Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.74. Bidadari


__ADS_3

"Apa kalian tidak masalah tinggal ditempat sesempit ini?" tanya Rehan.


"Tidak masalah. Lagi pula hanya tempat ini yang sewanya agak lumayan miring, itu bisa menghemat uang belanja kebutuhan kami sehari-hari."Jawab Marinka.


"Bukankah kamu pernah bilang punya kartu permberian suamimu? kenapa tidak kamu gunakan saja uang itu."


"Aku belum terlalu membutuhkannya. Lagupula aku takut menarik uangnya, aku takut dia bisa melacak keberadaanku suatu saat nanti."


"Baiklah, aku mengerti."


"Lalu kapan kamu akan membawaku bertemu dengan sepupumu itu?" tanya Marinka.


"Besok. Hari ini kalian beristirahat dulu, ingat! saat ini kamu sedang hamil, jadi harus pandai menjaga kesehatan."


"Ya. Re, aku sangat berterima kasih padamu, berkat bantuanmu aku jadi bisa berada disini."


"Jangan sungkan. Kamu itu sahabatku, sudah seharusnya aku membantumu."


"Kamu kapan kembali lagi ke negara I?"


"Aku akan pergi setelah yakin kamu dalam keadaan baik-baik saja, dan sudah dapat pekerjaan."


"Makasih ya Re..."


"Emm...aku pergi,"


"Ya." Jawab Marinka.


Rehan melenggang pergi untuk menemui kerabatnya yang tak lain adalah sepupunya.


"Dimana mereka?" tanya Ando.


"Besok akan aku bawa kemari. Sekarang mereka ada dirumah sewa untuk beristirahat sejenak."


"Apa aku tidak akan mendapat masalah jika membantu temanmu itu. Terlebih kamu bilang dia sedang dalam keadaan hamil."


"Tidak masalah, dia juga sudah bercerai dari suaminya. Kasihan dia,"


"Baiklah. Aku memang sedang butuh orang untuk menunggu butik. Salah satu cabangku terancam akan gulung tikar karena jarang sekali buka."


"Kamu tenang saja, Marinka dan temannya orang yang rajin dan ramah, aku yakin dibawa kelolahannya butikmu akan kembali jaya."


"Oh ya, aku minta padamu untuk mengajarinya banyak hal. Dia bercita-cita ingin menjadi seorang Disigner ternama, entah cita-cita itu tercapai atau tidak, tapi kita harus membantunya agar dia tidak berkecil hati."


"Aku mengerti. Aku juga tidak akan melarang dia buat melanjutkan kuliah."


"Baguslah. Aku akan pindah ke Paris setelah 6 bulan lagi. Aku juga akan membantumu sekaligus membantunya,"


"Emm."


*****


"Aku ingin merubah nama panggilanku," ujar Marinka.


"Merubah nama panggilan?" tanya Rehan.


"Aku ingin orang-orang memanggil namaku Arin. Bukan lagi Marinka atau Inka."


"Baiklah. Itu juga bagus," tutur Rehan.

__ADS_1


"Apa masih lama sampainya?" tanya Marinka.


"Sebentar lagi. Aku memang sengaja memilih rumah sewamu yang tidak jauh dari pusat butik sepupuku."


"Ada berapa banyak usaha sepupumu itu?" tanya Marinka.


"Saat ini dia memiliki cabang butik sebanyak 60 cabang. Belum lagi usahanya yang lain."


"Hebat sekali ya? dia mampu bersaing dengan industri fashion yang ada di negara ini. Itu sama sekali tidak mudah loh."


"Ah...ya dia memang hebat kalau dari segi yang seperti ini, tapi kalau urusan wanita sangat payah."


"Kenapa?"


"Usianya sudah 30 tahun, tapi kami keluarganya tidak pernah mendengar dia menggandeng wanita manapun. Kadang kami sempat berpikir, jangan-jangan dia seorang gay."


"Hussttt jangan ngomong sembarangan. Mungkin saja sepupumu itu belum menemukan orang yang cocok buat dia."


"Hemmm semoga."


Setelah memakan waktu hampir 15 menit, mobil yang Rehan kendarai tiba disebuah bangunan yang unik dan juga mewah.


"Ayo turun!" ujar Rehan.


Marinka dan sera turun dari pintu yang berbeda. Marinka tampak terkesima dengan bentuk bangunan yang ada didepannya, bangunan yang berukir seperti mengusung konsep bangunan tradisional negara I.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" ujar Ando tanpa menoleh kearah pintu yang baru saja terbuka.


"Sibuk banget bos," tutur Rehan.


"Ya beginilah Re...berani berbisnis, harus berani sibuk dan menyita waktu istirahat kita." Jawab Ando tanpa menoleh kearah Rehan, Marinka dan Sera.


