
Sebelum lanjut, Author ingin mengucapkan banyak terima kasih pada semua teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Karena sudah memberikan dukungan untuk Author, agar saya semangat dalam membuat karya. Tanpa dukungan dari kalian, apalah artinya saya tanpa kalian. Makasih ya teman-teman love you allπππ
*****
Setelah mondar mandir seperti setrikaan cukup lama, akhirnya Rehan merasa sedikit lega. Perasaan Rehan masih harap-harap cemas, ketika seorang dokter keluar dari pintu ruang tindakkan.
"Apa anda suaminya?"
"Suami? ah...ya, saya suaminya." Jawab Rehan asal.
"Silahkan masuk! saya perlu bicara dengan kalian berdua."
"Apa istri saya sudah siuman?"
"Ya. Dia baru saja siuman,"
Dokter Hasan kembali duduk dikursi, sementara Rehan melihat keadaan Marinka.
"Re...aku kenapa?" tanya Marinka yang merasakan sedikit pusing di kepalanya.
"Aku tidak tahu, dokter ingin bicara pada kita berdua."
"Bantu aku duduk,"
"Apa kamu tidak apa-apa? kalau masih pusing, kamu berbaring saja. Biar aku yang bicara sendiri dengan dokternya."
"Aku tidak apa-apa, cuma agak sedikit pusing."
Rehan membantu Marinka untuk duduk ditepi tempat tidur pasien. Setelah itu Marinka turun dengan menggunakan bantuan tangga kecil dan juga tangan Rehan.
"Silahkan duduk. Apa sakit kepalanya sangat mengganggu? kalau memang sangat mengganggu, saya sarankan untuk di opname saja."
"Tidak dok, saya baik-baik saja. Hanya sedikit pusing saja,"
"Sebentar lagi hasil cek lab nya akan diantar petugas, semoga berjalan normal dan tidak ada penyakit yang serius," ujar Dokter Hasan.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!"
Kriekkkk
Seorang perawat berseragam putih-putih memasuki ruangan, dan membawa sebuah amplop berwarna putih.
Dokter Hasan meraih amplop itu dan membukanya. Setelah membaca hasilnya, dokter hasan menyunggingkan senyumnya dan mengalihkan pandangannya pada Marinka.
"Sesuai dugaan saya, Ternyata anda memang sedang mengandung saat ini. Selamat nyonya Marinka."
__ADS_1
Jderrrrrr
Perkataan dokter Hasan, seperti sebuah bom molotov yang meledakkan perasaan Marinka. Berita yang tidak disangka-sangka itu membuat Marinka mematung, tidak terkecuali dengan sang sahabat.
Rehan menoleh kearah Marinka, pria itu tahu sahabatnya itu semakin dalam dilema yang besar.
"Ha-Hamil?"
"Ya. Anda sedang hamil sekarang, apa anda senang?"
"Senang? ya, saya sangat senang." Jawab Marinka dengan air mata yang jatuh tanpa di komando.
Marinka jadi mengingat-ingat saat kejadian itu, Marinka memang tengah dalam masa subur. Dan pada saat kejadian itu, tidak seorang pun diantara mereka yang menggunakan pengaman.
"Anda saat ini sedang hamil 6 minggu. Ini masih sangat rentan, jadi anda harus berhati-hati. Perhatikan pola makan, perbanyak makan sayur dan buah."
"Ah...ya terima kasih dok." Jawab Marinka.
"Saya akan memberikan resep vitamin, anda bisa menebusnya di Apotek."
"Terima kasih dok."
Setelah mendapatkan resep dan menebusnya, Marinka jadi banyak diam saat berada didalam mobil bersama Rehan.
Marinka melihat disekelilingnya saat Rehan membuat mobil pria itu berhenti kesuatu tempat, yang sama sekali tidak asing bagi wanita itu.
"Kenapa kamu membawaku kesini?" tanya Marinka.
Tanpa banyak bicara, Marinka menuruti apa yang Rehan katakan. Kini Rehan dan Marinka tengah duduk disebuah kursi panjang, tepat dibawah sebuah pohon besar.
Marinka tiba-tiba merebahkan kepalanya di bahu Rehan yang membentang, air mata Marinka lagi-lagi terjun bebas tanpa bisa dikendalikan.
"Sekarang aku harus bagaimana Re?"
"Bagaimana apanya? tentu saja kamu harus memberitahu suamimu tentang kehamilanmu. Kamu tidak ingin berencana mendiamkannya bukan?"
"Tapi bagaimana dengan wanita itu? aku pasti akan menyakitinya, kalau sampai suamiku memilihku karena ada anak ini."
"Wanita itu harus mengerti, lagipula kamu adalah istri sah dari suamimu. Tidak ada salahnya kamu mempertahankan rumah tanggamu demi anak kalian."
