Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.15. Luka Bakar 40%


__ADS_3

"Yuda bawa mobilnya secepat mungkin, kita harus segera membawa wanita ini ke EH Hospital!"


"Oke."


Yuda dengan kemampuan menyetirnya, membuat mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi. Bahkan pria itu tidak perduli meski para pengguna jalan memaki dirinya karena ulahnya itu. Dia ingin pengorbanan Ezra tidak sia-sia karena sudah membantu wanita yang sudah hampir mengorbankan nyawa pria yang berharga itu.


"Vano, hubungi dokter kulit, dokter bedah plastik dan dokter umum terbaik di rumah sakit kita. Ada pasien luka bakar serius yang membutuhkan pertolongan."


"Oke."


Ezra menutup panggilan telpon itu dan menatap sejenak kearah wanita yang wajahnya sudah tidak bisa dia kenali lagi.


"Kasihan wanita ini, apa dia memang sengaja ingin dihabisi? tapi kenapa?" batin Ezra.


Selang 20 menit kemudian, mobil sport yang dikendarai oleh Yuda, tiba di EH hospital. Para dokter dan perawat menyambut kedatangan Ezra dan Yuda. Mereka bergegas membantu Ezra menurunkan pasien yang terkena luka bakar serius itu.


Pukkkk


Yuda melihat ada suatu benda yang jatuh dari genggaman tangan wanita sekarat itu. Perlahan Yuda memungutnya, dan memasukkan benda itu kedalam tas yang talinya sudah putus saat terlalap si jago merah.


Yuda menyimpan tas itu kedalam dashboard mobil, dan akan memberitahu Ezra setelah urusan dirumah sakit selesai.


Para tim dokter begitu sibuk menangani keadaan Marinka yang sekarat. Mereka terlihat gugup, karena Ezra sang pemilik rumah sakit mengawasi gerak gerik merika secara langsung. Ezra juga mengatakan agar mereka harus menyelamatkan nyawa wanita itu yang terasa mustahil untuk diselamatkan.


"Bagaimana keadaan wanita itu?" tanya Ezra saat semua tim dokter menemui Ezra untuk melaporkan keadaan pasien.


"Saat ini keadaannya sangat kritis Tuan Muda. Luka bakarnya 40% hampir mencapai 50%. Rasanya sangat sulit untuk wanita itu bisa bertahan hidup. Hanya keajaiban dan tekad dari pasien itu sendiri, yang bisa membalikkan keadaan."


"Itu tugas kalian membuatnya agar tetap hidup. Aku harus masuk kedalam kobaran api yang besar, agar bisa menyelamatkan nyawanya. Jadi kalian harus bisa menyelamatkan hidupnya, kalau tidak semua izin praktek kalian akan aku cabut dan semua lisensi kalian tidak akan berguna dimanapun."


Tim dokter itu menelan ludah dengan kasar. Wajah mereka berubah pucat pasi. Mereka kemudian bergegas masuk kembali kedalam ruangan itu, untuk melakukan perawatan secara intensif.


"Kamu membuat mereka ketakutan,"


"Biarkan saja. Aku ingin melihat kinerja mereka."


"Sebaiknya kita beristirahat diruangan pribadimu."


"Emm. Aku sangat lelah," Ezra mengangguk.


Ezra dan Yuda pergi beristirahat diruangan pribadi pria itu.


"Sebenarnya siapa wanita itu? kenapa dia bisa terjebak didalam sana," ucap Ezra setelah membersihkan diri.


"Mungkin kita bisa menemukan petunjuk didalam tas wanita itu."


"Tas?"


"Ya. Saat dia digotong oleh tim medis, aku melihat ada tas kecil yang jatuh dari tubuhnya, tas itu memang tidak sempurna lagi karena sedikit ikut terbakar. Tapi aku rasa ada identitas korban di tasnya itu."


"Dimana tas itu?"


"Didalam dashboard mobil. Apa kamu ingin melihatnya sekarang?"

__ADS_1


"Tidak perlu, besok pagi saja. Kamu pasti sudah lelah juga, jadi beristirahatlah."


"Emm." Yuda mengangguk.


Karena kelelahan, Ezra dan Yuda begitu cepat tertidur.


*****


Ezra yang terbiasa bangun pagi, tetap bangun pagi seperti biasanya. Pria itu bergegas membersihkan diri dan meminum kopi untuk menghangatkan tubuhnya.


Ceklekk


Yuda tampak masuk dan memegang sesutau ditangannya.


"Kamu darimana?"


"Dari bawah, aku mengambil tas ini di mobil."


"Tas?"


"Tas wanita yang terbakar itu."


