
"Benar yang Sera katakan, apa sebenarnya aku sungguh-sungguh menyukai Arin? atau sekedar kagum saja?" batin Ando.
"Kenapa kamu tidak mencoba mengungkapkan perasaanmu pada pria itu?" tanya Ando.
Sera menggeleng sembari tersenyum, senyum itu terlihat kaku.
"Aku tidak memiliki keberanian itu. Mencintai dia diam-diam sudah cukup bagiku. Lagipula aku takut di tolak," Sera terkekeh.
"Kenapa tidak dicoba saja? kenapa harus takut di tolak?"
"Ya kan malu kak kalau ditolak. Lagipula aku sadar diri, aku tidak secantik Arin. Aku juga tidak kaya, penampilanku biasa-biasa saja, mana mau dia sama aku."
"Kamu cantik kok. Kalau kamu mengukur kecantikan dengan orang yang kamu anggap diatasmu, tentu saja itu akan membuat kamu tidak percaya diri. Tapi kalau kakak pribadi sih nggak memandang wanita itu dari kecantikkannya saja, karena banyak wanita cantik tapi hatinya tidak secantik orangnya."
"Apa menurut kakak aku sudah layak untuk dicintai?"
"Ya. Kamu cantik, juga baik hati. Kakak sudah mengenalmu dan Arin selama beberapa bulan ini, kalian wanita-wanita hebat dan baik hati." Jawab Ando.
"Makasih kak atas pujiannya, tapi aku masih tidak PD buat nyatain perasaanku padanya."
"Sampai kapan?"
"Sampai kapan apanya?"
"Sampai kapan kamu memendam perasaanmu itu padanya?"
"Sampai mati mungkin." Jawab Sera sembari terkekeh.
"Kamu ini,"
"Kak."
"Hemm?"
"Bisakah kakak melepaskan Arin untuk Ezra saja?"
"Kenapa?" tanya Ando.
"Seperti yang aku bilang tadi, mencintai seseorang terlalu membabi buta tidak membuat kita sadar, bahwa ada dampak lain yang timbul karena perbuatan kita itu."
"Maksudnya?"
"Coba kakak pikir, ada si kembar yang akan jadi korban di masa depan, kalau kakak jadi orang ketiga hancurnya hubungan Arin dan Ezra. Padahal tinggal di gosok sedikit saja, pasangan itu bisa bersatu kembali."
"Kak. Aku orang yang paling tahu bagaimana perasaan Arin terhadap Ezra. Arin sangat mencintai Ezra. Tanpa lewat seharipun, Arin selalu melihat galery ponselnya, untuk melihat foto-foto kebersamaan mereka. Apa kakak tega memisahkan pasangan yang saling mencintai itu?"
"Katakanlah mereka gagal bersatu karena kesalahpahaman, dan Arin menerima kakak sebagai pengganti Ezra. Tapi Arin tidak mencintaimu, dia menerimamu karena balas budi. Apa kakak ingin di posisi demikian?"
"Huffffttt...kita lihat saja nanti. Aku bukan berkepala batu, aku akan melihat situasinya dulu."
"Emm... Itu lebih baik. Aku yakin kakak orang yang bijak," ujar Sera.
"Sudah sore, kita pulang sekarang!" ujar Ando.
"Ya." Jawab Sera.
Ando pun mengantar Sera pulang kebutik. Ando bergegas pergi tanpa mampir terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ketemu?" tanya Marinka.
"Sudah."
"Apa dia baik-baik saja? aku benar-benar tidak enak hati sama dia,"
"Dia baik-baik saja. Mungkin dia cuma butuh waktu buat nenangin diri. Ya tahulah gimana situasinya tadi, mungkin dia merasa malu karena sudah terlanjur ngungkapin perasaannya."
"Iya aku paham. Ra, apa kamu baik-baik saja?"
"Tidak masalah, aku sudah pernah mengatakan padamu kalau aku sudah menyiapkan hatiku untuk hari ini."
"Aku minta maaf ya Ra, kalau tanpa sengaja sudah melukai hati kamu."
"Nggak apa Rin, aku paham kok posisi kamu. Oh ya, apa kita jadi pindah dari sini?"
"Ya. Setelah kupikir-pikir, tidak ada salahnya nerima tawaran bang Ezra. Kalau tinggal disini, jadi nggak enak sama kak Ando."
"Ya kamu benar," ujar Sera.
"Oh ya, kenapa kamu nggak langsung beri saja kesempatan buat Ezra? bukankah kamu juga mencintai dia?" sambung Sera.
"Aku ingin melihat seberapa besar niatnya itu. Ra, kamu tahu sendiri bang Ezra bukan pria yang bisa kita jangkau dengan mudah. Ada banyak wanita yang berada disekelilingnya. Aku sudah dua kali gagal membina rumah tangga dengan orang yang aku cintai. Jadi bolehkah aku egois untuk sekali saja?"
