
"Ada apa papa ngumpulin kami semua?" tanya Rakha sembari menggendong salah satu anaknya.
Saat ini Rakha dan keluarga kecilnya memang tengah berada di kediaman rumah besar Hawiranata. Begitu juga keluarga kecil Meiza, Ezka dan Moza. Ruang tamu tampak ramai, karena kehadiran anak cucu Ezra yang masih sangat kecil-kecil.
Ternyata tidak hanya keluarga Ezra saja yang tengah kumpul keluarga saat ini. Yuda juga sedang mengumpulkan anak dak cucunya di kediaman mereka.
"Papa dan mama sudah tua. Sudah waktunya buat istirahat dan menikmati hidup diusia senja ini. Urusan perusahaan sudah papa serahkan dan papa bagi untuk kalian kelolah. Papa dan mama rencananya akan pergi keliling dunia, untuk menikmati sisa-sisa usia kami," ujar Ezra.
"Kelilimg dunia?" tanya Ezka.
"Iya pa. Keliling dunia bagaimana maksudnya?" tanya Moza.
"Kami akan menetap disuatu tempat beberapa waktu, kemudian pindah kenegara lain untuk menetep kembali." Jawab Ezra.
"Bukankah lebih baik menghabiskan waktu bersama anak dan cucu? kenapa harus pergi sejauh dan selama itu? kami khawatir sama kalian," tanya Rakha.
"Kalian tenang saja. Pengalaman keluar negeri bukan baru sekali ini. Bersama anak dan cucu memang menyenangkan. Tapi kami ingin membuat kenangan kami sendiri di usia setua ini." Jawab Ezra.
"Lagi pula kami tidak hanya pergi berdua. Kami akan pergi bersama om Yuda dan tante Regia," sambung Ezra.
Semua anak-anak Ezra menghelan nafas dan memasang wajah sedih.
"Ada apa dengan wajah kalian? papa dan mama ingin pergi bersenang-senang, bukan pergi ketempat berkabung?" tanya Ezra.
"Jadi kalian akan pergi lama ya? sampai kapan? apa saat aku melahirkan nanti papa dan mama nggak akan pulang?" tanya Moza dengan bibir memgerucut dan mata berkaca-kaca.
"Lahiran juga masih lama. Papa usahakan pulang. Paling cepat kita pergi cuma 6 bulan. Paling lambat ya sampai Moza melahirkan." Jawan Ezra.
"Janji ya pa? kalau bohong moza sedih loh," ujar Moza.
"Iya." Jawab Ezra.
"Jadi kapan rencananya kalian akan berangkat?" tanya Rakha.
"Dua hari lagi. Nanti negara terakhir yang akan kami kunjungi adalah Mekah. Kami akan umroh." Jawab Ezra.
"Lalu kalian akan star di negara mana?" tanya Ezka.
"Jepang. Mamamu sangat ingin melihat bunga sakura. Pokoknya semua negara di Asia akan kami kunjungi. Mungkin setelah itu barulah ke Eropa." Jawab Ezra.
"Ah...andai punya kesempatan keliling dunia sekeluarga, pastilah lebih menyenangkan," ujar Meiza.
"Iya. Tapi itu nggak mungkin. Ditambah nanti bocilku jadi 4," timpal Moza.
__ADS_1
"Nanti ada masanya kalian bisa seperti itu bersama. Setelah anak-anak kalian dewasa dan menikah. Nanti barulah kalian pergi untuk menikmati masa tua seperti papa dan mama," ucap Ezra.
"Apa kalian sudah menyiapkan tiketnya?" tanya Rakha.
"Belum Papa harus konfirmasi dulu dengan om Yuda." Jawab Ezra.
"Baiklah papa konfirmasi saja. Biarkan Uda yang menyiapkan tiketnya untuk kalian," ujar Rakha.
"Emm." Ezra mengangangguk.
Sementara itu di tempat berbeda, keluarga Yuda juga sedang berkumpul dan sedang menyampaikan keinginan Yuda dan Regia yang akan berkeliling dunia.
"Jangan lama-lama ya pa? jangan membuat kami khawatir," ujar Yure.
"Iya Pa. Kalau kami merindukan kalian bagaimana?" tanya Yugie.
"Kalian ini. Paling lama juga cuma satu tahun. Jaman sudah canggih, kita nanti bisa saling menghubungi lewat video call." Jawab Yuda.
