Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.268. SAH


__ADS_3

"Huffff...sial kenapa aku gugup sekali," ujar Anser.


Anser menekan-nekan jari jemarinya satu persatu, sampai terdengar bunyi dari sendi-sendi jari itu. Saat ini dirinya sudah duduk di tempat ijab Qobul, begitu juga dengan Ilyas.


Berbeda dengan Anser, Ilyas tampak lebih tenang. Anser dan Ilyas tengah menunggu para pengantin wanita turun setelah di rias. Beruntung meskipun kembar, Meiza dan Moza bukanlah kembar identik. Jadi Anser dan Ilyas tidak mungkin tertukar pengantin.


"Can-Cantik sekali," ucap Anser lirih saat melihat Moza menuruni anak tangga dibantu oleh seorang MUA.


Begitu juga dengan Meiza. Kedua mempelai wanita itu turun secara bersamaan dibantu oleh seorang MUA. Anser melirik kearah Meiza, namun menurut Anser Moza terlihat lebih cantik, mungkin karena jarang melihat calon istrinya itu berdandan.


Moza perlahan duduk disamping Anser. Anser melihat Moza hingga enggan berkedip.


"Berhenti menatapku," ujar Moza setengah berbisik, namun pandangan matanya lurus kedepan.


"Kamu cantik," ujar Anser.


"Baru nyadar?" tanya Moza.


"Aku jadi tidak sabar buat ehem...ehem," ujar Anser.


"Ans...." Anser terkekeh saat melihat Moza yang tidak suka dia goda.


Ijab Qobulpun dimulai...


Hal tak terdugapun terjadi. Setelah Ilyas dengan lancar mengucapkan ijab qobulnya, Namun saat giliran Anser, pria itu malah menyebutkan nama Meiza sebagai pengantin wanitanya. Bahkan kesalahan itu sampai terjadi dua kali.


Wajah Moza berubah jadi murung. Hatinya berdenyut sakit. Walau pada akhirnya Anser berhasil melewatinya dengan lancar, namun tetap saja tidak bisa meredakan rasa malu yang Moza rasakan.


Krieekkkk


Anser menatap Moza yabg tengah mematut dirinya di depan cermin.


"Aku bantu ya Za?"


Anser menawarkan diri saat melihat Moza tengah melepaskan berbagai aneka acesoris yang melekat pada rambutnya.


"Tidak perlu." Jawab Moza dengan wajah datar.


Anser menghela nafas, kemudian memegang kedua bahu istrinya itu. Mozapun berdiri dan berhadapan dengan Anser.


"Maafkan aku. Kamu pasti sangat kecewa dan malu oleh perbuatanku tadi. Aku tidak bermaksud begitu, itu benar-benar murni kesalahan," ujar Anser.


"Tidak apa-apa." Jawab Moza sembari berlalu ke kamar mandi.


Setelah menunggu selama 20 menit, Moza keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Wanita itu mengeringkan rambutnya dengan handuk dan tidak perlu menggunakan hairdryer untuk mengeringkan rambutnya yang pendek itu.


Grepppppp

__ADS_1


Anser memeluk Moza dari belakang, saat istrinya itu tengah mencari baju ganti dilemari. Tubuh Moza jadi menegang, karena ini pertama kali baginya disentuh secara intim oleh lawan jenis.


"Kamu marah padaku?" bisik Anser dan menyembunyikan wajahnya si ceruk leher Moza.


"Ja-Jangan seperti ini. Aku mau pakai baju dulu," ujar Moza gugup.


Moza berusaha melepaskan diri dari gelungan tangan Anser. Moza bergegas mencari bajunya dan segera memakainya.


"Nanti malam ada resepsi. Sebaiknya kamu istirahat saja," ucap Moza.


Tap


Anser meraih tangan Moza yang hendak keluar dari kamar. Anser menarik tangan istrinya itu dan melingkarkan tangan dipinggang ramping Moza.


"Kalau ada keluhan, sebaiknya cepat dibahas. Jangan biarkan masalah jadi berlarut-larut. Aku tahu aku salah, aku minta maaf untuk itu. Dan aku tidak pernah menyesali keputusan yang aku ambil."


"Sudah ku bilang tidak masalah. Lagi pula aku sadar diri, aku hanya pengantin pengganti dan bukan orang yang kamu cintai. Jadi tidak usah merasa bersalah atau tidak enak," ucap Moza


" Moza. Aku sungguh-sungguh ingin menjalankan rumah tangga ini sebagai mana mestinya. Aku akan belajar melupakan Meiza dan hanya mencintaimu saja. Tapi kamu tahu sendiri, semua butuh proses," ucap Anser.