"Tapi aku tidak ingin suamiku bertanggung jawab karena terpaksa, dia tidak mencintaiku Re...bagaimana aku bisa hidup dengannya tanpa ada rasa cinta dihatinya."
"Tapi kamu mencintainya bukan?"
"Aku sudah pernah merasakan cinta sepihak, dan itu benar-benar tidak enak dan menyakitkan."
"Lalu apa rencanamu? apa kamu ingin menggugurkan anak ini?"
"Apa yang kamu katakan? ini darah dagingku, bahkan jika aku tidak bersuami seumur hidupku, aku tidak akan pernah membunuh anakku sendiri."
"Maaf,"
__ADS_1
Marinka menghela nafas, jujur saja dia sangat bahagia karena didalam rahimnya sudah tumbuh janin yang merupakan buah cintanya dengan Pria yang sangat dia cintai.
"Jadi menurutmu aku harus bagaimana Re?"
Marinka sedikit melunak, karena dia sendiri bingung harus melakukan apa saat ini.
"Kalau menurut saranku, kamu harus memberitahukan hal ini pada suamimu. Walau bagaimanapun dia berhak tahu, karena ini juga anaknya. Soal dia mau menerima atau tetap memilih wanita itu, itu urusan dia. Yang terpenting kamu sudah tidak memiliki hutang penjelasan lagi dengannya."
"Kamu benar juga Re. Aku tidak perduli bagaimana hasil keputusannya, karena aku sadar posisiku ini bagaimana. Aku juga tidak mungkin memaksa dia agar terus bersamaku bukan?"
"Bagus. Jadilah wanita yang kuat Marinka, ingat ! meskipun pada akhirnya dia tetap memilih wanita itu, jangan pernah memperlihatkan air matamu dihadapan mereka. Datanglah padaku, aku akan membantumu."
"Terima kasih Re...Hikz...."
Marinka berhambur kedalam pelukkan Rehan. Rehan mengusap puncak kepala sahabatnya itu. Meskipun dia seorang pria, dia bisa merasakan, bagaimana pedihnya hati Marinka saat ini.
"Sekarang kamu aku antar pulang ya?"
"Emm. Aku ingin memberitahunya sekarang juga setelah dia pulang kerja nanti."
"Bagus. Sekarang baru jam 2 siang, masih ada waktu buat kamu memberikan kejutan untuk suamimu itu."
"Ya. Aku sangat berharap, dia juga bahagia mendengar berita kehamilanku ini." Marinka mengelus perutnya yang masih rata.
Sepanjang perjalanan pulang, Marinka membayangkan sesuatu yang indah saat dirinya memberitahu kehamilannya pada Ezra. hayalan-hayalan itu mampu membuat dirinya tersenyum bahagia.
"Kalau sampai Ezra menolak Marinka, fiks pria itu tololnya tidak ada duanya. Kalau aku jadi dia, kalau aku mencintai gadis lain, kenapa aku tidak bisa mencintai istriku sendiri? lagipula tidak masuk akal sekali, tidak mencintai tapi mau menyentuh Marinka. Apa sebenarnya pria itu tipe buaya darat, buaya buntung, atau siluman buaya?" batin Rehan.
"Ka...seandainya dia menolakmu, maukah kamu pindah ke Paris?"
"Paris?"
"Ya. Ya ini seandainya saja, bukankah kita harus memikirkan hal terburuknya dulu bukan?
"Aku akan tinggal dengan siapa disana? aku tidak memiliki sanak saudara disana."
"Kamu tenang saja. Jangan pikirkan masalah itu, apa disini kamu tidak memiliki orang yang bisa dipercaya?"
Marinka tiba-tiba teringat akan sosok sahabatnya yang sudah lama tidak dia temui dan tidak dia berikan kabar.
"Ada."
"Bagus. Langkah selanjutnya kita pikirkan nanti saja, kita harus tahu dulu apa keputusan suamimu itu. Tapi Marinka, aku ingin katakan satu hal padamu. Kalau dia benar-benar menolakmu, atau di menyakiti hatimu baik sengaja maupun tidak disengaja, aku tidak akan pernah setuju kamu kembali bersamanya suatu saat nanti."
Marinka hanya diam saja, dia tahu betul apa yang Rehan ucapkan merupakan wujud dari rasa sayang pria itu terhadap dirinya sebagai seorang sahabat.
"Aku tahu...aku tahu dia tidak akan mungkin memilihku, meskipun aku memberitahu tentang anaknya yang ada didalam kandunganku."
Lagi-Lagi air mata bening itu kembali jatuh. Marinka seakan sudah bisa merasakan penolakkan yang akan dia terima kedepannya nanti.
TO BE CONTINUE...π€π
__ADS_1