timpal Ezra.
Marinka hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar perdebatan kedua pria itu
"Bang. Adek udah nyaman disini,"
"Nggak dek. Untuk yang satu ini nggak ada kompromi," ujar Ezra.
"Cih...posesif," ujar Ando.
"Lagipula abang nggak ingin ada seseorang yang mencari peluang lebih banyak bertemu dengan istriku. Abang harus waspada, banyak calon pebinor jaman sekarang," ucap Ezra.
"Bang...."Marinka menggelengkan kepalanya, agar Ezra berhenti menyindir Ando.
"Hufffft...abang mau lihat anak-anak," ujar Ezra sembari beranjak dari tempat duduk.
Marinka mengangguk, kemudian menuntun Ezra pergi ke kamarnya, tempat anak-anaknya berada.
"Makasih ya Jen, apa mereka tidur lagi?" tanya Marinka.
"Ya. Tadi sempat menangis, untunglah nggak rewel, setelah digendong mereka kembali tidur." ucap Jenny.
"Baiklah. Kamu boleh pergi," ujar Marinka.
Jennypun keluar kamar itu dan pergi kebagian depan.
"Kemarilah bang. Kenapa abang jadi patung dekat pintu begitu?"
Ezra melangkah perlahan, sungguh dia sangat gugup.
"Ap-Apa sikembar yang ku cium diperut ibu hamil waktu itu adalah mereka?"
"Ya."
"Apa yang ku adzani dirumah sakit waktu itu juga mereka?"
"Emm," Marinka mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
Tes
Tes
__ADS_1
Air mata haru kembali menetes dari pelupuk mata Ezra. Dirinya benar-benar merasa bersalah pada Marinka. Belum sempat dirinya melihat kedua anaknya, Ezra malah kembali berhambur kepelukkan Marinka.
"Hikz...maafin abang dek. Saat-Saat sulit masa kehamilan, abang nggak ada disampingm. Saat adek menginginkan sesuatu, abang tidak memberikannya, dan saat adek melahirkanpun abang nggak berada disampingmu. Abang benar-benar jahat," Ezra terisak.
"Hikz..." Marinka tidak bisa lagi membendung air matanya. Wanita itu kembali terisak dan membalas pelukkan Ezra.
"Abang tidak tahu rasanya saat adek merasakan ngidam, abang nggak tahu rasanya saat adek merindukan abang, abang juga nggak tahu rasanya sakit setelah habis operasi, abang nggak..."
Kata-Kata Marinka tertelan, saat Ezra sudah membungkam mulut wanita itu dengan bibirnya.
Cup
Ezra melepaskan pagutan bibirnya, karena Marinka sama sekali tidak membalas ciumannya.
"Maaf...abang lepas kendali. Maafkan abang juga, karena tidak ada disampingmu saat dimasa-masa sulit."
"Itulah adek nggak ingin abang memprovokasi kak Ando. Seharusnya abang berterima kasih sama dia, selama ini dia yang selalu menjagaku, menuruti semua keinginan ngidamku, dan selalu ada dimasa-masa tersulitku,"
Greeeeetttt
Ezra mengepalkan tangannya, dia benar-benar merasa cemburu, saat membayangkan kedekatan Marinka bersama Ando diberbagai kesempatan.
"Tahan Zra...jangan mengecewakan Marinka, karena sikap cemburumu itu. Anggap saja ini sebuah karma, dulu kamu bahkan bercumbu dan bermesraan didepan matanya."
"Maafkan abang...hanya kata maaf yang bisa abang ucapkan saat ini," Ezra tertunduk.
"Abang kenapa?" tanya Marinka, yang melihat Ezra tertunduk dengan wajah mendung.
Marinka bisa melihat perkataan Ezra benar-benar tulus. Meskipun hatinya bahagia, tapi dia tidak ingin menerima Ezra dengan mudah.
"Baguslah kalau abang sudah menyadari kesalahan abang itu. Jadi kedepannya abang jangan lagi melakukan kesalahan yang sama lagi."
"Nggak akan..." Ezra menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, lebih baik abang gendong anak-anak dulu," ujar Marinka.
Ezra menoleh ke arah box bayi, tempat anak-anaknya yang sedang tertidur lelap.
