
"Ap-Apa? Il-Ilyas koma?" Meiza syok berat saat mendengar berita itu dari kepala rumah sakit.
"Kenapa kamu tidak memberitahu kami? bukankah kamu tahu dia adalah menantu dari keluarga Hawiranata? pemilik dari rumah sakit ini?"tanya Ezra yang diliputi rasa amarah.
"Ma-Maafkan saya tuan. Itu amanat dokter Ilyas sebelum dia tidak sadarkan diri. Dia tidak ingin anda tahu, terlebih dengan nona Meiza." Jawab kepala rumah sakit dengan bibir bergetar.
"Ke-Kenapa dia tidak ingin aku tahu?" tanya Meiza.
"Sepertinya dia sudah merencanakan hal ini dari awal. Sayangnya perhitungannya gagal, dan berakhir koma." Jawab pria itu.
"Apa maksudmu dengan merencanakan dari awal?" tanya Ezra.
"Menurut saksi mata yang melihat kejadian itu. Dokter Ilyas sengaja berlari ke tengah jalan, saat sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi. Dan juga terdapat cctv di dekat situ. Sudah di pastikan kalau dokter Ilyas sengaja bunuh diri." Jawab pria itu.
Tubuh Meiza terhuyung kebelakang. Beruntung ada Ezra yang menangkap tubuh putrinya itu. Dapat Ezra lihat, wajah Meiza memucat.
"Saat melepaskan pakaiannya untuk dilakukan operasi, dokter Ilyas sempat sadarkan diri sebentar. Beliau bilang jangan memberikan kabar pada keluarga Hawiranata, terutama pada nona Meiza. Dan dia juga menitipkan ini untuk nona Meiza," sambung pria itu.
Meiza melihat ada sepucuk surat untuknya yang bertuliskan 'Teruntuk Meiza Tersayang'. Tangan Meiza bergetar saat meraih surat itu. Dia begitu ketakutan saat ini. Dibukanya perlahan surat itu, dan ia baca dengan air mata yang sudah jatuh lebih dulu.
Dear istriku tersayang...
Saat kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah mati dengan cara mengenaskan. Seperti yang kamu inginkan, agar mendapat maafmu aku memilih jalan ini untuk menuju kematianku.
Maafkan aku sayang...
Aku tidak bisa lagi menemanimu. Aku belum bisa mewujudkn keinginamu yang ingin pergi ke Jepang bersamaku, untuk melihat bunga sakura bersama.
Sayang...
Aku tidak pernah menyesal melakukan ini demi kamu, meskipun saat ini aku sedang disiksa dineraka. Aku hanya ingin membuktikan padaku, kalau aku sungguh-sungguh mencintaimu. Dan tidak bisa hidup tanpamu.
Sudah dulu ya sayang...aku sangat lelah. Selamat tinggal. Dari yang mencintaimu, Ilyas Subrata.
Brukkkkk
Tubuh Meiza merosot ke lantai. Wanita itu menangis histeris.
"Sayang. Kendalikan dirimu," ujar Ezra
"Aaaaaaaaakkkhh...aaaaaaakkkhh..." teriak Meiza.
"Sayang...hey...kamu tidak boleh seperti ini," ujar Ezra panik saat melihat putrinya yang sangat histeris.
__ADS_1
"Pa. Ini semua gara-gara Meiza. Hikz ..aku nggak mau kehilangan dia pa. Aku nggak mau dia ninggalin aku. Hikz...." Meiza terisak.
"Dimana Ilyas dirawat?" tanya Ezra.
"Ikut saya," ujar kepala rumah sakit.
Ezra dan Meiza kemudian mengekor dibelakang pria itu hingga sampai diruang ICU. Dengan tidak sabar Meiza menggunakan seragam khusus dan masuk keruangan dimana Ilyas dirawat secara intensif.
"Sayang bangun. Jangan tinggalin aku. Maafin aku ya? aku nggak mau sendirian tanpamu. Maafkan semua ucapan bodohku, pelase jangan seperti ini. Aku nggak bisa melihatmu begini. Hikz...." Meiza menggenggam tangan ilyas sembari terisak.
"Sungguh aku nggak bermaksud mengatakannya. Saat itu aku hanya sedang marah. Kamu paling tahu, kalau aku sangat mencintaimu. Jadi ku mohon bangunlah. Hikz...."
Ezra meraih pundak putrinya dan membawa wanita itu dalam pelukkannya.
"Pa katakan pada Ilyas. Dia selalu menghormati papa bukan? katakan padanya agar bangun sekarang juga. Aku mohon katakan padanya. Hikz...."