"Kalau dulu aku yang mengejar suamiku, bolehkah kali ini dia yang mengejarku? terus terang, sering disakiti membuat aku masih memendam trauma. Mungkin hatiku butuh waktu untuk memulihkan bekas luka-luka itu," sambung Marinka.
"Baiklah aku mengerti. Tapi untuk masalah Ando, aku tidak setuju kalau kamu membuat dia bersaing dengan Ezra. Kamu seperti memberikan harapan untuk dia. Jika kamu tidak menyukai dia, lebih baik kamu bersikap tegas."
"Baiklah, aku mengerti maksudmu." Jawab Marinka.
"Jangan bunuh diri. Sudah tahu orang itu tidak menyukai kita, kenapa harus mempermalukan diri sendiri," ujar Sera.
Marinka menghela nafas, tidak mungkin baginya memaksa Sera untuk mengakui perasaannya pada Ando.
*****
"Apa adek menyukainya?" tanya Ezra saat mengajak Marinka untuk pindah ke apartemen yang dia beli.
"Ya. Ini jauh lebih luas dari apartement yang abang beli di tanah air. Anak-Anak pasti nyaman berada disini." Jawab Marinka.
"Memang itu tujuanku, abang ingin adek dan anak-anak merasa nyaman tinggal disini."
"Makasih bang," ujar Marinka.
"Emm." Ezra mengangguk.
Tring
Tring
Tring
Ezra mengerutkan dahinya saat melihat dilayar ponselnya ada nama Lady Aceline yang membuat panggilan. Marinka melirik sekilas, dan sempat membaca nama di layar ponsel itu. Ezra pun menjauh dari Marinka saat menjawab telpon itu, hingga membuat Marinka jadi bertanya-tanya.
"Ya Lady Aceline?"
"Selamat pagi tuan Ezra, apa saya mengganggu aktifitas anda?"
__ADS_1
"Ah..sama sekali tidak. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Ezra.
"Saya ingin menanyakan cincin yang saya pesan waktu itu."
"Oh. Kalau tidak ada halangan, 3 hari lagi akan selesai. Sesuai dengan kesepakatan kita."
"Baguslah. Saya ingin mengundang anda untuk datang ke acara pertunangan kakak saya, sekalian anda bawa cincin pertunangan itu. Apa anda tidak keberatan untuk hadir?"
"Sungguh suatu kehormatan bagi saya, bisa di undang pada acara orang-orang hebat."
"Jangan merendah, anda juga salah satu orang hebat itu. Baiklah kalau begitu, kami tunggu kedatangan anda tuan Ezra. Sampai jumpa diakhir pekan nanti,"
"Sampai jumpa." Ezra dan Aceline mengakhiri percakapan itu.
Saat Ezra berbalik badan, dia melihat Marinka sedang menatap kearahnya. Namun Marinka hanya diam saja, dia tidak ingin bertanya sampai Ezra menjelaskannya sendiri.
"Dek. Apa kamu punya acara akhir pekan nanti?"
"Ada apa?" tanya Marinka.
"Salah satu pelanggan berlian mengundangku ke acara pertunangan kakaknya. Dia juga memesan cincin untuk acara pertunngan itu, jadi abang akan membawa cincin itu sekalian."
"Sepertinya adek nggak bisa. Anak-Anak bagaimana? acara seperti itu pasti memakan waktu yang lama bukan?"
"Baiklah,abang mengerti. Biar abang pergi sendiri saja,"
"Sebenarnya siapa Lady Aceline itu? kenapa dikontaknya dia harus memberikan nama Lady? apa dia seorang bangsawan? atau itu nama panggilan kesayangan?" batin Marinka.
"Oh ya dek. Rencananya Papa mama akan terbang ke Paris besok."
"Papa mama? abang sudah memberitahu mereka?"
"Ya. Mereka juga berhak tahu bukan? lagipula tidak mungkin kita menyembunyikan tentang anak-anak, mereka akan kecewa nantinya."
"Tapi bang. Adek sangat malu bertemu mereka, adek malu sudah berbohong."
"Adek tenang saja. Mereka sudah tahu ini bukan kesalahan adek sepenuhnya. Ini semua gara-gara abang."
"Hah...rasanya aku nggak punya muka buat ketemu mereka lagi,"
"Adek tenang saja. Ada abang yang akan selalu disisi adek nantinya."
"Emm." Marinka mengangguk.
"Apa kak Yuda sudah berangkat?"
"Ya. Dia harus pulang, perusahaan disana butuh dia."
"Abang kapan kembali kesana?"
"Mungkin selesai acara akhir pekan nanti."
"Apa undangan itu begitu penting baginya? atau orang yang mengundangnya yang dia anggap penting?" batin Marinka.
Marinka larut dengan pemikirannya sendiri, tanpa dia sadari Ezra menatap dirinya dengan senyuman.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1