Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.217. Liburan


__ADS_3

Seperti yang sudah di sepakati, Yure kini tengah berada di bandara. Yure ingin pergi liburan ke Paris, untuk menghilangkan suntuk dan juga sebagai penghilang rasa patah hatinya pada Ezka. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, Yure akhirnya sampai di Paris.


Yure memutuskan untuk mendatangi rumah Ando, agar dirinya memiliki teman dan tidak merasa kesepian.


"Wah..how are you bro?" tanya Anser yang tak lain putra dari Ando dan Sera.


"Baik. Kamu apa kabar?" tanya Yure.


"Fine. Masuklah!" ujar Anser, setelah melepaskan pelukkan mereka.


"Ma, ada Yure nih datang," seru Anser.


"Yure? kapan kamu datang nak?" tanya Sera.


"Barusan tante." Jawab Yure sembari mencium punggung tangan Sera.


"Bagaimana kabar Papa mama kamu? apa mereka semuanya sehat?" tanya Sera.


"Sehat tante. Emm...Yure boleh nginap di rumah tante kan?" tanya Yure.


"Ya harus dong. Ngapain kamu nginap di hotel atau di penginapan lainnya. Ini juga rumahmu." Jawab Sera.


"Makasih tante. Oh ya, om mana?" tanya Yure.


"Om lagi melakukan perjalanan bisnis ke negara lain." Jawab Sera.


"Kak Yure? kakak datang?" tanya Jelita


Seorang gadis berhambur ke pelukkan Yure.


"Wah...adikku sudah tumbuh jadi gadis cantik dan dewasa sekarang. Apa kalau tertawa masih suka kencing di celana?" Goda Yure.


Pukkkk


Jelita menepuk bahu Yure dengan bibir mengerucut.


"Apa nggak ada ingatan lain, selain yang satu itu. Sekarang Jelita sudah kuliah semester 4. Masa iya masih suka ngompol?" ucap Jelita.


Mendengar itu semua orang jadi terkekeh.


"Sudah waktunya makan siang. Ayo kita makan siang bersama," ujar Sera.


Jelita menggandeng tangan Yure, sembari berjalan menuju meja makan. Yure tahu sejak dulu Jelita menyukai dirinya, tapi Yure selalu menganggapnya seorang adik kecil.


"Tante dengar kamu mengikuti perjodohan yang di atur oleh orang tuamu?" tanya Sera sembari mengunyah makanannya.


"Ya. Tapi gagal." Jawab Yure.


"Baguslah kalau gagal. Kakak tunggu Jelita tamat kuliah saja, setelah itu kita menikah," timpal Jelita.


"Kamu ini. Kuliah saja yang benar, jangan mikir yang aneh-aneh." Jawab Yure sembari mengusap puncak kepala Jelita.

__ADS_1


"Tauk...mana mau Yure sama kamu. Dia itu butuh istri dewasa, pintar masak, nggak manja kayak kamu. Masak air saja bisa gosong," timpal Anser.


"Mama...lihatlah kak Anser meledekku lagi," ujar Jelita cemberut.


"Parah banget masak air bisa gosong," goda Yure.


"Ya iyalah. Orang masak air, setelah kompor hidup, dia tinggal shoping ke mall. Untung rumah nggak kebakaran," ujar Anser.


"Hisssttt kalian berdua ini, suka sekali menggoda adik kalian," ucap Sera.


"Kenapa bisa nggak cocok? jangan milih-milih, manusia itu nggak ada yang sempurna. Kalau mau mencari kesempurnaan dalam diri seorang gadis, kamu pasti akan sulit mendapat jodoh," tanya Sera.


"Sebenarnya Yure sudah menyukai seorang gadis, tapi sayangnya dia menolak Yure. Kini Yure baru merasakan nggak enak di tolak. Itulah sebabnya sepulang dari liburan ini, Yure mau minta diaturkan lagi perjodohan yang baru." Jawab Yure.


"Mengikuti perjodohan juga bukan hal buruk. Banyak juga yang cocok dan langgeng sampai maut memisahkan. Tapi kamu juga jangan memaksakan diri kalau memang tidak suka," ujar Sera.


"Iya tante." Jawab Yure.


*****


Satu minggu sudah berlalu, Kini Yure sudah kembali ke tanah air. Sesuai keinginannya, Yure kembali mengikuti perjodohan yang di atur oleh kedua orang tuanya, dan sudah mendapatkan kandidat yang menurutnya lumayan bisa diterima.


"Apa kamu yakin mau menerima perjodohan itu Yur? aku nggak mau kamu menyesal, hanya karena merasa di tolak oleh gadis impianmu itu," tanya Rakha.


"Sudah di putuskan. Lagi pula minggu depan acara pertunanganku dengan gadis itu. Aku tidak mungkin membatalkannya dan membuat malu kedua orang tuaku." Jawab Yure.


Rakha menghela nafas panjang. Sesaat kemudian pria itu meletakkan tangan di pundak Yure.


"Aku mendukung apapun keputusanmu Yur," ujar Rakha.


