Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.321. Kalah Taruhan


__ADS_3

"Ah...tulang-tulangku terasa ngilu. Di negara ini dingin sekali," ujar Marinka.


"Apa kita akan menetap disini terakhir hari ini?" tanya Ezra.


"Apa itu tidak apa-apa hanya 3 hari?" tanya Marinka.


"Tidak masalah. Tujuan kita ingin keliling dunia, bukan untuk menetap tinggal di negara ini." Jawab Ezra.


"Ya sudah. Besok kita bertolak ke negara lain saja," ujar Marinka.


"Kamu ingin kita pergi kemana?" tanya Ezra.


"hongkong. Katanya disana ada disneyland juga ya?" tanya Marinka.


"Di negara lain juga ada. Tapi kalau mau kesana ya tidak apa-apa juga." Jawab Ezra.


"Ya sudah kita kesana saja," ujar Marinka.


"Apa tidak mau ke negara lain saja? disana juga dingin soalnya," ucap Ezra.


"Benar juga. Jadi kita enaknya kemana ya?"


"Emm bagaimana kalau ke singapura saja? thailand mungkin."


"Baiklah aku menurut saja." Jawab Marinka.


Keesokkan harinya mereka memutuskan untuk pergi ke Singapura. Setelah 3 hari di Singapura, mereka langsung bertolak ke Belanda. Karena Marinka sangat ingin melihat bunga tulip. Di Belanda mereka tinggal lumayan lama, sekitar satu minggu. Setelah itu mereka kembali pergi ke negara lainnya.


*****


Dua minggu kemudian....


"Bang. Kita pulang yuk?" ujar Marinka.


"Pulang kemana?" tanya Ezra.


"Pulang ke rumah. Aku sudah kangen anak-anak sama cucu-cucu kita." Jawab Marinka.

__ADS_1


Mendengar itu jelas saja Ezra jadi tersenyum mencurigakan, hingga Marinka jadi heran.


"Ada apa dengan senyum abang itu? jadi kita pulang atau tidak?" tanya Marinka.


"Akan aku bicarakan dulu dengan Yuda. Nggak enak sama Regia kalau kita tiba-tiba pulang sendiri," ujar Ezra.


"Kami sudah sepakat dengan Regia. Dia juga kangen anak-anak dan cucunya," ucap Madinka.


"Benarkah? ya sudah nanti kita bicarakan saat makan siang bersama nanti ya?"


"Emm." Marinka mengangguk.


"Tapi tetap nanti negara terakhir kita akan mengunjungi Mekah ya bang? selain pengen umroh, aku juga pengen beli stok kurma," ujar Marinka.


Waktu menunjukkan pukul 13.00 saat Ezra dan yang lainnya pergi ke salah satu restauran yang ada di Australia. Mereka saat ini sedang ingin makan siang, sekaligus ingin membahas tentang kepulangan mereka ke tanah air. Sembari menunggu pesanan mereka sampai, merekapun berbincang-bincang.


"Aku dengar-dengar istri-istri kita mau ngajak kita pulang ke tanah air," ujar Ezra tersenyum penuh arti.


"Betul kak. Rasanya nggak kuat lama-lama pisah dengan anak dan cucu." Jawab Regia.


"Jadi kapan kita akan pulang?" tanya Regia.


"Seperti niat awal, kita akan pergi ke negara Mekah sebagai perjalanan kita yang terakhir." Jawab Marinka.


"Setuju," ujar Regia.


"Ya sudah. Sepulang dari makan siang, kalian segera berkemas.Sementara aku dan Yuda akan mengurus tiket keberangkatan kita besok ke Mekah," ucap Ezra.


"Baiklah. Mari kita buat kejutan untuk anak-anak," ujar Marinka.


"Iya. Aku sudah nggak sabar pengen main sama cucu-cucuku," ujar Regia.


Yuda hanya diam saja. Wajahnya sudah ditekuk karena dia sudah merasa akan kalah taruhan. dari Ezra.


"Ezra kampret. Dari dulu selalu menang dalam segala hal dariku. Alamat aku yang akan bayarin beli kurma dan air zam-zam.Tapi tidak apalah, pahala juga. Asal jangan dia beli 1 ton saja," batin Yuda.


"Sayang. Bukankah akan berkah kalau kita sedekah banyak kurma dan air zam-zam?" tanya Ezra.

__ADS_1


"Iya. Anggap saja kita sedekah, karena sudah diberikan anak dan cucu, juga kesehatan di usia kita yang sudah senja ini." Jawab Marinka.


"Iya bagus itu kak. Aku juga pengen," timpal Regia.


"Bagaimana kalau kita beli satu ton kurma, buat kita bagi-bagikan pada orang yang tidak mampu?" tanya Ezra.


"Setuju." Jawab Marinka dan Regia bersamaan.


Sementara Yuda matanya langsung melotot. Dan Ezra hanya bisa mengulum senyumnya tanda kemenangan. Merekapun makan dalam diam, setelah makanan yang mereka pesan sudah sampai. Setelah makan siang bersama, sesuai kesepakatan Ezra dan Yuda akan mengurus tiket, sementara Regia dan Marinka pergi berkemas.


"Jangan lupa ya Yud. Kurma satu ton dan air zam-zam," ujar Ezra sembari terkekeh.


"Ckk...sialan selalu beruntung kamu," ucap Yuda.


"Eittt...jangan nggak ikhlas ya? nanti nggak jadi berkah dan pahala loh. Ini kurma dan Zam-zam yang mau kita sedekahkan," ujar Ezra.


"Iya ikhlas," Yuda tersenyum kaku.


Setelah mendapatkan tiket, merekapun membantu istri-istri mereka berkemas. Dan keesokkan harinya merekapun langsung bertolak ke Mekah. Mereka ingin memanjatkan do'a dan hajat mereka disana. Setelah 10 hari disana, merekapun kembali ke tanah air dengan banyak membawa oleh-oleh.


Rakha dan adik-adiknya sangat terkejut mendengar kepulangan orang tuanya. Merekapun bergegas datang di kediaman utama Hawiranata. Mereka juga terkejut karena oleh-oleh kurma hampir memenuhi sebagian ruang tamu.


Rakha meraih tangan kedua orang tuanya dan menciumnya. Kemudian dia memberikan pelukkan hangat.


"Kok jadi berubah rencana?" tanya Rakha.


"Nggak tahu tuh mamamu. Katanya nggak bisa lama-lama jauh dari anak-anak dan cucunya." Jawab Ezra.


"Laki-Laki mana mengerti. Seorang Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan anak-anaknya. Karena pisah dengan semua anak, tentu saja aku merasa sedih," ujar Marinka yang langsung diberi pelukkan oleh Moza dan Meiza.


"Kami mengerti perasaan mama. Mama benar, jangankan ninggalin anak berbulan-bulan, aku aja ninggalin anak satu dua jam saja sudah kepikiran," ujar Meiza.


"Iya sama," timpal Moza.


"Pokoknya nggak usah pergi-pergi lagi. Karena nggak cuma mama yang nggak bisa jauh dari mama, kami juga gitu," ujar Ezka.


Marinka merangkul semua anak-anaknya. Dia tahu ikatan batin antara dirinya dan anak-anak jauh lebih besar. Sementara itu Ezra hanya bisa tersenyum saat melihat pemandangan indah itu.

__ADS_1


__ADS_2