
"Datang lagi tuh penggemar. Hati-Hati, jangan buat wanitamu cemburu. Bisa bahaya," ucap Yure.
"Mau apa dia datang kemari?" tanya Rakha.
"Ada masalah pada pembangunan resort di kota B." Jawab Yure.
"Suruh dia masuk!" ujar Rakha tanpa mengalihkan penglihatannya dari Laptop.
"Gadlyn mana?" tanya Yure.
"Ada di pantry. Aku menyuruhnya membuat kopi." Jawab Rakha.
Kriekkkk
Yure membukakan pintu untuk Valencia yang sudah menunggu di depan pintu. Gadis itu melangkahkan kaki dengan senyum mengembang di bibirnya. Valencia menggunakan blazer dengan dalaman belahan rendah. Dia juga menggunakan rok diatas lutut, seperti sengaja ingin menggoda Rakha.
Rakha melirik sekilas, kemudian matanya kembali mematut laptop di depannya. Setelah pekerjaannya selesai, Rakha berdiri dari kursi kebesarannya dan duduk disebelah Valencia.
"Ada masalah apa di proyek itu?" tanya Rakha sembari meraih berkas yang Valencia bawa.
Belum sempat menjawab, Gadlyn masuk keruangan itu dengan membawa secangkir kopi buat Rakha. Rakha memperhatikan jalan Gadlyn, dia tahu betul gadis seperti apa Valencia itu. Dia bisa melakukan apa saja, asalkan ada kesempatan untuk menindas saingan cintanya.
Beruntung kekhawatiran Rakha tidak terjadi. Gadlyn meletakkan kopi diatas meja dengan wajah datar.
"Siapa namamu?" tanya Valencia.
"Gadlyn." Jawab Gadlyn.
"Oh ya Gadlyn. Kamu buatkan juga aku kopi ya? kopi yang sama seperti yang kamu buat untuk tuan Rakha," ujar Valencia.
"Dia bukan OG. Kalau kamu mau kopi, biar aku suruh OG membuatkannya untukmu," ucap Rakha.
"Tidak perlu. Gadlyn pasti tidak keberatan membuatkan kopi untukku. Iya kan?" tanya Valencia sembari tersenyum palsu ke arah Gadlyn.
Gadlyn melirik kearah Rakha, dan diberi gelengan kecil oleh pria itu. Namun diluar dugaan pria itu, Gadlyn malah menerima perintah itu.
"Tidak masalah, tunggu sebentar!" ucap Gadlyn.
Rakha menahan amarahnya, karena Gadlyn tidak memperdulikan kode yang dia berikan. Rakha kemudian secepatnya membahas proyek yang sedang ditangani oleh pihak Valencia, agar urusan dengan gadis itu cepat kelar. Tidak berapa lama kemudian Gadlyn datang kembali dengan membawa secangkir kopi.
"Silahkan diminum nona," ujar Gadlyn.
"Duduklah di tempatmu. Kerjakan tugas yang aku berikan tadi," ucap Rakha.
"Baik tuan." Jawab Gadlyn.
Rakha dan Valencia kembali melanjutkan pembahasan mereka. Namun satu hal yang tidak Rakha sadari. Valencia sudah mengikis habis jarak diantara mereka, yang membuat Gadlyn jadi panas hati.
"Ehemm...tuan. Apa Ac kita ini rusak?" tanya Gadlyn.
__ADS_1
Rakha menoleh kearah Gadlyn yang matanya sudah melebar.
"Tidak. Ac nya selalu di service setiap bulan." Jawab Rakha.
"Tapi aku merasa hawa disini sangat panas," ujar Gadlyn.
"Ac nya baik-baik saja. Tolong jangan ganggu, kami sedang membahas proyek penting," timpal Valencia tidak senang.
Rakha mengerutkan keningnya, dia melihat wajah Gadlyn tampak tidak senang sembari menatap kearahnya. Lalu sesaat kemudian Gadlyn memberikan kode jari telunjuk melintang di lehernya.
"Nona Valencia. Aku rasa pembahasan kita cukup sampai disini saja. Pada intinya begitulah cara penanganan masalah di proyek itu. Maaf, saya punya janji lain soalnya," ujar Rakha.
"Silahkan diminum dulu kopinya nona Valencia. Sayang kalau nggak diminum, nanti mubazir," timpal Gadlyn dari arah mejanya.
Valencia yang kesal meraih cangkir kopi yang Gadlyn buatkan untuknya. Namun belum sempat Valencia meneguknya, kopi itu sudah Valencia semburkan.
"Ada apa?" tanya Rakha.
"Dapat darimana anda Serketaris bodoh seperti dia?" tanya Valencia sembari menyeka sisa kopi dibibirnya.
"Kenapa?" tanya Rakha yang tidak senang Valencia mengatai kekasihnya bodoh.
"Orang bodoh mana yang minum kopi semanis itu?" tanya Valencia sementara Gadlyn menahan tawa.
