Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.274. Bahagia


__ADS_3

Lagi-Lagi Moza meletakkan jari dibibirnya, saat keluarganya masuk kedalam ruangannya. Marinka dan Ezra tampak bahagia, karena putrinya sudah siuman dan terlihat lebih baik. Ezra dan yang lainnya memutuskan untuk kembali ke penginapan, agar tidak mengganggu moment Moza dan Anser.


"Ti-Tidak. Moza, jangan tinggalkan aku. Jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu, aku mencintaimu," Anser tampak mengigau dan berkeringat meskipun ruangan itu full ac.


Deg


Deg


Deg


Jantung Moza berdebar, saat mendengar ucapan Anser, meskipun itu hanya sebuah igauan.


"Dia mencintaiku? apa dia sungguh-sungguh? atau hanya karena mengigau?" batin Moza.


"Sepertinya dia sedang mimpi buruk. Dia ketakutan saat ini,"


Moza menatap kening Anser. Moza bersyukur, karena Anser tidak demam. Anser tiba-tiba membuka matanya saat ada seseorang yang menatap keningnya.


Tap


Anser mengangkat tangan Moza, dan menoleh kearah istrinya itu.


"Mo-Moza. Moza? aku tidak bermimpi kan?" Anser segera bangkit dari tempat duduk dan meraih wajah istrinya.


"Iya. Ini tidak mimpi. Kamu ini bagaimana, kamu mau jagain orang sakit atau mau pergi tidur di rumah sakit? kalau aku mati tidak ketahuan gimana?" Moza pura-pura mengomel.


Cup


Anser mencium bibir Moza, hingga istrinya itu berhenti mengomel.


"Jangan berkata sembarangan lagi. Aku tidak akan mengizinkanmu meninggalkanku,"


"Kenapa?" tanya Moza memastikan.


"Karena sepertinya hatiku tidak palsu lagi. Aku sangat takut kehilanganmu." Jawab Anser.


"Be-Benarkah?" tanya Moza.


"Emm. Bantu aku untuk memperdalam rasa ini," ujar Anser.


"Ya." Jawab Moza dengan mata berkaca-kaca.


"Hey...kenapa menangis. Hem?" tanya Asner sembari menyeka air mata Moza.


"Aku cuma berpikir. Apa aku harus mati dulu, baru bisa mendapat pengakuan darimu?" tanya Moza.


"Maafkan aku yang tidak peka dengan perasaanmu. Lain kali jangan lakukan itu lagi. Aku tidak butuh perlindungan seorang wanita. Apa kamu tidak tahu? rasanya jantungku sudah mau copot, saat melihatmu sekarat," ujar Anser.


"Aku hanya melakukan sesuai naluriku. mana mungkin aku membiarkan orang yang kucintai dicelakai didepan mataku," ucap Moza.


"Pokoknya jangan lagi lakukan itu. Aku akan memarahimu habis-habisan. Dan aku tidak akan perduli denganmu lagi," ujar Anser.


"Kedengarannya kejam sekali," ucap Moza.

__ADS_1


"Pokoknya jangan ya? kamu sangat berarti untukku," ujar Anser sembari membelai wajah cantik Moza.


"Oh ya aku harus menghubungi keluarga kita, agar mereka tahu kamu sudah siuman saat ini," ujar Anser.


"Tidak perlu. Mereka sudah tahu, karena mereka sudah kemari tadi," ujar Moza.


"Me-Mereka sudah kemari? kapan?" tanya Anser.


"Saat kamu tertidur." Jawab Moza.


"Astaga. Mereka pasti mengira aku tidak menjagamu dan meninggalkanmu tidur," ujar Anser sembari menepuk dahinya.


"Tidak apa. Mereka pasti mengerti kamu sudah lelah menjagaku." Jawab Moza.


"Apa lukamu masih sakit. Hem?" tanya Anser sedikit meraba bagian perut Moza.


"Masih." Jawab Moza.


"Hah. Nggak bisa indehoy dong," ujar Anser yang dijawab pelototan mata oleh Moza.


"Kamu ini. Aku lagi sakit, masak mikirnya gitu?" tanya Moza.


"Ya kan sesuai perjanjian, kalau aku sudah mencintaimu, maka aku boleh menyentuhmu." Jawab Anser sembari terkekeh.


"Sepertinya kamu harus puasa dulu sampai 6 bulan kedepan," ujar Moza asal.


"Ap-Apa? kok selama itu? kamu tahu darimana?" tanya Anser.


