
Tidak terasa sudah tiga hari sejak kepergian Ezra ke kota Paris. Jangan ditanya bagaimana perasaan Marinka selama itu, semua yang dia kerjakan jadi terasa salah. Makan tidak enak, tidurpun tidak nyenyak. Mereka hanya bisa berkomunikasi satu kali dalam sehari, itupun hanya lewat chat dan ketika Marinka sudah terlelap tidur.
Namun tidak bagi Ezra, beruntung pria itu disibukkan dengan urusan kantornya, sehingga dia sama sekali tidak merasakan seperti yang Marinka rasakan. Saat tiba di kamar hotelnya, Ezra sudah lelah, karena dia bekerja hingga larut malam dan baru sempat memegang ponselnya.
"Sayang. Kamu lagi apa?"
"Aku lagi ada di Paris, ada pekerjaan penting. Jihan maaf aku harus bergegas pergi kekantor."
"Paris? aku juga sedang ada di Paris?"
"Benarkah?"
"Ya. Kalau gitu kamu pergi kerja saja, nanti aku akan menemuimu."
"Aku pulang agak malam,"
"Tidak masalah, atau kamu titipkan saja kunci kamar hotelmu, buat pesan untuk resepsionisnya. Kamu nginap di hotel mana?"
"Hotel xx."
"Baiklah, aku menunggumu sayang."
"Emm."
Ezra mengakhiri panggilan itu lebih dulu, pria itu segera pergi ke kantor karena dia sudah sedikit terlambat.
Sementara itu ditempat berbeda, Marinka tengah melamun. Kadang dia melihat kearah ponselnya dan berharap Ezra menghubunginya. Marinka tidak pernah berani menghubungi Ezra lebih dulu, karena dirinya takut akan mengganggu suaminya itu.
Mungkin terdengar agak berlebihan, namun pada kenyataannya Marinka bisa membaca chat dari Ezra bisa 3 sampai 4 kali dalam sehari. padahal isi chat itu sama sekali tidak berubah, bahkan cenderung singkat. Tapi karena rasa rindu terpendamnya pada pria itu, Marinka sama sekali tidak keberatan melakukannya.
Malam ini malam minggu, Marinka sengaja tidak tidur, karena ingin menunggu chat dari Ezra. Marinka berniat ingin melakukan sebuah panggilan video, kalau pria itu sudah pulang dan mengirim chat padanya.
Perbedaan waktu yang cukup lama, membuat Marinka menunggu hingga jam 2 malam. Mata Marinka sudah tak tertahankan, namun dia masih memaksakan agar matanya terbuka sampai Ezra mengirim chat padanya.
Sementara itu ditempat berbeda, Ezra baru saja pulang dari kantornya. Jihan tersenyum senang, saat pria itu menekan handle pintu dan memasuki kamar itu.
"Tara...kejutan,"
Jihan yang mengenakan lingerie warna merah menggoda langsung berhambur kepelukkan Ezra.
Cup
Cup
Cup
Suara decap dari pertautan keduanya memecah keheningan kamar itu. Jihan dengan nakal membuka kancing kemeja Ezra dan melepaskannya dari tubuh pria itu. Pertautan itu makin lama kian panas, Jihan yang menginginkan lebih dengan tidak sabar membuka celana Ezra dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
Namun ketika tangan nakal Jihan ingin menelusup masuk kedalam kain segitiga pria itu, tiba-tiba Ezra menahan tangannya.
"Sayang. Aku benar-benar menginginkannya," bisik Jihan.
"Tidak sampai dua bulan lagi kita akan bersama. Aku akan memberikan segalanya untukmu,"
"Ckk...sebenarnya kamu mencintaiku apa tidak? kamu seperti sama sekali tidak menginginkan aku," Jihan berdecak kesal.
"Kamu paling tahu kalau aku mencintaimu, dan itu tidak akan pernah berubah,"
"Tapi kenapa kamu tidak ingin melakukannya denganku?"
"Itu karena aku sangat menghargaimu, dan wujud dari rasa cintaku padamu."
"Ya sudah, aku mandi dulu. Rasanya lengket sekali," ujar Ezra menghindar.
Jihan terpaksa melepaskan Ezra dengan perasaan kesal. Sejak dulu dirinya tidak pernah bermain lebih bersama pria itu. Ezra hanya mau bermain hingga batas puncak dadanya saja, bahkan Ezra tidak mengizinkan dirinya memberikan pria itu kepuasan dengan cara berbeda.
