
Di sepanjang jalan Rakha menggigit jarinya secara bergantian. Kejadian barusan cukup membuat dirinya menjadi salah tingkah.
"Aduh...bagaimana kalau dia mengira aku seorang pria mesum?" gerutu Rakha.
"Apa aku harus mengungkapkan perasaanku secepatnya? tapi moment seperti apa yang tepat? apa dia akan menerimaku? bagaimana kalau dia menolakku?"
"Si brengsek itu. Lihat saja, aku pasti akan membuat hidupnya menderita. beraninya dia mengganggu wanitaku,"
Sementara itu di tempat berbeda, Gadlyn tampak senyum-senyum sendiri saat mengingat Rakha yang seperti salah tingkah setelah menciumnya.
"Apa mungkin sebenarnya dia menyukaiku? selama ini aku tidak pernah melihat dia dekat dengan wanita lain, tapi dia pria tampan kaya raya. Mana mungkin tidak ada gadis yang menyukainya?" ucap Gadlyn lirih.
"Hah...bodo amatlah. Mikirin harimau itu nggak akan ada habisnya. Mending kalau dia mikirin aku juga,"
Gadlyn menarik selimut hingga sebatas dadanya. Gadis itu bergegas memejamkan matanya, karena hari ini dia benar-benar sangat lelah.
*****
"Silahkan duduk!"
"Ada apa bapak memanggil saya? apa ada pekerjaan yang bisa saya lakukan?" tanya Reno.
"Ini buat anda." Jawab Rian, selaku Ceo ditempat Reno bekerja.
"Apa ini pak?" mata Reno berbinar. Pria itu mengira dirinya akan mendapatkan promo jabatan, karena kinerjanya yang bagus.
"Silahkan anda baca," ujar Rian.
Reno perlahan merobek ujung amplop berwarna putih, dan membuka kertas yang dilipat menjadi 3 bagian itu.
Senyum Reno yang semula terbit, mendadak hilang dari bibirnya. Bahkan kertas yang ada ditangannya jatuh kelantai secara tiba-tiba.
"Sa-Saya di PHK pak? tapi salah saya apa pak?" tanya Reno terbata.
"Ada seseorang yang mengirimkan video anda saat melakukan pelecehan pada seorang gadis tadi malam. Anda juga pernah melakukan pelecehan pada gadis yang sama namun ditempat yang berbeda. Maaf pak Reno, perusahaa tidak mau kena imbas, saat video itu viral di media sosial. Perusahaan pasti akan terkena citra buruk, saat mempekerjakan seorang karyawan berotak kriminal. Jadi mulai hari ini anda saya pecat!" tegas Rian.
"Tapi ini tidak adil pak. Gadis itu kekasih saya, sudah biasa bagi pasangan kekasih bertengkar bukan?"
"Maaf. Tapi saya tidak mau menerima resiko apapun." Jawan Rian.
Tangan Reno terkepal. Pria itu segera beranjak dari tempat duduk, dan segera mbereskan barang-barangnya yang ada di kantor itu.
__ADS_1
"Ini pasti ulah Rakha. Sialan, apa dia pikir aku tidak bisa mencari pekerjaan lain selain disana? Lihat saja suatu saat aku pasti akan membalasmu," ujar Reno lirih.
*****
Sudah lebih dua minggu dari insiden pemecatan itu. Reno sudah memasukkan lamaran pekerjaan lebih dari 30 tempat. Namun tidak ada satupun yang mau menerimanya bekerja di perusahaan. Bahkan ada yang menolaknya mentah-mentah.
"Sialan! sehebat itukah pria itu, hingga bisa memerintahkan semua perusahaan buat menolakku bekerja? kalau begini caranya, aku bisa jadi pengangguran tulen," gerutu Reno.
"Terus apa artinya aku kuliah keluar negeri, kalau jadi pengangguran begini? aku harus bagaimana sekarang? keuanganku juga lama-lama akan menipis, aku tidak bisa begini terus. Orang tuaku akan kecewa,"
Sementara itu di tempat berbeda, Rakha tampak sibuk menerima panggilan telpon dari rekan bisnisnya, yang tidak lain dari perusahaan yang menolak Reno bekerja. Mereka tidak ingin mengambil resiko kehilangan mitra bisnis, demi mempertahankan karyawan biasa seperti Reno. Meskipun pria itu lulusan luar negeri sekalipun.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!"
"Ka. Rekan bisnis dari Cahaya Abadi sudah datang. Tapi mereka mengirim perwakilannya sendiri, yang tidak lain anak dari pemilik Cahaya Abadi," ujar Yure.