"Aku? menyukai dia? mana mungkinlah. Dia bukan tipeku. Kamu tahu sendiri latar belakang gadis itu seperti apa. Mamanya seorang residivis, papanya ada di rumah sakit jiwa. Memamgnya cocok dengan pria tampan dan sesempurna aku?" ucap Rakha


Tanpa Rakha tahu, semua ucapan yang dia lontarkan di dengar semua oleh Gadlyn dari balik pintu. Gadlyn hanya bisa menutup mulutnya, agar isak tangisnya tidak terdengar dari dalam. Gadlyn meninggalkan tempat itu dan pergi ke pantry.


"Munafik. Apa kamu fikir bisa membohongiku? aku bisa melihat kalau kamu sudah jatuh cinta dengan Gadis itu," ujar Yure.


"Kelihatan banget ya Yur?" tanya Rakha


"Ya iyalah. Aku sarankan kamu cepat ungkapkan perasaanmu padanya. Tapi jangan cara galakmu itu, yang ada dia akan kabur." Jawab Yure.


"Aku tidak mengerti bagaimana caranya. Kamu tahu sendiri aku tidak memiliki pengalaman sama sekali dengan seorang gadis," ujar Rakha.


"Bersikap manislah padanya, beri dia hadiah-hadiah kecil sebagai bentuk perhatianmu padanya," ucap Yure.


"Alah, kamu juga gitu dengan gadismu waktu itu? tapi apa? gagal kan?" tanya Rakha.


"Situasi kami berbeda. Kalau kamu masih punya kesempatan untuk merayu Gadlyn dengan cara itu." Jawab Yure.


"Baiklah. Aku akan mencobanya." Jawab Rakha.


Sementara itu di pantry, Gadlyn menangis terisak. Sikap baik dan perhatian Rakha sudah dia salah artikan selama ini.

__ADS_1


"Dasar bodoh. Bisa-Bisanya kamu berpikir harimau itu punya perasaan padamu. Ternyata aku ini cuma jadi bahan hinaan buat dia. Seharusnya kamu itu tahu diri Gadlyn, mana mungkin pria tampan, kaya raya seperti dia akan menyukai gadis sepertimu. Latar belakang keluargamu sangat buruk, keluarganya pasti tidak mau punya besan seperti orang tuaku. Jangankan berbesan, anaknya berpacaran denganku saja pasti akan langsung di tolak," batin Gadlyn.


Gadlyn membuat teh untuk dirinya sendiri. Saat sedang asyik menyesap tehnya sembari melamun, Rakha membuat panggilan pada ponselnya. Dengan hati dongkol dia menjawab panggilan telpon itu.


"Ada apa tuan?" tanya Gadlyn.


"Buatkan aku teh." Jawab Rakha.


"Baiklah." Jawab Gadlyn.


"Mau minta dibuatkan teh ya? karena kamu seenaknya saja menghina orang tuaku, lihat saja, aku akan membuat perhitungan denganmu," gerutu Gadlyn setelah panggilan itu terputus.


Gadlyn membuatkan Rakha teh, dengan takaran 5 sendok gula. Setelah selesai, dia membawa teh itu keruangan Rakha. Rakha memperhatikan mata Gadlyn yang terlihat merah dan sembab.


"Kamu kenapa? kamu habis nangis?" tanya Rakha.


"Tidak. Tadi mataku kelilipan, dan aku menguceknya." Jawab Gadlyn dengan wajah datar.


"Alasan apa itu? alasan jaman dulu banget. Apa dia pikir aku menjadi CEO dengan cara instan? sehingga aku tidak bisa membedakan orang yang habis menangis, dengan orang yang habis kelilipan?" batin Rakha.


Rakha meraih cangkir tehnya dan menyesap teh itu.


"Ya salammm...ada apa dengan gadis di dunia ini. Apa dia sungguh ingin aku mati muda? sabar Rakha, sabarrrr...kata Yure kamu nggak boleh pasang tampang galak, nanti dia takut padamu," batin Rakha.


Rakha memejamkan matanya, sembari meneguk teh sampai ke tenggorokkannya.


"Pasti kamu akan memarahiku kan harimau? kali ini aku akan melampiaskan semua kemarahanku padamu. Aku tidak perduli, meski kamu akan memecatku," batin Gadlyn.


"Terima kasih. Kamu bisa kembali bekerja," ujar Rakha sembari kembali sibuk dengan Laptopnya.


Gadlyn yang bingung, kembali duduk di mejanya. Meja yang berada dalam satu ruangan dengan Rakha.


"Ada apa dengan harimau ini? apa setelah lidahnya menghina orang, jadi ikut bermasalah dengan selera minumannya? biasanya dia akan mengataiku bodoh dan sejenis perkataan buruk lainnya, tapi kenapa kali ini dia diam? membuatku tambah takut saja," batin Gadlyn.


*****


Tang ting


Tang ting


Suara sendok dan garpu beradu dengan piring, saat Ezra, Marinka dan Ezka tengah makan malam bersama.


"Senang sekali hati Yuda dan Regia sekarang ini," ujar Marinka.


"Kenapa?" tanya Ezra.


"Yure menyetujui perjodohan dirinya dengan anak pengusaha batu bara. Minggu depan mereka rencananya akan menggelar pertunangan antara Yure dengan gadis itu." Jawab Marinka.


Uhukkk


Uhukkk

__ADS_1


Ezra tersedak saat mendengar perkataan Marinka. Marinka yang panik, langsung menyodorkan segelas air untuk putrinya itu.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2