"Kan sepertinya." Jawab Moza dengan senyum nakal


Kriekkkkk


Suara pintu dibuka dari luar. Tampak Meiza dan Ilyas datang menjenguk Moza.


"Moza. Kamu sudah sadar?" tanya Meiza dengn senyum semringah.


"Ya kak. Mama papa mana?" tanya Moza.


"Ada dibelakang. Mereka mau pergi menemui dokter dulu, untuk menanyakan kesehatanmu." Jawab Meiza.


"Bagaimana dengan perutmu? apa masih sakit?" tanya Meiza.


"Masih." Jawab Moza.


Tidak berapa lama kemudian Ezra dan Marinka masuk kedalam untuk melihat keadaan putri mereka.


Cup


Ezra mencium kening putrinya sembari mengusap puncak kepala Moza.


"Mana yang sakit. Hem?" tanya Ezra.


"Luka diperutku masih sakit pa." Jawab Moza.

__ADS_1


"Tidak apa. Kamu kuat, pasti akan cepat sembuh nantinya. Lain kali jangan beri ampun musuh-musuhmu. Jangan terlalu lembek, Kalau melihat musuh sudah bawa senjata tajam, kamu lubangi saja kepalanya," ujar Ezra


"Sayang. Kamu gimana sih? kok malah ngajarin anaknya nggak benar?" tanya Marinka.


"Kenapa? daripada putriku yang celaka, lebih baik anak orang yang celaka." Jawab Ezra asal.


Marinka hanya bisa menepuk dahinya. Marinka tahu Ezra sangat sedih atas musibah yang menimpa putrinya. Dia tidak bisa membayangkan jika seandainya orang yang sudah mencelakai putrinya berhasil tertangkap.


"Bagaimana pa hasil penyelidikan uda Rakha? apa sudah ada titik temu?" tanya Anser.


"Sedikit lagi. Kamu tenang saja, sebentar lagi mereka pasti tertangkap." Jawab Anser.


"Tidak perduli sejauh apa mereka bersembunyi, tidak perduli seperti apa mereka memakai topeng, semuanya akan terkuak sebentar lagi," sambung Ezra.


"Topeng?" tanya Moza penasaran. Dia tahu betul Setiap kata yang keluar dari mulut Ezra pasti mempunyai makna.


"Sudah dicurigai, ada seseorang yang membantu para penjahat itu memuluskan semua rencana mereka. Ini bukan kota kita, ini kota orang lain. Darimana mereka tahu kalian berada disini, kalau bukan mendapat informasi dari seseorang." Jawab Ezra.


Entah mengapa Anser jadi menoleh kearah Ilyas. Pria itu seperti menyimpan kecurigaan pada Ilyas.


"Siapapun orangnya jangan pernah memberinya ampun. Kalau orangnya sudah ketemu, izinkan aku memukulinya juga," timpal Meiza.


"Bagaimana kalau pelakunya suamimu?" tanya Anser tiba-tiba yang membuat mata Meiza jadi terbelalak.


"Apa yang kamu katakan? aku tahu kamu membencinya, tapi tidak boleh juga berkata sembarangan?" tanya Meiza.


"Kenapa kamu marah? aku kan bicara


kalau. Aku ingin tahu mau kamu apakan suamimu jika terbukti dialah yang membantu orang itu. Atau bahkan dia sendirilah dalangnya," tanya Anser.


"Meski itu suamiku, aku tidak akan mengampuninya. Aku akan menceraikannya." Jawab Meiza.


Jderrrrrr


Ucapan Meiza seperti petir di telinga Ilyas.


"Tapi aku yakin suamiku tidak akan mengecewakan aku," sambung Meiza.


"Semoga saja," ujar Anser sembari tersenyum sinis.


"Mama pijiti! kakiku pegal," ujar Moza yang ingin mencairkan suasana tegang.


"Biar Anser yang lakukan ma. Mama duduk saja," ujar Anser yang langsung meraih kaki Moza untuk dia pijat.


"Pijatnya agak kuat sedikit. Kenapa lembek sekali," ucap Moza yang ingin mengerjai Anser.


"Kamu kok gitu ngomongnya dengan suamimu?" tanya Marinka.


"Iya ma. Marahin saja dia. Dia selalu menindasku, mentang-mentang bisa ilmu bela diri," timpal Anser.


"Huuu...tukang ngadu," ujar Moza dengan bubir mengerucut.


Krieekkkkkk

__ADS_1


Rakha menekan Handle pintu dan semua orang menatap kearahnya. Namun anehnya Rakha malah menatap kearah Ilyas.


To be continue.... 🤗🙏


__ADS_2