Ezra kemudian meraih salah satu bayinya, dan menciumi anaknya itu dengan beruraian air mata.
"Maafkan papa nak," ujar Ezra disela tangisnya.
Menyaksikan hal itu sungguh hati Marinka trenyuh.
"Ya Tuhan...rasanya aku nggak kuat melihat pemandangan seperti ini. Andai aku tetap mengeraskan hatiku, tidak hanya aku dan bang Ezra yang akan lterluka, pasti anak-anak juga akan jadi korban," batin Marinka.
"Itu putra kita. Adek memberi nama dia Rakha putra Hawiranata, sedangkan putri kita adek beri nama Ezka putri hawiranata. Kalau abang tidak menyukainya, abang boleh menggantinya."
"Tidak. Nama itu sudah bagus, terima kasih adek sudah sudi menyematkan nama keluarga Hawiranata dibelakang namanya,"
__ADS_1
"Kita berdua yang bermasalah, tidak ada hubungannya dengan anak. Mereka berhak menyandang nama papanya,"
"Hah...bagaimana abang bisa buta selama ini. Berlian bersinar, abang tukar dengan paku karatan. Kalau mengingat semua kebodohan abang, rasanya abang ingin masuk kedalam sumur saja."
Oekkkk
Oeeekkk
Oeekkk
Bayi-Bayi mungil itu menangis saling bersahutan.
"Sepertinya mereka haus bang,"
"Ya sudah. Kamu buatkan saja susunya, biar abang yang menjaga mereka."
"Mereka nggak minum susu seperti itu, mereka minum asi eksklusif,"
"Asi eksklusif?"
"Emm. Jadi abang tunggu diluar dulu, biarkan adek memberi mereka asi dulu."
"Abang mau tetap disini,"
"Eh? tapi bang kita..."
"Kenapa? bukan muhrim? sebentar lagi kamu akan jadi istriku, jangan pikirkan hal itu,"
"Tapi adek malu bang,"
"Kenapa malu?"
"Ckk...pokoknya abang keluar dulu, adek nggak mau memberi asi kalau abang nggak keluar,"
"Hah...oke baiklah, kenapa adek jadi pelit begini," gerutu Ezra.
Marinka menyembunyikan senyumnya, dirinya memang masih malu untuk memperlihatkan aset miliknya pada pria yang pernah menjadi suaminya itu. Sementara itu Ezra keluar sembari menutup pintu.
"Sebaiknya kamu lupakan saja Marinka, kasihan Ezra. Kamu kan tahu sendiri perjuangan dia saat mencari istrinya selama ini. Maaf ya Ndo, bukanya aku berada dipihak Ezra, tapi kamu pikirkan juga nasib anak-anak Itu. Kasihan mereka, kalau mereka tidak berada dalam keluarga yang utuh," ujar Yuda.
"Tapi aku sudah terlanjur mencintai Arin," ucap Ando.
"Paling tidak kamu boleh maju, setelah Marinka menolaknya. Kalau dia sudah menolak Ezra, kamu maju itu tidak akan jadi masalah ataupun dosa. Itu artinya hubungan mereka benar-benar tidak bisa diselamatkan," ucap Yuda.
"Paling tidak berikan Ezra kesempatan berjuang sekali lagi, agar dia tidak lagi merasa bersalah atas kebodohannya selama ini," sambung Yuda.
Sementara itu, Ezra yang mendengar percakapan itu hanya bisa menyandarkan kepalanya dibalik tembok dengan mata terpejam. Pria itu sedikit merasa bersalah pada sahabatnya itu. Selama bertahun-tahun Ando menyandang status jomblo, sekalinya menyukai wanita, itupun harus berebut kembali seperti kejadian sewaktu SMA dulu.
"Maaf Ndo. Sekali lagi aku harus egois, maaf aku tidak bisa melepaskan Marinka untukmu. Selain karena dia istriku, dia juga ibu dari anak-anakku," batin Ezra.
__ADS_1
Ando yang merasa frustasi, pergi meninggalkan tempat itu. Dia pergi kesuatu tempat yang biasa dia kunjungi saat sedang gundah.
TO BE CONTINUE....🤗🙏