Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.149. Saksi Kunci


__ADS_3

"Sial! siapa yang bermain cermin ditengah hari bolong begini? mataku jadi tidak fokus, beruntung masih kena. Hampir saja meleset," ujar sang penembak jitu.


Pria itu kembali fokus melihat kearah kapal mangsanya. Matanya kembali menyipit saat melihat dari sebuah teropong pengintai. Pria itu bisa melihat ada 6 orang pria bertubuh besar datang mendekati Veronica.


"Apa yang kamu lakukan pada nyonya?" tanya seorang pria berbaju hitam.


Beberapa orang yang lain melihat kearah laut, tempat terjatuhnya Marinka. Namun kapal yang terus berjalan membuat mereka sulit melihat keberadaan Marinka yang sudah jauh tertinggal dibelakang sana.


Jihan kembali memberikan isyarat dengan jarinya. Pria penembak jitu itu menyeringai. Dan kembali mengeluarkan peluru sebanyak 6 butir, dan semua peluru itu tepat mengenai sasaran. Sehingga ke enam pria bertubuh besar itu tergeletak diatas kapal begitu saja.


Veronica alias Jihan menyeringai puas saat dirinya merasa semua rencananya telah berhasil.


"Saatnya aku mengurus kedua bocah tengil itu. Aku jadi berpikir, apa mereka aku lenyapkan juga? atau aku akan bersikap menjadi seorang peri, mengambil hati mereka, kemudian menjadi ibu sambung yang baik hati buat menarik perhatian papanya," ujar Jihan terkekeh.


Jihan perlahan menuruni tangga kapal, untuk menemui anak-anak Marinka. Jihan melihat Ezka tengah bermain boneka, sementara Rakha tengah bermain ponselnya.


"Sayang. Apa kalian mau makan siang?" tanya Jihan dengan lembut.


"Kami baru saja selesai makan tante." Jawab Ezka.


"Oh ya? baguslah, kalian harus makan yang banyak biar cepat besar."


"Makasih tante. Tante ini selain cantik, hatinya baik." puji Ezka.


"Emm...mulutmu manis sekali gadis kecil. Tapi tante juga suka Ezka dan Uda Rakha. Apa kalian pernah dengar tentang ibu sambung?" tanya Jihan yang segera melancarkan aksinya.


"Ibu sambung?" tanya Ezka.


"Apa uda juga tidak tahu tentang ibu sambung?" tanya Jihan pada Rakha.


Rakha mengalihkan pandangan matanya ke arah Jihan. Pandangan mata yang begitu menghunus, hingga jihan sempat mengira Rakha sedang mengintimidasinya. Namun prasangka Jihan sedetik kemudian berubah, karena tiba-tiba saja tatapan mata Rakha menjadi lembut.


"Apa maksud tante ibu tili?" tanya Rakha.


"Aha...benar. Uda ternyata anak yang pintar. Apa kalian suka ibu tiri, jika seandainya ada orang yang menggantikan mama kalian saat mama kalian sudah tiada?"


"Maksud tante apa?" tanya Ezka.


"Maksud tante, kalau mama kalian mati, apa kalian mau mempunyai ibu tiri?" tanya Jihan.

__ADS_1


"Ti...." Ezka.


"Tentu saja. Apalagi kalau ibu tilinya sepelti tante Vero." Jawab Rakha cepat.


Kata-Kata Ezka tertelan, setelah Rakha menyela ucapannya lebih dulu.


"Benarkah? itu pilihan yang bijak. Boleh tante tahu kenapa uda tidak keberatan kalau papamu mencarikan mama baru buat kalian?"


"Tidak pelduli siapapun olangnya. Yang penting mama balu harus baik, mama lama atau mama balu sama saja kalau meleka sama-sama baik." Jawab Rakha dengan gaya cedalnya.


"Hemm...pemikiran yang luar biasa boy. Lagian mama lama tidak jauh lebih baik dari mama baru. Iya kan?"


"Iya tante." Jawab Rakha.


"Ya sudah, kalian lanjutkan mainnya."


"Tante, mama kemana? kok Ezka tidak lihat?" tanya Ezka.


"Mamamu lagi ada pekerjaan, sebentar lagi akan menemui kalian." Dusta Jihan.


Jihan melangkah pergi, dan menutup kamar kedua anak itu.


"Oke." Jawab pria itu.