"Apa bajuku ini kurang menggoda? kenapa dia tidak pernah tertarik melakukan lebih denganku?" gerutu Jihan, saat pria itu sedang berada didalam kamar mandi.
Sementara itu, Ezra memejamkan matanya sembari menikmati aliran air shower yang menyiram tubuhnya.
"Kenapa rasanya berbeda sekali, saat berciuman dan menyentuh tubuh Marinka. Bahkan jantungku tidak berdegup dengan kencang, seperti saat aku bercinta dengan Marinka. Ckk...aku lupa mengabari Marinka, tapi jam segini dia pasti sudah tidur bukan?"
Ezra menyudahi sesi mandinya setelah hampir 20 menit berada di dalam sana.
"Aku sedang ada pemotretan sebuah brand disini."
"Kapan kamu kembali ke Amerika?"
"Dua hari lagi."
"Baguslah. Aku masih merindukanmu, jadi selama dua hari ini kita bisa menghabiskan waktu bersama."
"Tapi aku tidak bisa bebas. Mungkin kita hanya bisa bertemu pada malam hari seperti ini."
"Tidak masalah, aku juga pulangnya jam segini,"
"Sayang. Kemarilah, tidak perlu kamu mengenakan bajumu."
"Kenapa? ac nya lumayan dingin." tanya Ezra.
"Aku yang akan menghangatkanmu."
"Gadis nakal,"
Ezra mendekat kearah jihan. Gadis itupun masuk kedalam pelukkan Ezra setelah pria itu berbaring disisinya.
__ADS_1
"Sayang, aku mau foto-foto,"
"Jangan aneh-aneh."
"Kok aneh-aneh? sebentar lagi kan kita sudah menjadi suami istri, kita belum punya foto mesra. Ini cuma untuk koleksi kita saja,"
Jihan sudah menekan tombol kamera siap. Ezra terpaksa menuruti kemauan kekasihnya itu, daripada gadis itu menginginkan lebih.
Cekreekkk
Cekkreekk
Cekkrekkk
Foto romantis itu sudah diabadikan. Foto bagi orang asing yang melihatnya, mereka seperti usai bercinta. Bahkan ada beberapa foto mereka yang sedang berc***an.
"Bagus kan?" Jihan menunjukkan hasil foto mereka.
"Kamu ini aneh-aneh."
"Kenapa aneh, aku akan mengirimkannya diponselmu. Jadi saat kamu merindukanku, kamu cuma perlu melihat foto ini saja."
"Terserah kamu saja gadis nakal," Ezra mengacak rambut Jihan.
Setelah mengirimkan foto itu, mereka kembali bercu**u mesra. Seperti yang sudah-sudah, Ezra cuma bermain sebatas puncak dada gadis itu, yang membuat Jihan benar-benar tersiksa.
Sementara ditempat berbeda, Marinka sudah jatuh tertidur. Pertahanannya runtuh setelah waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Wanita itu terbangun saat waktu sudah menunjukkan hampir pukul 11 pagi. Marinka sangat kecewa, karena tidak ada satu pun chat yang masuk dari Ezra.
Setelah membersihkan diri dan makan siang, Marinka kembali mengecek ponselnya dan berharap Ezra mengirim chat atau menghubunginya.
"Bukankah ini hari minggu? dia pasti libur kerja kan? kalau begitu aku saja yang menghubunginya,"
Marinkapun memutuskan untuk membuat panggilan video untuk Ezra. Mendengar ponsel Ezra bergetar, Jihan meraih ponsel itu dan melihat ada nama Marinka disana.
"Heh...aku akan membuatmu iri padaku,"
Jihan dengan sengaja menerima panggilan video itu sembari bersandar didada bidang Ezra yang tidak mengenakan baju. Jihan memberikan kode pada Marinka agar tidak bersuara, melihat pemandangan yang membuat jantung Marinka berdebar, wanita itu segera mengakhiri panggilan video itu.
Ting
Ting
Ting
beberapa chat masuk kedalam ponsel Marinka. Air mata Marinka tidak bisa dia bendung lagi, saat melihat foto-foto intim Jihan dan Ezra. Marinka menangis hingga sesegukan, kini dia sudah menyadari bahwa dia benar-benar sudah jatuh cinta pada suaminya itu. Hatinya terasa sangat sakit melihat kemesraan Ezra dengan wanita lain.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1