
"Disinilah penyelidikkan awal akan dimulai," Yuda menyeringai saat dirinya tiba disebuah rumah sakit, tempat pertama kali Marinka bertemu dengan Jihan 4 tahun yang lalu.
Waktu itu Jihan baru saja keluar dari ruangan KIA, dan Yuda ingin tahu apa yang Jihan lakukan disana waktu itu.
"Kamu bisa membantuku kan?" tanya Yuda.
"Sebenarnya kami tidak boleh membocorkan informasi apapun tentang pasien kami pada orang luar. Tapi karena kamu dan ezra adalah temanku, aku jadi wajib menolongmu bukan?"
"Iya. Ini demi kebahagiaan teman kita juga. Lagipula tidak mengapa, kamu kan direktur rumah sakit ini juga,"
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku sudah menyuruh seseorang buat mencarikan berkas 4 tahun yang lalu, dan mengantarkannya kesini."
"Baguslah. Aku masih banyak waktu untuk menunggu,"
"Sebenarnya apa yang terjadi? bukankah Ezra sudah menikah dengan seorang gadis cantik? setidaknya itu yang kulihat dihari resepsi pernikahan mereka. Kenapa sekarang Ezra jadi ingin menikahi Jihan?"
"Itulah Masalahnya. Dia mencampakkan berlian, demi batu kali. Apa kau tahu? saat in the hoy, ternyata Jihan tidak perawan lagi. Itulah sebabnya si bodoh itu menyuruhku buat menyelidiki kekasih mata duitannya itu."
"Benarkah? sial sekali kalau begitu."
"Sudah berulang kali aku mengingatkan dia, tapi si bodoh itu sangat keras kepala. Dan inilah hasil dari keras kepalanya itu. Yang bikin sesak nafas adalah, selama hampir 4 tahun ini, sudah puluhan milyar dia habiskan untuk gadis murahan itu."
"Hah... kita juga tidak bisa menyalahkan Ezra. Saat jatuh cinta, semua omongan buruk tentang kekasih kita terdengar seperti sebuah hinaan untuk diri kita sendiri. Sekarang sudah sedikit terbuka mata hatinya, kita patut syukuri itu. Tuhan masih sayang padanya,"
"Kamu benar, hanya saja aku kadang masih merasa jengkel. Uang yang dia keluarkan untuk gadis itu, bisa buat naik haji orang satu kecamatan."
Mendengar itu Stevan jadi terkekeh. Sepertinya pria itu memahami satu hal, bahwa Yuda sangat tidak menyukai sosok Jihan.
"Kalau tahu gitu mending disumbangkan dirumah sakitku ya?"
"Huuu...bukan lagi van. Karuan bermanfaat buat orang yang membutuhkan. Andai kamu yang berada di dekat Ezra, pasti aku rasa kamu rela menjatuhkan dirimu kedalam sumur, saking betapa kesalnya menghadapi kebodohan pria satu itu."
Stevan tertawa keras mendengar banyolan yang Yuda lontarkan. Tawa itu mereda, ketika terdengar suara ketukkan dari luar pintu ruangannya.
"Masuklah!" ujar Stevan.
Seorang pria berpakaian serba putih masuk kedalam ruangan dengan membawa setumpuk berkas ditangannya.
"Tuan. Ini berkas dari ruang KIA 4 tahun yang lalu. Mulai dari bulan januari hingga desember."
__ADS_1
"Terima kasih," ujar Stevan.
"Apa kamu yakin dia keluar dari ruang KIA 4 tahun yang lalu?"
"Menurut informasi yang kudengar memang begitu."
"Baiklah, kita cari bersama kalau begitu. Kamu boleh pergi," ujar Stevan pada pegawai yang baru saja mengantarkan berkas itu.
Yuda dan Stevan mulai mencari satu persatu, lembar demi lembar buku yang bertuliskan nama Jihan disana.
"Sial. Mataku sampai pedih mencarinya, bulan januari saja tebal bukunya seperti ini. Kapan selesainya?" ucap Yuda.
"Benar, padahal sudah dibantu dengan kaca mata, tapi masih saja mata terasa perih. Apa tidak ada petunjuk lain"
Yuda tampak berpikir keras, agar mempermudah dalam pencarian mereka.
"Tunggu! biasanya siswa yang melakukan ujian nasional dibulan berapa ya?" tanya Yuda.