"Kemari, aku ingin melihat isinya."


Yuda Menyodorkan tas itu, dan bermaksud ingin mengambil dompet dari dalam sana.


Pukkkk


Sebuah benda jatuh dari dalam tas kecil itu.


Ezra meraih benda itu dari lantai, benda kain berwarna hitam yang begitu tidak asing dimatanya, karena dia memiliki banyak benda seperti itu dirumahnya.


Tangan Ezra sedikit bergetar, dia ingin semua dugaannya salah. Tapi melihat benda itu sudah ditangannya, perasaan familiar langsung bergelayut dihatinya.


Ezra hafal betul bentuk dan serat kain itu, karena benda itu dibuat menggunakan bahan khusus dan dipesan dari luar negeri. Perlahan Ezra membentangkan benda berbentuk segi empat itu, dan mata pria itu terbuka lebar.


Ezra tahu betul sapu tangan itu miliknya, karena ada inisial EH diujung kain itu. Dan Ezra begitu mengingat dengan mudah, siapa wanita yang pernah dia berikan sapu tangan tersebut.


"Tidak mungkin itu dia,"


Yuda mengerutkan dahinya saat melihat Ezra yang terlihat gelisah.


"Ada apa?"


Ezra tidak menjawab pertanyaan Yuda. Pria itu bergegas mencari isi dompet Marinka dan menemukan kartu identitasnya disana.


"Marinka Diningrat," ucap Ezra lirih.


Ezra melihat kearah foto dikartu identitas itu, dan Ezra mengenali bahwa wanita itu memang wanita yang pernah dia berikan sapu tangan dan setangkai bunga mawar di danau.


"Ternyata memang dia,"


"Apa kamu mengenal wanita itu?"

__ADS_1


"Tidak. Aku pernah melihatnya dua kali di danau,"


"Jangan-Jangan dia selingkuhanmu,"


"Jangan bicara omong kosong, Jihan adalah wanita yang paling aku cintai."


"Cinta bulsyieeett...diajak nikah nolak terus."


"Dia masih muda. Jadi biarkan saja dia berkarier dulu,"


"Kamu sangat mempercayainya di negara orang, apa kamu yakin dia setia padamu."


"Apa menurutmu orang sepertiku layak untuk diselingkuhi?"


"Tidak."


"Itulah sebabnya aku 100% percaya padanya, karena aku yakin dia tidak mungkin menghianatiku demi pria yang tidak jelas masa depannya."


"Iya-iya Mr. perfect,"


"Kita turun kebawah,"


"Emm."


Ezra dan Yuda turun kebawah, untuk memastikan keadaan Marinka. Mata Ezra menangkap lelah kearah wajah tim dokter yang terlihat kuyu karena semalaman tidak beristirahat.


"Bagaimana? apa ada perkembangan?" tanya Ezra.


"Saat ini pasien sangat beruntung karena sudah melewati masa kritisnya, sepertinya keinginan hidup pasien sangat kuat, meski awalnya sempat drop ditengah malam."


"Bagus. Lalu bagaimana kondisi wajahnya dan tubuhnya?"


"Karena ini luka bakar yang serius, wajahnya tidak bisa dikenali lagi, dan luka bakarnya pasti akan menimbukan bekas yang tidak enak dilihat."


"Lalu apa ada solusi untuk menyembuhkannya? aku ingin wajahnya kembali cantik."


"Di Jerman ada seorang dokter bedah plastik terkenal, baru-baru ini dia baru saja membedah seorang pasien yang terkena luka bakar yang sama. Dia berhasil membuat wajah wanita itu menjadi cantik kembali."


"Apa kamu memiliki akses agar bisa mendatangkan dokter itu?"


"Aku akan menghubungi adikku yang kebetulan sedang bekerja jadi dokter disana."


"Bagus. Datangkan dokter itu kesini segera, aku akan membayar berapapun bayarannya."


"Baik Tuan muda. Sebaiknya anda menyiapkan sebuah foto wanita itu, agar dokter itu bisa mewujudkan keinginan Tuan Muda."


"Baikkah. Terima kasih sudah bekerja keras untuk hal ini, aku berjanji akan memberikan bonus yang besar untuk hasil jerih payah kalian,"


"Terima kasih Tuan Muda," Jawab Tim dokter serentak.


"Emm, beristirahatlah. Kalian bisa operan dengan petugas yang lain."


"Baik Tuan Muda,"

__ADS_1


Ezra dan Yuda memutuskan untuk kembali ke kantor, karena mereka sudah sangat terlambat terlebih ada rapat penting yang menunggu kehadiran mereka.


__ADS_2