"Bersabarlah. Anggap ini ujian rumah tanggamu. Banyak-Banyaklah berdo'a, agar dia segera diberi kesembuhan," ujar Ezra sembari mengusap puncak kepala putrinya itu.
"Sebaiknya kita pulang, dan kamu beristirahatlah dirumah," sambung Ezra.
"Nggak pa. Aku mau nungguin Ilyas disini. Kasihan dia sendirian disini," ujar Meiza.
"Apa kamu yakin?" tanya Ezra.
"Mei istrinya pa. Sudah seharusnya Mei melakukan itu. Mei nggak mau kecolongan lagi." Jawab Meiza.
"Baiklah. Aku akan menyuruh orang buat mengatar keperluanmu selama disini," ujar Ezra.
"Makasih pa," ujar Meiza.
Ezra kemudian meninggalkan Meiza. Dan memberitahu Keluaraganya tentang kejadian yang menimpa Ilyas. Sementara itu Meiza Masih dengan setia menunggu Ilyas di rumah sakit.
*****
6 bulan Kemudian....
Oekkk
Oekkk
Oekkk
Seorang bayi laki-laki lahir dengan selamat dari rahim Vania. Yugie dan Vania sangat bahagia saat ini. Dan merekapun memberi nama putra mereka dengan nama Yuvan Bagaskara.
__ADS_1
"Lihatlah dia. Hidungnya sama sepertimu, kecil tapi bangir," ujar Yugie.
"Dan bibirnya sangat mirip denganmu. Sexy," ujar Vania sembari mengedipkan mata.
"Sayang. Aku mohon jangan menggodaku, masa nifasmu masih lama bukan? aku tidak mau bersolo karier di kamar mandi," ujar Yugie.
"Dasar mesum. Itu saja yang kamu pikirkan," ujar Vania cemberut.
"Ya mau bagaimana lagi. Kamu itu sudah ibarat rokok, sudah bikin aku kecanduan," ujar Yugie terkekeh.
Krieeekkkk
Keluarga besar Yuda dan keluarga besar sudirjo datang berkunjung. Mereka sangat bahagia atas kelahiran cucu mereka. Mereka tidak henti-hentinya menimang cucu secara bergantian.
Sementara itu di tempat berbeda Gadlyn tengah mengalami masa-masa berat. Saat ini dia tengah menunggu jadwal operasi anak kembarnya. Sejak hamil besar, Rakha lebih sering diam di rumah. Dia ingin menjadi suami siaga.
"Sayang potongin aku buah apel ya?" ujar Gadlyn.
"Tunggu sebentar," ujar Rakha yang lansung turun dari tempat tidur.
Rakha bergegas turun kebawah, dia ingin melakukan sendiri apa yang di inginkan oleh istrinya itu. Dengan telaten dia selalu melakukan apapun keinginan Gadlyn, bahkan yang tidak masuk akal sekalipun.
"Buka mulutmu," ujar Rakha yang ingin menyuapi Gadlyn potongan buah.
"Biar aku saja sayang. Aku ini hamil, bukan sakit," ujar Gadlyn.
"Tidak apa. Aku senang melakukannya," ucap Rakha.
"Maaf ya. Karena susah gerak, aku selalu merepotkanmu," ujar Gadlyn.
"Jangan bilang begitu. Andai penderitaanmu bisa dipindahkan padaku, lebih baik aku saja yang merasakannya," ucap Rakha.
"Aku bahagia sekali mempunyai suami sepertimu. Tuhan maha baik menganugrahkan aku pria hebat sepertimu," ujar Gadlyn dengan mata berkaca-kaca.
"Hey...jangan menangis. Nanti anak kita cengeng. Kita ini sama-sama beruntung. Itulah sebabnya aku memilihmu jadi istriku, karena kamu wanita yang istimewa," ucap Rakha sembari menyeka air mata Gadlyn.
"Sekarang ayo suapi aku," ujar Gadlyn yang sudah membuka lebar mulutnya.
Rakha menyuapi Gadlyn dengan senang hati, sampai semua potongan buah itu tandas.
*****
Blammmmmm
__ADS_1
Mata Ilyas terbuka secara tiba-tiba. Mata pria itu menatap langit-langit yang serba putih, juga suasana ruangan yang sangat sunyi. Ilyas perlahan duduk, dan melepas semua alat bantu yang menunjang kehidupannya.
"Jadi aku belum mati? Meiza...." ucap Ilyas lirih.