"Apa hubungannya dengan ujian nasional?" tanya Stevan.
"Saat kejadian itu, yang memberi informasi sedang melaksanakan ujian nasional."
"Kalau begitu kita hanya perlu membaca dibulan yang kamu sebutkan itu saja."
"Benar. Kalau kita baca semuanya, tentu seminggu kemudian baru selesai."
Sesuai petunjuk, Stevan dan Yuda membaca file yang dimulai dari bulan Maret hingga bulan mei saja.
Yuda menyunggingkan senyumnya, saat melihat nama Jihan tertera disalah satu kertas. Dan nama itu berada di urutan paling atas, karena saat kejadian Jihan memasuki ruangan itu pada pagi hari dan mendapat antrian pertama.
"Akhirnya ketemu juga. Tolong kamu jelaskan maksud dari tulisan ini," ujar Yuda.
Stevan meraih file itu dan membacakan maksud dan arti dari tulisan itu.
"Busyetttt disini tertulis usia Jihan baru 19 tahun, tapi gadis itu terdaftar menjadi akseptor KB IUD."
"KB IUD?" ulang Yuda.
"Ya. Semacam alat kontrasepsi yang diletakkan di rahim. Fungsinya tentu sama sengan alat kontrasepsi KB lainnya. Yaitu untuk mencegah kehamilan."
__ADS_1
"Dasar Ja**ng! berarti selama ini Ezra sudah tertipu mentah-mentah. Rasanya ingin keremukkan rahang gadis itu," gigi Yuda bergemeratuk, pria itu benar-benar emosi.
"Gila. Berani sekali gadis itu menipu Ezra, apa dia ingin membangunkan singa yang sedang tidur?"
"Gadis itu belum tahu saja, karena selama ini biasa dimanjakan dan Ezra selalu berbicara lemah lembut padanya. Tapi aku rasa sekarang tidak lagi, saat Ezra tahu, kemungkinan besar gadis itu akan dimasukkan kedalam sumur."
Lagi-Lagi Stevan tertawa keras mendengar ucapan Yuda.
"Baiklah Detektif Yuda, apa kamu perlu memfoto berkas ini?"
"Tentu saja. Ini salah satu barang bukti yang kutemukan bukan? jadi aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan."
"Lalu. Kemana lagi kamu akan menyelidikinya?"
"Aku ingin tahu, siapa yang sudah memakai gadis itu pertama kali."
"Bukankah dia seorang model? bisa jadi ada hubungannya dengan profesinya itu. Sudah jadi rahasia umum, kalau ingin meroket, maka harus merangkak dulu ketas ranjang bukan?"
"Kamu benar. Dan aku pasti bisa menemukan fakta itu."
"Semangat. Apa kamu juga sudah mengirim mata-mata untuk agensi yang di Amerika?"
"Tentu saja. Aku bahkan sudah mengirim orang untuk pergi ke Turki dan Paris untuk menyelidikinya. Pasalnya sudah dua kali Ezra keluar negeri dalam 2 bulan terakhir, tapi selalu secara kebetulan bertemu dengan Jihan. Wanita itu selalu beralasan ada pemotretan, seperti jadwalnya itu mengalahkan presiden Amerika saja."
"Kamu luar biasa Yud. Totalitas sekali kamu membantu Ezra."
"Bagaimana tidak totalitas? bertahun-tahun mulutku berbuih memperingatkan dia. Tapi telinganya seperti tersumpal biji kedondong, buat aku kesal saja. Nah...sekarang sudah waktunya giliranku beraksi, aku akan menamparnya dengan bukti-bukti yang sudah aku miliki."
"Aku Do'akan kamu berhasil Yud. Maaf, perkerjaanku sangat banyak, aku tidak bisa membantumu."
"Tidak masalah, tugasmu sangat mulia. Jadi kita sama-sama berjuang,"
"Ya."
"Ya sudah aku pergi dulu kalau begitu, terima kasih sudah membantuku Ven."
"Emm."Stevan mengangguk.
Yuda akhirnya pergi dari rumah sakit itu dengan senyum kemenangan. Dia seakan tidak sabar ingin tahu bagaimana reaksi Ezra saat tahu kebenaran tentang Jihan selama ini. Disisi lain Ezra sangat gelisah, Marinka masih saja tidak bisa dihubungi. Entah mengapa dia sangat merindukan Marinka, sosok istri yang belum resmi dia ceraikan itu.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...🤗🙏