"Tapi kan beda pa. Lalu negara mana yang akan kalian kunjungi pertama kali nantinya?" tanya Yure.
"Rencananya kawasan Asia. Berhubung mamamu dan tante Marinka sangat ingin melihat bunga sakura, jadi negara yang akan kami kunjungi pertama kali tentu saja negara Jepang." Jawab Yuda.
"Ah...pasti nggak enak banget nggak ada kalian," ujar Yugie.
"Kamu ini. Sudah punya istri sudah punya anak. Nikmati masa muda kalian. Dan kami akan menikmati masa tua kami. Kapan lagi bisa keliling dunia, mumpung persendian kaki belum kena asam urat akut," ujar Yuda.
"Belum. Papa mau konfirmasi dulu sama om Ezra." Jawab Yuda.
"Kalau begitu konfirmasi saja. Nanti aku akan tanyakan dulu dengan Rakha, takutnya tiket terbeli double," ujar Yure.
"Baiklah." Jawab Yuda.
*****
Dua hari kemudian....
"Hati-Hati ya Ma?" ujar Moza sembari memeluk Marinka.
Saat ini di depan pintu masuk bandara keluarga besar Hawiranata mengantar kepergian Ezra, Marinka, Yuda dan Regia. Suasana mendadak haru, karena anak-anak Ezra dan Marinka begitu berat melepaskan kepergian kedua orang tuanya. Dan setelah semua melepas kepergian orang tuanya, Ezra, Marinka, Yuda dan Regia akhirnya melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam bandara.
Marinka menyembunyikan air matanya dibalik kaca mata berwarna hitam. Ezra merangkul pundak istrinya, dia paling tahu kesedihan istrinya itu.
"Sudahlah. Kita pergi buat happy-Happy kan? kok malah jadi sedih. Hem?" tanya Ezra.
__ADS_1
"Rasanya berat sekali bang. Ini kali pertama aku pisah dari anak-anak, jauh dan selama ini. Rasanya sangat sedih sekali," ujar Marinka.
"Kak Inka benar. Aku juga rasanya terbayang terus dengan wajah-wajah cucuku," timpal Regia.
Yuda dan Ezra saling lirik. Mereka tahu betul istri-istri mereka mempunyai hati yang sangat lembut. Dan mereka yakin 100% tidak sampai 6 bulan, mereka pasti sudah ingin minta kembali ketanah air.
"Mau taruhan?" bisik Ezra.
"Apa?"
"Menurutmu mereka minta kembali bulan keberapa?" tanya Ezra.
"Kali ini taruhannya apa?" bisik Yuda.
"Siapa yang kalah akan bayarin oleh-oleh yang dibeli." Jawab Ezra.
"Kalau menurutmu sendiri bulan keberapa?" tanya Yuda.
"Bulan pertama." Jawab Ezra.
"Oke deal." Jawab Yuda.
"Kalian bisik-bisik apa sih?" tanya Marinka.
"Nggak tahu nih sih Yuda," ujar Ezra.
"Kok aku?" tanya Yuda.
"Ya kamu kan nanya aku apa bawa balsem? jangan gitu Yud. Meski aku udah tua, nggak pake balsem juga di pesawat Yud. Malu-Maluin aja," ujar Ezra.
"Ezra sialan bisa aja mengkambing hitamkan aku. Padahal dia duluan bisik-bisik ditelinga aku," batin Yuda.
"Papa cari balsem? mama bawa kok, tapi di dalam koper. Nanti pas nyampe Jepang aja mama kerokin ya?" ujar Regia.
Ezra mengulum senyumnya melihat wajah Yuda yang sudah masam. Marinka tahu betul kejahilan suaminya, dan mencubit pelan pinggang suaminya itu.
"Ayo bisik apa tadi?" tanya Marinka setengah berbisik.
"Nggak ada sayang." Jawab Ezra.
"Awas aja ya udah tua pakai ganjen ngomongin cewek lain," ujar Marinka.
"Ngapain juga nyari wanita lain. Cintaku ke kamu sudah paten dan teruji. Yang lain belum tentu kayak kamu," ucap Ezra sembari menarik hidung mancung Marinka.
__ADS_1
"Udah tua masih aja bisa gombal," ujar Marinka tersipu.
Ezra merangkul pundak Marinka. Dan merekapun langsung melakukan boarding pass. Sesuai rencana, mereka akan pergi ke Jepang.