Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.37. Kentut


__ADS_3

"Ma, pa, Marinka pulang dulu ya? takut bang Ezra keburu pulang, Inka belum nyiapin makan malam buat dia,"


"Ya hati-hati ya?"


"Emm."


Marinka mencium tangan Masayu dan juga Baskoro yang mengantarnya hingga depan teras rumah. Tidak berapa lama kemudian taksi online yang dia pesan datang, karena Marinka menolak untuk diantar menggunakan supir pribadi Masayu.


Tepat pada pukul 4 sore, Marinka tiba dikediamannya, beruntung Ezra belum pulang, jadi Marinka bergegas membersihkan diri dan masak untuk makan malam suaminya.


Setelah selesai Marinka yang teringat ada tugas menggambar, segera mengerjakan disign itu dengan sungguh-sungguh. Dengan susah payah dia menuangkan semua imajinasinya kedalam sebuah kertas gambar, hanya untuk menghasilkan gambar yang terbaik dan tidak mengecewakan.


Waktu menunjukkan pukul 8 malam ketika Ezra tiba dirumah, saat tiba didepan pintu bukan Marinka yang menyambut kedatangannya melainkan seorang pelayan.


"Kemana nyonya?"


"Nyonya ada diatas tuan, setelah masak untuk makan malam, beliau belum turun lagi."


"Apa dia sudah makan malam?"


"Belum Tuan."


"Ya sudah, kalian silahkan beristirahat."


"Ya Tuan."


Ezra perlahan menaiki anak tangga, Ezra memang lupa memberitahu Marinka bahwa dirinya pulang sedikit terlambat hari ini."


Krieeeekkkk


Ezra membuka pintu kamarnya perlahan, dan mendapati Marinka tengah tertidur diatas sebuah meja. Ezra meraih sebuah kertas yang sedang Marinka gambar, pria itu menyunggingkan senyumnya saat melihat hasil yang Marinka gambar.


"Sepertinya dia sangat bekerja keras untuk membuat gambar sebagus ini," Ezra memindahkan kertas itu kesebuah map, agar tidak kotor dan ketumpahan air.


Perlahan dia memindahkan Marinka keatas tempat tidur, namun insiden tak terdugapun terjadi.


Broooooootttt


Marinka tanpa sadar kentut dengan suara yang lumayan besar. Mata Ezra terbelalak, karena seumur hidupnya baru Marinka yang berani kentut didepannya. Namun bukannya marah Ezra tiba-tiba tertawa keras, hingga membuat Marinka terkejut dan bangun seketika.


"Maaf, abang sudah membangunkanmu. Tapi abang benar-benar tidak bisa menahan untuk tertawa."


"Abang sudah pulang? maaf ya bang, adek ketiduran. Tadi habis mendisign buat tugas proyek dikampus."


"Tidak apa-apa, sepertinya kamu sedang masuk angin karena belum makan malam."


"Masuk angin?"


"Kamu belum makan malam kan?"


"Belum? abang sudah?"


"Belum juga. Abang mandi bentar, setelah itu kita makan malam bersama." Ezra terpaksa berdusta, karena sebenarnya dia sudah makan malam bersama rekan bisnisnya. Dia tidak ingin mengecewakan Marinka yang selalu menunggunya buat makan malam bersama.


"Kalau gitu adek nunggu dibawah ya bang? mau panasin masakan yang perlu dipanasin, abang nyusul kebawah saja nanti."


"Ya."

__ADS_1


Marinka bergegas turun kebawah, sementara Ezra masih tidak bisa menahan tawanya ketika berada dalam kamar mandi saat mengingat Marinka kentut besar didepannya.


"Ini sejarah besar, seorang pengusaha nomor satu dikentuti oleh seorang wanita," ujar Ezra.


Ezra segera bergegas menyudahi mandinya. Dia tidak ingin Marinka terlalu lama menunggu, karena takut istri kecilnya itu akan sakit karena terlambat makan malam.


Tap


Tap


Tap


Ezra menuruni anak tangga, dan melihat Marinka yang tampak sibuk menyiapkan makan malam diatas meja.


"Apa yang kamu masak?"


"Seafood kesukaan abang,"


"Pasti enak banget ini, ayo kita makan! abang sudah sangat lapar,"


"Ya."


Marinka menuangkan nasi kedalam piring Ezra dan menaruh lauk beserta sayur kedalam piring itu.


"Mampus, ini namanya sengsara pembawa nikmat. Akibat berbohong, aku harus memakan ini semua. Kalau nggak Marinka pasti akan sedih," batin Ezra.


Ezra perlahan mengunyah makanannya, masakan Marinka memang tidak dia ragukan lagi kelezatannya. Tapi karena posisi perutnya yang sedang kenyang, makanan itu terasa ingin tertolak kembali.


"Abang kenapa? apa abang sakit?"