"Maaf nona Valencia. Kalau hal itu tolong anda tanyakan langsung pada tuan Rakha. Masalahnya tuan Rakha selalu minta dibuatkan kopi dengan 7 sendok gula. Berarti tuan Rakha bodoh ya?" tanya Gadlyn.
"Dasar gadis nakal. Aku pikir dia senang di tindas. Ternyata gadisku tidak seburuk itu," batin Rakha.
"Maaf tuan Rakha. Apa itu benar?" tanya Valencia memastikan.
"Hanya buatan dia saja. Kalau orang lain aku tidak suka juga." Jawab Rakha dengan wajah datar.
"Sebaiknya anda pulang dulu ya? saya masih ada urusan," sambung Rakha.
"Eh? i-iya." Jawab Valencia dan kemudian bergegas pergi.
"Kemarilah!" ujar Rakha.
"Tidak mau." Jawab Gadlyn sembari melengos.
"Sikap macam apa itu? kalau tidak mau kemari, maka kamu harus menghabiskan sisa kolak kopi yang kamu buat," ancam Rakha.
"Huuu...dasar diktator," ujar Gadlyn sembari mencebikkan bibirnya.
Gadlyn perlahan mendekat, dan tangannya segera ditarik oleh Rakha, hingga dirinya terduduk dipangkuannya.
"Sepertinya tadi ada yang cemburu. Hem?" tanya Rakha sembari membelai lembut wajah Gadlyn.
"Siapa yang cemburu? lagian kamu juga pasti senangkan dipepet-pepet sama semangka?" tanya Gadlyn.
__ADS_1
"Semangka? semangka siapa?" tanya Rakha.
"Nggak usah pura-pura juga kali. Mentang punyaku nggak sebesar dia," gerutu Gadlyn tapi masih bisa didengar oleh Rakha.
"Tidak besar, tapi sepertinya pas." bisik Rakha ditelinga Gadlyn.
Pukkk
"Apaan sih," Gadlyn tersipu sembari memukul pelan dada Rakha.
"Kamu tidak usah khawatir. Aku hanya menyukaimu. Tidak perduli wanita lainnya cantiknya seperti apa, tapi aku hanya menginginkanmu saja," ujar Rakha.
"Bibirmu manis sekali hari ini tuan Rakha. Hem?" tanya Gadlyn sembari mengalungkan tangan dileher pria itu.
"Akan lebih terasa manis, kalau kamu langsung mencicipinya," ujar Rakha kemudian mencium lembut bibir Gadlyn.
Dua insan itu saling berpagut mesra. Saling menyentuh, saling meraba satu sama lain. Saat sedang bercumbu mesra, hal tak terdugapun terjadi.
Krieekkkk
Dua insan yang lagi kasmaran itu tidak sadar, saat ada dua orang sudah masuk kedalam ruangan itu.
"Ehemmmm"
Mata Gadlyn langsung terbuka lebar, begitu juga dengan Rakha. Gadlyn bergegas turun dari pangkuan Rakha dan menoleh keasal sumber suara. Sementara itu wajah Rakha jadi memerah karena malu.
Jari jemari Gadlyn saling bertautan, sementara kepalanya senantiasa tertunduk karena malu.
"Apa kami sudah jauh ketinggalan informasi?" tanya Ezra yang saat ini sedang mengintrogasi sepasang sejoli itu.
"Pa...Uda...."
"Seharusnya kamu harus tahu tempat. Kamu adalah pemimpin perusahaan ini. Bagaimana jadinya kalau yang masuk adalah orang lain? bukankah disini ada ruangan pribadi? kamu terlalu ceroboh," ucap Ezra.
"Maaf pa." Jawab Rakha.
Marinka melirik kearah Gadlyn. Bisa wanita itu lihat, jari jemari Gadlyn bertautan disertai dengan getaran.
"Sebaiknya kalian menikah saja. Buat apa lama-lama berpacaran. Mama tidak suka kalau sudah ada kejadian seperti Ezka. Jadikan kasus Ezka sebagai pengalamab. Mama tidak mau terjadi hal memalukkan lagi," ujar Marinka.
"Me-Menikah? apa kalian merestui kami?" tanya Rakha.
Bukan apa-apa, Rakha tadinya sempat khawatir kalau-kalau orang tuanya menentang hubungannya dengan Gadlyn, karena masa lalu keluarga Gadlyn yang buruk dengan keluarganya. Itulah sebabnya Rakha belum mengutarakan hubungannya dengan Gadlyn pada orang tuanya.
"Jangan berpikiran konyol. Itu sudah jadi masa lalu. Gadlyn sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian dimasa lalu itu." Jawab Ezra.
"Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Marinka.
Rakha dan Gadlyn saling menoleh satu sama lain. Sesaat kemudian dua sejoli itu saling melemparkan senyum.
__ADS_1