Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.35. Apa Itu Benar?


__ADS_3

"Sepertinya karakter kita tidak jauh berbeda ya? saya sangat senang berteman dengan orang yang satu pemikiran dengan saya, maukah anda berteman denganku?"


"Berteman denganmu?" ulang Marinka.


"Ya." Karin harap-harap cemas, karena takut permintaan dirinya akan langsung dipatahkan oleh Marinka.


"Tentu. Bukankah banyak teman akan lebih baik?"


"Wah...saya sangat senang anda mau berteman denganku, kedepannya kita bisa bergabung dengan sosialita dari istri pengusaha lain,"


"Ya. Saya bersedia masuk, jika memang ada perkumpulan seperti itu."


"Tentu saja ada, nanti saya akan menghubungi anda jika memang ada perkumpulan lagi. Biasanya kami akan mengadakan arisan bersama,"


"Begitu? sepertinya sangat menyenangkan."


"Tentu saja. Saat berkumpul mata kita akan dimanjakan oleh barang-barang berharga kaum sosialita, mereka juga ada yang menjajakan barang-barang yang harganya fantastis. Untuk kalangan istri pengusaha seperti anda, itu pasti bukan berarti apa-apa."


"Sepertinya suami anda sangat memanjakan anda sekali ya?"


"Tentu saja. Dia selalu menuruti apapun kemauan saya, anda juga pasti begitu bukan?"


"Ya. Suami saya tidak pernah membiarkan saya kekurangan tentunya,"


"Karin,"


"Mama. Kemarilah!"


Paulin berjalan melenggak lenggok, Marinka memperhatikan penampilan wanita parubaya itu sangatlah berubah drastis. Wanita itu seperti layaknya kaum sosialita kelas atas, dengan pakaian dan sepatu serba glamor.


"Heh, kehidupan para anjing penjilat ini begitu sangat baik sekarang. Tunggulah, akan tiba saatnya giliran kalian akan aku hancurkan, hingga kalian tidak mampu bangkit lagi."


"Nyonya Ezra, kenalkan ini mama saya. Mama Paulin,"


"Senang berjumpa dengan anda Nyonya Paulin," ujar Marinka sembari mengulurkan tangannya.


"Aduh...saya merasa sangat beruntung sekali, bisa berkenalan dengan istri pengusaha nomor satu di kota J. Ternyata anda sangat ramah sekali ya?" ucap Paulin sembari menjabat tangan Marinka dan sedikit mengelusnya.


"Iya Ma. Kami juga sudah memutuskan untuk berteman Ma."


"Benarkah? kamu sangat beruntung sekali nak,"


"Apa Mama tahu? nama nyonya Ezra sama dengan Kak Marinka,"


"Benarkah? ya mau sama bagaimanapun tetap saja beda kelas, alias beda level. Mana bisa Marinka yang itu bisa disamakan dengan Nyonya Ezra."


"Kalau boleh tahu siapa yang kalian bicarakan itu?"


Paulin mengibaskan tangannya, seolah sangat meremehkan orang yang sedang mereka bicarakan.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa nyonya. Hanya seorang wanita yang tidak tahu diri dan tukang selingkuh,"


"Maksudnya?"


"Dia itu sudah kami besarkan dengan susah payah, tapi tidak tahu balas budi. Menikahi pria kaya juga tidak ingat keluarga, dan dengan tidak tahu malunya malah lari dengan selingkuhannya."


Gigi Marinka bergemeratuk saat mendengar hinaan dan juga fitnah yang dilontarkan Paulin secara bertubi-tubi.


"Oh...tidak tahu diri sekali dia ya?"


"Ya. Mungkin itulah sebabnya sejak kecil dia dibuang oleh orang tua kandungnya di panti asuhan, karena mungkin sudah punya firasat, kalau anaknya itu akan menjadi gadis yang tidak tahu diri."


Ingin rasanya Marinka menyiramkan gelas minumannya diatas kepala wanita parubaya itu, ingin rasanya dia mencekik wanita yang pernah dia anggap seperti orang tua itu sampai mati. Tapi dirinya harus bersabar, dirinya harus menyusun kekuatan sendiri dan harus berdiri sendiri diatas kakinya, barulah dia akan menghancurkan semua musuh-musuhnya.


"Zaman sekarang memang harus berhati-hati, kadang orang yang kita anggap baik, belum tentu sesuai dengan kenyataannya," ujar Marinka.


"Benar nyonya. Tapi kalau anda tentu saja berbeda, terlihat sekali anda itu cantiknya luar dalam,"


"Dasar penjilat, apa kalian kira aku tidak tahu apa tujuan kalian mendekatiku?" batin Marinka.