Marinka melihat Ezra yang seperti tidak bernafsu, mengira pria itu sedang sakit.


"Kalau begitu habiskan! kalau kurang ntar nambah lagi,"


"Cukup! nanti perut abang bisa meledak,"


"Ya sudah cepat habiskan makanannya, setelah itu kita pergi beristirahat."


"Emm."


Dengan susah payah Ezra menghabiskan makanannya, akhirnya makan malam itu berakhir juga meskipun terasa sesak penuh diperutnya.


"Kenyang bang?" tanya Marinka ketika melihat Ezra yang berbaring sembari mengelus perutnya yang terlihat kencang.


"Banget."


"Syukurlah, adek senang kalau abang kenyang itu berarti adek nggak buat abang kelaparan."


"Makasih ya dek."


"Sama-Sama bang."


"Oh ya disign yang adek buat, abang taruh dalam map itu."


"Makasih bang, gimana menurut abang? apa disignnya bagus?"


"Bagus. Sudah sangat layak untuk dibuat dengan aslinya,"

__ADS_1


"Ah...abang bisa aja nih."


"Beneran."


"Ya tapi besok harus lihat hasil punya teman dulu, baru bisa menentukan mau pakai disign mana untuk proyeknya nanti."


"Moga proyeknya sukses ya?"


"Amiin."


"Ya udah kita bobok yuk? adek ngantuk banget ini,"


"Emm."


Marinka yang mengantuk begitu cepat tertidur, Ezra menatap wajah polos Marinka, kemudian diam-diam mencium kening wanita itu.


"Semoga kebahagian selalu menghampirimu saat kita sudah berpisah nanti, kamu wanita yang baik, siapapun yang mendapatkanmu akan merasa beruntung. Andai saja...."


Ezra menghembuskan nafas keudara, dia tidak ingin meneruskan andai-andainya karena merasa punya hati lain yang ingin dia jaga. Dia tahu betul dirinya sangat mencintai Jihan karena hubungan mereka sudah terjalin begitu lama.


Ezra meraih tubuh Marinka dan memeluk erat wanita itu, entah mengapa mendekap wanita itu mampu membuatnya terbius dan cepat tertidur. Ezra ingin melupakan kepenatan yang dia rasakan saat bekerja. dan benar saja , dirinya tiba-tiba merasakan serangan kantuk yang luar biasa hingga tidak sadar tertidur lelap.


*****


Blammmm


Marinka membuka matanya saat merasakan hembusan hangat menerpa wajahnya. Wajah didepannya begitu sangat dekat, sehingga dia bisa merasakan nafas hangat itu mengenai tiap inci pori-pori kulitnya.


Deg


Deg


Deg


Jantung Marinka berdegup dengan kencang saat merasa jarak mereka saat ini terlampau dekat, bahkan hanya beberapa centi saja bibir mereka nyaris bersentuhan.


Entah apa yang merasuki Marinka, tiba-tiba saja wanita itu menempelkan bibirnya ke bibir Ezra, kemudian secepat mungkin menariknya.


"Astaga...apa yang aku lakukan? untung saja bang Ezra nggak kebangun, kalau nggak matilah aku. Dia pasti mengira aku mencari kesempatan dalam kesempitan," ujar Marinka lirih.


Marinka bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri.


Blammmm


Mata Ezra tiba-tiba terbuka, saat tahu Marinka sudah memasuki kamar mandi. Perlahan Ezra meraba bibirnya, bibir yang baru saja dicium oleh istri kecilnya. Entah mengapa tidak ada perasaan marah dalam dirinya, malah ada perasaan sedikit senang bergelayut dihatinya.


"Eh? abang sudah bangun?" tanya Marinka saat melihat Ezra tengah bermain ponsel ditempat tidur.


"Iya. Tadi abang sempat mimpi buruk,"


"Mimpi buruk? mimpi apa?"


"Abang bermimpi dicium kelinci putih yang nakal." Ezra melirik kearah Marinka dengan ekor matanya. Dia ingin sekali melihat reaksi diwajah Marinka.


"Mampus, apa ciuman tadi jadi terbawa mimpi buat bang Ezra? padahal itu ciuman pertamaku, masa iya bisa jadi mimpi buruk untuk orang lain?" batin Marinka.


"Ini memang salahku yang sudah lancang mencuri ciuman bang Ezra, Marinka please kendalikan dirimu. Kamu tidak boleh menyukai dia, dia punya orang lain. Terlebih dia pria hebat di kota ini,"

__ADS_1


Ezra tersenyum tipis saat melihat wajah cemas diraut muka Marinka. Dia tahu Marinka tidak bermaksud mencari keuntungan darinya, dia bisa memaklumi mungkin Marinka hanya spontan melakukannya karena jarak mereka terlalu dekat.


TO BE CONTINUE 🤗🙏


__ADS_2