Jihan mengakhiri panggilan itu dengan seringai jahat dibibirnya. Tapi satu hal yang dia tidak tahu, bahwa keputusannya menyuruh penembak jitu itu pergi adalah keputusan yang sangat fatal. Tidak sampai satu jam, dua buah hellykopter mengudara tepat diatas kapal pesiar itu. Ezra dan Ando turun tergesa-gesa, dan ada beberapa orang-orang Ezra juga ikut turun dengan tubuh yang sudah dilengkapi pakaian anti peluru.


Ezra menggeram marah, saat melihat orang-orangnya tergeletak dilantai kapal. Kondisi mereka sudah mengenaskan.


"Kalian urus mayat ini, tunggu sampai kapal yang ku utus datang. Awas tetap waspada, kemungkinan ada penembak jitu disekitar kapal yang ada di laut ini."


Ezra memang melihat ada beberapa kapal yang tenntunya bukan kapal orang-orangnya. Ezra dan Ando kemudian bergegas mencari keberadaan Rakha dan Ezka, karena mereka sangat takut Jihan melakukan sesuatu pada anak-anaknya.


"Rakha...Ezka..." teriak Ezra panik.


Suara itu terdengar jelas ditelinga Jihan, sehingga gadis itu segera melancarkan aksinya.


"Tuan...tuan..."


Brukkkk

__ADS_1


Jihan langsung berhambur kepelukkan Ezra dengan kondisi yang memprihatinkan. Ada luka lebam dipipi gadis itu, dengan pakaian yang berantakan.


Brukkkkk


Ezra mendorong keras tubuh Jihan, hingga Jihan terjungkal kebelakang dan berakhir di lantai.


"Dasar wanita laknat! kamu apakan istriku ha? dimana istriku brengsek!" hardik Ezra.


"Maksud tuan apa?" Jihan berpura-pura polos.


"Yud. Cari anak-anakku disetiap kamar. Berhati-Hatilah," ujar Ezra. Yudapun bergegas melaksanakan perintah Ezra.


"Jangan kamu kira perbuatan busukmu itu tidak ada yang tahu. Karena saat kejadian ada saksi mata yang melihatmu. Dan dia bisa dibilang satu-satunya saksi kunci, saat kamu menjatuhkan istriku ke laut. Itu kan yang kamu lakukan?" tanya Ezra.


"Kamu berdo'a saja istriku bisa diselamatkan oleh tim SAR. Karena kalau sampai dia tidak ditemukan, aku tidak akan membuatmu mati dengan mudah."


Jihan tertegun mendengar ucapan Ezra. Rencana yang dia bangun selama 4 tahun, sepertinya harus kandas, bahkan permainan itu baru saja akan dia mulai. Wajah gadis itu mendadak pucat, dia jadi teringat akan siksaan yang Yuda dan Ezra lakukan padanya beberapa tahun yang lalu.


"Apa hebatnya wanita itu, sehingga kamu lebih memilih dia dari banyak wanita cantik di dunia ini?" tanya Jihan dengan tatapan kosong.


"Yang pasti meski matahari bisa dibelah menjadi 7, aku tidak akan pernah memilih wanita yang jenisnya sepertimu. Sampai mati aku akan tetap memilih istriku Marinka."


"Sebenarnya apa salah istriku padamu? dia begitu baik padamu Veronica," hardik Ezra.


"Itu kalau namanya benal velonca papa," ujar Rakha.


"Tapi tante ini namanya bukan Velonica, melainkan Jihan," sambung Rakha yang membuat mata Ezra dan Yuda terbelalak termasuk Jihan.


Gadis itu sangat syok, karena Rakha bisa tahu jati dirinya. Tapi dia bingung kenapa anak kecil itu sikapnya berubah tiba-tiba.


"Papa..."Teriak Ezka dan Rakha secara bersamaan.


Kedua anak Ezra langsung berhambur kepelukkannya. Rakha menatap Jihan kembali dengan tajam. Tatapan yang begitu mengerikan untuk ukuran seoarang anak kecil.


"Oh...jadi buronan mafia menyerahkan nyawanya sendiri," ujar Ezra dengan tatapan membunuh.


"Kamu pasti tidak akan menyangka, kalau ada saksi kunci yang melihat semua peristiwa ini, yang membuat semua rencana busukmu itu ketahuan dengan cepat. Karena saksi kunci peristiwa ini adalah putraku sendiri," sambung Ezra.


Rakha tiba-tiba menyeringai, dia jadi teringat awal mula kejadian itu hingga saat melihat Marinka dibuat jatuh kelaut.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2