"Bantu aku melupakan dia. Aku tahu kamulah yang terbaik untukku. Tapi kebersamaan yang pernah kami lalui tidak bisa menghilang begitu saja dari ingatanku," sambung Anser.


"Aku mengerti." Jawab Moza singkat.


"Sekarang lebih baik kamu mandi sebentar lagi MUA akan datang merias kembali untuk acara resepsi nanti malam," ujar Moza.


"Moza. Bolehkah aku menciummu?" tanya Anser.


Sementara itu di kamar berbeda, Ilyas dan Meiza sedang berpagut mesra. Mereka seolah tidak sabar menunggu acara resepsi berakhir dan ingin melewati acara malam pertama mereka.


"Sayang. Apa kamu tadi sempat cemburu saat Anser salah menyebut nama pengantinnya?" tanya Meiza.


"Sedikit. Tapi salahkan dia yang tidak beruntung memilikimu." Jawab Ilyas.


Meiza tersenyum merona saat mendengar ucapan Ilyas. Dan tidak lama kemudian MUA pun tiba untuk merias mereka. Dan saat malam tiba, acara resepsi itupun di gelar meriah. Moza dan Meiza terlihat cantik bak seorang peri.


Setelah acara resepsi, merekapun kembali je rumah.


"Hufffttt...capek banget," ujar Moza.


"Aku pijat ya?" ujar Anser sembari meraih kaki Moza.


Moza segera menarik kakinya, bukan karena tidak mau disentuh, tapi dia merasa tidak enak kalau Anser menyentuh kakinya itu.


"Kamu jijik padaku?" tanya Anser.


"Bu-Bukan gitu. Aku hanya merasa tidak sopan kalau kamu menyentuh kakiku." Jawab Moza.

__ADS_1


"Aku tidak masalah," ujar Anser sembari meraih kaki Moza kembali.


Karena terlalu lelah Mozapun jatuh tertidur. Anser menepuk dahinya karena malam pertamanya ditinggal tidur oleh Moza.


"Baru juga usaha megang kaki, udah ditinggal tidur. Nasib-Nasib," ucap Anser lirih.


Anser kemudian ikut berbaring disamping Moza. Ditatapnya wajah lelah istrinya itu dan diciumnya kening Moza.


"Selamat tidur nyenyak," bisik Anser.


Anser kemudian memejamkan matanya. Setelah tidak ada pergerakkan, Moza membuka matanya. Ditatapnya wajah suami tampannya itu.


"Anser. Apa suatu saat kamu bisa mencintaiku seperti kamu mencintai Meiza. Apakah suatu saat kamu bisa menanggil namaku saja? aku mencintaimu Anser...aku mencintaimu," batin Moza.


Moza perlahan mendekap tubuh Anser. Tanpa Anser sadari, pria itu juga memeluk Moza dengan erat.


*****


Tang ting


Tang ting


Tang ting


Suasana tampak hening. Keluarga besar Hawiranata dan Keluarga besar Ando tengah sarapan bersama. Anser melirik kearah Meiza yang dilehernya sudah banyak terdapat banyak tanda cinta dari Ilyas. Jadilah Anser hanya mengaduk-aduk makanannya saja sembari menatap kearah Meiza dan Ilyas yang sesekali saling menyuapi.


"Aku selesai," ujar Moza setelah meneguk segelas air putih.


Anser sedikit terkejut saat suara kursi yang Moza geser terdengar nyaring ditelinganya. Rasa panas dirasa Moza tidak bisa dia bendung, saat suaminya dengan terang-terangan menatap wanita lain.


Anser kemudian menyusul Moza yang masuk ke kamarnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Anser.


"Markas." Jawab Moza sembari memasang jaket hitam dan sarung tangan hitam di tangannya.


"Markas? buat apa?" tanya Anser.


"Olah raga." Jawab Moza dengan suara datar


"Ikut," ujar Anser.


"Terserah." Jawab Moza.


Moza berjalan lebih dulu keluar dari kamar. Anser mengekor di belakang Moza.


"Kalian mau kemana?" tanya Ezra.

__ADS_1


"Markas pa." Jawab Moza dengan suara datar.


Ezra menatap mata putrinya itu. Dia cukup bisa membaca suasana hati putrinya itu.


__ADS_2