Yure melirik Gadlyn yang tampak serius bekeja dengan tumpukkan dokumen yang ada diatas meja kerjanya. Namun sesaat kemudian Yure mempersilahkan seorang gadis yang tidak lain anak dari pemilik Cahaya Abadi.
"Selamat siang tuan Rakha,"
Seorang gadis masuk dengan anggun. Meskipun mengenakan pakaian yang tidak terbuka, tapi gadis itu sudah di pastikan memiliki postur tubuh yang proposional dengan wajah yang cantik dan menawan.
Mendengar ada suara wanita, Gadlyn menghentikan gerakkan tangannya, dan melihat kearah sumber suara.
"Silahkan duduk nona...."
"Perkenalkan. Nama saya Valencia,"
Gadis itu tampak mengulurkan tangannya yang seputih susu. Rakha tanpa sungkan menjabat tangan itu, untuk menjaga ke profesionalannya. Setelah jabatan tangan itu terlerai, gadis itu menjatuhkan bokongnya pada sebuah sofa, dia ingin suasana santai. Itulah sebabnya dia lebih memilih duduk di sofa, daripada duduk dihadapan Rakha.
Melihat tamunya ingin berbicara santai, Rakha terpaksa berpindah tempat duduk. Sementara itu Gadlyn meraih buku pintarnya, untuk mendampingi Rakha membahas perihal kerjasama dengan rekan bisnis barunya itu.
"Apa dia serketaris anda?" tanya Valencia dengan tatapan merendahkan.
"Iya. Bisa kita mulai?" tanya Rakha.
__ADS_1
"Saya harap anda mencatat dengan baik apa yang saya atau tuan Rakha katakan. Jangan ada poin yang terlewat, karena ini adalah kerjasama penting," ujar Valencia.
"Baik Nona." Jawab Gadlyn.
Namun belum sempat membahas perihal kerjasama mereka, suara ketukan diluar membuat mereka berhenti berbicara.
Krieekkk
Yure menekan handle pintu, untuk memperingatkan Rakha sudah waktunya makan siang. Untuk menjaga keramah tamahan, Rakha menawarkan Valencia untuk makan siang sebelum mereka benar-benar membahas perihal kerjasama mereka.
"Makanan apa yang nona Valencia sukai atau yang nona inginkan? biar karyawan saya siapkan untuk anda," tanya Rakha.
"Saya makan apapun yang tuan makan. Saya yakin selera makanan tuan tidak buruk." Jawab Valencia.
"Yure. Bawakan makanan seperti seleraku," ujar Rakha.
Mendengar itu tentu saja Yure melotot. Namun Yure tidak ingin membantah, Dia yakin Rakha punya maksud setiap kata-kata yang keluar dari mulut pria itu.
"Kenapa harus menyuruh dia? bukankah dia tuan Yure sang asisten pribadi anda yang terkenal itu? kenapa tidak menyuruh dia saja," ucap Valencia sembari menunjuk kearah Gadlyn.
"Dia bukan OG. Dia serketaris saya. Lagipula tuan Yure bukan mengerjakan sendiri, dia punya asisten pribadinya sendiri." Jawab Rakha.
"Tidak apa tuan, saya sama sekali tidak keberatan. Saya bisa pergi bersama asisten pribadi tuan Yure nanti," ujar Gadlyn.
"Tidak perlu. Dia bisa melakukannya sendiri," Rakha menatap Gadlyn dengan tatapan intimidasi.
"Eh? apa maksudnya dengan tatapan itu? apa dia tidak suka aku pergi dengan asisten tuan Yure, atau dia tidak mengizinkan aku keluar dari ruangan ini?" batin Gadlyn.
"Gadis bodoh ini. Apa dia tidak tahu saat seseorang berniat ingin menindasnya?" batin Rakha.
"Betul itu tuan Rakha. Lagipula saya lebih percaya nona ini yang membawakan makanan. Bukankah dia serketaris anda? pastinya lebih dapat dipercaya kan?" ucap Valencia.
"Gadis ini. Apa sebenarnya yang dia inginkan? kenapa sepertinya dia ingin sekali menjatuhkan Gadlyn." Batin Rakha.
"Tidak masalah tuan. Saya bisa melakukannya," ujar Gadlyn.
Mendengar itu, tentu saja Rakha menjadi tidak senang.
"Yure. Jangan lupa pesankan makanan paket 1," ujar Rakha yang membuat mata Yure bertambah lebar dari sebelumnya.
Makanan paket 1,2 dan 3 merupakan kode makanan favorite mereka. Namun Yure sama sekali tidak ingin membantah pria yang merupakan bos, sekaligus kakak iparnya itu.
__ADS_1