"Sebaiknya hentikan dulu aktifitasmu itu. Ini aku bawa teman-temanku,"


Tangan Ando berhenti menekan tombol laptop dan menoleh kearah yang Rehan maksud.


"Can-Cantik sekali, apa dia titisan bidadari?" batin Ando yang tak berkedip saat melihat Marinka yang tersenyum kearahnya.


Rehan memindahi tatapan Ando, yang ternyata sedang menatap intens ke arah Marinka. Perlahan Rehan mendekati pria itu dan mencubit lengan Ando.


"Awwwww...sakit Re..."


"Makanya matamu itu dikondisikan."


"Ckkk...kamu ini tidak bisa melihat mataku menemukan vitamin sedikit."


"Matamu tidak perlu vitamin. Cewek cantik di Paris sangat banyak, tapi tetap saja kamu jomblo karatan."


Sera dan Marinka menahan tawanya saat melihat perdebatan dua sepupu itu. Ando kemudian berdiri dan mendekat kearah Marinka.


"Ando," Ando menyodorkan tangannya.


"Arin, dan ini temanku Sera."

__ADS_1


"Oh...hai..." Ando juga menjabat tangan Sera.


"Apa suami Arin sudah gila? mencampakan wanita secantik ini? wanita ini juga terlihat baik dan lemah lembut. Kalau tidak, mana mungkin Rehan mau membantunya sampai sejauh ini?" batin Ando.


"Jadi kak, apa kakak bisa membantu memberiku pekerjaan? mungkin sedikit banyak kakak sudah mendengar tentangku dari Rehan. Aku sangat butuh pekerjaan, karena saat ini aku harus menghidupi calon anak-anakku."


"Kamu mengandung anak kembar?" tanya Ando.


"Ya."


"Benar-Benar calon ibu yang luar biasa." ujar Ando.


Marinka hanya menanggapi ucapan Ando dengan sebuah senyuman manis.


"Jadi gimana kak?" tanya Marinka.


"Kamu tenang saja ya, kakak akan memberikan kamu pekerjaan."


"Tapi apa tidak masalah kalau Arin sambil meneruskan kuliah?"


"Tidak masalah. Usiamu masih sangat muda, pendidikan memang sangat penting."


"Makasih kak. Aku tidak tahu harus mengucapkan apalagi, kakak dan Rehan sangat baik padaku. Aku tidak akan melupakan jasa kalian berdua."


"Jangan begitu. Lagipula aku memang sedang membutuhkan orang untuk kembali membuat salah satu butikku jaya kembali. Kalau kamu berhasil, maka keuntungannya akan kita bagi dua."


"Be-Benarkah?"


"Emm. Aku akan menyerahkan butik itu sepenuhnya padamu,"


"Kakak. Terima kasih banyak ya, aku benar-benar merasa terharu," ucap Marinka dengan mata yang berkaca-kaca.


"Buat dirimu bahagia disini. Lupakan semua kesedihan dimasa lalu, jangan sungkan bercerita padaku jika memang kamu membutuhkannya," ucap Ando.


"Emm." Marinka mengangguk sembari menghapus air matanya.


"Sekarang lebih baik kita mensurvey tempat yang akan kamu kelolah itu,"


"Ya kak."


Ando, Rehan, Marinka dan Sera pergi ke salah satu butik yang akan Marinka urus nantinya. Setelah melihat lokasinya, Marinka dan Sera langsung beberes sementara Rehan dan Ando mencari makan siang untuk mereka santap bersama.


"Apa suami temanmu itu buta? kenapa dia mencampakkan istri secantik itu?"


"Ceritanya panjang. Tapi aku setuju denganmu, pria itu memang tolol. Aku yakin, suatu saat dia akan menyesal. Dan disaat dia merasa menyesal, Arin mungkin sudah tidak menginginkannya lagi."


"Kisah hidup wanita itu sudah seperti sinetron,"


"Ya. Persis,"


"Kalau janda seperti dia, pasti cepat laku. Aku yakin mantan suaminya akan gigit jari nantinya."


"Kamu jangan coba-coba dekati dia kalau cuma pengen main-main. Kasihan dia, sebelum mendekatinya berpikirlah matang-matang, karena dia bukan seorang diri nantinya, akan ada dua anak yang menjadi batu sandungan untuk hubungan itu."


"Aku mengerti maksudmu," tutur Ando.


Bukan tanpa alasan Rehan berkata demikian. Dia hanya ingin memperingatkan sepupunya itu, dia tidak ingin Marinka kembali terluka. Terlebih Rehan melihat ada pancaran cinta dari mata Ando saat melihat Marinka untuk pertama kalinya.


TO BE CONTINUE...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2