"Sayang,"


Ezra tiba-tiba memeluk pinggang Marinka dengan posesif. Entah mengapa kedatangan Ezra mampu membuat perasaan Marinka tenang seketika.


"Sepertinya pembicaraan kalian seru sekali,"


"Iya. Kami membicarakan tentang perkumpulan kaum sosialita untuk para istri pengusaha."


"Iya. Sayang, apa kita bisa pulang sekarang? aku merasa kurang sehat," ujar Marinka.


"Tentu. Kalau begitu kami undur diri dulu nyonya Galang, kami doakan semoga perusahaan anda semakin jaya,"


"Terima kasih tuan Ezra. Terima kasih juga sudah hadir di acara kami,"


"Emm." Ezra mengangguk.


Marinka dan Ezra melenggang pergi, dengan tangan Marinka melingkar erat dilengan kekar Ezra.


"Bang. Ada sesuatu yang ingin adek tanyakan, tapi maaf sebelumnya kalau pertanyaanku ini membuat abang sedikit kurang nyaman."


"Tanya saja, abang pasti akan menjawabnya." Jawab Ezra sembari mengendarai mobil dengan santai.


"Apa benar abang ini pengusaha nomor satu di kota J?"


"Siapa yang bilang itu padamu?"


"Karin. Istri dari tuan Galang."


"Apa kalau itu benar, kamu keberatan?"

__ADS_1


"Justru adek yang merasa jadi tidak enak bang. Bagaimana bisa wanita biasa sepertiku bisa menikah dengan orang hebat seperti abang? sungguh adek merasa tidak pantas dan rendah diri," ujar Marinka sembari tertunduk.


"Jangan merasa begitu, bukankah kita sudah sepakat menjadi kakak dan adik? kalau memang demikian, seharusnya kamu tidak memiliki perasaan seperti itu."


"Tetap saja bang, rasanya adek seperti tidak tahu diri kesannya."


"Jadi abang harus bagaimana agar adek bisa bersikap normal seperti biasanya? apa abang harus berhenti jadi pengusaha?"


"Ya nggak gitu juga bang, itu malah buat adek tambah merasa bersalah."


"Ya sudah kalau begitu bersikap seperti biasa saja, abang sama sekali tidak keberatan kok."


"Adek benar-benar merasa beruntung, entah perbuatan baik apa yang adek lakukan dimasa lalu, sehingga bisa kenal orang sebaik abang."


"Kamu memang layak mendapatkannya, karena kamu orang baik dari sejak kamu dalam kandungan."


"Hah...rasanya seperti mimpi bisa bertemu orang hebat seperti abang, tapi kenapa abang merahasiakan semuanya dari awal?"


"Abang tidak bermaksud begitu. Abang malah mengira kamu sudah tahu sejak awal, ternyata kamu sama sekali tidak tahu sosok pengusaha yang kamu bilang hebat itu," ucap Ezra terkekeh.


"Aduh ...adek jadi malu deh bang kalau ingat kata-kata adek waktu itu. Padahal orang yang dibicarakan ada didepan mata sendiri,"


"Ternyata abang belum seterkenal seperti yang abang bayangkan, buktinya istri sendiri tidak tahu pekerjaan suaminya."


Marinka menutup wajah dengan kedua tangannya, dia benar-benar malu dengan kebodohannya sendiri.


"Seharusnya adek sudah curiga sejak awal, kenapa karyawan biasa bisa membangun rumah sebesar itu dan memiliki koleksi mobil penuh di garasi. Dasar Marinka idiot, bodoh dipelihara. Emang kalau gede mau disekolahin?" gerutu Marinka yang membuat Ezra tertawa keras.


"Oh ya bagaimana menurutmu tentang Galang dan suaminya? dia ingin mengajakku kerjasama kedepannya,"


"Lebih baik tidak usah."


"Kenapa?"


"Adek merasa mereka bukan orang baik, terlihat sekali hanya kumpulan orang-orang penjilat."


Dapat Ezra lihat, Marinka begitu berapi-api saat mengatakannya. Terlihat sekali ada dendam yang begitu membara.


"Kalau menurutmu begitu, abang tidak akan menerima tawaran kerjasama itu."


"Eh? kok gitu? itukan menurut penilaian adek yang orang awam bang. Tentu saja sebagai pebisnis hebat abang lebih tahu segalanya."


"Tidak. Kali ini abang ingin mengikuti insting adek saja,"


"Hah...terserah abang saja, tapi adek nggak tanggung loh kalau rugi,"


"Tidak akan rugi mendengarkan kata-kata istri sendiri,"


Marinka terdiam, kata-kata Ezra begitu manis terdengar di telinganya. Untungnya dia cepat sadar diri, Ezra adalah orang yang tak mungkin bisa dia raih.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2